
"kamu nggak berangkat kerja?"
"Hmmm... Iya!"
"Kenapa?"
"... Karena hari ini aku ingin menebus semua kesalahan aku kemarin dan tadi malam... Aku masih merasa bersalah..."
"..." Kalimatnya membuat hatiku menjadi gundah, apakah aku harus membuka atau menutup celah di hatiku
"Sayang! Kamu beneran udah maafin aku kan?"
"..." Aku hanya bisa tersenyum
"Sepertinya kamu belum maafin aku..." Katanya sedih dan membenamkan wajahnya di pundak ku
"..." Aku meletakkan sendok dan garpu, karena nafsu makanku hilang
Sifatnya yang suka berubah-ubah setiap saat seperti ini selalu membuatku kacau dan bingung harus bersikap bagaimana. Beberapa saat yang lalu aku telah bertekad untuk menutup hati ini untuk selamanya, tapi tingkahnya yang sekarang kembali membuatku ragu dan terus ragu. Aku lelah, rasanya ingin istirahat di suatu tempat yang tenang tanpa ada seorangpun yang dapat mengusik ketenangan yang ku inginkan.
Rasanya aku sangat tertekan hingga mencapai titik depresi dengan kehidupan yang seperti ini. Sejak awal pernikahan aku masih belum bisa mengerti arti kata dari kebahagian dari pernikahan, selama ini pikiranku selalu menanyakan hal-hal ambigu. Karena aku tidak bisa yakin jika Tian adalah jodohku dalam hidup ini, semuanya terasa konyol dan tidak masuk akal.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau ke kamar..."
"Sayang!"
"..." Aku menoleh padanya dengan tatapan datar
"Uugghhh... Aku minta maaf! Kalimatku tadi malam pasti udah buat kamu kembali membenci aku kan? Sayang... Aku benar-benar minta maaf..."
"..." Aku menjadi bisu di depannya
"... Kamu nggak mungkin benci kami semua kan? Hanya karena satu kepribadian brengsek... Sayang! Mungkin sekarang kamu sedang memaki aku di dalam hati kamu! Aku nggak masalah kalau kamu mau marah, memaki, bahkan kesal dengan aku... Tapi aku mohon... Kamu jangan benci kami hanya karena satu kepribadian brengsek..."
"..." Aku masih diam menatap kosong genggaman tangannya
"Mungkin kamu juga udah muak dengar kata maaf dari aku... Tapi aku nggak tau harus bagaimana lagi untuk menebus kesalahan tadi malam... Sayang! Aku mohon sama kamu... Tolong jangan benci aku!" Tian berlutut memohon maaf padaku
"..." Aku hanya bisa berdiri kaku mendapati pengakuan kesalahan dirinya
__ADS_1
"Sayang... Kamu jangan diemin aku kayak gini dong! Hati aku sakit... Sakit sekali! Sampai rasanya lebih baik mati dari pada harus di diemin kamu kayak gini!!!" Tangisnya pecah memeluk setengah tubuhku yang masih terdiam kaku
Tanpa sadar aku malah menepis pelukannya dan berlalu masuk ke kamar, meninggalkan Tian yang diam membisu mendapati reaksi spontan dariku. Di depan pintu kamar yang tertutup ini mungkin Tian masih berlutut dalam diamnya yang tentu kaget mendapat perlakuan datar dariku. Sekarang saja aku bingung dengan perasaanku yang sebenarnya kepada Tian bagaimana, saat ini aku hanya merasakan kekosongan yang terlalu hening.
Terdengar suara isak tangis dari balik pintu kamar yang membuatku bingung harus melakukan apa. Dengan suaranya yang bergetar karena tangis Tian memanggil-manggil namaku dan meracau meminta maaf yang membuatku semakin bingung harus bagaimana menghadapinya. Saat ini hatiku sedang bekerja keras untuk menutup celah kehangatan yang hampir selesai, hingga membuatku tidak bereaksi apapun melihat kesedihan di wajah Tian.
"Uughhh... Apakah Mama harus memaafkan papa kalian untuk kali ini juga? Tapi mama takut kembali lagi dan lagi tersakiti karena mencintai seseorang..." Gumamku saat perut ku terasa nyeri
"Baiklah... Apapun akhirnya! Mama memutuskan untuk mencintai papa kalian... Demi mama dan juga demi kalian... Anak-anak mama yang harus terlahir dengan hebat..."
Akhirnya aku memutuskan lagi dan lagi, memaafkan Tian yang sebenarnya marah karena berawal dari kesalahanku sendiri. Saat membuka pintu kamar, Tian masih berlutut dengan isak tangisnya yang tentu saja menarik perhatian orang-orang rumah.
"Ish... Kok kamu lemah banget gini sih! Baru segini aja udah nangis Bombay gitu... Gimana kalo aku beneran marahnya..."
"..." Bukannya berhenti nangis Tian malah semakin menangis bombay
"Sayang! Udah nangis nya ih... Aku kan cuma becanda marah sama kamu!" Kataku lalu memeluk Tian yang terduduk menangis
"Aku pikir kamu marah beneran... Huhuhu... Aku takut..."
"Ssuuuttt... Udah nangis nya dong! Aku minta maaf udah kelawatan bacandanya..."
"Aku juga minta maaf..."
"Kamu nggak nyusahin aku kok... "
Setelah Tian menghentikan tangisnya, kini giliran ku yang menangis di jahili olehnya, yang membuatku kesal setengah mati. Mungkin memang sudah saatnya aku untuk mencintai seseorang selain diri ku sendiri. Bagaimanapun akhirnya, aku tidak akan menyesali pilihanku untuk mulai membuka hati dan membiarkan sosok Tian mengisi penuh kekosongan hatiku yang telah lama di penuhi kebencian dan kehampaan ini.
"Sayang... Kamu mau ngapain?"
"Aku mau minta jatah tadi malam..."
"Ja...jatah apaan..."
"..." Tian memotong kalimatku dengan ciuman hangatnya yang berubah ganas
"Sa...sayang aku kan lagi hamil..."
"Aku akan melakukannya dengan lembut..."
Awalnya emang lembut tapi ujung-ujungnya malah jadi kayak binatang buas lagi kan permainan nya. Walaupun Tian tidak melakukannya dengan lembut, entah kenapa aku menyukainya bahkan ingin lebih. Jujur aku malu untuk mengakui tentang hal satu ini, karena urusan ranjang bagiku terlalu memalukan untuk di ceritakan. Yang jelas sekarang aku akan mencintai suamiku sepenuh hati, apapun rintangannya akan ku lalui jika tidak bisa di lalui. Maka aku akan mencari jalan keluar untuk menyelesaikan semua rintangan hidup hari ini dan di kemudian hari.
__ADS_1
Ternyata permintaan maaf Tian tidak terlambat sedikitpun, karena aku bisa membelokkan tekadku tadi siang hanya dalam hitungan detik. Mungkin keputusan ku kali ini juga karena pengaruh dari kehadiran calon anak-anak ku yang masih ada di dalam rahim ini. Kuharap aku bisa menemani mereka tumbuh dewasa, banyak kebahagian yang ingin ku perlihatkan pada anak-anak ku nanti.
"Sayang! Maaf ya... Tadi aku nggak bisa ngontrol diri sendiri..." Katanya dengan wajah imut
"Nggak usah minta maaf juga nggak apa-apa... Karena aku suka kamu yang barusan..." Gumamku lirih
"Ka...kamu bilang apa barusan?"
"Bukan apa-apa!"
"..." Tian malah menatap ku dengan tatapan mesumnya
"Ih... Kamu ngapain masang tampang gitu... Bikin aku takut tau nggak!" Aku semakin merapatkan pelukan di tubuhnya, berharap dia nggak mikir yang lain-lain
"Sayang! Kamu ada ngerasain sakit nggak?" Tanya Tian setelah beberapa saat hening
"Nggak ada tuh! Emang kenapa?"
"Bukan apa-apa...! Tapi kamu harus bilang kalo ngerasain sakit sekecil apapun itu sama aku... kamu ngerti kan?"
"Sakit! Sakit sekecil apa yang harus aku laporin?"
"Sakit sekecil apapun itu... Kalo kamu merasa ada yang nggak nyaman juga tetep harus bilang! Sekarang kamu ada ngerasa sakit di bagian mana?"
"Sekarang sih udah nggak sakit lagi...!"
"Emangnya tadi kamu sempat ngerasain sakit? Di bagian mana? Kapan tepatnya?"
"Eh... Itu, sakitnya dari kemarin sampai beberapa saat yang lalu! Tapi sekarang udah nggak sakit lagi tuh... Malah sekarang rasanya udah enakan..."
"Di mana sakitnya? Jangan bilang..."
"Seluruh tubuh aku rasanya sakit... Tapi bagian perut lebih sakit di bandingkan bagian yang lain... Sekarang semuanya udah baikan kok!"
"Coba kamu rasain lagi deh, siapa tau masih ada bagian yang sakit..."
"Setelah di rasa-rasa... Pinggang aku sakit nih..." Manjaku membuatnya tersipu
"Ekhhmmm... Kalo masalah itu... Aku minta maaf!" Katanya malu-malu sambil memijit-mijit pinggang ku yang terasa nyut-nyutan
"Hihihi... Kamu lucu..." Tawaku melihat tingkahnya yang tersipu malu
__ADS_1
Baiklah! Detik ini juga aku akan berusaha agar bisa mencintai suamiku, terserah akan bagaimana sifat Tian nantinya. Yang jelas aku ingin menjadikan suamiku saat ini sebagai jodohku yang telah di takdirkan oleh Tuhan dalam hidup ini. Menyesal ataupun tidak, aku akan selalu mencintai suamiku karena ini adalah saatnya aku melepaskan semua kehampaan dalam diri. Semoga cinta yang kuberikan padanya akan terbalas dan bisa di hargai olehnya.