
Pemakaman Ain berlangsung dengan khidmat, aku baru tahu jika keluarga Ain sangat kaya dan di hormati oleh para petinggi negri. Ada beberapa mentri dan juga wakil beserta beberapa staf bapak walikota, menghadiri pemakaman Ain saat ini. Sejak Ain hendak di masukkan ke dalam liang lahat, aku sengaja menjauh dari kerumunan, berdiri dalam diam di bawah pohon bunga kenanga yang berbunga indah.
Semua orang berbelasungkawa atas kepergian Ain karena pengaruh ayahnya di dunia politik dan dunia usaha sangat berpengaruh. Sebut saja, takdirnya dengan Ain bagaikan Langit dan bumi jaraknya, hingga bisa di katakan memang kami tidak berjodoh. Dulu aku memang sangat menginginkan seorang suami yang berasal dari keluarga kaya raya, tapi sekarang aku sadar jika perbandingan antara kekayaan dan kemiskinan di mata publik sangat lah jauh.
Sejak tadi pagi mataku seakan-akan tidak ingin menangis lagi, karena telah merasa cukup dengan tangisan yang dikeluarkan semalam. Setelah dipikir-pikir kini aku merasa malu sendiri dengan tingkahnya yang tidak terkendali kemarin malam, apalagi saat aku memeluk dan mencium wajah Ain seperti orang gila. Ingin rasanya aku menyembunyikan wajahku sekarang ke dalam lubang, agar tidak ada yang melihatku.
"Ru! Kamu yang ikhlas..." kata Lisa menyemangatiku dengan merangkul bahuku kuat
"Bismillah... gue ikhlas kok!" Kataku dengan senyum getir
"Mungkin Allah sedang mempersiapkan seseorang yang l3bih baik lagi untuk kamu..." katanya masih menyemangatiku
"Makasih doanya ya lis! Gue nggak nyangka aja gitu... perpisahan kami bakal berakhir dengan takdir kayak gini... seakan-akan tuhan sedang membuat lelucon, yang pahit...heh!" Kekehku kembali merasakan perih di dada
"Lo yang kuat!" Kata Lisa dan memelukku lembut
Aku diam di pelukan lisa menatap kerumunan yang mulai pergi dari pemakaman, karena Almarhum Ain telah di makanan dengan layak serta di bacakan doa-doa yang akan menemaninya di dalam kurungan peti mati dalam tanah tersebut. Lisa melepaskan pelukannya dan mengajakku untuk segera pulang ke apartemen, tapi aku menolak untuk segera pulang. Keluarga Ain juga telah beranjak satu-persatu dari pemakaman, dan mengajakku segera pergi untuk istirahat, namun sekali lagi aku menggeleng menolak ajakan itu. Saat ini aku sedang ingin menatap tempat peristirahatan Ain dengan tenang dan damai.
"Kalo gitu...tante sama yang lain duluan ya!" Kata beliau dengan senyum getir lalu memelukku
__ADS_1
" ...." aku membalas pelukan beliau dengan senyum getir pula
"Mbak! Yang kuat ya..." kata Dina saat memelukku
"Kamu juga harus kuat..." aku terkekeh geli mendengar adik almarhumah menyemangatiku seperti ini
Aku meminta Lisa menungguku di mobil, karena saat ini aku sedang ingin berduaan saja dengan Ain yang telah berada di bawah sana. Aku melangkah maju mendekati makam Ain yang masih berbau tanah segar dengan jalan yang terpincang-pincang, karena kakiku bengkak gara-gara keseleo waktu itu. Aku duduk berlutut di samping makam Ain, memandangi nisannya yang terlihat indah karena terukir namanya disana.
"Aku nggak nyangka... kamu pergi secepat ini! Dan aku lebih nggak nyangka jika dalam hidupku mendapati takdir seperti ini... walaupun aku nggak cinta sama kamu... Tapi aku telah kuanggap kamu sebagai saudara aku sendiri... jadi kamu maklum aja ya, kalau aku terlalu berlebihan sedihnya saat kamu pergi kayak gini! Maafin aku jika aku punya salah ke kamu... aku pasti babak nyusahin kamu kan? Maaf ya..." kataku kembali merasa sesak yang sangat dalam hingga membuat air mataku turun lagi
Sejak tadi langit terlihat mendung, seakan ikut bersedih dengan kepergian Ain yang tiba-tiba seperti ini. Aku tersenyum getir melihat makam baru yang berjarak beberapa blok dari makam Ain sekarang, makam itu juga sama-sama baru dengan makam Ain. Gerimis mulai turun dengan bertahap dan akhirnya menjadi hujan lebat yang segera membasahi tubuhku dengan segera. Aku masih asik melamun memikirkan kenangan indah dan konyol saat bersama dengan Ain satu tahun terakhir. Hingga tiba-tiba aku tersentak oleh tunai hujan yang seakan terhenti membasahiku, saat menoleh ke atas aku mendapati sebuah payung hitam sedang menjadi peneduhku.
"..." aku kembali menundukkan kepala saat melihat senyuman hangat dari si pemegang payung
"Bismillah... aku udah ikhlas kok!" Kataku dan menunjukkan senyum getir pada Aji yang memandangiku dengan tatapan penuh haru
"..." Aji tersenyum dan mengelus hijabku yang basah
"..." aku terdiam membisu karena teringat dengan kebiasaan Ain yang menyukai mengelus hijabku
__ADS_1
"Ru! Kita pulang sekarang ya! Nanti kamu sakit!" Katanya mengajakku pulang
"..." aku hanya diam membisu dan kembali menatap kosong tanah makam Ain yang mulai mewarnai gamis putihnya dengan warna tanahnya yang merah
Lisa juga datang menghampiriku dan segera memakanku untuk berdiri, dengan terus menguatiku lewat kata-kata nya yang penuh perhatian. Sedangkan Aji memayungi kami berdua dan membiarkan tubuhnya di gugur hujan demi melindungi kami berdua dari tetesan hujan yang masih sangat deras. Saat tinggal beberapa langkah lagi dari mobil aku menarik napas sedalam-dalamnya dan menghempaskan beban berat bersama dengan hembusan napas tersebut, lalu mengembangkan senyum ceria yang penuh kegetiran.
Lisa segera memintaku masuk ke dalam mobilnya saat aku bersin, dia tidak peduli dengan tubuhku yang kotor akibat tanah merah pemakaman Ain. Dia mengomeliku layaknya seorang kakak yang sangat peduli pada adiknya, Dina yang duduk di sampingku juga ikut membantu ku agar kembali tersenyum ceria dengan tingkah lucunya yang membersihkan percikan tanah di wajahku, sambil mengomel seperti ibunya.
Aku terkekeh geli mendapati perhatian dua orang ini, entah kenapa aku merasakan ada kehangatan yang mengalir dalam benakku karena tersentuh oleh kepedulian mereka. Walaupun kalimat yang mereka katakan terdengar pedas dan ketus, namun begitu aku tidak merasakan sakit di hatiku. Tidak seperti omelan para saudara dan kedua orang tuaku biasanya, yang membuatku merasa terpuruk dan semakin kecil.
Sesampainya di apartemen mereka berdua masih sibuk memberikan omelan, yang memintaku agar tidak terlalu hanyut dalam kesedihan. Aku hanya menunjukkan jati diriku sedikit saja orang-orang yang kenal denganku malah merasa jika diriku sedang tertekan. Bahkan sebelum kepergian Ain aku sudah seperti ini setiap hari saat sendirian di apartemen, mungkin karena topeng bahagian ku terlalu menonjol dari wajah aksiku yang penuh kesedihan ini. Aku tersenyum getir mengingat jika, masih ada yang peduli denganku di kehidupan yang penuh persaingan ini.
"Makasih ya ... udah nganterin gue sampai apartemen!" Kataku sambil membuka pintu
"Sama-sama... Tapi lo mau kita temenin dulu nggak nih malam ini?" Kata Lisa menawarkan kehangatan nanti malam
"Nggak usah... gue mau sendiri dulu..." kataku dan segera masuk ke dalam
"Kalau ada apa-apa hubungi aja gue...." teriak Lisa saat pintu hampir tertutup
__ADS_1
Aku segera melangkah menuju kamar mandi dan melepaskan semua pakaian, membiarkan air hangat yang keluar melewati shower membasahi tubuh ku yang terasa lelah. Mulai sekarang aku harus bisa belajar mengendalikan emosiku akibat kepergian Ain yang sangat mengejutkan ini. Kuharap aku bisa bangun dengan perasaan yang lebih leluasa besok, agar bisa kembali bekerja seperti biasa.
Saat keluar dari kamar mandi, aku melihat piagam dan sertifikat penghargaan dari kantor polisi pusat, atas jasaku yang telah membantu dalam penangkapan pembunuh atas kasus Fitri yang di bunuh di kamar apartemennya beberapa hari yang lalu. Aku duduk di depan cermin di meja rias, menatap wajahku yang lumayan cantik namun memiliki kisah hidup yang terlalu rumit dan berliku, hingga aku sendiri tidak memahami kemana jalurnya akan berlabuh di kemudian hari. Semoga hariku ke depannya menjadi lebih baik, atau aku juga rela jika fi jemput sekarang oleh malaikat maut. :v