
Rintik-rintik mulai turun mengguyur kota Kandangan saat kami memasuki kampung halaman yang terlihat tentram dan damai. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami menyapa dengan ramah dan terlihat sumringah melihat kami kakak beradik kembali ke kampung ini. Kampung ini seperti menghargai dan sangat menghargai yang namanya pelajar dengan pendidikan yang tinggi. Anak muda kampung ini bukan hanya kami bersaudara yang mengeyam pendidikan di bangku kuliah, tapi juga ada beberapa orang lainnya.
Rumah yang selalu membuatku bingung kini telah berada di depan mataku. Tak ada rasa rindu dan juga tidak ada rasa senang sedikitpun dalam hati dan pemikiran ku saat ini. Hanya gambar hitam-putih dan perasaan hambar yang kurasakan sekarang, seakan-akan aku benar-benar tidak pernah mengenal tempat ini. Pintu rumah tertutup rapat saat kami berhenti di halaman, tapi, saat kami mengucapkan salam. Semua orang yang ada di rumah berhamburan keluar, menyambut kedatangan kami.
"Hore... kak Ru bawa makanan!!" teriak adik-adik ku senang dan segera menghambur pada bungkusan yang ku bawa
"Bagi rata! harus kebagian semua!!" kataku tajam sebelum menyerahkan bungkusan di tanganku pada mereka
"Siap siap..." kata mereka dan segera berlari masuk rumah
Kulihat ayah tersenyum senang menyambut kedatangan kami berdua di depan pintu. Sedangkan ibu yang kekanak-kanakan itu sedang asik berebut oleh-oleh yang tidak seberapa bersama adik dan kakak-kakakku, selalu saja begitu.
"Bah..." kataku memanggil ayah dengan sebutan Abah serta mencium tangan beliau
"Dari jam berapa berangkat?" tanya Ayah saat kak Gafar mencium tangan beliau juga
"Tadi siang... sekitar pukul 11!!" sahut kak Gafar sambil berlalu masuk
"Abah..." kataku dan menyerahkan sebuah bungkusan lainnya kepada beliau
__ADS_1
"Apa ini?" tanya ayah yang kujawab hanya dengan senyuman
"..." Saat ayah membuka bungkusan beliau hanya tersenyum dan mencium aroma pasar yang masih menempel
Aku juga memberikan sebuah bungkusan kepada ibu, saat beliau menagih oleh-oleh lainnya juga padaku dengan wajah cemberut serta mulut yang penuh makanan. Beliau masih saja bertingkah kekanak-kanakan seperti ini, padahal beliau telah melahirkan sembilan orang anak, yang mana salah satu kakakku meninggal di waktu umurnya yang kedua tahun. Setelah selesai menyapa dan berkumpul sebentar dengan yang lain, aku segera menuju tempat tidurku di bawah ranjang kakak tertuaku yang sangat tinggi itu. Hmmm... tempat gelap dan sesak ini aku sedikit merindukannya, karena di tempat ini aku sering meluapkan kekesalan dalam diam.
Mungkin karena tubuhku terlalu lelah, hingga membuatku terlelap tidak berapa lama kemudian. Namun saat teringat belum sholat asar, aku kembali terbangun karena ada rasa resah. Saat aku keluar dari tempat persembunyian, tidak sengaja berpapasan dengan ayah, yang hendak melihat keadaanku di kamar ini. Setelah tersenyum aku segera keluar untuk mengambil wudhu, dengan perasaan yang tenang aku menyelesaikan wudhu.
Skip... Selesai sholat, aku melihat ibu sedang sibuk di dapur, awalnya ingin menghampiri, tapi kagak jadi karena ada kak Disi juga di sana. Bukannya benci, aku hanya tidak menyukainya karena sifat sombongnya itu sungguh membuatku muak dan jijik. Di kamar kulihat juga ada kak Nur yang sedang memainkan ponselnya, kenapa semua orang di rumah ini membuatku muak.
"Huh... sabar... sabar!!" kataku kepada diri sendiri
Malam telah menyapa, setelah selesai sholat isya aku kembali ke tempat tidur, berharap segera terlelap dalam tidur. tapi mataku yang terbiasa begadang ini tidak merasa lelah sedikitpun. Aku hanya diam dan memejamkan mata dengan seluruh indera yang masih penuh kewaspadaan. Akhirnya aku menyerah karena belum juga ngantuk, aku bangkit dari tempat tidur dan menuju keluar rumah untuk melihat langit malam.
"Malam apa kabar?" gumamku menyapa langit
Aku termenung begitu lama sambil menatap langit dengan pikiran yang menjelajah kemana-mana. Rumah ini benar-benar membuat ku tidak tenang, rasanya aku ingin segera kembali ke kesendirian ku di kota orang. Nyamuk di sini juga semakin ganas, hanya sebentar di luar udah ada beberapa bentolan bekas nyamuk di tangan dan kakiku. Aku segera masuk kembali ke rumah, kulihat ayah masih sibuk menghabiskan kopi dan sebilah rokoknya di depan kamar beliau.
Sekarang aku ingat ada hal yang harus kulunasi pada ayah, aku segera berlari menuju tas ransel di tempat tidur, dan mengambil uang yang tadi siang kutarik dari mesin ATM. setelah mengambil semuanya aku kembali menghampiri ayah yang hendak tidur.
__ADS_1
"Bah..." panggilku sambil menyembunyikan uang di belakang
"Hmmm..." sahut ayah kembali bangun
"Aku mau bayar utang sama Abah!!" kataku nyengir lebar
"Utang apaan?" tanya ayah tanpa menoleh padaku
"Dulu kan Ruka pernah janji bakal beliin kendaraan baru buat Abah... maaf baru sekarang bisa menuhin janjinya!!" kataku sambil menyerahkan uang pada ayah yang sedang membelalakan matanya.
"Dapet uang dari mana kamu?" tanya ayah padaku
"Ini uang hasil tabungan Ruka selama dua tahun... hasil dari ngajar anak-anak orang kaya les privat!!" kataku dengan senyum khas disertai dua jari menempel di pipi
"Kamu serius?" tanya ayah ragu-ragu menerima uang pemberianku
"Ya serius dong... kan udah janji!!" kataku menatap mata beliau tajam karena merasa di remehkan
Setelah berbincang sedikit dengan ayah aku segera kembali ke tempat tidur untuk kembali melanjutkan lamunan yang sempat terputus. Aku tidak peduli apa dan bagaimana perasaan ayah saat ini, yang jelas aku telah memenuhi janjiku. Dan aku sangat berharap tiga hari berlalu dengan cepat agar aku segera meninggalkan rumah ini lagi. Masih banyak janji yang belum kupenuhi saat ini, dan semoga semua yang pernah kujanjikan lunas semua sebelum ajal menjemput.
__ADS_1
Maaf karena aku bukan orang yang terlalu menyukai rumah sendiri, tapi itu semua ada alasannya. Dan aku tidak akan mengatakan alasannya karena aku terlalu malas untuk bercerita. Selamat malam semuanya, semoga mimpi indah dan bahagia selalu bagi kalian pencinta keluarga.