
Saat waktu pertemuan hampir tiba, aku menyiapkan berkas yang harus di bawa di pertemuan ini. Pak Tian juga terlihat sudah siap berangkat, hanya menunggu laporanmu aja lagi. Setelah aku melaporkan jika semuanya siap, pak Tian segera mengajakku ke restoran Xihe, menemui kolega bisnis yang tidak sabaran itu. Kami berangkat tanpa supir, karena Tian tidak terlalu suka jika mobilnya di sentuh oleh orang lain. Sepertinya mobil sport ini adalah mobil kesayangannya, tapi anehnya kenapa aku di ijinkan menaiki mobil kesayangannya ini.
Sesampainya di tempat pertemuan, kolega bisnis itu menyambut kami denagn ramah, orang ini terlalu banyak basa-basi, membuatku muak. Pak CEO duduk dengan angkuh di tempat yang telah di sediakan, sedang akan aku diam berdiri di belakang pak CEO. Dari isyarat matanya pak CEO memintaku untuk duduk di sampingku, dan tentu saja aku menolak, karena aku adalah seorang sekretaris handal. Aku tahu aturan para sekretaris, dan kulihat sekretaris dari partner bisnis kami juga berdiri di belakang bosnya.
"Lama tidak berjumpa! Apa kabar pak CEO?" Katanya beramah-tamah
"Baik!" Jawab Tian dingin
"Silahkan dicicipi hidangan yang ada pak CEO... masalah bisnis bisa kita bicarakan setelah selesai makan!" Katanya
"Jika begitu mau anda! Kami tidak bisa menunggu!" Kata Tian hendak bangkit dari kursinya namun segera di cegah oleh partner bisnis licik ini
"Baik! Baik... kita akan langsung ke intinya saja..." katanya sedikit kecewa entah kenapa
Aku merasa tidak puas dengan apa yang di janjikan oleh perusahaan mereka, penawaran mereka terlalu kecil. Tidak berpengaruh sama sekali terhadap perusahaan kami, dan sangat untung bagi mereka. Mereka adalah pebisnis yang sangat licik, mereka menjebak patner bisnisnya dengan kata-kata yang terlalu tinggi, namun sangat merugikan. Orang ini sangat hebat menggunakan lidah dan mulutnya menyanjung patner bisnis yang hanya berambisi pada kekuasaan. Tapi sepertinya tidak akan mempan pada pak Tian, yang memang berambisi namun bukan pada kekuasaan.
Dari yang kulihat ambisi besar pak Tian setelah kuamati beberapa saat yang lalu adalah sebuah kepuasan. Manusia satu ini bisa di katakan sebagai manusia yang sangat maniak dengan kepuasaan, melebihi dari siapapun. Apa yang dia ucapkan maka itulah yang akan terjadi, dia memikirkan resiko dari setiap tindakannya, tapi selama dia merasa puas, walaupun itu merugikan bagi perusahaan, dia tidak akan merubahnya. Aku menyukai kepribadiannya yang angkuh dan keras kepala, karena menandakan bahwa dirinya tidak mudah ditekan dan di kendalikan, apalagi di jinakkan.
__ADS_1
""Bagaimana menurutmu?" Tanya pak Tian kepadaku
"Menurut saya... kesepakatan yang di katakan oleh tuan terlalu kecil pengaruhnya bagi perusahaan kami... maka dari itu saya telah menyiapkan kontrak yang kami inginkan!" Kataku dan memberikan kontrak yang telah ku ubah total dari kontrak sebelumnya
"..." utusan itu mengerutkan keningnya sesuai perkiraan ku
"Bagaimana? Jika anda setuju dengan isi kontrak itu... saya juga pasti akan setuju, tapi jika anda menolak, tentu saja saya juga akan menolak!" Kata pak Tian cerdas
"Apakah saya boleh mengajukan perubahan pada isi kontrak?" Tanya utusan itu
"Silahkan katakan... selagi perubahan yang anda katakan masuk akal kami akan setuju!" Kata pak Tian tajam
"Silahkan katakan!" Kata pak Tian menatapku sekilas
"..." Aku mencatat semua yang utusan itu inginkan dan membuatku tersenyum sangat puas
Setelah kedua belah pihak setuju dengan perubahan yang ada pada isi kontrak, pertemuan akan di jadwalkan lain waktu, untuk menandatangani kontrak tersebut. Mereka hanya menunggu kabar selanjutnya dari pihak kami yang memegang kendali dalam urusan ini. Setelah semuanya selesai Tian segera mengajakku kembali ke kantor. Padahal utusan itu memohon agar Tian menemaninya makan selama beberapa saat saja, namun langsung di tolak mentah-mentah oleh Tian.
__ADS_1
Aku mengikuti langkah angkuh Tian keluar dari restoran di belakangnya dengan tatapan tajam namun ramah. Semua pengunjung restoran menatap kearah kami, mungkin karena ketampanan Tian yang tidak ku sebutkan di awal. Ketampanan Tian terlalu bersinar kemanapun ia pergi, ketampananya emang udah ada turun-temurun di keluarganya. Karena kulihat dari buku silsilah keluarga Tian semuanya tampan dan cantik-cantik. Tapi entah kenapa aku merasa jika Tian seperti menutupi kenyataan yang ada pada dirinya, entah ada di bagian mana.
"Apakah semuanya sesuai dengan keinginan mu?" Tanya pak Tian saat kami masuk ke mobil
"Benar...walaupun Aku tidak menyangka jika perusahaan mereka mengirimkan utusan yang hanya banyak bicara tapi sangat bodoh!" Kataku puas
"Brapa persen keuntungan perusahaan jika kontrak itu di jalankan?" Kata pak Tian sambil fokus menyetir
"65% dari 99%, keuntungan akan menjadi milik perusahaan!" Kataku mengatakan keuntungan yang lumayan
"Apakah hanya segitu?" Kata pak Tian sedikit kecewa
"Begitulah... Sepertinya saya terlalu banyak menaruh jebakan, hingga tidak tersentuh semua oleh utusan itu!" Kataku ikut kecewa
"Mungkin lain kali kau harus mengurangi jebakan tikus tersebut!" Kata Tian terkekeh melihat ku yang cemberut
"Baik pak!" Sahutku dan mulai membaca ulang isi kontrak yang harus di perbaiki
__ADS_1
Sesampainya di kantor aku segera mengerjakan masalah kontrak ini sesegera mungkin, karena aku tidak ingin lembur hari ini. Pak Tian juga kembali memeriksa dokumen tadi pagi, siapa tau dia berubah pikiran, dan membuat proposal yang di setujui menyusut. Aku merasa sangat mengantuk tapi tidak ingin membiarkan tidur ku di bayang-bayangi pekerjaan nanti malam. Aku akan mengerjakan semuanya dengan perlahan agar tidak terlalu cepat bosan, walaupun semuanya akn selesai setelah sebulan lebih, kemungkinan seperti itu.
Aku ingin cepat pulang, karena sejak semalam aku baru tidur sejam saja tadi siang, walaupun semua pekerjaan beres. Mungkin nanti aku akan jatuh sakit dan membuat pekerjaan lainnya akan menumpuk, lagi pula kenapa ada begitu banyak laporan dan jadwal seorang ceo seperti ini dalam hidupku. Kapan aku akan mulai bisa menikmati semua hasil kerja kerasku selama ini, rasanya sudah tidak sabar untuk terbebas dari kontrak kerja ini. Mungkin besok aku harus mengajukan pembaruan pada kontrak ku, aku sangat ingin tidur.