JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Menceritakan Tentang Ain Pada Mama


__ADS_3

Sesampainya di perpustakaan aku menelan kekecewaan, karena entah kenapa hari ini perpustakaan tutup. Seingat ku hari ini bukan hari yang spesial, tapi kenapa perpustakaan malah tutup, bikin hati kesal setengah jiwa. Kulihat gerbang SMP ku dulu tertutup rapat, mungkin para murid-muridnya lagi belajar di dalam kelas. Ingin sekali mampir ke sana sebentar, tapi aku kembali hanya bisa mengurungkan niat, entah kenapa aku sangat malas untuk bertemu dengan tempat-tempat masa lalu.


Akhirnya aku melajukan sepeda motor menyusuri jalanan kota, melewati lampu merah, memutari pasar kandangan, lalu tibalah aku di lapangan Tugu yang sering di kenal sebagai lapangan MTQ. Aku menepikan motor ke tempat parkir, sudah lama nggak kesini rasanya lapangan ini memiliki banyak perubahan dari berbagai segi bentuk sampai tata letak pohon-pohon baru yang menghiasi taman. Rasanya benar-benar asing dengan tempat ini, aku hanya duduk di atas motor selama beberapa saat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.


Setelah puas berkeliling, sebelum pulang ku sempatan untuk mampir dulu sebentar membeli martabak telor jumbo+istimewa. Sekalian aku juga beli kentucky buat di kasih ke mama, kan mama orangnya paling suka makan kentucky. Sesampainya di rumah kulihat mama sedang asik menata bunga, entah sejak kapan beliau memelihara berbagai jenis bunga seperti ini. Dulu, seingat ku mama nggak punya waktu untuk melakukan kesenangan beliau, karena terhalang oleh pekerjaan yang mengharuskan beliau selalu sibuk setiap harinya.


Mama suka marah, kalo pekerjaan yang beliau kerjakan tidak sesuai harapan dan marahnya tentu saja di lampiaskan kepadaku. Karena dari semua anaknya akulah manusia paling pemalas, tapi aku tidak pernah menyesali sifatku di masa lalu. Malah aku merasa puas karena bisa menikmati hari-hariku dengan malas tanpa mengerjakan apapun. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu, masa dimana aku masih bisa bermalas-malasan dengan penuh rasa puas.


"Abis darimana? Pagi-pagi udah ngilang..." kata mama saat aku memarkirkan motor


"Jalan-jalan bentar mah! Oh iya... tadi waktu pulang beli kentucky dulu spesial buat mama!" Kataku menyerahkan kantong plastik di tanganku


"Kalo lagi banyak uang itu jangan boros! Harus hemat..." omel beliau yang terkesan menasihati


"Iya mah! Mumpung lagi ada duit... Kalo gitu aku lanjut tidur..."


"Kamu di tunggu Aleya di dalam... katanya ada yang mau di bicarakan!" Kata mama duluan melangkah masuk rumah


"Astagfirullah... hampir lupa!" Kataku menepuk jidat


Kak Aleya terlihat sedang sibuk menenangkan Dika yang lagi rewel, Dika lagi rebutan mainan dengan Indah anak kak Disi, ceritanya gitu. Aku duduk di sofa menertawakan perkelahian kedua balita ini, yang tentu saja kena pukul mama yang datang sambil membawa martabak telor. Beliau mengenaliku yang tidak membantu kak Aleya menenangkan kedua cucu kesayangannya. Aku hanya terkekeh mendengarkan omelan beliau, lalu mencomot sepotong martabak dan lanjut menonton perkelahian.

__ADS_1


Setelah puas tertawa, akhirnya aku membantu mama menenangkan Indah yang kini nangis hingga tak bersuara, sedangkan Dika puas karena menang dalam perkelahian. Setelah kedua bocsh itu kembali akur, aku mulai membicarakan masalah baju keluarga yang diinginkan. Dan akhirnya keputusan ku serahkan semuanya kepada kak Aleya, karena sekarang aku malas memikirkan masalah apapun saat ini. Tugasku hanya menyerahkan uang modal untuk membeli keperluan membuat baju, pokoknya segala uang produksi aku yang menanggung.


"Kamu kapan balik ke Jakarta?" Tanya mama setelah keputusan jatuh pada kak Aleya


"Besok mah! Kenapa? Mau ikut?" Kataku tanpa mengalihkan tatapan dari layar televisi sambil makan kacang


"Bentar amat... besok lusa aja balik ke Jakarta nya nggak bisa ya?" Kata mama hendak mengelus kepalaku namun segera ku tepis, aku nggak suka di belai oleh kasih sayang beliau, bagiku terlalu alay


"Bisa, tapi pekerjaan bakal numpuk dan gaji kena potong!" Kataku sedikit menjauh dari beliau yang masih hendak membelai kepalaku


"Emang kamu nggak capek kerja? Kenapa nggak nikah aja?" Kata kak Aleya ikut ambil pembicaraan


"Aku nggak capek cuma bosan aja kok kak... Kalo masalah nikah... baru dua hari yang lalu laki-laki yang mau ngelamar aku pulang ke sisi Allah..." kataku sedih dan menundukkan kepala mengingat kepergian Ain yang tiba-tiba


"Jadi gini mah... Aku punya kenalan cowok yang udah jagain aku selama dua tahun belakangan selama di Jakarta... awalnya dia beragama Hindu, tapi dua bulan yang lalu udah pindah agama... lalu katanya dia mau ngelamar aku secara resmi... eh taunya! Tiba-tiba dia minta maaf karena nggak jadi mau ngelamar aku... lalu malam setelah minta putus dia menghembuskan napas terakhirnya di ruang operasi... anehnya aku merasa kesal!" Kataku dan menambal rambutku sendiri serta menggigit bibir menahan tangis


"Mungkin Allah lebih sayang sama dia, ketimbang kamu sayang ke dia! Percaya deh... nanti pasti ada gantinya!!" Kata mama menepuk-nepuk punggung ku agar lebih tenang


"Kalo gitu... Aku ke kamar dulu ya mah..." kataku segera berlalu ke kamar karena merasa sesak


Sampai di kamar aku malah jadi bengong dengan diriku sendiri, tadi waktu cerita udah mau nangis nggak ketauan lagi. Tapi sekarang udah nggak merasa sakit ataupun sedih sedikitpun, yang jelas sekarang aku lagi bingung kenapa bisa begini. Ku lemparkan tubuh ini ke atas kasur dan segera berharap terlelap dengan kondisi perut keroncongan minta makan yang mengenyangkan. Aku malas kemanapun saat ini, so biarlah perut ini merasa tersiksa sebentar sebelum aku terlelap, selamat tidur siang semuanya.

__ADS_1


***


Setelah beberapa jam tertidur aku segera bersiap-siap untuk menjemput Aya di sekolahnya, tapi sebelum berangkat di cegah mama. Mama membawaku ke ruang makan untuk mengisi perut yang terasa perih, awalnya nggak nafsu makan, tapi saat melihat ada sambal terasi selada kakakku membeludak. Akhirnya aku merasa puas setelah makan sebanyak empat piring, setelah selesai makan aku mencuci piring bekasi makan sendiri, karena kebiasaan dari kecil. Setelah beres, aku segera keluar rumah untuk pergi menjemput Aya, tapi saat hendak menyalakan mesin motor. Soraya datang dengan membonceng Aya, mereka terlihat akrab dan sangat akur, dan menimbulkan sedikit rasa kesal.


Dari kecil aku tidak terlalu akur dengan para saudaraku, karena dulu akulah yang membatasi diri agar tidak terlalu akrab dengan yang lain. Aku lebih suka sendirian di kamar ketimbang ikut kumpul-kumpul dengan yang lain, karena mereka tidak sepemikiran denganku.


"Baru juga mau di jemput!" Kataku menyambungkan pipi


"Kelamaan!" Kata Aya berlalu masuk


"Kak! Mau ikut jalan-jalan nggak nanti malam?" Ajak Soraya setelah memarkirkan motornya


"Kemana?" Aku sedikit tertarik


"Biasa, jalan-jalan malam!" Katanya sambil mengedipkan sebelah mata


"Hmmm.... boleh juga tuh! Nanti ikut deh kalo nggak males!" Kataku kembali masuk rumah yang di ikuti Soraya


"Janji ya!" Katanya gembira menghadang jalanku sambil mengacungkan jari kelingking


"Nggak bisa janji!" Kataku dengan senyum dan berlalu masuk

__ADS_1


"Yahhh..." katanya sedih


Aku duduk di sofa menemani para keponakanku yang ngumpul di ruang tengah, Rifky keponakanku yang paling besar terlihat menguasai perkumpulan. Dia kayak rasa di antara para kaisar, sama seperti ibunya kak Nur yang selalu bersikap layaknya ratu di antara ribuan tuan putri lainnya. Aku hanya diam duduk di sofa sambil mengawasi jalannya permainan anak-anak, yang sangat menggemaskan ini, sesekali aku juga iseng mencubit pipi tembam mereka satu persatu. Sekedar untuk hiburan diri yang mudah bosan jika terlalu banyak diam dan diam.


__ADS_2