
Keesokan paginya, Aya benar-benar menarikku pergi dari kasur untuk segera pergi ke sekolahnya. Saat itu aku juga benar-benar merasa kesal namun masih bisa di tahan, ganggu waktu tidur pagi aja nih anak. Dengan mengendarai motor beat birunya aku di bonceng Aya pergi ke sekolahnya, nama sekolahan Aya adalah SMP N 1 Kandangan. Termasuk ke dalam sekolahan unggul se-kandangan, karena prestasi dari murid-muridnya yang menonjol di segala bidang.
Dulu aku bersekolah di SMP N 2 Kandangan, saingan berat sekolah adikku sekarang hingga saat ini. Aku menyukai sekolahku ketimbang sekolah adikku bukan karena aku sekolah disana, tapi karena sekolahku dekat dengan perpustakaan daerah, gudangnya buku-buku yang membuat ku bermimpi ingin menjadi orang sukses. Aku paling suka perpustakaan, karen selain banyak buku ruangan di perpus juga ber ac, karena kamarku sekolah dulu ac dan elektronik lainnya masih sangat minim di kota ini.
Sesampainya di sekolah, ternyata kami telah di tunggu di ruang kepala sekolah, waduh, sepertinya kasus ini benar-benar rumit, soalnya udah nyangkut ruang kepala sekolah bukan ruang BK lagi. Aya terlihat pucat, saat di tatap oleh seorang guru wanita, yang sepertinya tidak di sukai dan tidak menyukai Aya. Aku tersenyum ramah pada beliau dan menyerahkan bingkisan yang sempat ku beli sebentar tadi di jalan, sekedar pemanis di awal. Kulihat ada beberapa murid wanita lainnya yang luka-luka di bagian wajah dan tangan. Seketika aku bangga dengan Aya, yang tanpa ragu membela harga dirinya sendiri walaupun tahu konsekuensi dari perbuatannya itu.
"Karena, semuanya sudah lengkap, sekarang kita akan memulai pembicaraan ini. Sebelumnya saya ingin bertanya dulu, anda siapa nya dari ananda Aya?" Tanya pak kepala sekolah ramah
"Oh maaf, saya lupa memperkenalkan diri... Nama saya Rukanaya, panggil aja Ruka, saya adalah kakak kandung dari Aya!" Kataku memperkenalkan diri setangguh mungkin
"Dilihat dari manapun kakaknya punya sopan santun, nggak kayak adiknya yang begajulan!" Sindir seorang ibu pada Aya yang sedari tadi menunduk
"..." Kulihat Aya mengepalkan tinjunya yang segera ku genggam untuk menenangkannya
"Apakah nak Ruka, sudah di beritahu kenapa bisa sampai di panggil kemari?" Tanya pak kepala sekolah ramah
"Aya sudah menceritakan semuanya kepada saya pak!" Sahutku ramah
"Kalau begitu... maunya bagaimana menyelesaikan masalah ini?" Kata beliau mengedarkan pandangan
"Saya sih masih bisa pakai cara damai! Asalkan anak itu jangan satu kelas lagi dengan anak saya!" Kata ibu itu dengan judes
__ADS_1
"Saya, gimana baiknya aja pak!" Kata seorang ibu yang terlihat hangat
"Lalu wali dari ananda Aya maunya gimana?" Tanya beliau padaku
"Jika menurut saya! Lebih baik kita mencari tahu dengan jelas kenapa masalah ini sampai bisa terjadi! Lebih baik berantas masalah ini sampai keakar-akarnya untuk keadilan semuanya... Karena saya takut kedepannya jika masalah ini ada yang melaporkan sebagai pelanggaran HAM anak! Jadi menurut saya, lebih baik kita antisipasi lebih dulu sebelum nanti masalahnya semakin besar!" Kataku serakah mungkin
"Kalo udah pakai cara damai kan kelar..." kata ibu itu kritis
"Kalau pakai cara damai seperti itu, memang selesai bagi para orang tua... Tapi bagaimana dengan anak-anak... mungkin kedepannya mereka akan menjadi musuh bebuyutan jika hanya pakai cara damai! Memang mulut mereka berkata baikan, tapi siapa yang tau isi hati mereka yang sebenarnya... Jika mengenai biaya pengobatan dan konpensasi untuk anak ibu berdua tentu saja akan saya berikan, tapi sebelum itu kita harus memberantas masalah ini dulu sampai akar!" Kataku dengan senyum ramah
"Saya setuju dengan nak... Ruka! Lebih baik antisipasi masalah ini seperti yang di katakan nak Ruka!" Kata kepala sekolah menyetujui pendapatmu
"Terserah bapak aja deh kalo gitu..." kata ibu judes itu
Saat itu juga semua titik masalah di korek hingga ke dasar, para saksi perkelahian juga tidak luput dari pertanyaan. Hingga akhirnya titik permasalahan telah jelas, jika perkelahian antar remaja kali ini memang salah Aya yang menyerang mereka duluan tanpa sebab. Karena Aya tidak memberikan kesaksian apapun lagi, karena saat ini ia sedang dalam fase sangat kesal dan marah. Setelah semuanya masalah terkumpul menjadi satu dan di putuskan dengan cara damai, masalah kelar dari sisi lawan.
Walaupun kedua remaja wanita itu telah memaafkan dan meminta maaf kepada Aya dengan tulus, namun Aya masih terlihat kesal. Sesuai janji aku memberikan masing-masing dari kedua orang tua remaja itu uang senilai 500 ribu, sebagai permohonan maaf sekaligus konpensasi. Di situlah kekesalan Aya masih nyempil, karena aku terlalu baik hati mengeluarkan biaya konpensasi sebanyak itu.
"Kenapa? Kamu masih dendam sama mereka?" Tanyaku saat kami menuju parkiran
"Nggak! Sekarang aku kesel sama kakak! Banyak banget kasih uang konpensasi ke mereka!" Katanya manyun
__ADS_1
"Emang kenapa?" Kekehku heran
"Mending kasih ke aku buat jajan!" Katanya mengeluarkan uneg-uneg yang sejak tadi di tahannya
"Ya elah... 5 ribu aja udah cukup buat jajan, ngapain harus banyak-banyak!" Kataku mencubit pipinya
"5 ribu, cukup buat apaan duit segitu!" Kesalnyal
"Kamu mau tau buat apaan uang segitu di jaman sekarang?" Tanyaku agar membuatnya penasaran
"Buat apaan kak?" Dia kepancing
"Buat... memiliki dunia dan seisinya!" Kataku membentangkan tangan selebar-lebarnya
"Dalam mimpi..." katanya membuang muka tidak percaya
"Kamu nggak percaya? Coba kasih uang jajan kamu ke nenek di sana!" Kataku memalingkan wajahnya ke arah seorang nenek-nenek yang sedang meninta-minta di depan gerbang sekolah
"..." dia benaran mengeluarkan uang makannya dan memberikan selembar uang seharga 10 ribu pada nenek itu dengan senyum hangat
"Nah bener kan!" Kataku dan dia mengangguk sambil tersenyum bahagia
__ADS_1
Semuanya telah terselesaikan dengan bijak, sekarang waktunya berkunjung ke perpustakaan, udah lama nggak ke sana. Mungkin buku-buku disana udah baru semua, sekalian aku bisa berkunjung ke SMP ku dulu, kan tinggal nyebrang dari perpustakaan. Nanti setelah pulang sekolah Aya barulah aku menjemputnya lagi, kalau aku tidak lupa untuk menjemputnya pasti ku jemput. Tapi kebiasaan aku suka pura-pura lupa.
Jalanan kota Kandangan memang tidak seramai jalanan ibukota, maka dari itu aku masih bisa menghirup sedikit udara segar di kota ini. Rasanya udah sangat lama tidak melewati jalanan ini, terakhir kali melewati jalanan ini saat aku kelas 3 SMA waktu mau ke rumah teman, oh iya temanku yang satu itu apa agar ya? Kuharap dia baik-baik saja.