
Kenangan tentang nenek...
Saat pertama kali aku mengunjungi nenek di kota kelahiran beliau, Hari itu bertepatan dengan gaji kelima ku telah ada di kantong. Bisa di katakan 5 bulan setelah aku berada di pulau jawa baru mengunjungi beliau dan keluarga di sana. Awalnya semua orang kampung disana menganggapku sebagai pegawai pemerintahan yang sedang survei lapangan, tapi siapa yang menduga saat itu aku adalah cucu dari seorang nenek tua yang terkenal galak. Nenek memang galak, bahkan beliau sempat memaiki-makikudan mengusirku karena mengira aku adalah pegawai pemerintah an yang suka memakan hak rakyat biasa.
"Dancuk! Pegawai goblok... taunya cuma makan harta rakyat!" Maki beliau kepadaku yang saat itu di antar kepala daerah ke rumah beliau
Bahkan aku sempat hendak diusir pakai gagang sapu oleh beliau, namun aku malah diam membisu dan menangis haru melihat beliau yang bersemangat menyambut kedatangan cucunya degan gagang sapu. Untungnya sebelum gagang sapu memukul tubuhku, paman yang ku sebut amang segera mengambil sapu dari tangan dan menenangkan nenek yang lagi kalap.
"Yuwes mbak! Maaf karena bibi saya marahin mbak! Beliau lagi kesal karena tidak mendapatkan uang tunjangan dari pemerintah bulan ini!" Kata amang menjelaskan kekesalan nenek
"Maaf mbak! Bibi emang galak orangnya!" Kata istri amang saat air mataku tidak bisa di tahan lagi
"Nenek..." tangisku pecah dan aku segera menghambur bersujud di kaki beliau penuh haru
Ku cium, ku peluk, ku rangkul kaki nenek yang tidak mengenakan alas kaki karena ingin memukulku. Aku menangis haru di bawah kaki beliau di hari itu, hingga membuat beliau juga menangis terbawa suasana, beliau menangis tanpa tau siapa aku sebenarnya. Setelah di tenangkan oleh bibi istri amang, aku di persilakan masuk ke dalam untuk menjelaskan kejadian barusan.
"Diminum dulu mbak!" Kata bibi ramah memberikan segelas teh hangat yang segera ku minum karena sopan santun
"Kalo boleh tau! Mbak ini siapa ya?" Tanya amang ramah duduk di samping nenek yang entah kenapa membuatku iri
__ADS_1
"Nek! Ini Ruka! Cucu nenek dari kalimantan... sebelumnya nenek emang nggak pernah liat Ruka selama tinggal di kalimantan!" Kataku mencium tangan beliau
"Cucu! Oalah... kamu anaknya Mawa toh!" Kata beliau dengan mata berkaca-kaca lalu memelukku
"Nenek apa kabar?" Tanyaku di dalam pelukan hangat beliau
"Baik... Nenek baik! Mama kamu apa kabar?" Tanya beliau membelai jilbabku
"Alhamdulillah... Semuanya dalam kondisi baik kok nek!" Kataku sambil menyalami satu-persatu keluargaku yang lain
"Kamu sama siapa ke sini?" Tanya nenek sambil membelai-belai punggung ku
"Iya nggak apa-apa... kamu cucu nenek yang ke berapa?" Tanya beliau
"Yang ke 4 nek..."
Hari itu aku benar-benar bahagia kerena di sambut dengan hangat oleh keluargaku di sini, mereka semua ramah dan baik. Nenek memintaku agar menginap semalam dulu sebelum kembali ke Jakarta, yang tentu saya ku Iya kan. Malam itu nenek banyak bercerita tentang masa kecil mama yang terbilang sangat nakal, beliau terus bercerita sepanjang malam di sampingku. Walaupun saat itu aku merasakan kebahagian tapi dari dasar hatiku, ada sedikit ruang yang masih terasa hampa. Sampai pagi nenek nggak tidur karena ingin melihat cucunya selagi ada di rumah beliau yang selalu di katakan beliau sebagai rumah reot.
Malam itu aku tertidur lelap, di samping nenek yang bercerita tentang masa kecil mama, sepanjang malam pula beliau mengelus rambut panjang ku. Hari itu beliau benar-benar bahagia karena di kunjungi oleh cucunya yang tidak pernah beliau lihat sebelumnya. Kuharap nenek tenang di sana dan bertemu dengan cucu barunya.
__ADS_1
Pagi harinya aku segera bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta, dan pagi itu nenek menangis kejar, tidak membiarkanku untuk kembali ke Jakarta. Aku juga sedih karena hanya menginap selama satu malam di rumah hangat itu. Ingin rasanya aku kembali kesana sekedar melepas rindu.
"Nek! Jaga kesehatan! Makan yang banyak! Doa in Ruka biar bisa sering-sering ke sini ya!" Kataku sambil mengusap air mata beliau
"Kamu juga harus makan yang teratur dan jaga kesehatan di sana, biar bisa nengokin nenek lagi nanti!" Kata beliau merapikan jilbabku yang udah rapi
"Pasti nek! Pasti!" Kataku saat itu
Tapi siapa yang menyangka setelah beberapa hari aku pergi dari sana nenek menghembuskan nafas terakhirnya. Dan hari itu juga aku segera memesankan tiket untuk mama, agar berkunjung ke tempat nenek. Tapi amang yang mengabariku langsung ke apartemen bilang...
"Nenek kamu teh! Berpesan agar kamu bahagia selalu! Nggak usah datang ke pemakaman nenek, karena beliau tidak ingin melihat cucunya menangisi kematian beliau! Dan kalo mau ngabarin mama kamu tunggu setelah tanah pemakaman nenek kering! Kata beliau ini adalah wasiat buat kamu!" Kata amang dengan air mata yang berderai
Setelah amang selesai mengatakan wasiat nenek, aku mengisi sejadi-jadinya hingga pingsan dan tidak sadarkan diri selama berjam-jam. Di dalam mimpi aku bertemu beliau mengatakan wasiat yang telah di sampaikan amang kepadaku lagi dan lagi, hingga membuatku muak mendengarnya. Sepertinya saat itu nenek tidak ingin merepotkan kami sebagai cucu dan anak beliau, aku sedikit kecewa. Dan hari itu juga amang memintaku menerima kembali uang yang kutinggalkan hari itu untuk uang belanja nenek di bawah bantal.
Aku menolak menerima kembali uang itu dan meminta agar amang menggantikan nenek untuk menghabiskan uang itu. Awalnya amang menolak, tapi setelah ku paksa akhirnya amang menerima uang itu setelah kuarahkan untuk buka toko sembako di kampungku, agar membantu penghasilan amang yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Setelah amang dan bibi kembali ke kampungnya, aku kembali menangis di apartemen menyesali nasibku sendiri yang tidak bisa bertemu nenek lagi untuk selamanya.
Setelah tanah pemakaman nenek kering barulah aku mengabarkan kepergian nenek pada keliuargaku di kampung. Katanya mama sampai histeris dan pingsan mendengar kabar dan pesan tidak masuk akal dari nenek. Setelah mendengar kabar itu katanya pula mama selalu melamun di pelataran rumah, bahkan sampai sakit karena memikirkan nenek terus-terusan. Dan setelah tiga tahun kepergian nenek, barulah mama dan abah sebagai menantu nenek berkesempatan menjenguk pemakaman nenek yang sesekali dikunjungi olehku. Setiap kali berkunjung ke pemakaman aku selalu merasa sesak, tapi tidak bisa menangis lagi, karena rasa penyesalan yang begitu besar ini.
****
__ADS_1