
Hari berlalu dalam damai, semuanya kembali baik-baik saja dan kembali normal seperti biasa. Yang tidak normal dari hari ini adalah sosok Abah yang sedang duduk santai di teras belakang bersama Tian, entah apa yang mereka obrolkan. Walaupun mama tidak bisa ikut Abah menemuiku, tapi itu tidak apa-apa selagi mama dan yang lainnya di sana sehat dan selalu dalam keadaan baik.
Sebenarnya kemarin aku dan Tian beserta kakek, akan pulang ke kampung halamanku. Tapi, aku merasa mual dan tidak nyaman saat beberapa detik duduk di dalam helikopter yang akan membawaku pulang. Karena tidak ada cara lagi untuk kami pulang ke Kalimantan, akhirnya Abah yang mengalah dan datang ke kota ku sekarang.
Disini dari balik pintu, aku berdiri dalam diam memperhatikan Abah dan menantunya itu saling mengobrol. Kulihat tidak ada kecanggungan sedikitpun dalam hubungan keduanya, mungkin karena mereka sama-sama lelaki. Rencananya Abah akan menginap selama 3 hari di sini, dan ini adalah hari ke 2 Abah menginap disini. Rasanya baru beberapa jam yang lalu Abah sampai, tapi kenapa cepat sekali sudah mau pulang.
"Sayang! Kamu ngapain berdiri di sana..." Tian bangkit menghampiriku
"Eh..." Aku bingung sendiri
"Kenapa? Ada yang nggak nyaman? Atau sakit..." Tian terlihat khawatir
"Aku nggak apa-apa kok!" Aku tersenyum padanya
"Kamu duduk dulu...!" Tian menuntunku duduk di kursi samping Abah sedang kan dia jongkok di depanku sambil mengelus-elus perut besarku
"Sayang! Kamu ngapain...?" Entah kenapa aku yang merasa malu karena Abah terkekeh
"..." Abah diam dan mengelus kepalaku pelan
"Bah! Pulangnya seminggu lagi aja ya! Bisa kan..." Aku menggenggam tangan Abah penuh harap
"Abah.." beliau tidak bisa berkata-kata
"Sayang! Abah kan juga pasti sibuk di kampung... Nanti, kita aja yang pulang kampung ya!" Bujuk Tian
Aku hanya bisa mengangguk pasrah dengan senyum paksa, beginilah hidupku. Walaupun hasrat untuk menahan Abah agar jangan pulang sangat kuat, tapi pikiranku bisa mengendalikan ego yang tidak penting ini. Aku lelah mengalah terus, tapi aku tidak bisa apa-apa karena aku tidak ingin di kuasai oleh keegoisan yang tidak berdasar. Jujur hatiku saat ini terasa begitu perih, seperti di sayat oleh pisau yang karatan, perih dan sakit.
"Kalau gitu... Abah ke kamar dulu ya! Kalian lanjutin aja ngobrol nya..." Pamit Abah dan berlalu pergi
"Iya bah!" Sahut Tian ramah mengantar Abah sampai ke depan pintu
"..." Aku sedih
"Sayang! Kamu kenapa nangis?"
__ADS_1
"...." Aku membenamkan wajahku di pelukan Tian dengan isak tangis yang tertahan
"Sayang...." Tian terus mengelus kepalaku lembut
"Aku rindu rumah..." Tangisku pecah di pelukan Tian
Di dalam pelukan Tian aku menumpahkan segala rasa rinduku akan rumah dan para keluargaku di sana. Rasanya sesak ini semakin sakit, karena mengetahui abah lebih mementingkan urusan pekerjaan di kampung ketimbang aku anaknya yang sangat jarang bisa menghabiskan waktu bersamanya. Apakah salah aku mewujudkan mimpiku selama ini? Aku hanya ingin membuktikan pada semuanya jika aku juga bisa berhasil.
Aku yang dulu selalu di remehkan dan di rendahkan oleh saudaraku, kini menjadi seorang istri dari seorang miliarder. Aku si gadis pemalas yang hanya bisa bermimpi, kini menjadi wanita yang memiliki segalanya, dengan hanya berbekal dengan kenekatan semata. Kulihat, tidak ada seorang pun dari saudaraku bisa menandingi posisi ku sekarang. Mereka semua berhasil karena adanya dukungan dari orang hina ini, orang yang selalu mereka remehkan.
Dulu aku selalu duduk di paling sudut, saat sedang ngumpul bareng keluarga. Pastinya karena aku menghindari kalimat-kalimat yang bisa mematahkan mimpi besarku. Bukan orang lain yang membuatku lemah dan sempat menjadi sosok yang brengsek, tapi keluargaku sendiri. Aku tidak menyukai semuanya yang ada di dala. Keluarga ku, tapi aku tetap tidak bisa melakukan apapun, karena aku hanyalah seorang anak yang memiliki banyak hutang pada mereka.
Cara didikan mereka selalu membuatku merasa tertekan, hingga membuatku ingin pergi dari rumah. Dan kini Tuhan telah mengabulkan semua yang ku inginkan, aku benar-benar telah jauh dari keluarga ku. Aku juga sadar jika semua yang kuinginkan pasti ada akibatnya, dan akibatnya adalah merasa diabaikan oleh keluarga.
"Sayang! Aku mau ke kamar!"
"Mau aku gendong?"
"Nggak usah, aku bisa jalan sendiri..."
"..." Tian menuntunku ke kamar dalam diam
"Sayang... Gimana kalo kita jalan-jalan sama Abah, ini kan hari terakhir Abah bisa nemanin kamu disini!"
"Kalo Abah punya waktu... Aku sih mau-mau aja!"
"Sayang... Kamu kok ngomong nya gitu!"
"Eh... Emangnya aku salah ngomong ya?"
"Kamu ngomongnya seakan-akan Abah nggak punya waktu aja buat kamu... Aku tau kamu sedih! Tapi jangan terlalu nyalahin Abah, apalagi diri kamu sendiri!" Tian memegang pipiku dengan kedua tangan besarnya
"Iya... Maaf! Emosi aku lagi nggak stabil..."
"Sayang!" Tian menatap dalam ke manik mataku
__ADS_1
"..." Aku merasa kan kehangatan dari tatapannya
"Kamu nggak sendirian... Ada aku disini!"
"..." Aku tersentak oleh kalimatnya barusan
"Aku harap kamu bahagia dengan apa yang kamu jalani sekarang... Kamu hanya perlu fokus dengan kehidupan kita sekarang! Masa lalu biarlah menjadi kenangan dan masa depan biarkan menjadi masa yang akan datang... Kamu hanya perlu fokus dengan hari ini!"
"Aku bahagia dengan pilihanku sekarang... Tapi masa lalu, selalu menghantui pikiranku... Aku juga capek, karena selalu teringat masa lalu..."
"Kamu hanya perlu mengingat kenangan yang indah-indah... Dan jangan pikirkan masa lalu yang membuat kamu tertekan!"
"Kenangan indah... Kuharap aku memilikinya..." Aku terkekeh sendiri
"Aku nggak percaya kalo kamu nggak punya kenangan indah..."
"Aku memang memilikinya... Tapi bukan kenangan tentang keluarga ku!" Mataku kembali berkaca-kaca
"Aku mungkin nggak tau bagaimana caranya kamu bertahan hingga saat ini... Tapi! Kamu sudah sangat hebat, karena bisa bertahan hingga detik ini..." Tian mendekap erat tubuhku
"Kamu tau? Selama ini aku bertahan hanya kerena mengharapkan kematian..."
"Sayang... Jangan ngomong..." Kalimat Tian terhenti saat matanya menatap mataku yang kosong
"Setiap saat, setiap detik... Aku selalu memikirkan bunuh diri, aku ingin mengakhiri segalanya... Tapi... Aku nggak bisa melakukannya, semuanya malah membuatku semakin depresi..." Teriak ku marah
"Sayang..." Tian kembali memeluk ku erat
"Tapi... Tapi setelah nikah sama kamu semua pemikiran gila itu sempat menghilang... Aku sempat bermimpi tentang kehidupan kita yang bahagia... Hari-hari yang penuh canda tawa, membesarkan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang... Tapi semuanya mengabur dari pikiran ku, hanya karena sepercik kenangan pahit!"
"..." Tian diam dan terus memberikan kehangatan dengan pelukannya
"Kini aku kembali sadar... Bagaimanapun caranya aku berusaha untuk bahagia... Mereka semua akan tetap mengabaikan ku... Semua usaha yang kulakukan terasa sangat sia-sia di perjuangkan..."
"Semuanya bukan mengabaikan kamu... Mereka semua peduli dengan kamu, sayang! Pikiran kamulah yang menciptakan ilusi..."
__ADS_1
"Aku capek..." Kataku sebelum kesadaran ku mulai menghilang
Aku kehilangan kesadaran setelah mengatakan secuil kenangan pahit di dalam pelukan Tian. Sejak tadi, aku sudah menahan rasa sakit yang mendera perut dan hatiku yang rasanya seperti di sayat-sayat. Aku marah tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi terhadap kedua buah hatiku di dalam perut ini. Usia kandungan ku telah memasuki 6 bulan, perutku juga sudah semakin besar.