
Pak CEO mengajakku keluar perusahaan, entah dia ingin membawaku kemana, tapi anehnya aku tidak curiga sedikitpun, walaupun kewaspadaan selalu ada.
"Pak! Kita mau kemana ya?"tanyaku saat mobil meninggalkan kawasan perusahaan
"Panggil namaku..." katanya dan menoleh ke arahku yang menatapnya bingung
"Alasannya?" Tanyaku meminta alasan
"Bukankah kita teman... jadi biasa akan memanggil namaku saat di luar pekerjaan!" Katanya dan kembali fokus menyetir
"Rasanya sedikit canggung... Tian... kita mau kemana?" Tanyaku lagi memanggil namanya, kenapa aku merinding ya?
"Bukankah tadi saat tidur kau mengigau ingin makan iga bakar? Ru!" Katanya membuatku kembali merinding saat ia memanggil namaku
"What? Aku ingin makan iga bakar! Tapi kenapa sekarang aku ingin makan seafood!" Kataku kaget
"Tapi saat kau tidur tadi...mengatakan ingin makan iga bakar!" Katanya lagi
"Aku ingin makan seafood!" Kataku berharap dia pindah haluan
"Iya bakar! Apakah kita perlu memeriksa cctv perusahaan untuk membuktikannya?" Kata Tian membuatku membelalakkan mata
"Tapi aku mau makan seafood!" Gumamku pasrah
"Kalau begitu... memohonlah padaku!" Katanya dengan senyum licik
"Memangnya jika aku memohon... kita akan makan seafood?" Kesal ku
"Tergantung..."
__ADS_1
"Gimana kalo aku memohon... kamu bawa aku makan seafood dan iga bakar sekaligus?" Kataku mencari keuntungan
"Tergantung..." dia terlihat mikir
"Sesama teman tidak boleh mengkhianati loh!" Tidak padanya
"Tergantung caraku memohon!" Katanya membuatku tersenyum puas
"Tian! Kita makan seafood dan iga bakar sekaligus ya! Aku mohon!" Kataku membuat bulu kudukku berdiri semua
"Ih... kok gue mau temenan sama manusia kayak gini sih!" Kata Tian bergidik ngeri
"Gue aja sampai merinding bilang gitu... ihh... nggak apa-apa deh yang penting bakal makan enak!" Kataku ikut bergidik ngeri
"Kata siapa! Kita cuma mau makan iga bakar kok!" Kata Tian yang membuatku kesal
"Jangan curang... gue kan udah memohon seperti apa yang lo minta!" Anakku padanya
"Hehemm...Pak CEO emang orang yang pendendam ya?" Kataku tersenyum kecut
Sesampainya di restoran barat, pak CEO memesan meja di lantai dua yang hanya bisa di masuki orang berduit lebih. Aku dan Tian duduk berhadapan, sambil menunggu pesanan yang telah kami pesan sambil mengobrol ringan, layaknya teman. Tidak lama kemudian makanan datang menggugah selara, rasanya air liurku hendak menetes jika di tunda lama-lama lagi. Aku segera mengisi perut dengan potongan daging yang telah puitis kecil-keci.
Sambil makan Tian mengajakku berbincang mengenai pekerjaan, aku menjawab pertanyaan Tian sekenanya saja, karena aku sedang ingin menikmati hidangan yang ada. Setelah selesai makan aku sedikit curiga karena Tian senyam-senyum kayak begitu.
"Awas lo kalo bilang gue yang harus bayar ni makanan!" Kataku padanya tajam
"Kalo iya... emang kenapa? Lagian aku lupa bawa dompet!" Katanya nyengir lebar
"Ihh... Pak bos masa biarin karyawannya yang bayar makan sih, cewek lagi!" Kesalku membanting sendok ke meja
__ADS_1
"Sekali-kali... karyawan traktir bisa nya kan nggak napa-napa!" Kata Tian dan tertawa abis
"..." Aku yang kesal melemparkan tisu yang telah diremas kewajahnya
Dia terlihat marah, dan membalas melemparkan tisu yang penuh saus tomat ke arahku, aku yang kesal balas melemparinya dengan tisu bekas. Hingga terjadilah perang lempar-lemparan tisu bekas, Tian tertawa puas karena berhasil keempat tisu yang telah di bawahnya nomplok di wajahku.
"Ru! Kamu ngapain disini?" Tanya Aji yang tiba-tiba muncul
"Biasanya kalo orang di restoran ngapain?" Balasku bertanya
"Makan!" Jawabnya
"Nah itu tau... kenapa masih nanya!" Kataku judes, aku masih kesal karena kejadian waktu itu
"Kamu masih marah ya soal kejadian hari itu... Aku minta maaf ya! Aku juga nggak sengaja!" Katanya meminta maaf dengan tulus
"Aku maafin... Tian kita balik ke kantor sekarang!" Kataku datar segera meminta Tian bangkit dari duduknya
"Ru! Kamu masih kesal kan... Aku harus bagaimana untuk menebus nya?" Kata Aji menahan tanganku agar tidak pergi
"Makin lama lo makin nggak sopan ya!" Kataku tajam dan menghempaskan tangannya
"Eits... Jangan buat Ruka makin kesel..." kata Tian mencegah Aji yang hendak menghampiriku
"Mbak berapa semuanya?" Tanyaku meminta bon
"Hei... Ru! Gue cuma bercanda kok, biar gue yang bayar!" Kata Tian mencegah bayar
"Mumpung gue lagi kesel jadi mau bayarin nih makan... lain kali lo harus ganti sepuluh kali lipat dari ini!" Kesalku meminta mbak kasir segera menggeser kartu ku
__ADS_1
Aku lagi sangat-sangat kesal, karena bertemu orang yang sangat ingin kuhindari beberapa hari ini, aku masih nggak terima. Kedua matanya itu melihatku seperti waktu itu, apalagi ku dengar dari mama kalo Aji pulang dengan hidung berdarah, itu pasti karena nafsunya tuh. Sumpah ingat kejadian itu membuatku kesal sampai sesak nafas gini. Di dalam mobil aku hanya diam malas bicara dengan Tian yang juga diam, mungkin ingin membuatku merasa lebih tenang. Setelah sampai di kantor aku kembali mengatur kekesalanku agar kembali bersembunyi agar tidak terlihat oleh orang-orang.
Setelah sampai di kantor, aku segera mengatakan jika sore ini pak CEO ada janji temu dengan kolega bisnisnya di restoran Xihe. Restoran china yang sedang tren sekarang ini, katanya, restoran itu tidak sembarangan orang bisa masuk. Awalnya pak CEO meresponnya dengan enggan, tapi setelah melihatku yang semakin kesal akhirnya beliau setuju. Padahal aku tidak memaksanya untuk menghadiri undangan kolega bisnis itu. Sebelum pergi menemui kolega bisnis itu, lebih baik aku membersihkan diri terlebih dahulu, karena pakaianku sekarang berbau saus tomat iga bakar.