JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
EPILOG


__ADS_3

Keharmonisan keluarga seperti inilah yang selama ini kumimpikan dalam hidup ini. Hanya ada tawa dan canda bahagia di seluruh penjuru kediaman ini. Seluruh keluarga besar ku, keluarga besar Tian dan seluruh keluarga besar kami berdua yang membaur dengan bahagia. Si kembar pembawa kebahagian, terimakasih Tuhan. Karena telah memberikan anugerah yang begitu indah dan menawan seperti si kembar.


Selama 2 hari ini, rumah besar yang kadang terasa sepi dan dingin ini kini terasa hangat dan penuh kebahagiaan. Aku ingin menangis melihat tawa dan senyum di wajah semua orang yang sedang mengelilingi si kembar yang terlelap di tempat tidur bayi. Wajah kesal Tian terlihat samar-samar, mungkin dia kesal kerena terlalu banyak orang mengelilingi anaknya.


Untuk acara syukuran dan aqiqah si kembar, kakek telah memesan 4 ekor unta, 4 ekor sapi dan 4 ekor kambing. Bahkan rencana syukuran yang akan di selenggarakan katanya akan di lakukan dalam skala besar. Keluargaku sempat kaget saat mendengar semua rencana mewah itu, karena acara sebesar dan semeriah itu tidak pernah mereka bayangkan.


Sejak tadi aku hanya menonton kebahagiaan yang ada di ruang tengah dari lantai 2 rumah ini. Tidak ada keinginan sama sekali untuk ikut membaur dalam candaan mereka semua, rasanya aku sudah sangat puas dengan posisiku berdiri sekarang.


"Sayang..." Aku kaget saat bisikan lembut serta pelukan hangat dari belakang mengusik ketenangan ku


"Ya Allah... Aku kaget! Kapan kamu ada di belakang?"


"Sejak beberapa menit yang lalu... Kamu lagi mikirin apaan sih?"


"Aku nggak mikirin apa-apaan tuh... Cuma bengong bentar doang..."


"Sayang..." Panggilnya lembut dan menatap ke bola mataku langsung


"Aku nggak mikirin apa-apa kok!" Sahutku sambil membelai wajahnya yang kelihatan lelah


"Yaudah kalo nggak mau cerita..." Tian mengambek


"Beneran nggak mikirin apa-apa kok... Ish, kamu jangan bertingkah imut gini dong... Bikin aku gemes aja!" Kataku sambil mencubit pipinya


"Aaaaa.... Sakit sayang..." Rintihnya kesakitan karena cubitan ku yang cukup keras


"Sayang... Kamu keliatan capek!" Gumam ku membelai mata pandanya yang samar-samar terlihat


"Keliatan banget ya?"


"Nggak juga... Yaudah, karena beberapa hari terakhir kamu nggak bisa tidur nyenyak... Sekarang aku akan nidurin kamu..."


"Nggak mau... Masa aku tidur  di waktu-waktu kayak gini sih..." Katanya menatap ruang tengah yang masih ramai


"Sayang... Kamu kan juga butuh istirahat! Apalagi setelah si kembar lahir, waktu istirahat kamu jadi berkurang banyak... Aku nggak mau kamu sakit!"


"Tapi kan, nggak enak..."


"Sayang! Kan cuma tidur siang sebentar!"


Aku segera menarik Tian ke kamar dan memintanya berbaring dengan nyaman di kasur. Beberapa malam terakhir waktu tidur Tian memang di sita banyak oleh si kembar yang seharusnya menjadi tanggung jawabku, sebagai seorang ibu. Tapi, di setiap malam Tian selalu menjaga si kembar kalau-kalau rewel di tengah malam. Bahkan kadang saat terbangun di tengah malam aku mendapati sosok Tian yang masih terjaga di samping tempat tidur si kembar.

__ADS_1


Aku sudah melarangnya melakukan tugas yang seharusnya menjadi milikku seperti itu, tapi sifat keras kepalanya sangat sulit di tangani. Bukan hanya cintanya padaku yang terlalu tulus, tapi cintanya pada si kembar juga sangat tulus dan suci. Apakah semua suami di dunia ini memang seperti Tian?


"Aku mau tidur, asalkan kamu jadi bantalnya..." Tian menarik ku yang hendak berdiri kembali duduk di kasur


"Yaudah iya..." Awalnya aku berpikir jika ia hendak menggunakan pahaku sebagai bantalnya, tapi ternyata


"Jadi guling aja deh, lebih enak..."


"Sa...sayang..."


"Aku mau! Saat aku bangun nanti, kamu masih ada di pelukan aku..."


Aku tersenyum mendapati sifat manjanya yang udah lama nggak muncul seperti ini. Aku juga mengelus-elus rambutnya yang lembut berharap agar ia cepat terlelap. Hingga tidak beberapa lama kemudian, wajahnya menjadi tenang dan napas yang teratur membuatku tidak henti-hentinya tersenyum menatap wajahnya. Sosoknya saat tidur benar-benar membuat mataku tidak lepas mengagumi wajahnya yang tampan dan menawan ini.


Aneh, padahal sosok Tian begitu sempurna seperti ini tapi kenapa dia malah memilihku sebagai pasangan hidupnya. Dia tampan, sangat kaya, sosok yang setia, sangat mencintai dan memanjakan istrinya dengan berlebihan. Sangat jauh dari yang hanya seorang wanita biasa dengan wajah yang juga biasa-biasa saja, latar keluarga yang sederhana, memiliki masa lalu yang kelam dan yang paling penting tidak bisa memahami apa itu cinta.


Bahkan sekarangpun aku masih bingung, apakah aku benar-benar telah mencintai Tian atau tidak? Walaupun dulu aku bertekad untuk belajar mencintai Tian, tapi entah kenapa selalu mentok di perasaan sayang saja. Orang yang kucintai di dunia ini adalah diriku sendiri dan kedua anak yang telah ku lahirkan beberapa hari yang lalu. Karena setiap kali melihat si kembar, aku selalu memiliki ambisi untuk melindungi mereka dan menjaga mereka, seperti yang kulakukan pada diriku sendiri.


Sedang kan perasaan untuk Tian, aku merasa biasa-biasa saja dan terlalu biasa malah. Aku tidak pernah merasa keberatan jika Tian dekat dengan wanita lain, bahkan aku berpikiran bahwa wajar saja jika Tian memiliki wanita simpanan di luar sana. Rasanya aku benar-benar tidak terlalu peduli dengan kehidupan Tian, mau itu ikut menyeret diriku ataupun Tidak. Yang jelas aku tidak peduli dengan apapun yang dilakukannya, mau itu merugikan ataupun tidak bagiku.


"Tookk...tookkk..." Suara pintu di ketuk


"Bentar..."  Aku beranjak turun dari kasur setelah melepaskan pelukan Tian yang telah lelap dalam tidurnya


"Aku ganggu ya kak?"


"Nggak! Ada apa?"


"Itu... Kak Nur dan yang lain, ngajakin belanja... Kakak mau ikut?"


"Hemmm... Kayaknya nggak bisa deh! Soalnya Tian juga lagi tidur!"


"Ohh... Jadi kakak ipar lagi tidur? Aku pikir..." Dia menatapku dengan pandangan mesum


"Ih... Kamu nggak lagi mikirin hal-hal kotor kan? Ingat umur..." Kesalku mencubit pipinya


"Aaww... Sakit! Aku kan juga udah gede..."


"Gede dari mana? KTP aja belum punya..."


"Ya kan tinggal satu tahun lagi juga bakal punya KTP!"

__ADS_1


"Ihh... Kok kamu jadi orang mesum sih? Pasti salah pergaulan nih..."


"Auk ah... Duluan ya kak..." Dia kabur menghindari omelanku


Aku hanya bisa menggelengkan kepala, merasa jika Soraya dengan diriku di masa lalu nggak jauh beda. Kesal sih rasanya saat tau jika masa laluku yang terlalu vulgar, walaupun hanya lewat media massa. Lupakan masa lalu yang memalukan untuk di kenang, karena sekarang aku hanya akan fokus pada masa kini dan masa depan. Biarkan semuanya menjadi masa lalu yang benar-benar masa lalu dalam hidupku.


Aku mengantar mereka semua keluar, karena semuanya berangkat pergi shopping, kecuali mama dan Abah. Semua mobil di dalam garasi keluar semua, di garasi rumah ini setidaknya ada 5 jenis mobil yang biasanya kami gunakan saat bepergian keluar, dipakai secara bergantian dong pastinya. Bahagia deh rasanya melihat mereka seperti sekarang, semua saudaraku tidak perlu lagi ribut memikirkan alat transportasi ataupun uang.


"Kak! Aku nitip coklat ya!"


"Udah itu aja?"


"Iya..."


"Kalo mama sama Abah nitip apa?"


"Abah nggak mau apa-apa..."


"Kalian hati-hati di jalan ya? Ingat pakai sabuk pengamannya!"


"Iya! Iya! Mah!"


"Kami berangkat! Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam...." Sahutku dan yang tinggal bersamaan


Setelah meminta kedua orangtuaku istirahat, aku membawa si kembar ke kamar di bantu mama menggendong Krisan. Setelah mencium cucu kembarnya mama pamit keluar, menyusul Abah di kamar yang kunonya istirahat duluan. Tian masih tertidur dengan tenang di kasur, wajahnya itu sama banget dengan si kembar yang suka tidur ini. Karena tidak ada yang bisa kulakukan karena ketiganya lagi tidur siang, aku membuka lagi lembar demi lembar album foto.


Ada 7 buah album foto yang isinya hampir penuh dengan kenangan-kenangan manis ku bersama Tian. Bahkan salah satu album di jadikan Tian sebagai album yang hanya di khususkan untuk foto ku dari berbagai ekspresi, tapi kebanyakan hanya ekspresi bengong. Rasanya saat membolak-balik halaman album foto ini membuatku merasa asing dengan ekspresi yang kutunjukkan.


Aku benar-benar tidak menyangka jika ternyata selama ini aku kadang terlihat seperti sosok yang kesepian. Aku memang merasa kesepian, tapi aku juga tidak menyangka jika ternyata selama ini aku menunjukkan wajah sedih mulu. Rasanya aku ingin membuang album foto yang satu ini karena geram setelah mengetahui sosok diriku yang selalu terlihat di depan Tian.


Seharusnya aku benar-benar melakukan perombakan secara besar-besaran pada diriku. Setidaknya aku harus membuang kebiasaan melamun ataupun bengong yang tidak berpaedah itu. Mulai saat ini aku harus menunjukkan wajah yang hanya akan di penuhi kebahagian  saat bersama ataupun tidak bersama Tian, setidaknya demi anak-anak dan Tian. Ku harap kebahagian ini akan bertahan lama, setidaknya sampai aku menyadari jika ternyata aku mencintai Tian.


"Kok jadi keingat Ain?"


Rasanya bayang-bayang Ain kembali bermunculan di dalam kepalaku yang terlalu hebat berimajinasi ini. Memang Ain adalah sosok pertama yang membuatku merasa bimbang di akhir-akhir kebersamaan kami. Tapi sekarang kan aku sudah punya Tian sebagai suami ku dan si kembar sebagai pelengkap hidup kami. Aku puas dengan kehidupan yang sekarang, bahkan sangat-sangat puas hingga aku rela di jemput sekarang oleh malaikat maut.


Tapi, eksekusinya bisa di tunda beberapa tahu di lagi kan? Soalnya aku masih ingin melahirkan anak untuk Tian. Biar rumah semakin ramai dan penuh keceriaan, seperti rumah masa kecilku dulu. Pokonya aku harus memiliki anak yang banyak, dengan harta sebanyak sekarang aku tidak perlu pusing memikirkan masa depan anak-anak ku nanti.


*******************

__ADS_1


__ADS_2