JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
ENTAH KENAPA JADI SELALU KESAL


__ADS_3

Keesokan harinya aku bangun dengan perut yang terasa perih karena lapar, tidak makan sejak kemarin siang. Aku bangun dan bergegas mandi, ambil wudhu, dan sholat subuh sendirian karena saat ini aku bangun sendirian. Biasanya aku sholat bareng Tian, tapi kerena tadi malam aku kesal oleh sikapnya yang terlalu perhatian itu. Setelah berpakaian kantor aku keluar dari kamar dan mencium aroma lezat masakan bi murni.


Aku melangkah menuju dapur, disana kulihat Katya sedang sibuk memasak sesuatu, mungkin memasak untuk Tian. Aku mengabaikan keberadaannya dan mengambil air dingin di kulkas, karena tenggorokan ku terasa kering. Katya menatapku penuh kebencian hingga membuatku kesal dan sangat ingin membuatku mencakar wajahnya itu. Tapi tahan, jangan sampai aku hilang kendali dengan diri ku sendiri saat ini.


"Nyonya... Sarapan dulu sebelum berangkat ke kantor!" Kata bi Murni memintaku menyantap hidangan di meja


"Saya nggak mau makan!" Entah kenapa aku malah kesal saat melihat makanan, apa kerena tau jika Katya memasak


"Tapi nyah..."


"Bibi jangan bikin saya tambah kesal!" Aku memotong kalimat bi Murni untuk pertama kalinya


"Kita sarapan di luar aja kalo gitu!" Kata Tian yang telah rapi dengan pakaian kantornya namun dasi masih belum terpasang


"..." Aku yang memang biasanya memakaikan dasinya setiap hari, repleks mendekatinya dan memakaikan dasi padanya dengan perasaan senang


"Pagi sayang..." Katanya dan mengecup keningku


"Pagi juga..." Sahutku senang karena melihat dasinya yang telah tapi


"Tian... Aku udah masakin makanan kesukaan kamu..."


"Kita berangkat bareng aja hari ini..." Kata Tian mengabaikan Katya dan menarikku keluar


"Nggak bisa... Aku nggak mau orang kantor tau status pernikahan kita!" Tolak ku pada ajakannya


"Ayolah sayang... Kita kan nggak pernah berangkat ke kantor bareng... Apa salahnya sih! Kan cuma berangkat bareng!" Katanya memaksaku masuk ke mobilnya


"Oke... Tapi..."


"Kamu udah setuju... Tidak terima pembatalan kalimat!" Tian menarikku masuk ke mobilnya

__ADS_1


Aku merasa kasihan dengan Niko supir pribadi Tian yang jarang di pakai, karena Tian tidak terlalu suka ada orang lain menaiki mobilnya. Sepanjang jalan menuju kantor Tian tidak melepaskan genggaman tangannya sedetikpun dariku. Aku semakin merasa kasihan melihat Niko yang berpeluh dingin karena melihat tingkah mesum bosnya di kursi belakang. Salahku juga sih, kenapa harus memberikan respon dengan kemesuman Tian saat ini.


Mobil segera meluncur masuk ke parkiran pribadi  para eksekutif perusahaan ini. Parkiran masih sepi, hingga membuat ku lebih tenang, karena para eksekutif perusahaan yang mengetahui pernikahan kami tidak semuanya, maka dari itu aku masih suka berhati-hati. Setelah merapikan pakaian yang sempat di buat kusut oleh Tian, aku segera keluar dari mobil tanpa menunggu Tian yang hendak membukakan pintu mobil untukku.


"..." Aku menahan tawa karena wajah cemberutnya


"Niko! Sekarang kamu beli makanan di restoran bintang 5... Dalam sepuluh menit harus sampai di ruangan saya!" Kata Tian sebelum mengikuti ku menuju lift


"Pagi pak CEO!" Sapaku padanya


"Sayang... Kok manggilnya gitu sih... Kan masih belum jam kantor!" Katanya manja


"Tapi kan ini sudah di kantor... Wahai pak... CEO... Yang ... Terhormat!" Kataku tersenyum menanggapi kalimatnya


"Ish..." Kesalnya dan menarik ku agak berlindung ke belakang dan kembali menyerangku dengan ciuman hangatnya


"..." Aku tidak bisa menolak entah karena apa


Setelah pintu lift terbuka aku kembali menata wajah agar terlihat seperti biasa, walaupun habis melakukan ciuman seperti itu dengan Tian beberapa saat lalu. Aku melihat noda lipstik di samping bibir Tian, hingga membuatku agak risih. Di dalam lift ada cctv yang mengawasi 24 jam full, hingga membuatku bingung harus bagaimana.


"Sayang... Di samping bibir kamu ada noda lipstik akau!" Akhirnya aku menegurnya


"Kamu yang bantu aku bersihin..." Katanya membuatku kesal


"Lap sendiri..." Kesalku dan memberikan sapu tanganku di tangannya


"Nggak mau..." Manjanya


"Berisik..." Kesalku dan segera keluar dari lift yang terbuka


"..." Tian hanya pasrah saat melihatku kembali kesal

__ADS_1


"Pagi mbak!... Pagi pak CEO!" Sapa Mirza yang ada di mejanya


"Pagi!" Sahutku dengan senyum seperti biasa


"..." Tian menatapku dan Mirza bergantian dengan tatapan yang mengerikan hingga membuat kami bergidik


Setelah duduk di kursi aku mulai sibuk dengan laporan yang harus di selesaikan hari ini. Jadwal Tian juga lumayan padat hari ini, hingga membuatku mendesah beberapa kali. Mirza yang melihatku sedang kesal, berlalu menuju pantry dan membuatkan segelas kopi yang ku terima dengan hangat. Tapi saat hendak menyeruput kopi pemberian Mirza, Tian memanggilku dengan nada kesalnya kulihat Tian sedang menatap kami marah.


Aku masuk ke ruangan Tian sekalian membawa laporan yang harus di permukaannya, namun sialnya aku terjebak di perangkap harimau. Tian tidak sedikitpun terlihat ingin membahas masalah pekerjaan saat aku masuk ke ruangannya.


"Sayang... Kamu jangan kayak gini dong... Ini kan di kantor!" Kesalku mendorong tubuhnya agar melepaskan pelukannya dariku


"Emangnya kenapa kalo di kantor... Kan nggak ada yang bisa marah juga kan!" Katanya kembali hendak memelukku namun segera ku tepis


"Kamu jangan buat aku tambah kesal!" Kataku segera berbalik hendak keluar dari ruangannya


"Oke...oke... Aku berhenti, tapi setelah kamu makan!" Katanya memintaku duduk menghadapi makanan


"Aku nggak mau makan!" Kesal ku semakin tambah


"Tapi kamu kan belum makan dari kemarin!" Bujuknya lembut


"..." Aku segera keluar dari ruangannya tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi


"Sayang... Sayang..." Panggil Tian yang ku abaikan


Aku kembali duduk di kursi dengan perasaan dongkol sekaligus kesal saat ini. Hingga membuatku memfokuskan diri pada pekerjaan sepenuhnya, sampai-sampai aku lupa waktu. Karena kesal dengan Tian aku menyerahkan tugasku pada Mirza, jika itu berhubungan langsung dengan Tian seperti menghadiri rapat dan perjamuan makan. Baru kali ini aku merasa kesal dengan makanan, yang biasanya selalu menjadi inspirasi ku dalam hidup ini.


Mungkin karena tadi pagi aku mendapati Katya memasak makanya ada rasa kesal saat melihat makanan. Dan barusan saja, Katya masuk ke ruangan Tian dengan membawakan kotak makan siang, padahalkan ini udah sore. Sebenarnya sudah sejak tadi siang Karya datang dengan membawa bekal makan, tapi karena Tian sibuk rapat sana sini, makanya sampai sore. Jam pulang kantor sebentar lagi, rasanya tubuhku sangat lelah dan penat kerena seharian hanya duduk sibuk mengurusi berkas dan laporan kantor.


Tian ada janji makan malam dengan perusahaan lain hari ini, tapi aku menyerahkan tugas itu pada Mirza juga. Hari ini aku ingin cepat pulang dan bertemu kasur empuk dan lembut di rumah. Tiba-tiba aku dan Mirza di kegetkan dengan Katya yang keluar ruangan Tian dalam keadaan menangis kesal. Membuat kekesalanku sedikit mereda karena melihatnya keluar dalam keadaan seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2