JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Terlalu Mewah


__ADS_3

Hari pernikahan tiba, katanya acara yang diadakan hanya acara kecil-kecilan tapi kenapa undangannya sebanyak ini, bahkan dekorasi ruangannya terlalu mewah. Semua saudaraku di jemput Tian menggunakan jet pribadi miliknya dua hari sebelum pernikahan. Semenjak hari lamaran Tian tidak di ijinkan lagi menemuiku, karena mengikuti adat yang ada. Selama seminggu ini pula aku mengerjakan pekerjaan dari rumah, di kantor pak Presdir telah menempatkan seorang sekretaris yang akan membantuku ke depannya.


Sebenarnya Tian menyediakan sebuah rumah untukku dan keluargaku yang lain selama masa pinangan ini. Tapi aku memilih untuk tinggal di apartemen ku dengan damai, karena aku menyukai kesunyian dan ketenangan. Biarkan para saudara dan keluargaku yang tinggal di rumah yang di sediakan keluarga Tian. Aku juga telah di perkenalkan pada keluarga mempelai laki-laki dua hari setelah acara lamaran terjadi. Ada beberapa yang tidak menyukaiku, mungkin karena tahu pengaruhku di perusahaan, sehingga para paman Tian merasa terancam.


"Kak! Kapan pacarannya sama kak Tian?" Tanya soraya yang menemaniku di ruang rias


"Pacaran apaan! Ketemunya aja baru tiga hari udah di lamar aja!" Kesalku merampas tisu


"Jadi kakak nikah tanpa kenalan lama gitu..." kata soraya manggut-manggut


"Begitulah... tapi enak kan punya kakak ipar kaya raya?" Tanyaku pada soraya membuat para perias ku saling bertatapan


"Kakak jual tubuh kakak ya? Biar di nikah sama tuan muda kaya... kayak di novel-novel!" Kata soraya satu server denganku


"Astagfirullah... ngapain jual tubuh segala! Kamu tadi liat kan laki-laki yang pakai jas biru malam... yang tampan banget itu!" Kataku sambil merem atas permintaan perias


"Oh... laki-laki yang itu! Liat, emang kenapa kak?" Tanya adikku penasaran


"Sebelum ketemu pak Tian dia udah lamar kakak... tapi kakak tolak! Karena kakak nggak suka sama keluarganya!" Kataku menjelaskan


"Mama juga bilang kayak gitu kemarin..." kata soraya manggut-manggut


"Udah kayak novel-novel roman CEO yang pernah kamu baca kan?" Tanyaku yang segera di anggukannya setuju

__ADS_1


"Masyaallah... sejak kapan aku punya adik secantik ini!" Kata kak Nur yang baru masuk kamar rias


"Dari dulu emang udah cantik!" Sahutku meminta kak Nur duduk


"Karena kulit embak mulus dan udah putih... jadi riasannya kami buat sederhana aja, nggak apa-apa kan mbak?" Tanya perias ku


"Mbak nya kerja di tempat kecantikan Eleanor yang lagi tren itu ya?" Tanyaku mengagumi wajahku yang sangat cantik


"Benar mbak.. Apa ada masalah?" Tanyanya takut-takut


"Benar-benar hasil karya terindah... saya suka, riasannya nggak berlebihan... makasih ya mbak! Saya puas banget!" Kataku menggenggam tangan perias itu penuh rasa terimakasih


"Eh...seharus nya kami yang berterimakasih, karena di beri kesempatan merias orang besar seperti anda!" Katanya tersipu


"Kamu pakai yang mana dulu?" Tanya kak Nur menatap gaun pengantin yang ada di tangan perias satunya


"Hem... iya juga ya!" Kak Nur mengangguk


Aku memakai gaun yang di pulihkan kedua perias ini, sesuai harapanku gaun yang mereka pilih sangat sesuai dengan seleraku. Tidak terlalu berlebihan walaupun sangat mewah namun sat ku pakai kesan anggun lebih dominan, karena di padukan dengan riasan yang mereka terapkan di wajahku. Aku benar-benar puas dengan hasil kerja mereka berdua, sampai-sampai aku sendiri hampir tidak mengenali tuan putri di cermin adalah diriku.


Diluar Tian mengucap ijab kabul dengan lancar dan khidmat, membuatku merasa nervous karena sepertinya dia sangat sempurna dan pantaskah bersanding denganku? Aku yang masih banyak kekurangan, aku yang masih banyak cela, dan aku yang hanya orang biasa menikah dengan seorang putra mahkota, bukankah itu tidak masuk akal. Mama datang menjemputku bersama saudaraku yang lainnya, mereka semua terlihat terkejut melihatku, sehingga membuatku semakin takut. Apakah aku terlalu memalukan untuk keluar? Ataukah aku terlalu buruk di pertontonkan pada khalayak umum?


"Masyaallah... Kak Ruka cantik banget!" Kata Aya dengan tatapan takjub

__ADS_1


"Kapan kita punya adik secantik ini kak?" Tanya kak Gaffar pada kak Nur


"Perasaan dulu... dia masih bocah yang suka mandi seminggu sekali!" Kata kak Diri mengundang tawa


"Ish... itu kan masalalu!" Kesalku malu karena para perias ikut tertawa


"Sudah! Sudah! Mari kita antar tuan putri menemui pangeran berkuda emas!" Kata mama dan kembali mengundang tawa


"Mama...!" Kataku malu


Aku segera di guring para saudaraku menuju pelaminan dan mempelai pria yang katanya ruang menunggu kedatangan mempelai wanita. Saat aku keluar dari tirai yang sengaja di dipersiapkan untukku keluar hari ini, saat aku melangkah keluar semua orang tercengang menatapku, begitu juga Tian yang repleks berdiri menatapku tanpa berkedip. Saat ini aku ingin tertawa, melihat wajahnya yang seperti itu, tapi tawaku bungkam saat kelopak bunga mawar berjatuhan mengiringi langkah ku menuju pelaminan. Sedari tadi aku hendak berjalan dengan langkah lebar, tapi mama dan para saudaraku terlalu mengekang langkah ku, sehingga aku hanya melangkah kecil sekali.


Rasanya udah kayak siput yang lagi tanding lari, rasanya aku ingin protes karena jalannya kenapa harus selambat ini. Tian yang masih menatapku tanpa berkedip di sadarkan pak Presdir di sampingnya agar menjemput di bawah anak tangga. Layaknya seorang pangeran yang sedang menjemput putri, Tian melangkah dengan gagah, namun kesan bangkitnya masih nempel. Aku menerima uluran tangan Tian dengan senyum manis, menuju pelaminan untuk melakukan tukar cincin dan tanda tangan akta nikah.


"Katanya pesta yang di selenggarakan... kecil-kecilan?" Bisikku saat kami berjalan berdampingan


"Ini udah pesta yang paling sederhana... seharusnya aku mengadakan pesta besar-besaran untuk pernikahan kita! Pokoknya kita harus mengadakan pernikahan ulang setelah mama dan abah kembali..." kata Tian semangat


"Sederhana dari mana? Tamunya aja sebanyak ini? Dekorasinya juga terlalu mewah!" Kesalku dan mencubit lengannya


"Aww... kalo main cubit-gigitan nanti aja di kamar biar puas..." bisiknya menggodaku membuat wajahku memanas


"Berisik!" Kesalku dan mengabaikan tatapannya

__ADS_1


Kulihat bu Darmawan mengis di rangkulan suaminya, mungkin sedih karena tidak bisa mendapatkan ku sebagai menantunya. Aku ingin ngakak, tapi ku tahan karena sekarang acara tukar cincin, aku kaget melihat berlian yang terlalu besar di cincin itu. Aku menatap Tian kesal karena cincin pernikahan tidak sesuai perjanjian, dia juga terlihat kecewa. Kecewanya Tian apakah sama dengan kekecewaan yang kurasakan?


Semua prosedur telah kami lakukan semua, bahkan acara sungkeman di penuhi oleh haru bahagia kedua keluarga. Aku yang awalnya tidak akan menangis sedikitpun hari ini malah menangis saat sungkeman di kaki abah dan mama. Sial padahal aku tidak ingin menangis, tapi untungnya aku bisa mengatur emosi, hingga nangis nya tidak parah-parah amat. Pernikahan yang secara mendadak terjadi ini berlangsung dengan lancar, walaupun ibu Darmawan terlalu berlebihan saat memeluk ku dan mama. Katanya jika beliau melamar lebih dulu, laki-laki yang berada di sampingku saat ini bukan Tian tapi anaknya Aji, brengsek emang.


__ADS_2