
Aku terbangun dari tidur saat mendengar suara merengek kecil si kembar, lagi-lagi Tristan yang merengek. Sedangkan Krisan yang tidur di sampingnya masih lelap dengan wajah menggemaskannya. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 04.37 pagi, masih terlalu pagi jika Tian bangun. Maka dari itu aku segera mengangkat Tristan yang terdiam setelah berada di dalam gendongan ku.
Mulut kecilnya bergerak-gerak seakan-akan sedang menanti makanan, aku tertawa kecil melihatnya yang seperti ini. Tristan benar-benar mirip dengan Tian saat sedang manja dan merajuk biasanya. Walaupun tubuhku terasa sakit saat bergerak, aku tetap memaksanya karena terobsesi dengan mama dulu saat baru melahirkan adikku. Soalnya, satu jam setelah melahirkan mama langsung bisa melakukan pekerjaan seperti bukan orang yang baru melahirkan saja.
Tapi setelah kurasakan sendiri, memaksakan tubuh yang lelah selesai melahirkan itu sangatlah menguras tenaga. Aku bersyukur, karena kedua anak laki-laki yang kulahirkan, terlahir sempurna tanpa ada kekurangan sedikitpun. Walaupun si kembar tua di dalam perut, karena usia normal wanita melahirkan itu adalah 9 bulan, jadi bisa di katakan jika si kembar udah tua di dalam kandungan.
"Hei... Anak mama udah bangun ya?" Kataku lirih mengajak Tristan bicara
"..." Tristan mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menggeliat
"Ya Allah... Kok anak mama bisa se ganteng ini sih!" Gemasku mencubit pipinya
"Oekk..." Panggil Krisan yang merengek
"Eh, anak mama satunya juga udah bangun ya? Sekarang giliran kakak yang makan ya..." Kataku meletakkan Tristan untuk mengangkat Krisan
"MasyaAllah... Kok anak mama bisa sepintar ini sih!" Pujiku padanya yang hanya merengek sekali
Ada perbedaan dari cara keduanya menyusu, jika Tristan menyusu dengan semangat lain lagi dengan Krisan yang menyusu dengan lembut. Tapi mereka berdua sama-sama memberikan kehangatan dan kebahagian bagiku saat menatap wajah keduanya. Tiba-tiba ponselku yang ada di atas meja berdering, ada panggilan video call masuk dari kakakku.
"Assalamualaikum..." Sapaku dengan senyum bahagia saat melihat wajah kedua orang tuaku
"Wa'alaikumsalam..." Sahut semuanya serempak
"Nak! Maaf ya! Mama nggak bisa nemanin kamu bersalin..." Tiba-tiba tangis mama pecah
"Nggak apa-apa kok mah! Dugaannya kan juga bakal lahiran seminggu lagi... Tapi, tiba-tiba semalam ketubannya pecah duluan, semuanya kan juga bakal datang ke sini..."
"Semuanya sehat kan di sana?" Tanya Abah setelah sempat menghilang dari layar
"Alhamdulillah, semuanya sehat bah! Nih cucu Abah juga sehat-sehat kok..."
"MasyaAllah... Cucu Abah kembar!" Kata beliau dengan suara tercekat serta mata berkaca-kaca
"Asik... Akhirnya aku punya ponakan kembar!" Kata Soraya dan Hayat bersorak riang
"Sekali bunting langsung dapat dua... Juga pengen!" Kata kak Disi
"Ngurus satu anak aja Lo kerepotan, gimana kalo dua... Bisa terbengkalai dua-duanya tu anak!" Kata kak Nur masih ketus
__ADS_1
"Widih... Bakal makan daging unta nih!" Kata kak Gafar mengarah pada acara akikah untuk bayi
"Insyaallah... Doa in aja ya kak!"
"..." Percakapan terus berlanjut hingga satu jam lamanya
Setelah panggilan di tutup, tiba-tiba Krisan yang ada di gendonganku kentut dan saat di periksa ternyata dia lagi pup. Pantesan sejak tadi tenang banget, ternyata lagi pup berbarengan dengan Tristan yang pipis. Di sana aku sempat bingung, mau ganti popok siapa dulu nih soalnya mereka pup dan pipis barengan. Akhirnya kuputuskan mengganti popok Tristan dulu karena dia cuma pipis, jangan khawatir selama ini aku sudah banyak berlatih soal ganti-mengganti popok selagi masih hamil mereka berdua
Selagi hamil aku mendapatkan pelatihan di rumah dari Bu dokter dan suster, mengenai tata cara mengganti popok dan memandikan anak. Awalnya agak takut sih, tapi setelahnya aku berusaha untuk santai. Saat masih sibuk mengganti popok Tristan, Krisan nangis hingga membuat Tian terbangun.
"Sayang! Kamu udah bangun?" Tanya Tian padaku yang masih sibuk mengganti popok Tristan
"Eh... Maaf ya, sayang! Kamu pasti bangun karena suara tangis Krisan ya?"
"Entahlah... Kamu lagi ganti popok ya?" Dia beranjak dari kasur dan menghampiri ku
"Mereka pup dan pipis barengan, jadi aku duluin ganti popok Tristan yang cuma pipis... Jadi Krisan nangis deh!"
"Sini biar aku bantuin..." Katanya membantuku mengganti popok Krisan
"Emangnya kamu bisa? Krisan pup loh..."
"Kan aku juga pernah ikut latihan ganti popok bayi sama kamu..."
"Nggak! Aku bisa kok!" Cegatnya padaku yang hendak membantunya membersihkan pup Krisan
"..." Karena dia bertekad membantu, aku diam aja memperhatikan dari dekat sambil gendong Tristan
Dia sempat mau nyerah di tengah-tengah, tapi saat menoleh ke arahku yang sedang sibuk bercanda dengan Tristan, so dia ngelanjutin kesibukan nya deh. Setelah beberapa saat, akhirnya selesai juga Tian mengganti popok Krisan yang penuh dengan pup nya, Tian adalah ayah yang hebat. Sebelum dia melanjutkan bermain dengan si kembar aku mengingatkannya agar sholat shubuh sebelum waktu baiknya lewat.
Selagi Tian sholat, si kembar tertidur lagi dan selang waktu tidur keduanya kumanfaatkan untuk mandi, karena badanku sudah lengket. Saat aku lagi sibuk mandi, di luar terdengar suara kakek yang hendak membangunkan si kembar, tapi di cegah oleh Tian hingga terjadilah adu mulut. Tapi hanya sebentar, karena setelahnya tidak terdengar suara ribut-ribut lagi di luar, aku yang telah selesai mandi pun segera keluar dari kamar mandi karena penasaran.
Ternyata, si ayah dan si kakek masing-masing menggendong si kembar yang masih tidur, pantesan diam. Karena kembar, jadi keduanya tidak perlu bertengkar untuk menggendong si kecil, inilah salah satu keuntungan memiliki anak kembar. Bu dokter masuk ke kamar untuk memeriksa keadaan si kembar, yang masih erat di daam gendongan si kakek dan si ayah.
"Si kembar baik-baik saja, bahkan keduanya terlihat sehat dan bugar! Untuk ibu si kembar, jangan melakukan hal-hal yang membuat lelah dulu untuk beberapa hari ini, karena harus memulihkan tenaga..."
"Baik dok! Lagian sepertinya saya memang tidak bisa melakukan apa-apa selain bermalas-malasan..." Kataku menatap orang-orang yang bahkan tidak membiarkan ku jalan-jalan
"Anda adalah wanita yang beruntung, karena di kelilingi oleh orang-orang yang baik dan perhatian seperti ini..." Kata Bu dokter satunya
__ADS_1
"Saya malah merasa terbebani... Karena takut tidak bisa memenuhi harapan mereka semua!"
"Anda tidak perlu takut! Karena sepertinya semua orang yang ada di sekeliling anda, benar-benar tulus menyayangi anda... Sungguh keberuntungan yang langka!"
"Bu dokter terlalu menyanjung saya... Tapi terimakasih untuk semuanya Bu dokter! Mungkin jika Bu dokter tidak ada di rumah ini, si kembar akan lahir lebih lambat..."
"Sama-sama! Anda memang wanita yang baik... Pantas saja semua orang memperlakukan Anda dengan tulus!"
"Sungguh pemandangan keluarga yang langka!" Sambung dokter satunya
"..." Aku tersenyum simpul melihat pemandangan bahagia di depanku saat ini
Apakah ini saatnya aku membebaskan diri dari segala teror masa lalu yang kelam dan menyakitkan. Walaupun aku masih takut karena hidup yang penuh dengan misteri ini, semuanya membuatku takut. Aku takut jika kebahagian ini hanya berlaku sesaat sebelum aku kembali jatuh terhempas dengan tragis, menuju jurang kehancuran. Tapi aku juga tidak ingin melepaskan kesempatan baik seperti sekarang ini, aku ingin menggenggam kebahagiaan yang ada sekarang bagaimana pun caranya.
Wajah-wajah bahagia mereka, kalimat-kalimat senang mereka, tawa ceria mereka, candaan mereka saat ini. Benar, aku ingin menggenggam itu semua dengan erat, agar tidak ada celah untuk rasa sakit menghampiri hidupku lagi. Aku juga sudah sangat lelah dengan hidup yang terpaku pada masa lalu yang kelam, mungkin ini saatnya aku fokus menata masa depan bersama orang-orang yang kusayangi walaupun mereka belum tentu balas menyayangi ku.
"Mata Dede bayinya mirip nyonya!" Kata Ica yang masih mencari ke samaan dari kami berdua
"Hidung Dede bayi mirip tuan..." Kata Lia ikut-ikutan
"Dede kembar lebih dominan mirip tuan ya! Padahal kalo mirip nyonya mungkin Dede bayinya akan lebih cantik..." Kata Sasa yang tidak sadar dengan mata Tian yang menatapnya sinis
"Memangnya ada masalah jika ANAK SAYA lebih mirip saya?" Tanya Tian sinis menekankan pada kata anak saya
"Jelas ada masalah... Kamu kan tidak setampan kakek! Jika mereka lebih mirip kakek akan lebih tampan... Sungguh sangat di sayangkan!" Kakek menggeleng-gelengkan kepalanya
"Semoga saja hanya wajah si kembar yang mirip dengan tuan! Bibi harap watak mereka lebih mirip dengan nyonya..."
"Apakah ada yang salah dengan watak saya?"
"Sepertinya, tuan tidak pernah bercermin..." Kata bi Murni yang membuat Tian semakin kesal
"Pffttt..." Aku hampir saja menyemburkan tawa mendengar perbincangan mereka
"Sayang!" Kesal Tian segera menghampiriku dan membenamkan wajahnya di bahuku
"Kamu kenapa?"
"Mereka semua bikin aku marah... Apakah aku harus mengusir mereka semua! Aku tidak suka anak kita di gendong orang lain!" Geramnya kesal
__ADS_1
"Tapi aku bersyukur karena mereka lebih mirip kamu!" Bisikku lembut di telinganya dengan jujur
Tian mengangkat wajahnya untuk menatap ku dengan wajahnya yang merona merah. Wajahnya saat ini benar-benar seperti anak kecil yang baru selesai mengambek, sangat imut dan lucu. Kepribadian nya saat ini sangat sulit di bedakan, karena semua kepribadian Tian sedang merasakan hal yang sama, makanya sulit di bedakan. Tapi aku tau, jika kepribadian yang ada sekarang berbeda dengan kepribadian yang menggantikan popok Krisan tadi pagi.