
Di dalam taksi aku tidak henti-hentinya tersenyum, mengingat keluarga polos yang penuh tipu daya itu, ingin membodohiku hanya karena aku terlihat. Memangnya aku di mata keluarga itu terlihat seperti apa? Sehingga mereka bisa melakukan trik licik untuk membuatku bert3kuk lutut pada mereka. Aku sadar jika sedari tadi pak supir melirik ke arahku, mungkin beliau mengira jika aku adalah orang sakit jiwa yang berpakaian seperti orang kantoran.
"Abis gajian ya mbak?" Tanya pak supir saat taksi terjebak macet
"Nggak, tapi abis dapet hal yang lebih besar dari naik gaji aja kok pak! Maklumi aja ya pak kalo saya kayak orang gila senyam-senyum sendiri gini!" Kataku tersenyum manis
"Hahaha... masa mbak yang cantik dan anggun gitu bisa saya pikir gila, ya kan nggak mungkin!" Tawa pak supir sekalian memujiku
"Bapak ku minta berlebihan... Tapi makasih udah di puji ya pak!" Kekehku
"Hehehe... emang kenyataannya gitu kok mbak!" Kata beliau terkekeh
Percakapan terus berlanjut dengan pak supir taksi, dalam sekejap beliau udah merasa akrab sekali denganku, entahlah kenapa bisa begitu. Bahkan beliau banyak berceloteh mengenai isi hati beliau yang lagi galau memikirkan keluarga di kampung. Katanya anak perempuan pak supir bakal nikah minggu depan, tapi beliau bingung mau pulang atau tidak karena tuntutan pekerjaan jadi supir taksi.
"...saya bingung mbak!" Kata beliau dengan wajah tertekuk
"Kalo saya boleh nyaranin... sebaiknya bapak pulang aja, lagi pula ini kan pernikahan anak bapak satu-satunya! Bukan hanya dari sisi bapak yang merasa sedih dan menyesal suatu hari nanti... Tapi dari sisi putri bapak juga akan merasa lebih sedih! Karena ayah yang harus menikahkannya masih ada, tapi mengapa harus di walikan oleh orang lain! Kalau bapak memikirkan masalah pekerjaan... saya akan membantu bapak!" Jiwa menasihati kembali muncul
"Bantu gimana maksudnya mbak?" Kata beliau sedikit cerah
"Saya akan memesan taksi bapak selama dua hari... nah selama dua hari itu bapak manfaatkan untuk pulang kampung dan menikahkan putri bapak! Sekalian saya titip salam untuk keluarga bapak di sana... semoga pernikahannya berjalan lancar dan anak bapak akan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah... amin!" Kataku bertepatan dengan taksi berhenti di depan gedung apartemen
"Yang bener mbak?.... gimana kalo mbak sekalian aja ikut saya ke kampung... oh iya saya lupa mbak kan harus kerja!" Kata beliau kesenangan
__ADS_1
"Bapak mau pulang kapan! Sehari sebelum pernikahan atau pas waktu pernikahan?" Tanyaku membuka aplikasi online tempat bapak ini kerja
"Sehari sebelum pernikahan mbak! Biar punya waktu sama keluarga!" Kata beliau sangat bahagia
"Ini saya sudah memesan bapak selama dua hari... saat harinya tiba bapak nggak usah mikir soal pekerjaan lagi! Fokus menikahkan anak bapak aja! Makasih ya pak sudah di antar dengan sampai!" Kataku segera keluar dari taksi
"Mbak! Terimakasih banyak atas bantuannya..." kata beliau turun mengejarku dan hendak mencium tanganku karena terlalu senang
"Astagfirullah... pak saya hanya membantu sesama! Bapak tidak perlu bersikap begini!" Kataku segera menghindar
"Saya sangat-sangat berterimakasih mbak!" Kata beliau dengan mata berkaca-kaca
"Iya sama-sama pak... kalo gitu saya duluan ya pak!" Kataku ramah pamit masuk ke dalam sebelum pak supir ini melakukan hal yang lebih mengagetkan lagi
Aku bangkit dari sofa dengan kepala yang terasa sakit, karena tiba-tiba bangkit dari rebahan hingga mengakibatkan darah di otak kaget dan menimbulkan sakit kepala. Setelah sakitnya reda aku segera ke kamar mandi untuk mendinginkan pikiran dengan berendam dalam bathtub yang kuisi dengan aroma apel. Menenangkan pikiran di tengah semerbak aroma apel memang pilihan yang tepat, rasa stres yang sempat bertengger di kepalaku terasa sirna seketika.
Tidak lama setelah aku berendam kudengar suara mama dan abah sedang berbincang di luar, sepertinya mereka sangat bersenang-senang. Aku segera bangkit dari bathtub untuk menemui mereka dan menanyakan bagaimana jalan-jalannya hari ini. Setelan melilitkan handuk di tubuh aku segera keluar dari kamar mandi yang keluarnya langsung ke ruang tengah. Tapi aku kaget setengah mati saat bertatapan dengan Aji yang segera memalingkan wajahnya saat tersadar dengan apa yang dikenakan ku saat ini untuk menutupi tubuh.
"Ru! Kamu kapan pulang?" Tanya mama kaget melihatku berdiri dengan membelalakkan mata masih kaget
"..." setelah sadar dari kekagetan aku segera masuk kamar untuk menyembunyikan diriku yang hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi dada dan setengah paha doang.
Aku merasa ternodai oleh tatapan Aji yang tentunya tidak sengaja barusan, tapi ini sangat memalukan. Karena aku yang biasanya selalu berpakaian sopan dan sangat tertutup, dilihatnya dengan mata telanjang hanya mengenakan sehelai handuk di tubuh. Dan apa pula raut wajah mama yang hanya kaget karena aku berada di sana, bukan karena Aji yang melihatku yang seperti ini. Aku malu untuk keluar sekarang, karena ada Aji di luar, aku merasa benar-benar sanat malu.
__ADS_1
****
"Pak! Bu! Sepertinya sekarang saya harus segera pulang, ada hal yang lupa saya kerjakan..."
"Ya ampun... kamu mimisan! Sini biar ibu bantu hentikan dulu..." kata ibunda Ruka yang kaget melihat Aji mimisan
"Nggak usah bu.... saya bisa obati di rumah!" Tolak Aji sopan
"Obati aja dulu, sebentar aja kok!" Kata ayah Ruka meminta Aji duduk di sofa selagi menunggu ibunda Ruka mengambil kotak obat
"Nggak usah pak! Bu!... kalau begitu saya pamit dulu... Assalamualaikum!" Kata Aji segera keluar dari apartemen Ruka
"Eh... Wa'aikumsalam..." kata ayah Ruka bingung dengan Aji yang terburu-buru keluar sedangkan hidungnya lagi mimisan
Setelah menutup pintu apartemennya Aji merasa jika dirinya sekarang adalah laki-laki yang paling hina. Dia benar-benar tidak sengaja melihat Ruka yang sangat menawan itu saat selesai mandi hanya dengan mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya. Aji jongkok di depan pintu dengan rasa bersalah dan sedikit rasa senang karena telah melihat wanita yang sedang dikejarnya berpenampilan menggoda seperti itu, walaupun hanya sekilas.
"Ahaha... hanya dengan mengingatnya saja membuatku bisa sekacau ini!" Kata Aji menyentuh hidungnya yang semakin banyak mengeluarkan darah mimisan
Aji segera menghampiri tisu yang ada di meja makan untuk menghentikan mimisannya yang sedari tadi tidak berhenti, karena pikirannya sedang tertuju pada kejadian barusan. Setelah beberapa saat kemudian barulah mimisannya bisa di hentikan, Aji mendesah lega karena jika mimisan nya ini tidak berhenti maka akan membuatnya kehilangan banyak darah dan bisa menyebabkan kematian.
"Penampilannya yang seperti itu... benar-benar menggoda!" Kata Aji dengan tatapan kosong mengingat kembali kejadian barusan
Setiap laki-laki normal, tidak mungkin jika tidak tergoda dengan penampilan yang bisa membangkitkan hasrat seperti itu. Rambut yang basah menutupi sebagian wajah, kulit putih kuning yang mulus, serta belahan dada yang terlihat menggoda. (Ternyata Aji melihat semua detailnya walaupun hanya sekilas :v). Apalagi hal itu dilihatnya pada seorang wanita yang sangat menjaga auratnya serta wanita yang selama ini di kejar-kejar Aji cintanya. Lengkap sudah kenikmatan hidup yang di rasakan oleh Aji, tapi sepertinya dia tidak akan puas jika belum menguasai Ruka sepenuhnya dalam pelukannya, yang selama ini selalu di jaga kesuciannya oleh Aji.
__ADS_1
****