JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
ADA ALASANNYA


__ADS_3

Tian mengusap air mata yang membasahi pipiku dengan senyum penuh kebahagiaan. Setelah aku lebih tenang, kami berdua keluar dari ruangan menemui semua orang yang menunggu kami keluar. Aku merasa malu karena telah memperlihatkan sisi lemahku di depan orang-orang ini, apalagi kerudungku basah oleh air mata.


"Anda harus lebih memperhatikan diri anda kedepannya! Tolong jangan sampai terlalu banyak pikiran... Karena hal itu bisa mempengaruhi kehamilan anda! Sebagai suaminya, anda harus lebih memperhatikan masalah makan dan emosi istri anda... Karena hamil anak kembar itu bebannya lebih besar!" Kata dokter Mika


"Baik dok!" Kata Tian menatapku lembut


"Seminggu kemudian diharapkan agar anda melakukan pemeriksaan lagi... Dan hindari hal-hal yang membuat anda hilang kendali!" Kata dokter Mika padaku dengan tatapan yang entah kenapa penuh perhatian


"Baik dok, akan saya ingat pesan dokter! Terimakasih sekali lagi dok!" Kataku balas menatap dokter Mika


Setelah selesai dengan urusan di rumah sakit, Tian segera membawaku pulang untuk istirahat. Orang-orang rumah yang awalnya memang perhatian kini tambah perhatian denganku, karena kehamilan ini. Bahkan kakek memutuskan untuk menginap di rumah untuk melihat perkembangan kehamilanku kedepannya. Bahkan beliau berencana untuk membawa serta orangtuaku kerumah ini, untuk menemani hari-hari kehamilanku.


Tapi aku menolaknya, karena saat ini kakak kedua dan istri adik ku Ibrahim sedang hamil juga, itu kehamilan pertama mereka sama sepertiku. Aku juga tidak ingin merepotkan orangtuaku hanya karena menemani masa-masa kehamilan pertamaku. Aku juga kan bisa pulang kapanpun aku mau untuk kedepannya, karena mulai hari ini aku resmi berhenti kerja, bahagianya dobel😍.


"Sayang! Kamu yakin nggak mau di panggilan mama sama Abah kesini?" Tanya Tian yang sedang mengelus-elus perutku


"Beneran! Lagian disana mama sama Abah lebih di perlukan!" Aku meyakinkan nya dengan senyum tulus


"Tapikan setiap anak selalu ingin di temani orangtuanya saat menjalani kehamilan pertama... Kamu pasti juga gitu kan?" Tanya Tian membuatku bingung harus menjawab apa


"Biasa aja tuh..."


"Sayang! Aku mau denger cerita masa kecil kamu dong!" Kata Tian membuatku tertegun

__ADS_1


"Kenapa?" Tanyaku datar


"Ya... Aku pengen tau aja masa kecil kamu itu seperti apa?" Kata Tian semakin merapatkan pelukannya


"Hemmm... Kamu dulu dong yang cerita!" Elakku


"Masa kecil aku nggak seru sama sekali!" Katanya lirih


"Tapi aku mau tau!" Entah kenapa malah kalimat itu yang keluar dari mulutku


"Kamu yakin mau denger cerita aku?" Tanya Tian bangkit duduk


"Kalo kamu nggak mau cerita juga nggak apa-apa!" Aku melihat guratan kesedihan di wajahnya


"Aku ceritain... Tapi jangan di ledekin ya?" Katanya kembali bersemangat


"Tapi aku mau berbagi cerita sama kamu..." Katanya kembali membuatku tertegun


"Tapi jangan nangis di tengah cerita aja..."


"Siapa juga yang bakal nangis! Kamu sok tau!" Katanya memotong kalimatku


"Kamu kan cengeng..." Candaku

__ADS_1


"Yang cengeng itu Tian bukan aku!" Katanya memeluk ku erat


"Tapikan kalian satu... Jadi satu cengeng semua ikut cengeng.." candaku


"Ish... Kami kan beda!" Kesalnya dan mencubit hidungku


Tian mulai menceritakan masa kecilnya yang menyedihkan dengan ekspresi wajah yang terlihat seperti hendak menangis. Aku mendengarkan cerita nya dalam diam, sambil sesekali memberikan nya pelukan hangat. Kisah masa kecil Tian memang tidak sebahagia orang lain seperti yang kupikirkan selama ini. Di akhir cerita Tian mengatakan isi hatinya yang membuatku terhenyak dalam diam.


"Aku bersyukur karena mendapatkan istri seindah kamu... Wajah cantik, tubuh idaman semua orang, dan kecerdasan di atas rata-rata... Semuanya ada di dalam diri kamu... Dulu sebelum bertemu kamu... Setiap hari aku memikirkan tentang bunuh diri... Aku ingin mengakhiri Permainan Tuhan... Tapi berkat kamu, semua dendam ku terobati dengan sendirinya... Aku adalah laki-laki paling beruntung di kehidupan ini karena mendapatkan seorang istri seperti kamu yang selalu bahagia dan tersenyum ceria di setiap situasi... Aku sangat bersyukur..." Berakhir dengan kecupan hangat di kening.


"..." Rasanya aku ingin berteriak di telinganya jika sebenarnya kami memiliki pemikiran yang sama


"Sekarang giliran kamu yang cerita!" Katanya setelah lama hening


"Aku!" Entah kenapa aku malas untuk mengatakan masa kecilku


"Iya... Kan aku udah sekarang giliran kamu!" Katanya menekan kedua pipiku


"Waktu kecil aku banyak tidur, makan, dan main... Udah itu aja!" Aku tidak ingin dia mendengar cerita masa kecilku yang hanta


"Ish... Yang mau aku dengar cerita detailnya sayang..." Kesalnya dan mencubit hidungku


"Kata dokter aku nggak boleh banyak pikiran... Jadi aku nggak akan cerita!" Kataku tersenyum usil padanya

__ADS_1


"Curang!" Kesal Tian dan menarik ku masuk ke dalam pelukannya


Setelah nya Tian tidak bertanya apapun lagi, setelah memintaku untuk cepat tidur di dalam pelukannya. Akhir-akhir ini aku sangat menyukai pelukan dari Tian, mungkin karena ngidam kali ya?. Tidak lama setelahnya aku terlelap dalam tidur dengan pikiran yang masih menumpuk di kepala. Tidak jelas apa yang kupikirkan, yang jelas itu menjadi beban pikiran yang akan menghantui ku.


__ADS_2