
Waktu pun berlalu...
Kata orang-orang waktu itu berjalan sangat cepat jika kita selalu merasakan kebahagiaan, tapi mengapa berbeda denganku? Setiap aku merasakan bosan atau jenuh, barulah waktu berlalu dengan cepat. Tapi saat aku merasa bahagia ataupun senang waktu berlalu dengan sangat lambat. Apakah mungkin karena aku tidak benar-benar bahagia, sebab itulah waktu berjalan dengan lambat?
Entahlah, bagaimanapun waktu berjalan aku tidak ambil pusing lagi, karena setiap langkah yang aku ambil dalam hidup ini tidak pernah kusesali sedikitpun. Aku bosan harus menjerit dalam kesunyian yang tak berujung, aku bahagia dengan hidupku saat ini, hal inilah yang kuyakini selalu sampai detik dimana aku bernapas.
Dunia kampus telah lama menjadi kenangan dalam hidupku, karena sekarang aku telah menjadi wanita karir di sebuah perusahaan yang cukup terkenal di ibukota Jakarta ini. Di perusahaan ini aku berusaha menjadikan diri agar lebih disiplin lagi dalam segala hal yang kujalani saat ini. Di ibu kota aku membeli sebuah apartemen angker dengan cara dicicil, karena kemungkinan aku akan hidup dan tinggal lama di ibukota , selama mencari pengalaman.
Setelah lulus dari dunia kampus aku meminta ijin kepada orang tuaku untuk pergi merantau ke ibukota, yang tentu saja awalnya sangat di larang. Tapi karena aku, yang katanya bodoh ini, melamar pekerjaan di salah satu perusahaan yang ada di ibukota dan syukurlah diterima. Keputusanku benar-benar membuatku bebas sepenuhnya dari jangkauan mata keluargaku, hal inilah yang membuatku membuang semua dendam masa Lalu yang cukup kelam.
Di kota ini pula aku memutuskan untuk melanggar larangan orang tua tentang berpacaran, setelah satu tahun menetap di ibukota aku memutuskan berpacaran. Namanya Ainsley Pradana, seorang pekerja serabutan yang katanya juga sedang dalam masa perantauan. Karakternya tegas dan agak cuek, sesuai kriteria ku, walaupun dia sangat menghormati hubungan kami dan selalu menjagaku selama di kota ini. Aku masih ragu untuk menerima lamarannya, karena perbedaan agama yang membuatku selalu bimbang akan segalanya.
Tapi beberapa bulan ini, dia mengatakan mulai tertarik dengan agama islam, serta banyak bertanya tentang segala hal yang berhubungan dengan agama islam. Aku bahagia mendapati ketertarikannya tentang islam, walaupun aku tidak menaruh harapan jika ia akan menjadi mua'alaf suatu hari nanti. Aku hidup di kota perantauan ini sudah hampir tiga tahun, so hubunganku dengan Ain sudah terjalin selama satu tahun lebih.
Tidak terasa usiaku sekarang udah 25 tahun aja, ternyata aku udah setua ini, tapi masih belum bisa menemukan dan membuat diri ini paham apa itu cinta. Ketiga kakakku udah nikah, bahkan adik pertama ku udah bicara soal pernikahann aja, tapi aku tidak takut didahuluinya. Aku lulus kuliah di usia ke 22 tahun, lebih cepat dari perkiraan semua orang, tapi aku memang telah mengira jika aku akan lulus kuliah di usia segitu.
Mengenai apartemen yang ku beli dengan mencicil ini, setahun yang lalu telah lunas terbayarkan. Jadi sekarang yang menjadi fokus utama dalam gajian beberapa bulan terakhir ini, ya untuk biaya haji kedua orang tuaku. Tapi aku merahasiakan hal itu dari seluruh anggota keluarga agar menjadi sebuah kejutan suatu hari nanti. Sekarang aku sedang duduk di depan komputer mencatat semua pengeluaran dan pendapatan yang ku terima bulan lalu. Di luar sedang gerimis-gerimis manja gimana gitu, membuat pikiranku lebih relaks dari biasanya.
"Haaahhh... Aku rindu kampungku!!" Desahku melepas pengap
__ADS_1
Selama hampir tiga tahun di ibukota, aku hanya setahun tiga kali pulang kampung, sekedar memberitahukan jika aku masih bernapas dan hidup di sini. Walaupun hubungan secara online lewat hp tidak pernah putus dengan keluarga di Kalimantan, tapi masih saja merasa ada yang kurang dengan kebersamaan itu.
"Ting..." sebuah pesan chat masuk
"Siapa nih?" Tanyaku pada diri sendiri karena pesan itu dari nomor tak di kenal
Ku abaikan pesan chat itu, karena aku memang malas merespon chat dari orang kagak jelas, tapi mungkin itu dari kenalanku di masa lalu. Saat aku memutuskan pergi merantau, semua kontak yang ada di hp ku tidak pernah ku hubungi lagi, karena hp itu kini menjadi milik adikku, aku udah lama ganti hp baru. Di hp ku sekarang hanya ada puluhan nomor saja, yang terpenting nomor anggota keluarga, orang-orang yang kadang mendukung dan lawang meremehkan mimpiku.
Jam dinding di ruang depan berdentang empat kali, menandakan jika sekarang udah pukul 4 sore. Sekarang aku sedang ada halangan, jika tidak ada halangan mungkin sudah sejak sejam yang lalu aku duduk di atas sajadah sambil melantunkan ayat suci. Apartemen angker ini, bagiku tidak seangker kosan waktu kuliah dulu , karena setiap dua minggu sekali ada saja penghuni apartemen ini yang mengadakan syukuran, ataupun sekedar hajatan kecil.
"Tokk...tokk...tokk" terdengar pintu depan di ketik, padahal ada bel
"Surprise... kaget nggak?" Kata orang yang mengetuk pintu dengan wajah senyum seperti dipaksakan
"Hahaha... ada kali orang ngagetin pasang wajah datar gitu!!" Tawaku pecah mendengar pertanyaannya
"Aku senyum kok..." kata Ain menunjukkan deretan giginya yang putih dan tertata rapi
"Hahaha... kamu jangan buat aku tambah ngakak deh..." kataku sambil mencubit pipinya yang kali ini tersenyum tulus
__ADS_1
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Ain sambil menyerahkan sebatang coklat berukuran sedang
"Makasih... lagi nyantai aja!" Sahutku dengan wajah riang menerima pemberiannya
"Nanti malam kamu sibuk nggak?... Aku mau ngajakin kamu jalan keluar boleh?" Katanya yang langsung kuiyakan dengan anggukan riang
"Jam berapa?... Tapi kali ini beneran kan!!" Kataku menyuapinya sedikit coklat yang sedari tadi ku makan
"Kali ini beneran kok!! Nggak bakal nipu kamu lagi!!" Katanya serta mengelus jilbabku lembut yang tentu saja membuatku tersenyum girang
"Janji ya! Aku tunggu kamu sampai jam 8 kalo nggak datang... liat aja nanti..." kataku dengan tatapan tajam kepadanya
"Yaudah kalo gitu aku lanjut kerja dulu!!" Katanya dan mengangkat dua buah galon kosong
"Oke... kamu jangan sampai kecapean kerjanya!!!" Kataku tegas sebelum dia memasuki lift
"Oke sayang..." katanya dan membuatku sedikit merasa geli dengan panggilannya
Setelah pintu lift tertutup, aku segera kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian untuk nanti malam. Walaupun kami terlihat seperti pasangan yang romantis, tapi sebenarnya aku tidak sedikitpun mencintainya, entahlah bagaimana perasaannya.
__ADS_1
****