
Keesokan paginya aku di bangunkan oleh suara sirene polisi dan ambulans di bawah gedung apartemen. Awalnya aku acuh dengan masalah yang terjadi, tapi tiba-tiba bangkit karena pintu apartemen ku di ketik serta suara bel yang membahana. Setelah mengenakan jilbab dan mencuci muka dengan tisu basah, aku segera membuka pintu apartemen. Saat membuka pintu dua orang polisi berseragam lengkap memberi hormat kepadaku, lalu meminta ijin untuk bertanya.
"Maaf mengganggu pagi anda!" Kata pak polisi ramah
"Tidak mengganggu sama sekali kok pak! Tapi ada apa ya pak?" Kataku dengan senyum hangat
"Kamu dari kepolisian pusat sedang menyelidiki kasus pembunuhan di lantai 6 apartemen ini... ingin bertanya beberapa hal kepada anda! Silahkan menjawab semua pertanyaan dengan jujur!" Kata pak polisi
"Baik, saya akan bekerja sama sebisa mungkin!" Sahutku saat kedua polisi itu menatapku meminta persetujuan
"Apakah tadi malam anda sempat mendengar sesuatu yang mencurigakan?" Pertanyaan dimulai
"Tidak!" Jawabku jujur
"Apakah anda mengenal korban yang bernama Awalia Fitri?"
"Ya saya mengenalnya!"
"Apa hubungan anda dengan korban?"
__ADS_1
"Saya dan Fitri adalah teman! Tapi apa yang terjadi dengan Fitri?" Tanyaku hanya sekedar memastikan insting
"Tadi pagi tepatnya pada pukul 05.20 wib dini hari, Korban bernama Awalia Fitri di temukan tewas di kamarnya!"
"Lalu siapa yang menemukan korban?" Tanyaku penasaran
"Anda hanya perlu menjawab pertanyaan saja dan dilarang bertanya lebih jauh!" Kata pak polisi
"..." aku diam memikirkan beberapa kemungkinan
"Apakah selama beberapa hari ini anda berinteraksi dengan korban?" Tanya pak polisi melanjutkan
"Jam berapakah korban beranjak dari sini tepatnya?"
"Pada pukul 22. 55 wib, tepat pada jam itu dan dia bilang ingin pergi berbelanja ke supermarket sebelum pulang..." kataku mengingat memang ada kejanggalan pada saat Fitri pergi dari sini
"Baiklah kalau begitu terimakasih atas kerjasamanya!" Pamit polisi
"Sama-sama pak..." sahutku dan kedua polisi itu pun berlalu pergi
__ADS_1
Padahal saat ini kepalaku sedang bekerja memikirkan beberapa kejanggalan dari Fitri tadi malam, tapi murahan karena aku tidak ingin di bawa ke kantor polisi sebagai tersangka sementara. Aku segera bergegas mengganti baju, untuk pergi ke lokasi kejadian di lantai 6 apartemen Fitri. Saat sampai di lantai 6, pembatas polisi telah terpasang tepat di depan lift karena ada bercak darah di depan pintu lift.
Aku masuk pada kerumunan orang yang melihat para polisi bekerja serta para badan forensik yang mencari-cari barang bukti. Benar-benar kejadian tak terduga, ternyata firasat ku tentang kematian itu benar-benar terjadi, dan takdirnya tepat mengenai Fitri yang baru tadi malam berbincang denganku mengenai pekerjaannya. Kedua polisi yang menanyaiku tadi terlihat sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang juga masih muda seperti mereka, sepertinya melaporkan tentang kesaksian para tetangga.
Tiba-tiba salah satu polisi yang melihatku di kerumunan menunjuk ke arahku seakan sedang melihat tersangka pembunuhan. Dan benar saja aku segera di minta ikut ke kantor polisi untuk di minati keterangan lebih lanjut tentang kasus terbunuhnya fitri. Semua orang yang ada di sini mulai berbisik-bisik tentang diriku yang hendak di bawa ke kantor polisi. Aku ikut dengan para polisi dengan tangan terbuka dan tanpa perlawanan sedikitpun karena ada beberapa hal yang hendak kutanyakan.
"Hus... jangan sembarangan ngomong! Nak Ruka itu orangnya baik dan ramah..." kata seorang ibu-ibu menepis gosip
"Ya Kan siapa tau bu! Tampangnya aja baik dan ramah... taunya psikopat!" Kata ibu-ibu lainnya
"Jangan berprasangka yang nggak-nggakmdeh bu..." Tapi ibu-ibu satunya
"@$#%#^$£%_\=¥¥/¥€(*#£*-*@*@((......." gosip terus berlanjut sampai aku menghilang
Saat keluar dari pintu lift, orang-orang yang ada di sana juga memperhatikan ku yang di guring orang polisi menuju mobil polisi. Bisik-bisik penuh praduga kembali bermunculan layaknya dengungan nyamuk yang menyebalkan. Aku sih acuh dengan apa yang mereka dengungkan, karena sekarang kepalaku sedang di penuhi pertanyaan.
Saat masuk ke dalam mobil aku di spot oleh kedua polisi itu seakan-akan dijadikan tawanan yang bisa kapan saja melarikan diri. Untungnya para polisi muda ini tau sopan santu, jadinya mereka memberi ruang yang luas untukku duduk di tengah, karena biar bagaimanapun mereka terlihat hormat dengan hujan yang menutupi setengah tubuhku.
Sesampainya di kantor polisi aku segera di bawa ke ruang interogasi dan di biarkan duduk sendirian di dalam ruangan berukuran 4x4, dengan cermin di satu sisi dinding. Yang kutahu dari balik cermin satu arah itu pasti ada seseorang yang sedang mengawasiku, ilmu ini ku dapat dari kebanyakan nonton film action. Sesuai keinginan para polisi aku hanya duduk santai sambil memikirkan apa mungkin ada hal yang terlewat dari ingatan ku tentang perbincangan kami tadi malam.
__ADS_1
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, ternyata seperti ini rasanya berada di ruangan interogasi yang selama ini hanya bisa kulihat dari balik layar. Sumpah pengen ketawa rasanya, tapi nggak mungkin juga kan aku tertawa saat sedang di awasi oleh badan hukum negara lagi. Seat, aku memandangi wajahku sendiri yang cukup cantik dengan pipi agak chubby, aku baru sadar jika wajahku yang belum mandi pun tetap kelihatan cantik dan imut.