JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
MASIH AMAN


__ADS_3

Semuanya baik-baik saja sejauh ini, pernikahanku berjalan sangat baik satu bulan terakhir. kedua orang tua ku, akan segera kembali ketanah air, dan pernikahan kami akan di gelar sekali lagi secara resmi. pernikahan pertama saja sudah semewah itu, lalu bagaimana ceritanya dengan pernikahan mewah kali ini. Kebetulan, baju keluarga juga udah selesai di buat, bahkan aku juga telah memesankan kepada kak Aleya agar membuatkan beberapa baju lagi untuk keluarga suamiku.


nanti di hari pernikahan semua keluargaku akan di bawa ke kota Jakarta ini, untuk merayakan acara pernikahanku yang di gelar secara besar-besaran nantinya. Bahkan Tian telah menyewa satu pesawat Kalimantan-Jakarta untuk membawa seluruh keluargaku. Aku merasa jika hal ini terlalu berlebihan dan terlalu boros, hanya untuk merayakan pernikahan kedua kami.


"Sayang! kamu lagi mikirin apaan sih?" Tian memelukku dari belakang yang datang tiba-tiba


"..." aku tidak meresponnya karena masih melamun


"Sayang!" kesal Tian dan menggigit leherku


"Aww... sakit tau!" kesalku dan balas menggigit tangannya yang sedang memelukku


"Aaaaa... sakit sayang! aku minta maaf!" katanya mengaduh kesakitan karena ku gigit dengan kencang


"Kenapa sih kamu suka banget gigit aku!" kesalku dan berbalik menatapnya yang sedang meringis


"Soalnya kamu enak di gigit..." katanya dan menggendong ku


"Waa... Tian turunin... aduh..." aku mengaduh pelan karena Tian menghempaskan tubuhku di sofa


"Sakit ya? Sini aku tiupin!" katanya sambil meniup-niup kepalaku yang kepentok pegangan sofa


"Tangan kamu satunya mau kemana..." kesalku pada tangannya yang masuk ke dalam baju


"itu kamu udah selesai kan? jadi..." katanya dan bersiap hendak memakanku

__ADS_1


"Eits... tunggu dulu! kata siapa udah selesai?" tanyaku beralasan untuk menghindarinya


"ini kan udah seminggu..." katanya menatapku dengan tatapan genit


"uhhh... emang kapan aku bilang kalo masa haid aku cuma seminggu?" kataku berusaha menyingkirkan tangannya


"Eh... biasanya kan emang segitu?" katanya denan wajah imut mikirnya


"pptttt... aku baru nyadar kalo, CEO angkuh ini punya banyak ekspresi... hahaha..." tawaku pecah saat wajah imutnya penuh tanya menatapku


"Kedepannya kamu pasti akan mendapat banyak kejutan..." katanya dan memberikan kecupan hangat di keningku


"Jadi nggak sabar!" kataku balas menggigit telinganya, lalu kabur


Orang kaya cara menghabiskan waktu akhir pekan emang selalu berpikiran mewah. Lalu aku yang dari kalangan bawah ini, hanya bisa pasrah karena harus memikirkan pekerjaan yang lumayan banyak. Sesuai permintaan ku, Tian, oh bukan, tapi pak Presdir, beliau mempekerjakan seorang asisten untukku yang hanya seorang sekretaris CEO. Sedikit banyak aku merasa terbantu dengan adanya asisten yang bernama Mirza itu, pekerjaannya sangat rapi dan bersih.


Aku sempat mikir jika Mirza memiliki niat jahat pada perusahaan, karena asal usulnya membuatku waspada. Di dalam biodatanya Mirza adalah seorang yatim piatu yang di besarkan oleh pamannya, lalu siapakah pamannya itu? Karena di dalam CV miliknya tidak di ketahui siapa paman dari asisten ini.


"pagi pak Zion!" sapaku pada pak Zion yang sedang memberi makan ikan hias di dalam akuarium


"pagi nona muda!" sahutnya, pak Zion tetap kekeuh dengan pendiriannya memanggilku nona muda


"Hai ikan... cepat besar ya! aku udah nggak sabar untuk memakan kalian yang cantik ini!" kataku dengan senyum pada ikan yang sedang makan


"Apakah nona muda ingin sarapan, lebih awal?" tanya pak Zion

__ADS_1


"Tidak perlu..." tolak ku


"Lalu apakah nona mau minum teh?" Tanya pak Zion terlalu datar ni bapak-bapak


"Nggak juga... karena saat ini saya lagi pengen main ikan di luar!" kataku dan segera keluar menemui hujan yang sejak tadi subuh mengguyur kota


"Tapi non..." kata pak Zion yang tidak ku dengarkan lanjutan kalimatnya


Aku berlari menuju rerumputan yang setiap hari di rawat mang Nurdin dengan baik. Rasanya udah lama banget nggak main ujan-ujanan kayak gini, hingga rasanya bahagia banget pas tetes pertama mengenai wajahku. Galungan rambutku terlepas karena terlalu semangat hujan-hujanan, seandainya aku punya anak mungkin akan lebih seru lagi. Aku jadi mikir kalo nanti udah punya anak, apa kelakuan ku akan tetap seperti ini atau berubah total nantinya.


"Sayang! kamu ngapain ujan-ujanan kayak gini! nanti masuk angin!" Kata Tian lembut menyelimuti ku dengan handuk yang di bawanya


"Temenin aku..." kataku dan melepaskan payung di tangannya


Sekarang Tia. hanya bisa menatapku kesal sekaligus kaget yang sedang tertawa kesenangan, karena Tian juga ikut basah di guyur derasnya hujan. Wajahnya yang dingin itu membuatku semakin terbahak-bahak, mempertanyakan apakah dia nggak kedinginan memasang muka dingin kayak gitu Mulu kalo lagi kesal dengan tingkahku. Tian hanya diam di tempatnya berdiri dan memperhatikanku yang sedang menikmati derasnya hujan, dia juga melarang pak Zion yang hendak memayunginya.


"Sayang! gimana kalo kita ke kolam renang..." aku menarik lengan Tian menuju kolam renang


"kamu... tadi panggil aku apa?" tanya Tian aneh


"Eh kenapa? emangnya cuma kamu yang boleh manggil sayang..." Kalimatku terhenti karena bibir hangatnya menempel di bibirku yang udah getar-getir dari tadi


Suasana saat ini benar-benar romantis, Tian menciumku di bawah hujan dengan lembut. Membuatku terlena oleh kehangatan yang di berikannya, awalnya aku menolak, tapi akhirnya luluh juga kan. Sepertinya aku merasakan sesuatu yang hangat muncul dari dasar hatiku yang paling dalam serta detak jantungku yang tidak karuan. Apakah aku telah jatuh cinta pada suamiku yang aneh ini? Tapi bukannya aku juga aneh ya?


****************************************************************

__ADS_1


__ADS_2