
Seminggu telah berlalu dengan cepat... akhirnya setelah beberapa hari merasa tertekan di rumah itu, aku kembali lagi ke kesendirian ini. Awalnya memang hanya ingin pulang selama 3 hari, namun karena beberapa alasan yang selalu saja membuatku muak, terpaksa harus menginap selama seminggu di rumah. Akhirnya aku bisa bernapas kembali, saat menelusuri jalanan kota Banjarmasin, menuju kosan terbobrok.
Kalian ingat uang yang ku berikan pada ayah malam itu? ya uang itu sekarang telah habis tak bersisa. Semua uangnya di pakai untuk membayar utang dan membeli bahan bakar untuk produksi arang. Aku tidak marah ataupun kecewa, karena ayah tidak menggunakan uang itu sesuai keinginanku, aku terlalu datar untuk mengambil pusing masalah uang yang tidak seberapa itu.
Ayah adalah pengusaha kecil-kecilan, yang berkutat di bidang produksi arang. Tau arang kan? bahan bakar untuk membakar sate dan berbagai jenis masakan atau apapun yang berhubungan dengan memanggang.
Beliau berkutat di bidang usaha itu sudah lebih dari usiaku sekarang, tapi masih gitu-gitu aja pendapatannya. Bukan karena apa, tapi karena emang dalam sekali hasil pembakaran arang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Udah banyak orang, yang bisa di bilang investor, mengajak ayah untuk memproduksi dalam jumlah banyak. Tapi namanya juga ayah, mana beliau mau jadi mesin penghasil uang untuk orang lain, sedangkan kehidupan beliau saja masih terombang-ambing di tengah maraknya kemajuan teknologi.
Prinsip ayah denganku itu sama, 'Jangan pernah mau jadi budak uang orang lain, dengan mengorbankan diri sendiri'. maksudnya, biarlah kita jadi pengusaha kecil-kecilan, asalkan hasilnya bisa kita rasakan sendiri. nggak kayak pengusaha besar lainnya yang harus membagi hasil jerih payah keringatnya dengan orang lain yang terlibat dalam usaha yang dijalankannya.
"Kok sepi?" kataku saat motor kak Gafar berhenti di depan pagar kosan
"Lah mana gue tau!!" katanya setelah aku turun dari kendaraan
"Mungkin lagi keluar kali! oh iya... nih buat beli bensin!!" kataku menyerahkan selembar uang 50 ribu padanya
"Hehehe... sering-sering kayak gini ya!!" katanya nyengir lebar
__ADS_1
"Hehehe... enak banget situ!!" sinisku membuka pagar
"gue balik dulu... Assalamualaikum!!" katanya kembali menyalakan mesin motor
"Wa'alaikumsalam! hati-hati di jalan..." sahutku setelah mencium tangannya
Setelah kak Gafar menghilang di depan sana, aku segera melangkah memasuki halaman kosan yang entah kenapa terasa mencekam. Saat membuka pintu kos suasana terasa semakin menyeramkan, firasat ku rasa sedikit kurang nyaman dengan ni kosan. Apa karena udah seminggu nggak ketemu, makanya perasaan angker ni kos memancar untuk menyambutku.
"Allahuakbar... bikin kaget aja!!!" kesal ku pada ponsel yang tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon
"Assalamualaikum... Ru! Lo kapan pulang?" tanya Dewi dari seberang telpon
"Kita lagi nongki di kafe Deket kampus... kalo Lo nggak capek kesini aja!" ajak Dewi
"Gue capek... maaf ya nggak bisa ikut ngumpul!" kataku sambil memutar kunci kamar
"Okeh ya udah... selamat istirahat ya say... muaach!!!" panggilan di akhiri sepihak
__ADS_1
"Hah capek nya..." kataku segera melemparkan diri ke kasur
Kamar ini sedikit berubah semenjak ku tinggal pergi, beberapa benda terlihat ke geser dikit dari tempatnya. Mungkin setan penghuni kosan ini sedang jahil beberapa hari ini, sehingga mengutak-atik barang-barang ku.
"Meongg..." si blacky yang bangkit dari tidurnya segera menghampiri ku
"Black... kok Lo gendutan?" tanyaku yang melihat tubuhnya semakin besar
"Meongg..." sahutnya dan menatapku
"Mana gue paham bahasa Lo!!" kataku dan segera menelungkup kan wajah di bantal
Sekarang Blacky lebih paham jika aku tidak suka sikap manjanya, mungkin karena dia juga tau jika aku tidak menyukainya, sehingga dia hanya akan duduk di dekatku dengan jarak yang selalu begitu. Hanya beberapa inci dari tempatku pasti ada Blacky yang sedang duduk menghadap ke arahku. Seperti sekarang, dia sedang sibuk berbaring santuy sambil memandangiku yang sedang kelelahan secara mental dan fisik.
Tiba-tiba saja Blacky berdiri dengan ekor yang mencuat tegak ke atas menghadap sudut kamarku. Dia mulai mengeong garang seakan-akan sedang mengusir seseorang yang ada di pojok kamar. Aku duduk memperhatikan reaksi Blacky yang sangat macho, sesekali dia mencuri pandang ke arahku. Seakan-akan punya firasat buruk aku segera keluar dari kamar, meninggalkan Blacky yang sibuk menerjang ruang hampa.
Terlihat seperti sedang berkelahi dengan sesuatu, tapi aku tidak tau apa dan siapa yang sedang di ajak Blacky main cakar-cakaran, yang jelas aku merasa ngeri sendiri. Setelah Blacky diam barulah aku mendekat ke arahnya, dan aku sangat kaget dibuatnya. Ada beberapa bagian tubuhnya yang terluka, dan yang sangat parah ada pada keningnya yang mengeluarkan darah segar hewannya.
__ADS_1
"Meoongg..." Blacky seakan-akan mengatakan jika sekarang udah aman, mungkin dia juga sedang tersenyum
Aku kembali ke kasur, untuk merebahkan tubuhku yang kembali relaks setelah tegang beberapa saat lalu. Untuk blacky biarlah dulu dia seperti itu, nanti juga ada yang akan mengobati lukanya. Hanya satu yang membuatku yakin jika kucing hitam ini bukan kucing biasa, yaitu karena dia kagak pernah menjilat dirinya sendiri layaknya kucing biasa dan selama ini juga dia kagak pernah yang namanya berak sembarangan. Entah itu udah di bersihin yang lain atau apalah itu, yang jelas aku tidak peduli.