
Entah ini pagi atau siang, yang jelas aku bangun dari tidur dengan rasa sakit di sekujur tubuh seperti habis dipukuli seseorang. Saat aku membuka mata hal yang pertama kulihat adalah dada bidang Tian yang sedang memelukku, perasaan tadi malam posisi tidur ku tidak seperti ini. Aku berusaha menggerakkan tubuhku, namun rasanya saat bergerak sedikit saja, tulang dan persendianku terasa seperti hendak patah.
"Kemu bangun pagi sekali?" Kata Tian yang terusik bangun oleh gerakan yang ku buat
"Hiss... pagi apaan! Udah terik gini!" Kesalku dan mendesis kesakitan karena memaksakan bergerak
"Kalau kamu sudah bangun... berarti kita bisa melanjutkan yang tadi malam!" Katanya secepat kilat berpindah ke atas tubuhku
"Minggir ih... Aku mau mandi!" Kesalku memintanya menjauh dari atasku
"Sebelum mandi kita..." Aku menutup mulutnya dengan tanganku
"Kamu ih..." kesalku karena dia menjilat telapak tanganku yang menutupi mulutnya
"Kenapa? Kamu mau ingkar janji..." katanya membuat tubuhku merinding geli karena jari tanganku di ****-**** oleh mulutnya yang manis itu
"Uh... Kamu mau buat aku mati di hari kedua kita jadi suami istri?" Kesalku dan menarik tangan dari genggamannya
"Ayo lah...tadi malam kan kita baru main sekali!" Katanya membuatku kesal
"Minggir aku mau mandi..." saat aku hendak berdiri, kedua kakiku terasa lemas, dan aku pun jatuh terduduk ke lantai
"Sayang kamu nggak kenapa-napa kan?" Kata Tian segera menghampiriku dengan tubuh polosnya
"Tian... pakai celana kamu dulu dong!" Teriakku dan menutup mataku dengan kedua tangan
"Apa yang harus di tutupin sih... bukannya tadi malam kamu udah liat juga!" Katanya tidak tahu malu
"Tian..." kagetku saat Tian menggendong tubuhku dan membuat selimut yang menutupi tubuhku terlepas
"Aduh... Kamu lagi menggoda aku ya!" Katanya mengaduk saat aku menggigit pundaknya
__ADS_1
"Dasar mesum..." kesalku pasrah di gendongannya ke kamar mandi
Awalnya ku kira Tian hanya akan meletakkan ku di dalam bathtub yang muat dua orang ini, saat dia hanya diam berdiri setelah meletakkan ku. Walaupun tadi malam aku udah liat tubuh telanjangnya seperti itu, tapi saat ini aku merasa malu melihatnya yang berdiri dengan angkuh terlihat memikirkan sesuatu seperti itu. Tiba-tiba saat aku mulai yakin dia hanya membantuku ke kamar mandi, dia malah masuk ke dalam bathtub.
"Kamu ngapain... keluar, aku mau mandi!" Kesalku memintanya keluar dari bathtub
"Kayaknya main di dalam bathtub seru juga..." katanya dan segera menerjang ke arahku
Aku pasrah saat tahu jika pemberontakan yang kulakukan sia-sia dan buang-buang tenaga, sekali lagi Tian dan aku melakukannya, tapi kali ini di kamar mandi. Tian membuka saluran pembuangan air yang ada di dalam bathtub serta menyalakan shower yang ada di atas kami. Membuat suasana menjadi semakin romantis untuk melakukannya, aku yang sudah mempelajari permainan tadi malam, tidak tinggal diam. Sebisa mungkin aku harus menghindari adik kecilnya beraksi jika ingin selamat dari tragedi patah pinggang hingga paling berat kematian.
Tapi sayang rekasiku hanya membuatnya semakin bergairah, apa salah ku kali ini sampai dia kembali menjadi binatang buas. Tadi malam dia memperlakukan ku seenaknya karena aku tidak melawan, tapi saat ku berikan perlawanan dia masih saja buas seperti binatang kelaparan. Aku meremas-remas rambutnya saat adik kecilnya kembali beraksi dengan buas, entah kenapa kali ini aku terlalu banyak mendesah, apa mungkin karena efek samping dari rasa sakit di tubuhku.
Kami melakukannya sebanyak dua kali di kamar mandi, setelah melakukannya aku kembali tertidur di dalam bathtub dengan Tian yang masih merangkulku di samping. Aku benar-benar kelelahan karena Tian dan kepribadian lain miliknya, tadi malam mereka bergantian meniduriku, makanya tenaganya tidak pernah terkuras habis walaupun melakukannya seribu kali lagi. Nanti aku akan bertanya dengan jelas benarkan ia memuji kepribadian ganda? Dan seberapa banyak kepribadiannya itu?
****
Aku terbangun dari tidur ku, tau-tau udah di atas kasur, tapi tubuhku masih telanjang. Tubuhku terasa remuk dan rasanya tidak bisa di paksakan untuk bergerak terlalu banyak, kulihat Tian tidak ada di kamar. Mungkin Tian sedang keluar membelikanku baju sesuai dengan janjinya tadi malam. Aku berusaha menggerakkan tubuhku sedikit demi sedikit, setidaknya aku harus membersihkan tubuhku dulu sebelum beristirahat dengan benar. Aku memaksakan kedua kakiku untuk terus melangkah, walaupun gemetaran aku memaksakan diri ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
"Sejak kapan kamu bangun?" Tanya Tian setelah melihatku tengkurap di kasur sambil membawakan minuman di tangannya
"Kamu bawa apaan... kok warnanya terkesan kayak racun!" Kataku tidak bergerak sedikitpun dari posisi tengkurap
"Ini jamu... kata bibi buat tubuh kamu!" Kata Tian hendak membantuku bangun yang sebenarnya tidak ingin bergerak
"Waaa... jangan gerakin tubuh aku..." teriakku kesakitan karena rasa nyeri saat Tian membalik tubuhku
"Eh... maaf, aku nggak tau!" Katanya setelah membuatku telentang
"Huhuhu... sakit tau!" Kesalku hanya bisa memarahinya dengan kata-kata, padahal ingin sekali kupukul wajahnya
"Kamu bisa minumkan?" Tanya Tian kali ini lebih hati-hati
__ADS_1
"Ambil in sedotan... Aku nggak mau gerak sedikitpun!" Perintah ku padanya untuk mengambilkan sedotan untukku minum
"Tunggu bentar aku ambil in..." katanya dan segera bergegas mengambil sedotan di dapur
Aku mencium aroma lembut yang sama dengan aroma tubuh Ain pada diri Tian barusan, sebenarnya yang mana Tian yang asli. Waktu jajan kabul semalam siapa yang nongol di permukaan, aku cuma nikah sama satu orang, tapi tidurnya sama kepribadian lain miliknya juga. Ntar kalo aku hamil, terus anaknya punya siapa, kepribadian yang mana ayahnya, kan bingung nentuinnya.Tian datang dengan membawa sedotan alumunium dengan wajah ceria, tapi aku yakin tadi pasti dia nggak masang muka kayak gini di depan para pembantu.
"Kamu cicipin dulu... ada racun nya nggak?" Kataku ingin mengerjainya
"Paid banget..." katanya membuatku tertawa
"Adudu..du...duh...cepet sini in jamunya!" Kataku meminta jamu itu
"Nggak boleh... ini pait banget!" Katanya menyembunyikan jamu di belakang punggunggnya
"Jadi kamu mau aku kesakitan kayak gini seharian, nggak kan? Sini in jamunya!" Kesalku membuat persendianku ngilu karena tanganku bergerak sedikit
"Kalo nggak kuat jangan di minum ya!" Katanya dan membantuku minum dengan sedotan
Walaupun jamu ini sangat-sangat pahit, tapi aku harus menghabiskannya agar cepet sembuh. Tian memejamkan matanya kerena tidak kuat melihatku meminum jamu pahit ini, aku hampir menyemburkan jamu di dalam mulutku melihat Tian yang seperti itu. Aku menghabiskan jamunya tanpa sisa sedikitpun, lidahku teras pahit dan kelat, sekarang aku butuh yang manis-manis.
"Aku mau makan yang manis-manis!" Kataku pada Tian yang masih menutup matanya
"Eh... kalo coklat mau!" Katanya dan segera membuka laci yang ada di samping tempat tidur
"Boleh..." kataku sendu karena sekarang Tian benar-benar terlihat seperti Ain
"Kamu kemanain jamunya, kok abis?" Tanya Tian menatapku dan gelas bergantian
"..." Aku mengabaikan pertanyaan nya karena fokus menatap coklat di tanganku
"Aku lupa... mau aku bukain!" Katanya dan membuka bungkus coklat serta menyuapi ku
__ADS_1
Biasanya aku yang menyuapi Ain dengan coklat pemberiannya, tapi kali ini Tian yang menyuapi ku dengan coklat pemberiannya. Jadi secara teori baru Ain dan Tian hanya kebetulan memiliki kesamaan, tidak lebih tidak kurang.