
Sesampainya di apartemen, aku segera membersihkan diri di kamar mandi, berharap aroma taman hiburan yang ikut terbawa pulang lenyap dari tubuhku. Setelah selesai mandi aku merasa malas melakukan apapun, karena teringat jika esok pagi harus bangun pagi dan berangkat kerja. Kerja di bawah tekanan atasan memang tidak membuat ku merasa tertekan, hanya saja aku merasa sangat jenuh karena jadwal yang sangat teratur begitu saja setiap harinya.
"Apa aku ambil cuti aja kali ya! Atau nggak sekalian resign dari kantor? Tapi kalo berhenti berarti harus pulang ke kampung dong! Lalu di kampung jadi pengangguran! Itu nggak seru..." gumamku sambil mengatur pernapasan
Untuk menenangkan pikiran, biasanya aku selalu mendengarkan musik dengan alunan syahdu di dalam kamar. Dan biasanya tanpa sadar aku akan terlelap dalam tidur yang menenangkan jiwa dan pikiran. Tapi hari ini aku tidak ingin mendengarkan musik dulu, sebab pikiranku masih berkeliaran kamana-mana seperti biasanya. Aku membuka mata setelah lelah memikirkan hal yang konyol dan tidak berpaedah.
Kutatap langit-langit kamar yang telah dihiasi dengan beberapa foto keluargaku, rasanya ada seberat rasa rindu, marah sekaligus benci. Saat menatap satu-persatu foto di langit-langit kamar, sedari dulu hingga sekarang rasa benci dan rindu ini selalu menjadi alasan kenapa aku bimbang tentang keluargaku. Aku selalu mempertanyakan, apakah aku benar berasal dan terlahir di keluarga sederhana itu, atau aku hanya anak pungut yang dikasihani?
Sudah sejak lama pula aku tidak menangis saat mendapatkan kesedihan selama jauh dari keluarga di kampung. Seakan-akan aku jauh dari rumah dan keluargaku adalah kebahagianku yang sesungguhnya, tapi saat m3mikirkan hal itu malah membuatku merasakan rindu yang sangat mendalam akan kehangatan keluargaku, walaupun aku tau itu di tunjukkan bukan untukku.
__ADS_1
Dulu saat masih umur belasan tahun aku suka mengurung diriku sendiri di tempat yang temaram dan tak terlihat. Dari tempat itu kadang aku suka mendengarkan percakapan para saudaraku yang terdengar sangat menyenangkan. Kadang aku juga ingin ikut bergabung dalam percakapan, tapi katanya apa yang kukatakan, selalu saja aneh dan di luar pembicaraan. Tapi entah kenapa bagiku, apa yang kukatakan itu sangat berhubungan dengan percakapan mereka, mungkin fi sana aku kembali merasa asing dengan keluargaku sendiri.
Selama itu pula aku selalu memperlihatkan wajah ceria seperti tanpa beban, dan kadang wajahku yang seperti itu malah menyulut kemarahan beberapa saudaraku. Anehnya aku malah menjadi semakin cuek dengan sikap mereka yang selalu meremehkan dan terlihat sangat tidak menyukaiku. Dalam keluargaku, selalu aku yang menjadi penyulut amarah dan pertengkaran yang terjadi di rumah.
Aku masih ingat, dulu orang tuaku selalu bertengkar dan mengungkit tentang perceraian, dan itu pasti karena diriku. Hingga aku selalu menjadi titik pembulyan para saudaraku yang lainnya, malangnya aku malah takut untuk melawan dan hanya diam memendam kemarahan. Mereka juga mengatakan jika aku adalah manusia yang tidak memiliki otak dengan hati yang hitam membusuk.
Katanya aku adalah anak yang tidak mensyukuri keadaan, tidak pernah merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan, selalu bertingkah bodoh, tidak seperti kakak dan adikku yang lainnya. Yang hidup apa adanya, mensyukuri keadaan, selalu pintar dalam bertindak, dan yang pasti sangat di banggakan oleh ibu. Jika di tanya, apakah aku marah dan sedih saat mendengar semua itu? Tentu saja aku mengatakan sangat marah namun tidak sedikitpun sedih akan hal itu.
Pertama, aku marah karena diriku sendiri yang selalu saja di anggap remeh oleh ibuku, kedua, aku marah karena terlahir dalam keluarga ini, ketiga, aku marah karena telah mencintainya sebagai ibuku, keempat, aku marah karena harus aku yang selalu terlihat baik-baik saja, kelima, aku marah karena ibu selalu membandingkan diriku dengan semua orang, keenam, aku marah karena pengorbananku tidak akan pernah dianggap tulus oleh beliau. Aku sangat marah dengan diriku sendiri, hingga rasanya menangispun tidak akan ada artinya dalam hidup ini. Aku hanya berharap, jika suatu saat nanti aku meninggal, aku ingin semua orang yang pernah bertemu dan mengenalku, tidak mengingat jika diriku pernah terlahir di dunia ini.
__ADS_1
Masih banyak kemarahan yang selama ini kupendam sendirian, tidak ada orang yang tau akan semua penderitaan di dalam batinku karena kemarahanku sendiri. Bahkan aku merasa marah, jika melihat wajah ini tersenyum ramah di depan cermin, mendengar mulut ini tertawa, merasakan napas ini berjalan lancar. Hanya satu yang tidak pernah kusesali dalam hidup ini, yaitu melihat diriku sendiri tidak berguna di mata keluarga.
Jam di dinding kamar berdetak dengan irama yang indah, seiring berjalannya waktu malam yang dihabiskan dengan memikirkan hal yang tidak penting. Aku lelah, namun batinku masih semangat mengingat semua kejadian yang membuat ku selalu merasa hidup ini. Mengingat wajah keluargaku yang terlihat meremehkan hasil jerih payahku selama ini, wajah mereka yang tersenyum sinis itu sangat indah sewaktu mengantar kepergiannya di tahun pertama aku pergi merantau.
"Ngomong-ngomong... sepertinya aku tidak mendapatkan kembali uang ku yang di hutang mereka!! Tapi sudahlah... bukankah sejak dulu mereka suka berhutang dan tidak pernah mengembalikannya..." gumamku mengingat catatan hutang para saudaraku
"Tapi! Apakah aku harus selalu diam melihat perlakuan mereka... yang selalu meremehkan usaha dan mimpiku! Huh... Mengingat mereka membuatku mengantuk!!" Gumamku lagi sebelum tertidur lelap
Lampu kamar mati secara otomatis, saat aku menjentikkan jari, apartemen seram ini fasilitasnya udah canggih semua. Bahkan dapur listrik yang hanya menjadi keinginan diriku waktu kecil pun menjadi kenyataan di tempat ini. Semua saudaraku selama ini mengira jika aku hidup di tempat yang kumuh dan terpencil, tapi siapa yang menyangka aku akan hidup seperti dunia di dalam kotak hitam yang selalu di tonton para saudaraku dalam drama korea. Aku lelah, aku ingin istirahat karena esok harus bekerja....
__ADS_1