JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Benar-Benar Sangat Disayangkan


__ADS_3

Setelah selesai di obati aku meminta pak CEO untuk kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Aku lupa jika sekarang perasaan pak CEO sedang kesal, dengan apa yang telah terjadi di kantor beberapa jam yang lalu. Aku hanya bisa tersenyum melihat kebimbangan pak CEO, yang apakah harus kembali ke kantor hari ini atau tidak.


"Saya tidak mengerti bagaimana perasaan bapak sekarang! Tapi... karena bapak telah berbaik hati mengantarkan saya untuk berobat... Pilihan akan diputuskan oleh bapak! Jika bapak tidak ingin kembali ke kantor hari ini, saya harap bapak besok akan pergi bekerja!" Kataku ramah


"Apakah kau akan melepaskan ku hari ini? Kenapa?" Tanya beliau meragukan ucapanku


"Karena bapak adalah atasan saya dan saya percaya jika bapak akan menepati janji! Jika besok bapak tidak datang ke kantor... mungkin kejadian tadi pagi akan terulang kembali... lagi pula sepertinya hari ini adalah hari terakhir bapak bebas berkeliaran!" Kataku sambil tersenyum ramah


"Jika begitu... Apakah kau akan melepaskan ku hari ini?" Katanya agak ragu


"Saya tidak berhak menentukan keputusan bapak, karena selain atasan saya bukankah bapak juga teman saya!" Kataku dan mencegat taksi


"Benarkah? Lalu kamu akan pergi kemana?" Tanya beliau saat aku menghentikan taksi


"Pekerjaan saya masih banyak di kantor! Dan sepertinya hari ini saya harus lembur... khusus hari ini, silahkan bapak beristirahat dengan tenang! Kalau begitu sampai jumpa besok di perusahaan pak CEO!" Kataku dan sadar masuk ke dalam taksi


"..." pak CEO hanya diam menatap kepergian taksi


Aku lega, karena emosi sang singa telah mereda, kuharap orang besar sepertinya tidak akan mengingkari janji yang telah di ucapkannya. Tapi Seingat ku dia tidak mengatakan berjanji akan berangkat ke kantor besok, kenapa aku malah jadi sebodoh ini hanya menghadapi seekor singa yang emosian. Biarlah, toh besok jika dia tidak datang maka aku yang akan menjemputnya seperti hari ini.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, aku segera di arahkan sekretaris PAK presdir menuju kantor presdir, tentu saja menggunakan lift karyawan. Tadi pagi aku hanya bertaruh dengan keberuntungan ikut masuk ke dalam lift yang di dikhususkan untuk para petinggi perusahaan saja. Sepertinya hal yang barusan terjadi tidak semudah pemikiranku untuk di selesaikan seperti ini.


"Silahkan duduk!" Kata pak Presdir memintaku duduk


"Terimakasih pak!" Aku duduk dengan sedikit takut


"Saya meminta maaf atas perlakuan kurang ajar anak itu... walaupun usianya telah hampir kepala 3 dia tetap saja bertingkah kekanak-kanakan seperti itu... mohon di maklumi! Nak Ruka, kamu adalah karyawan berbakat dan kompeten... saya tidak akan membiarkan mu berada di samping orang itu lagi... ini memang kesalahan saya yang ingin menjadikan kamu sebagai sekretaris pribadi orang itu! Saya benar-benar meminta maaf! Saya akan memberikan konpensasi atas luka dan perasan kamu... mulai sekarang kamu akan memiliki 5% saham di perusahaan ini! Semoga kamu bisa memaafkan kesalahan orang tua ini!" Kata pak Presdir panjang lebar dan membuatku tercengang di akhir kalimatnya


"5% saham perusahaan..." kagetku


"Benar!" Kata beliau meyakinkanku


"..." (gila... 5%saham perusahaan ini setara dengan... Aku nggak kuat ngitungnya! Yang jelas saham segitu sangat-sangat banyak! Rasanya seperti ketiban gunung emas) jeritku dalam hati karena kesenangan


"Saya sangat setuju!" Kataku lepas karena sangat senang, tapi segera menciut karena beberapa hal


"Baguslah kalau begitu..." kata beliau puas dan segera memberikan surat pemindahan saham yang meminta tanda tanganku


"Astagfirullah... saya tidak bisa menerima ini pak!" Teriakku menyesali hal yang telah dijanjikan pada pak CEO beberapa saat yang lalu

__ADS_1


"Kenapa?" Kaget beliau dan pihak pengacara beliau yang menunggu tanda tanganku


"Boleh kan saham ini di berikan kepada saya setelah masa kontrak saya dengan pak CEO berakhir?" Kataku kurang ngajar "...Saya telah melakukan perjanjian dengan pak CEO secara damai! Mulai besok beliau berjanji akan bekerja... saya telah membujuk seekor singa yang bisa kapan saja membunuh saya, untuk melakukan perjanjian kerja sampai masa kontrak berakhir! Saya tidak bisa melepaskan kepercayaan pak CEO... walaupun tawaran pak Presdir sangat menggiurkan seperti ini... saya tidak ingin melepaskan salah satunya, tapi saya juga tidak bisa memiliki keduanya karena ini sebuah pilihan!" Kataku panjang lebar yang membuat semua yang ada di ruangan tercengan dan semakin tercengang


"Apakah maksud anda tuan muda akan ke kantor?" Tanya sekretaris pak Presdir


"Benar! Walaupun itu hanya sebuah harapan kecil... saya tidak akan melepaskan kesepakatan sebesar ini! Karena taruhannya adalah masa depan saya!" Kataku semakin membuat orang-orang tercengang


"Kamu... kamu berhasil membujuk orang itu untuk ke kantor?" Tanya pak Presdir tergagap


"Iya pak! Dan jika pak CEO tidak datang... maka saya yang akan membawa beliau ke kantor!" Kataku penuh keyakinan


"Kamu masih muda! Lepaskan saja perjanjian ambigu itu... dan jadilah bagian dari perusahaan secara hukum!" Kata pak Presdir kembali mendorongku untuk tanda tangan


"Walaupun saya seorang karyawan yang hanya berambisi oleh uang... Tapi hati nurani saya tidak bisa mengingkari janji yang telah keluar melewati mulut saya... maka dari itu saya melepaskan saham ini, karena saya percaya dengan pak CEO!" Kataku sedih melepaskan kesempatan emas, bukan emas tapi permata


Ruangan menjadi hening saat aku memutuskan untuk melepaskan kesempatan emas hanya karena janji dengan pak CEO angkuh itu. Memang sangat di sayangkan, tapi aku bisa apa, janji tetaplah janji yang harus kutepati, aku tidak ingin di katakan sebagai pembohong lagi. Jika aku berjodoh dengan saham itu, maka suatu hari nanti dia akan menjadi milik ku. Segera pamit kembali ke kantor setelah tidak ada yang mengatakan apapun lagi, seakan-akan jiwa melayang dari tubuh, aku melangkah menuju kantor CEO.


Seandainya aku menerima 5% saham itu, mungkin anak cucuku selama 3 generasi akan hidup dengan nyaman. Aku tidak menyesali keputusanku, aku hanya menyayangkan kesempatan sebesar itu terlepas dari genggamanku. Setelah puas melamun aku segera memusatkan pikiranku pada pekerjaan yang menunggak, sepertinya aku memang benar-benar harus lembur. Sebenarnya apa pekerjaan yang di lakukan oleh sekretaris terdahulu pak CEO ini, kenapa semua pekerjaan bisa menumpuk sebanyak ini.

__ADS_1


"Abah... keputusan Ruka udah bener kan?" Tanyaku menatap wajah abah di bingkai foto di atas meja


Setelah dilihat semakin kesini, tugas yang menumpuk ini terlalu banyak, walaupun aku bisa mengerjakannya dengan baik. Tapi aku pasti akan lembur semalaman dengan tugas-tugas ini, bahkan jika aku lembur setiap malam, jadwalku seminggu ke depan masih menumpuk. Rasanya ingin menyumpah kepada sekretaris terdahulu, kenapa kerjanya sangat santai, mentang-mentang pak CEO juga santai.


__ADS_2