
Setelah semua urusan beres ami bertiga segera kembali ke kantor yang ada di pusat kota, tapi bukan perusahan utama, karena hanya cabang dari cabang perusahaan resminya. Perusahaan pusatnya ada di kota Jakarta juga, tapi lebih mewah dan lebih wow dari perusahaan cabangnya. Maklumlah kan perusahaan pusat, ingin rasanya bekerja di kantor pusat, penasaran dengan makanan di kantin perusahaannya doang kok.
"Gue nggak nyangka loh! Kalo tadi lo bisa menyelesaikan masalah serumit itu secara tenang! Kalo gue yang ada di posisi lo mungkin udah kacau tu perdamaian!" Kata Fendi dj tengah perjalanan pulang
"Tenang apaan! Lo nggak liat tadi tangan sama kaki gue sampai getar gitu... takut pak udin mukul tau..." kesalku
"Tapi gue bener-bener nggak nyangka kalo lo bisa menyelesaikan masalah kayak gitu secara bijak!" Kata Yudha ikut menimpali
"Bijak sih bijak... Tapi gimana pengajuan gue tentang pemindahan tugas Budi nggak di setujui... kan kasian si Budi nganggur dan berharap ama gue! Puyeng gue!" Kesalku mereka jilbab
"Lo kan jago membujuk dan merayu... pasti di terima deh! Kan bukan pertama kali nya juga lo menyelesaikan masalah kek gini!" Kata Yudha yang sepertinya thu banyak tentang ku
"Tau dari mana lo?" Selidiku
"Mbak Maya kan sepupu gue!" Katanya terkekeh
"Ya Allah mbak Maya... jangan semuanya lo temen ya omongan mbak Maya, tolong dk kasih filter telinga lo kalo denger mbak Maya bahas gue!" Kataku menepuk jidat
Sesampai nya di kantor kumandang Adzan dari mushola yang ada di perusahaan terdengar sangat merdu seperti biasanya. Aku yang baru turun dari mobil segera berpisah dengan mereka yang ingin istirahat sebentar di kantin perusahaan. Untung setiap hari aku selalu bawa baju ganti ke kantor, jadi bisa mandi dulu untuk melepas lelah perjalanan sebelum lanjut kerja. Di mejanya mbak Rani terlihat sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk, aku tidak ingin mengusik fokus mbak Rani, jadi secara perlahan aku segera keluar ruangan untuk menuju kamar mandi karyawan.
Di kamar mandi aku berpapasan dengan karyawan lainnya yang baru dan hendak membersihkan diri. Tidak usah lama-lama aku udah kelar mandi dan segera berudhu untuk menunaikan sholat maghrib. Di mushola, masih ada beberapa karyawan yang sedang ngaji, sebelum lanjut kerja, aku segera menunaikan sholat maghrib. Setelah selesai sholat, aku kembali bergegas untuk memperbaiki laporan tadi pagi, sedikit puyeng ni kepala.
__ADS_1
Mengenai pemindah tugasan Budi aku harus meminta pendapat pak kepala dulu sebelum dj bawa ke hrd. Tapi pak kepala udah pulang dari sejam yang lalu, sekarang hanya tersisa aku dan mbak Rani yang lembur sampai malam. Rasanya ingin sekali berbaring di kasur yang ada di apartemen , tapi pekerjaan masih menunggu, sabar yang penting sabar aja dulu. Entah sejak kapan mbak Rani keluar membuat kopi, yang jelas aku di kagetan dengan gelas kopi yang di berikan mbak Rani padaku.
"Jangan terlalu di paksaan kalo nggak kuat! Nanti sakit!" Kata mbak Rani yang sejak tadi melihatku memijit kening
"Iya mbak... makasih kopinya enak!" Kataku menyeruput kopi pemberiannya
"..." Mbak Rani melambaikan tangan sambil tersenyum (dia bilang sama-sama)
Aku baru sadar jika Lisa tadi pagi mengajakku pulang bareng, tapi aku kan ada lembur, baru juga ingat tu orang udah nelpon aja.
"Assalamualaikum! Lis lo pulang aa duluan gue masih harus lembur!" Kataku
"Wa'aikumsalam! Gue baru mau ngomong kalo gue juga lagi lembur!" Katanya sambil terkekeh ringan
"Ntar kalo udah selesai gue hubungin kok! Lo kalo udah selesai juga hubungin gue!" Katanya terdengar juga sedang ngobrol dengan teman satu departemen
"Oke! Silahkan lanjut sibuknya... Assalamualaikum!" Kataku hendak mengakhiri percakapan
"Wa'aikumsalam..." panggilan ku tutup
Sedikit melelahkan memang jika harus lembur, tapi mau bagaimana lagi, laporan harus dj selesaikan segera agar, bisa di diskusikan keesokan harinya. Tepat pukul sembilan akhirnya laporan selesai ku perbaiki, besok hana perlu di bicarakan lagi dengan yang lain. Sejak satu jam yang lalu mbak Rani udah pamit pulang duluan, katanya ada urusan di rumah. Aku keluar dari departemen setelah mematikan lampu dan mengunci pintunya, sekali lagi aku memastikan jika pintu terkunci.
__ADS_1
Setelah yakin semuanya akan, aku segera menekan pintu lift sambil mengirimkan pesan teks pada Lisa, mengajarinya jika aku udah selesai dengan laporannya. Saat pintu lift terbuka, di dalamnya ada pimpinan baru dan sekrearisnya yang berwajah datar itu. Aku mengangguk ramah kepada beliau yang tersenyum sekilas membalas keramahanku. Di dalam lift aku sibuk dengan ponsel, hingga teringat dengan berkas yang harus meminta persetujuan pak kepala lupa kutaruh, aku menepuk jidat mencoba mengingat di mas menaruh laporan itu.
Setelah meyakinkan diri jika laporan itu ada di meja, aku mendesah lega bertepatan dengan pintu lift yang terbuka kulihat di depan meja resepsionis, Lisa sedang berbincang dengan temannya yang juga temanku, sambil menunggu kedatanganku. Lisa tersenyum menyambut kedatanganku, dan segera memakanku ke tempat parkir, menuju mobilnya di parkir.
"Ngapain aja hari ini, kok keliatan capek banget?" Tanya Lisa saat kami di dalam mobil
"Ikut rapat! Makan siang! Pergi ke kota Cirebon, menyelesaikan masalah pertingkaian dua karyawan! Lalu memperbaiki laporan! Cuma segitu, tapi capek nya nggak nahan!" Rengekku
"Ya jelas lah capek! Lo sih rajin banget kerjanya... Tapi semoga aja lo cepat naik jabatan, biar usaha lo nggak sia-sia!" Kata Lisa mendoakan yangbtervaik untukku
"Masa kontrak gue udah hampir abis! Dan gue nggak ada pikiran buat lanjutin tuh kontes kerja!" Kataku membuang muka ke luar jendela mobil
"Sayang banget au! Kan lo udah kerja sedemikian rajin, kok mau berhenti!" Kata Lisa menoleh heran
"Gue mau buka usaha sendiri, biar bisa jadi bos!" Kataku tersenyum mengingat mimpi masa kecil ini
"Aminn... Gue doa in yang terbaik buat lo!" Kata Lisa bertepatan dengan sampainya mobil di parkiran apartemen
"Amin. Makasih doanya!" Kataku masih malas turun dari mobil
"Kenapa nggak turun, kan udah nyampe!" Kata Lisa menatapku yang masih berlea-leha di dalam mobil
__ADS_1
"Capek nya..." teriakku melepas lelah dan keluar dari mobil
Lisa segera menarikku yang hendak jongkok di parkiran menuju lift yang baru saja terbuka, di dalam, lift aku jongkok kelelahan. Tadi pagi perasan semangat 45 tapi kenapa saat pulang jadi semangat-45, haduh nggak habis pikir. Kalo capek-capek gini biasanya Ain akan datang dengan membawa sebatang coklat untuk memberikan semangat. Tapi kini Ain udah nggak ada, jadi pengen nangis. Aku kaget hampir terjungkal ke belakang untung di tahan Lisa, saat kulihat ada Aji di depan lift yang katanya menuntunku pulang. Udah capek kerja, kini malah semakin capek saat liat Aji yang terlalu berlebihan mengkhawatirkan ku, yang sebenarnya masih hidup dan bernapas ini.