
Di ruangan yang sama seperti sebelumnya.
Saat ini Alfons sedang berdiri sendirian di tempat itu sambil membalikkan halaman demi halaman buku harian yang ada di tangannya itu dan membacanya dengan cermat.
Bagian dalam dari buku harian itu kebanyakan di isi dengan hal-hal yang tidak terlalu penting dan juga tulisan hasrat konyol pemilik buku ini.
Seperti, bagaimana tentang cara dia menjahili pembantunya. Dan ketika dia membalik lembar selanjutnya, Alfons menemukan sesuatu yang luar biasa.
Alfons membaca kata-kata dari lembaran itu dengan terdapat ekspresi aneh di wajahnya. Alasan dia bisa berekspresi seperti itu, karena lembaran itu bertuliskan seperti ini ...
...'Aku sedikit merasa bersalah, telah menyembunyikan barang sakral milik Daisy ... selama beberapa hari ini, aku sering melihat dia seolah mencari sesuatu di berbagai tempat dengan ekspresi malu yang terukir di wajahnya....
...Dan aku tahu apa yang dia cari. Aku diam-diam menyembunyikannya di dalam tas penyimpananku dan bersikap seolah tidak terjadi apapun....
...Tetapi ... aku tak menyangka dia seberani itu. Dengan kain tipis dan berwarna merah muda ... apakah dia mau menggoda seseorang atau sesuatu seperti itu?'...
Setelah membaca buku harian itu, Alfons hanya tersenyum kering dengan canggung.
Hingga akhirnya, Alfons telah menyelesaikan semua halaman yang berisikan tulisan. Dan yang tersisa hanyalah setengah dari buku yang masih kosong.
Tidak ada yang istimewa dari isi buku harian itu. Itu hanya berisikan tentang perjalanan hidup seseorang dengan damai.
Dan Alfons sedikit mersa kecewa dengan hal itu, ketika pertama kali dia melihat sampul yang bertuliskan Ariel, dia sedikit merasa bahagia dan berharap bahwa buku itu memiliki pemilik yang sama sesuai dengan namanya.
Akan tetapi, kini semua harapannya itu telah sirna. Yang Alfons temukan hanyalah tentang kehidupan seorang putri dari Kerajaan tertentu yang menyukai sesama jenis.
Alfons menghela napas dengan muram dan saat ketika Alfons akan menutup bukunya, tiba-tiba energi sihirnya seolah terserap ke dalam buku itu dan beberapa saat kemudian, Alfons merasa buku itu menjadi lebih tebal daripada sebelumnya.
Tanpa ragu sedikitpun, Alfons segera membuka buku itu kembali. Dan benar saja, Isi halaman dalam buku itu kini menjadi bertambah.
Saat ketika Alfons membaca kata demi kata dalam buku itu, saat ini dia merasakan campuran emosi antara terkejut, harapan dan juga rasa nostalgia yang selama ini jarang dia rasakan.
Meskipun isi dalam buku itu hanyalah seperti laporan yang singkat. Alfons tetap membacanya dengan menyeluruh ....
...Hari ke 1135, Aku masih berusaha menjalani hidup di dunia ini dan mempelajari informasi tentang dunia ini....
...Hari ke 1850, Aku bertemu dengan seseorang yang berasal dari duniaku sebelumnya. Katanya dia seorang pahlawan....
...Hari ke 1853, Aku bertemu dengan suatu sosok yang bisa dikatakan, 'Diluar nalar'. Dan aku mengetahui informasi yang mengejutkan darinya....
...Hari ke 4372, Sudah hampir dua belas tahun aku menjalani hidup di dunia ini. Tetapi aku masih belum bisa menemukan informasi tentang Shilvie dan yang lainnya. Tapi yah ... aku tak terlalu khawatir...
...Dengan kejeniusan Shilvie yang melakukan sesuatu selalu dengan sempurna, aku yakin dirinya akan baik-baik saja....
...Sementara Frank ... meskipun dia agak sedikit otak otot. Tapi aku yakin, meskipun dirinya dilemparkan ke lembah yang berbahaya pun, dia akan baik-baik saja....
...Dan Chloe ... em. Jujur, aku sedikit khawatir. Terkadang dia selalu ceroboh dan melakukan sesuatu dengan teledor....
...Siapa lagi ya ... Oh! Iya, Alex. Dia orang yang rajin dan juga cekatan. Aku yakin dia akan menjalani hidup di dunia ini dengan lancar....
...Yah ... meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku berharap semua orang menjalani hidupnya dengan aman....
Ketika Alfons membaca laporan yang terakhir. Laporannya agak sedikit panjang dari laporan-laporan yang lain.
Dan dia saat ini menatap dengan berwajah datar kearah buku itu.
Mengapa aku di urutan terakhir? Dan juga ... apakah dia hampir melupakanku? Itu sungguh kejam ... Bos ....
Alfons bergerutu di dalam hati.
Tapi Alex, kah ... itu membawaku kembali ke hari-hari di masa lalu. Serasa nostalgia ....
Sudah lama sekali Alfons tidak menggunakan nama masa lalunya di kehidupannya saat ini.
Tetapi ... ekspektasimu terlalu tinggi, Bos. Aku bahkan sekarang menjadi tak berdaya sama sekali ....
Alfons merenung, sambil melirik ke arah kalung perbudakan yang ada di lehernya.
Dan Alfons menemukan suatu harapannya kembali saat ini. Alfons tahu, bahwa yang mempunyai buku ini pastilah Ariel yang asli.
__ADS_1
Karena dalaman isi buku itu, hanya dirinyalah yang tidak dia sebutkan.
Dalam pikiran Alfons. Mungkin Ariel dapat melakukannya untuk membantu dirinya dari perbudakan ini.
Karena dalam kehidupan sebelumnya sebagai Alex, Alfons sama sekali belum pernah melihat Ariel mengecewakannya sekalipun.
Dari sudut pandangnya sebagai bawahan, Ariel adalah seseorang pemimpin yang menyenangkan dan juga kompeten. Meskipun sikap seenaknya itu harus diperbaiki sedikit.
Tetapi ... yang membuatnya sedikit aneh adalah buku harian biasa di halaman depan buku itu.
Itu menceritakan perjalanan hidup seseorang perempuan yang berpikiran kotor.
“Apa mungkin ...?” Tanpa sadar, Alfons bergumam seperti itu.
Dilihat darimana pun. Entah mengapa, Alfons merasa bahwa Ariel saat ini telah menjadi seorang perempuan. Dapat dilihat, dari gaya tulisan yang sama. Dan juga, sikap gadis itu sangat cocok dengan sifat Ariel yang Alfons kenal.
Akhirnya dia memutuskan untuk membaca buku harian itu kembali, sambil mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam tas itu.
Dan setelah melakukan hal itu. Kini Alfons yakin, bahwa Ariel saat ini telah berubah menjadi seorang perempuan.
“Hmmm .... ”
***
Sementara itu.
Ariel saat ini tengah berdiri di sisi sungai.
Dan hal yang paling membuat dirinya terkejut, Ariel saat ini sedang melihat tubuhnya sendiri dan kaget, setelah melihat bahwa tubuhnya kini adalah seorang lelaki tulen.
Ariel dengan cepat meraba sesuatu yang berada di antara kedua kakinya dan memastikan bahwa sobat tercintanya, yaitu burung kecil itu masih ada ataukah tidak.
“Ada!”
Setelah itu, Ariel pun segera meremas wajahnya dan mengusap rambutnya yang kini telah menjadi pendek.
Ternyata benar. Ariel kini telah menjadi seorang laki-laki kembali.
Dalam keadaan suka cita itu, Ariel tiba-tiba melihat ada beberapa orang yang berada di balik sungai.
Mereka melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum dan tertawa dengan riang. Mereka adalah Shilvie dan yang lainnya.
“Hey~ Ariel. Ayo kesini!”
“Bos.Kau telat!”
“Yaampun ... mau sampai kapan kau akan membuat kami menunggu?”
Melihat hal itu, Ariel membelalakkan matanya dengan kaget. Tak menyangka, dirinya akan bertemu kembali dengan mereka.
Dan pada saat yang sama, ketika Ariel terkejut seperti itu, Seseorang berjubah hitam mendatangi Ariel sambil mendayung diatas sampan kecil yang cukup untuk ditumpangi beberapa orang.
Tanpa sadar, Ariel segera menaikinya dan dibawa pergi menggunakan sampan itu.
Pada saat waktu telah berlalu, dirinya masih duduk di atas sampan itu dengan tenang. Hingga kemudian, seseorang yang berjubah hitam itu tiba-tiba berbalik ke arah Ariel dan membuat dirinya terkejut sambil berteriak.
“WoaaaAA! A-ada apa?”
“.... ”
“.... ”
Ariel bertanya dengan takut. Akan tetapi, tak ada jawaban. Sosok itu terus menatap Ariel dan membuat Ariel merinding akan hal itu.
Hingga, sosok itu melopat ke arahnya dan menerkam Ariel secara tiba-tiba.
Wrraaahhhh!
“Wooaahhhh! ”
__ADS_1
Titititit ... titititit ... titititit ....
Ariel tiba-tiba membuka matanya sambil terbangun dari tempat yang empuk dan hangat.
“Haaah ... haaah ... haaah... ” Tubuhnya yang tidak memakai apapun, dipenuhi dengan keringat dan napasnya berat, seolah telah melakukan lari maraton.
Dalam keadaan itu, Ariel mengamati sekeliling dan melihat-lihat dengan ekspresi bingung.
Dia saat ini berada di ruangan yang bersih, dengan dilengkapi beberapa furnitur seperti kursi, meja, dan lemari yang terdapat televisi di simpan di tempat itu.
Titititit ... titititit ... titititit .... Tek.
Karena mengganggu, Ariel segera menekan Jam Digital itu. Jam digital itu menunjukkan 08 : 02 : 09.
Sudah pagi hari, kah ....
Ariel memandang ke jendela dan sinar matahari memancar dari celah gorden jendela yang sedikit terbuka.
“Ermmm~ Kau sudah bangun, Ariel?”
Hingga saat Ariel masih dalam keadaan linglung, seseorang menggeliat di sisinya dan memanggil Ariel dengan lembut.
Dia adalah seorang wanita yang begitu cantik. Wanita itu terbangun dengan dadanya yang tidak mengenakan apapun. “Hm!” Hingga dia tersadar, wanita itu segera menarik selimut dari suatu tempat dan langsung menggunakan selimut itu untuk menutupinya.
Ariel sedikit mengintip dan memandangnya untuk beberapa saat, sebelum dia mendapatkan pukulan di belakang kepalanya secara tiba-tiba.
Duk!
“Aww!”
“Dasar, kau ini ... jika diperhatikan seperti itu, itu membuatku malu~ ....” Wanita itu mengalihkan pandangannya dan rona merah sedikit terlihat di wajahnya.
“Shilvie .... ”
“Iya. Ada apa denganmu? Apakah kau terlalu kelelahan setelah menyelesaikan misi kemarin?”
Ariel tak merespon dengan pertanyaan itu. Dia hanya melihat tangannya sendiri dan kemudian tubuhnya yang saat ini adalah seorang lelaki?
Dapat dilihat dengan jelas, terdapat otot-otot tubuhnya sendiri seperti roti sobek yang menawan. Sudah jelas, bahwa itu adalah milik seorang lelaki.
Ariel kemudian menyentuh kepalanya sendiri sambil mengingat tentang kejadian sebelumnya.
Dan hal pertema yang dia ingat adalah tentang kejadian hari kemarin, dia melakukan misi bersama teman-temannya dan setelah itu dia pulang dengan kelelahan.
Tetapi, ingatan itu tercampur dengan ingatan yang lain. Dan dia seolah telah bermimpi dan dirinya menjalani kehidupan di dunia lain menjadi seorang anak perempuan yang imut.
Melihat Ariel yang begitu kebingungan, Shilvie bertanya dengan khawatir, “Ada apa denganmu? Apakah kau telah bermimpi buruk semalam? Tubuhmu dipenuhi keringat, loh ....”
Untuk beberapa saat, Ariel terdiam dan segera menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum dan membalas Shilvie yang khawatir, “Tidak! Tidak apa-apa ... mungkin aku hanya kelelahan ....”
“Begitu yah ...” Shilvie tersenyum dengan lega, “Kalau begitu, kau istirahatlah sebentar lagi! Aku akan pergi mandi dan menyiapkan sarapan untukmu.”
“Iya ....”
Ariel melihat ketika Shilvie berjalan dengan cepat, sambil tubuhnya masih ditutupi dengan selimut.
Saat ini Ariel sendirian di dalam sebuah kamar. Dia merenung dengan dalam. Tidak yakin dengan ingatannya sendiri.
Hingga beberapa saat kemudian waktu telah berlalu, akhirnya Ariel bergumam, “Jadi semua itu hanyalah mimpi ... ?”
...▶▶▶▶▶▶Bersambung .... ◀◀◀◀◀◀...
...△△△△△△△△...
Catatan Author:
Fyuh~ Akhirnya udah seratus bab aja ... 🥵 Terima kasih telah membaca, Kawan👍😆
__ADS_1
Cerita ini masih berlanjut kok. jadi tunggu aja, Ok! (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌