
“... Apakah kamu barusan mengatakan Lydia Scarlet?” Ketika Ariel mendengar nama Lydia, dia segera bertanya untuk memastikan.
“Hm? Ah ... ya, dia adalah muridnya.” Judith sedikit terkejut ketika mendapat pertanyaan dari Ariel yang tidak di sangka-sangka.
Tetapi, jika memikirkannya ke belakang, Judith baru teringat bahwa memang benar Ariel mempunyai ketertarikan kepada orang yang bernama Callister itu.
Mengingat hal itu, Judith tersenyum dan mengangguk berulang kali seolah mendapatkan sebuah kesimpulan, “Hehem~ Jadi begitu, jadi begitu .... ”
“Hm?” Ariel memiringkan kepalanya dengan bingung. “Apa? Mengapa kau menatapku seperti itu?”
Melihat tingkah Judith yang seperti itu, Ariel sedikit waspada terhadapnya dan mengantisipasi apa yang akan Judith katakan.
“Hm~ tidak ada~ tidak aneh jika kamu ingin lebih tahu tentang pria itu.”
“... Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Aku tidak tahu apa yang kau maksud.” Ariel bahkan semakin kebingungan.
Tetapi Judith malah menyeringai dan tersenyum menggoda Ariel yang seperti itu, “Fufu, kamu cukup pemalu juga rupanya. Bukankah kamu tertarik pada pria Callister itu? Bahkan pada saat kita semua mendengarkan pidato dari pihak Akademi sebelumnya, kamu hanya melihat pria itu dengan tatapan panas sepanjang waktu. Kyaa!! Musim semi ternyata datang lebih cepat kepadamu.”
Judith berkata seperti itu sambil menjerit dengan lucu. Mengingat umurnya yang terlihat masih muda, itu menambah keimutan nya dan membuat Ariel tertegun untuk beberapa saat. Ketika Akhirnya dia tersadar dengan apa yang dibicarakan Judith.
“T-tunggu. A-apa? Tatapan panas? Musim semi? Apa maksudnya itu?” Meskipun Ariel mengerti apa yang dimaksudkan Judith. Tetapi dia tak bisa tidak bertanya mengapa dia mencapai pada kesimpulan seperti itu.
Meskipun ketika saat pidato berlangsung, dia hanya melihat beberapa saat kepada seorang pria yang dicurigai sebagai Frank yang ikut ke dunia ini bersama Ariel sebelumnya.
“Eh?! Jadi maksudmu Callister itu adalah pria berotot yang ku lihat sebelumnya?” tanya Ariel, baru menyadari hal itu.
“Wah wah? Jadi kamu masih belum mengetahui namanya? Ap-apa jangan-jangan ini adalah cinta pertamamu? Wah wah, ini bahkan menjadi semakin seru~” Dan begitulah. Judith menjadi lebih bersemangat dan menjerumus lebih dalam pada kesalahpahaman.
Bahkan gadis-gadis di dekat mereka yang mendengar pembicaraan mereka berdua sama bersemangat nya seperti Judith. Mau bagaimana lagi, mungkin topik percintaan begitu menarik bagi para wanita.
Sementara para lelaki yang juga ikut mendengar, ada beberapa yang terlihat iri dan juga muram. Mungkin melihat wajah Ariel yang begitu cantik dan juga mempesona, membuat mereka berharap atau membayangkan menjadi sepasang kekasih atau setidaknya menjadi lebih dekat dengannya.
__ADS_1
Bahkan ada beberapa kali sebelumnya mereka melirik kepada Ariel dan berusaha untuk mendekatinya. Tetapi Ariel menyadari hal itu dan dia dengan sengaja berjalan di antara Judith dan Dino sebagai penghalang.
Tetapi sekarang. segalanya menjadi aneh. Ariel menatap dengan pandangan kosong kepada orang-orang di sekeliling dirinya. Dia bingung mencari cara agar meluruskan semua kesalahpahaman ini.
Padahal aku hanya ingin memastikan bahwa dia benar-benar Frank .... Pikir Ariel.
Tetapi sekarang. Ariel benar-benar yakin bahwa pria yangg bernama Callister itu memang benar adalah Frank. Buktinya, nama Lydia disebut-sebut sebelumnya sebagai guru dari pria yang bernama Callister itu.
Hmmm ... bagaimana aku akan menemuinya secara langsung .... Renungkan Ariel.
Hingga akhirnya. Ketika semua orang sibuk dengan pemikirannya masing-masing, seorang pria mulai berbicara dengan ekspresi kesal yang terlihat di wajahnya.
“Berhentilah kalian semua. Berhenti membicarakan sesuatu yang bodoh! Hey, kau! Berikan informasi lebih banyak!” Pria itu menunjuk Judith dengan nada angkuh.
Mereka menatap ke arah pria itu. Ada yang menatapnya dengan sinis dan tidak senang dengan prilakunya yang seperti itu.
Meskipun memang benar bahwa sebelumnya mereka membicarakan tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan seleksi ini, tetapi setidaknya dia bisa meminta dengan sedikit sopan. Itulah yang mereka pikirkan saat ini.
“... Kalau dipikirkan-pikir, Aku sudah menyebutkan informasi-imformasi dari kelompok lain. Tetapi tidak dalam kelompok ini. Bukan begitu, Tuan Muda Eric Lacerta dari keluarga Lacerta.”
“Hoo ... bahkan kau tahu namaku. Kau cukup mengesankan meskipun kau seorang rakyat jelata.” Eric memuji Judith dengan nada angkuh. Dia melirik ke sekitar tubuh Judith dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Lalu berpindah ke arah Ariel dengan cara yang sama.
“... Suatu kehormatan bisa dipuji oleh Tuan Muda Eric.” Judith berusaha setenang mungkin sambil menjawab dengan senyumnya yang sedikit terlihat dipaksakan.
Orang-orang yang di sekelilingnya pun sedikit merasa tak nyaman dengan sikapnya Eric yang seperti itu. Tetapi mereka tak berani untuk menunjukkannya.
Karena sebelumnya mereka semua mendengar dari Judith bahwa Eric adalah bagian dari keluarga Bangsawan yang cukup berpengaruh dari Kerajaan Delyth.
Sebagai Rakyat Jelata, mereka sebisa mungkin tidak ingin terlibat suatu masalah dengan bangsawan.
Tetapi anehnya mereka sedikit bingung, mengapa seseorang Tuan Muda dari keluarga seperti itu ikut serta dalam seleksi untuk masuk ke Akademi?
__ADS_1
Biasanya para bangsawan secara otomatis akan langsung terdaftar sebagai siswa setelah upacara kedewasaan mereka.
Ariel juga sedikit merasa aneh tentang hal itu. Tetapi dia memutuskan untuk berhenti memikirkannya dan mengasumsikan bahwa mungkin Eric melewatkan upacara kedewasaannya seperti dirinya dan terpaksa untuk melakukan seleksi untuk masuk Akademi.
Jika memang begitu, hanya ada dua bangsawan di kelompok ini. Yaitu Ariel dan juga Eric. Tetapi berbeda dengan Eric yang sengaja memperkenalkan dirinya sebagai bangsawan, Ariel hanya mengabaikannya dan tak peduli apakah dirinya diperlakukan sebagai bangsawan maupun tidak selama dirinya tidak diganggu oleh suatu hal yang merepotkan.
Di kelompok itu, tidak ada yang berani untuk menantang seorang bangsawan. Melihat orang-orang bersikap seperti itu padanya, Eric merasa dirinya superioritas.
Hingga akhirnya dia memutuskan —
“Baiklah. Siapa peduli dengan baj*ngan Callister atau siapapun itu. Aku akan menghajarnya sebagai seorang pemimpin di sini.” Eric membuat pengumumkan dengan nada arogan. Dia menekankan kata 'Pemimpin' dengan keputusannya sendiri tanpa bertanya pada orang lain.
Hingga kemudian, dia memandang Ariel dan juga Judith sebagai wanita yang paling cantik di kelompok itu dengan tatapan menjijikkan, “Hey, kalian! Kemarilah dan layani aku!”
Semua orang terdiam dan memandang mereka berdua dengan cemas. Tetapi tentu saja Ariel segera menolaknya dengan tegas.
“Tidak mau.”
“Eh?!” Tak mengharapkan adanya penolakan, Eric sebelumnya percaya diri. Tetapi segera dikagetkan dengan penolakan Ariel yang begitu berani.
Semua orang juga kaget melihat reaksi Ariel yang seperti itu. Tetapi ada satu orang yang menyeringai dengan puas. Dia adalah Judith.
Dirinya seolah mengharapkan situasi ini akan terjadi. Dia menoleh kepada Ariel dengan menatap puas.
Seperti yang kuduga ....
Sebenarnya Ariel tak bermaksud menyembunyikan dirinya yang seorang bangsawan. Tetapi ketika pertama kali Ariel memperkenalkan dirinya kepada Judith, Dia yakin bahwa Ariel adalah seorang bangsawan.
Nah, sekarang tinggal mengkonfirmasi bahwa dirinya adalah orang yang sama .... Pikir Judith sambil mengingat nama yang sama dengan Putri Pembawa Keberuntungan yang menjadi bahan pembicaraan yang hangat semenjak tiga tahun belakangan ini.
Bersambung ....
__ADS_1