
“Tidak mau.”
“Eh?!” Eric terkejut dengan reaksi Ariel. Hingga akhirnya untuk beberapa saat kemudian, raut wajah Eric terlihat menjadi lebih kesal.
“... Apakah aku salah denger? Jangan main-main denganku. Apakah kau tidak tahu siapa aku?”
“Enggak tuh.” jawab Ariel sambil mengangkat bahu. Hingga kemudian, Ariel mengangkat jari telunjuknya seolah mengingat sesuatu, “Ah! Aku baru ingat! Kau pasti salah satu dari sekian banyak anak yang dimanjakan orang tuanya dan menikmati kekayaan mereka seolah hasil usahanya sendiri. Iya iya, pasti begitu, kan?”
Ariel bukannya mengingat. Melainkan hanya menebak. Tetapi sangat jelas. Atas tanggapan Ariel itu, semua orang yang menyaksikan hal itu pasti menganggap hal itu sebagai provokasi.
“Pfft ....” Mendengar hal itu, Judith hampir saja tertawa. Tetapi, dia dengan cekatan langsung memalingkan wajahnya agar Eric dan yang lainnya tidak dapat melihat. Tetapi Ariel tidak melewatkan hal itu. Dia menatap Judith dari ujung pandangannya untuk beberapa saat tanpa menoleh dan langsung kembali melihat reaksi yang Eric buat.
Eric menggeram dengan kesal. Wajahnya memerah dan pembuluh darah mulai terlihat di sekitar dahinya, “... Sepertinya kau sudah bosan hidup. Karena kau cantik, aku beri kau satu kesempatan. Bersujud di depanku dan meminta maaflah!”
Mendengar hal itu, Ariel hanya mendengus dengan senyum geli, “Huh! Aku tidak mempunyai kewajiban untuk melakukan hal itu. Justru mungkin sebaliknya. Bagaimana, apakah kau mau mencontohkannya kepada semua orang dan meminta maaf lah kepadaku?”
Sambil berbicara seperti itu, Ariel menunjuk ke bawah dekat kedua kalinya sambil tersenyum mengejek yang diperlihatkan kepada Eric dengan sengaja.
“K-kau ....”
Eric bahkan bertambah marah. Dan mungkin melihat situasinya yang akan diluar kendali, Judith segera memotong dari samping sambil bertepuk tangan untuk mendapatkan perhatian, “Mari dicukupkan sapai disini. Jika hal ini terus berlanjut, mungkin itu akan merugikan kelompok kita.”
Segera setelah Judith mengatakan hal itu, dia langsung menjadi pusat perhatian.
Tidak terkecuali Eric. Dia menatap ke arah Judith dengan tidak senang, “Diam kau! aku akan mengajarkan kepada anak itu bagaimana cara bersikap sesuai dengan posisinya. Jangan ikut campur!”
“Hmm ... itu akan menjadi masalah. Tuan muda Eric sebelumnya mengatakan akan menjadi pemimpin kami. Tetapi sebelumnya kita sudah sepakat bahwa kami memilih orang itu yang akan menjadi pemimpin kami.” Judith menunjukkan Ariel ketika dia berbicara.
“Hah?!” Ariel terkejut. Sementara Judith —
“Kan, Semuanya?” Judith memandang ke arah orang-orang yang menonton di sekeliling dirinya sambil membuat senyuman lebar. Tetapi, entah mengapa ada sesuatu yang menakutkan dari senyuman nya itu.
Melihat hal itu, Dino dan orang-orang yang sudah saling kenal dengan Judith sebelumnya saling menatap dan langsung mengangguk seolah memberikan persetujuan mereka.
__ADS_1
“Hah? Wanita itu?” Eric memandang Ariel seolah menilainya, “Tubuhnya tertutup oleh jubah. Tetapi aku tahu, meskipun sebagian wajahnya tertutup oleh jubah itu, tetapi aku bisa melihat. Wajah seperti itu aku yakin dia hanya seorang wanita yang terlindung di dalam rumah dan tidak mengenal dunia luar. Berhentilah mengatakan hal omong kosong! Dia jadi pemimpin? Heh!”
Eric mengejek Ariel dengan tatapan mencela. Dan membuat Ariel sedikit tidak senang akan hal itu.
Jika kau bisa menebak sejauh itu, mengapa kau tidak bisa menebak bahwa dia juga bangsawan juga? Aku cukup yakin bahwa tidak ada orang biasa yang mempunyai kecantikan seperti itu di wilayah Iblis ini .... Pikir Judith dalam hati.
“Yah, aku yakin kau mengatakan itu hanya untuk melindunginya. Tetapi sudah terlambat. Aku akan mengajari dia betapa kejamnya dunia. Dan sementara itu, aku akan mencicipi tubuhnya itu ....”
Setelah mendengar hal itu, tubuh Ariel bergidik. Bukan karena takut. Melainkan merasa jijik dengan ucapannya itu. Dan itu terlukis jelas di wajahnya dan membuat Eric mengerutkan kening merasa tidak senang.
Merasakan suasana itu. Judith menoleh ke arah Ariel dan memberi saran, “Tetapi, apa salahnya mencoba. Bagaimana jika kamu berduel dengan Tuan Muda Eric untuk memperebutkan posisi pemimpin di kelompok ini?”
“Huh! Aku yakin kau tahu siapa aku. Jadi ini yang kau inginkan selama ini?” Ariel mendengus dengan tertawa geli.
“Hm? Apa yang kamu bicarakan?” Judith menepis pertanyaan itu dengan pertanyaan lainnya sambil tersenyum cerah.
Dari semenjak pertama kali mereka berkenalan. Setelah mendengar nama 'Louise'. Judith sudah merasa bahwa Ariel adalah orang yang sama dengan Louise Albion yang terkenal beberapa tahun ini.
Tetapi belum ada bukti. Dan semenjak diberi tahu namanya, Judith belum pernah sekalipun memanggilnya Ariel dengan nama 'Louise' di dekat orang lain.
Setelah beberapa saat kemudian. Ariel menghela napas, “Haaahh ... sudahlah. Lagipula aku tidak ingin kelompok ini kalah. Aku tidak mempercayainya jika dirinya yang memimpin kelompok ini. Jadi aku akan ikut dalam permainanmu.”
“Terima kasih banyak.” Judith merespon dengan tersenyum cerah dan dalam suasana hati yang baik.
Melihat percakapan mereka berdua. Eric ikut bergabung dalamnya percakapan mereka, “Oi oi. Apakah aku tidak salah dengar? Apa kau yakin mau melawanku?”
“Kenapa? Kau takut? Jadi memang benar kau hanya anak manja yang bergantung dari orang tuanya? Kalau begitu diam dan tutup mulut busukmu itu dan berdiri saja di pojokan!” ejek Ariel dengan secara berlebihan.
Dan tentu saja. Mendengar hal itu membuat Eric Marah, “Baik lah. Jika kau maunya seperti itu akan ku kabulkan. Aku akan merusak wajah cantikmu itu dan tidak akan kulepaskan sebelum kau meminta maaf dan memohon kepadaku.”
“Cukup sampai disitu! Mari kita mulai saja? Tempat ini cukup luas hanya untuk pertarungan dua orang yang saling berhadapan.” Mungkin karena tidak sabar. Judith menyela dan segera merekomendasikan agar duel mereka segera dimulai.
.
__ADS_1
.
.
Beberapa saat kemudian.
Ariel dan juga Eric saling berhadapan dalam posisi siap bertempur.
Melihat duel mereka akan segera dimulai. Orang-orang mulai sedikit cemas dan mendatangi Judith di pinggiran tidak jauh dari tempat Ariel dan Eric berada.
“Hey! Judith. Apakah kau yakin tidak apa-apa?”
“Iya, mau bagaimanapun juga, lawannya adalah Eric Lacerta. Dia dari keluarga Bangsawan yang cukup berpengaruh di Delyth ....”
“... Apakah lebih baik kita hentikan saja? ”
Mendengar hal itu. Judith merasa cemburu jika banyak orang yang khawatir pada Ariel. Apalagi yang datang kepada Judith dengan ekspresi cemas kebanyakan adalah para lelaki yang sejak awal berusaha mendekati Ariel yang terpikat dengan kecantikannya.
Tetapi itu tidak diperlihatkan dalam ekspresinya. Dia hanya meyakinkan orang-orang agar tidak terlalu mencemaskan Ariel.
“Tidak perlu khawatir. Aku yakin dia akan baik-baik saja...,” ucap Judith. Dan menambahkan dengan suara yang terdengar sedikit ragu dan juga pelan, “... Mungkin.”
“.... ”
“....”
“....”
Mendengar kata-kata terakhirnya. Bahkan itu membuat mereka menjadi lebih khwatir dibanding sebelumnya.
Dan Judith merasakan atmosfer ini. Dia hanya bisa mengetuk kepalanya dengan ringan sambil menjulurkan lidahnya menggunakan ekspresi imut yang dibuat-buat.
“Tehe pero~”
__ADS_1
Bersambung ....