
Hari yang di tentukan.
Di sebuah padang rumput yang terbuka.
Keesokan harinya, setelah Chizuru meninggalkan mereka, kini Ariel sedang menyiapkan sebuah kotak yang telah di isi oleh energi sihir selama beberapa hari ke belakang ini sebelumnya.
Dia sedang meng otak-atik alat itu dengan serius. Hingga beberapa saat kemudian, dia mendengar suara panggilan Daisy yang begitu pelan dari belakangnya..
“Anu ... apakah kita akan melakukannya di tempat terbuka seperti ini? ” Daisy berbisik sambil melihat sekeliling dengan gelisah.
Ariel yang kebingungan dengan pertanyaan Daisy, dia hanya memiringkan kepalanya sambil bertanya, “Hm? Apa yang kau maksud?”
“Anu ... itu ... pengisian energi sihir .... ” jawab Daisy yang malu dan wajah yang memerah.
“Eh! ”
Ariel hanya bisa terkejut dengan situasi ini.
Apakah ... dia mengharapkan sesuatu seperti itu ....
Pikir Ariel dalam hati.
“... ,Tidak. Kita tidak kan melakukannya hari ini. Lagipula menurutku, pengisian energi sihirnya sudah cukup untuk sekarang. Jadi kamu bisa istirahat untuk kali ini.” ucap Ariel, sambil menggelengkan kepalanya.
“Begitukah .... ” Entah mengapa, setelah Daisy mendengar hal itu dari Ariel, dia segera menjadi kuyu dan tidak bersemangat.
Melihat ekspresi Daisy yang seperti itu, Ariel hanya menyeringai dan memberikan usulan.
“Yah ... tanpa pengisian energi sihir sekalipun, kita bisa melakukan hal-hal yang seperi itu kapanpun. Jika kamu mau.” ucap Ariel dengan senyuman menggoda.
“Hal-hal seperti itu?”tanya Daisy dengan bingung.
“Hm~ apakah kau sedang pura-pura? Tentu saja adegan tentang aku menyerap energi sihir mu seperti kemarin. Kau menginginkan hal itu, Bukan? ”
Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam untuk memikirkan apa yang di maksud, hingga tak lama setelah itu, Daisy tersadar apa yang di maksud.
__ADS_1
Wajahnya yang memerah dan uap panas mengepul. Dan dia segera menjawab dengan cepat, sambil terbata-bata.
“Ti-ti, ti, tidak. Mana mungkin saya menginginkan hal yang memalukan sepeti itu!” ujar Daisy dengan salah tingkah.
“Hoh~ apakah kau yakini~?” Ariel mengkonfirmasi kembali dengan senyuman geli. Dapat dilihat, bahwa dirinya sedang mempermainkan Daisy.
“Te-tentu saja .... ” ucap Daisy. Dan entah mengapa, dia seolah berat untuk mengatakannya.
“Hmmm ... ” Ariel menatap Daisy untuk beberapa saat, sebelum berkata, “Baiklah! Waktunya untuk serius, kali ini. Kita bisa melakukan hal itu nanti,”
“Nanti? ” Daisy terkejut, dengan wajah yang memerah. Akan tetapi, Ariel tak mempedulikan hal itu dan terus melanjutkan untuk berbicara.
“Bagaimana tentang pergerakan Oscar dan orang-orang yang telah mengikutinya? Apakah mereka sudah melakukan pergerakan?” tanya Ariel, yang kini sedang menatap Felix yang selama ini bertugas berjaga di belakang mereka berdua sejak dari awal.
“Eh! ” Daisy baru tersadar, bahwa selama ini percakapan mereka telah di dengar oleh Felix. Dan hal itu membuat dirinya jadi salah tingkah, tak karuan.
Melihat ekspresi Daisy yang gelisah, Felix segera mengangkat jari telunjuknya di bibir nya yang tersenyum. Dan itu mengisyaratkan bahwa dirinya tidak akan memberi tahu kejadian beberapa saat yang lalu kepada siapapun.
Dan melihat hal itu, Daisy segera menghela napas lega. Ariel yang menatap Felix dari tempat duduknya, memasang senyum dengan ekspresi terkesan.
Seperti yang di harapkan dari pengawal setia Anastasius. Dia lumayan cekatan dan juga sangat berdedikasi di dalam pekerjaan nya. Aku membutuhkan orang seperti dia ....
Karena dia tahu, bahea Felix sudah bersumpah setia untuk melayani Anastasius sebagai kesatria terkuat di Albion.
Hingga setelah Felix memberi isyarat kepada Daisy. Dia pun berbalik dan menjawab pertanyaan Ariel yang sebelumnya sambil menunduk dengan rasa hormat.
“Emmm ... Pasukan yang telah di pimpin oleh tuan Oscar, kini tengah memelakukan penyergapan secara diam-diam dan mengikis pasukan musuh dengan cara meracuni persediaan makanan mereka.” ucap Felix dengan serius.
“ ... ” Ariel hanya terus terdiam dan hanya mendengarkan.
“Meskipun saat ini mereka di atas angin, akan tetapi ... kita hanya bisa menunggu kekalahan dari tuan Oscar dan juga para pasukannya yang mengikuti beliau. Apakah kita akan mengirimkan bala bantuan? ” tanya Felix.
Ariel dapat merasakan dari tatapannya saja. Bahwa kini, Felix sedang menilai dirinya. Apakah keputusan Ariel dapat memuaskan Anastasius, sebagai tuannya.
Ariel tak terpengaruh dengan tatapannya itu, dia hanya berkata dengan santai.Meskipun ada jeda, di antara kata-katanya.
__ADS_1
“... ,Tidak. Biarkan saja mereka. Mereka sendiri yang menginginkan hal itu, aku tidak ingin repot-repot membantunya. Lagipula Anas- ... maksudku, Yang Mulia juga menginginkan hal itu, Bukan?”
Felix tak menjawab pertanyaan Ariel. Dia hanya tersenyum dan menunduk dengan hormat dalam diam. Sebagai tanda bahwa dirinya menerima keputusan Ariel.
“Jika begitu, saya akan melaporkan sesuatu yang lain. ” ungkap Felix.
“Lanjutkan!”
“Baik! ” Felix mengangguk dan kemudian memulai, “Entah bagaimana. Pergerakan dari pasukan musuh selalu selangkah lebih cepat, daripada pasukan yang dipimpin oleh tuan Oscar. Saya curiga bahwa di pasukan yang tuan Oscar pimpin terdapat mata-mata. Atau mungkin, di pasukan musuh ada seseorang yang kompeten. Jika itu memang benar, kita akan sedikit lebih sulit untuk menangani nya ....”
Setelah mendengar hal itu, Ariel merenung dengan serius.
Hmmm ... apakah ini ulah para pahlawan itu? Tapi, yah ... tak peduli apapun. Itu tidak akan mengganggu rencanaku .... mungkin.
Ariel meyakinkan dirinya sendiri, bahwa tidak ada masalah yang akan terjadi.
“Yah ... kau tidak perlu khawatir tentang itu. ” Ariel melambai-lambai kan tangannya dengan bosan. Dan mengubah topik pembicaraan. “Daripada itu, bagaimana keadaan pasukan yang tidak mengikuti Oscar?”
Ariel selama ini terus mengurung diri di dalam tenda untuk pengisian energi sihir dan baru hari ini dia keluar dari tenda, setelah berhari-hari tinggal di dalam.
Mau bagaimana lagi, karena sebuah benda yang saat ini dipegangnya adalah penentu perang ini akan berakhir.
Jika akhirnya gagal. Mungkin orang-orang dari wilayah manusia akan memenangkan perang ini dengan jumlah mereka. Dan jika persiapan yang selama ini Ariel lakukan selama berhari-hari ternyata gagal.
Dan juga pasukan yang terpecah menjadi dua, akibat ulah Oscar dan juga Anastasius yang hanya mengirim para pasukan yang selama ini menjadi parasit di Kerajaan Albion.
Terus terang. Dengan jumlah pasukan musuh lebih dari sepuluh kali lipat, lebih bayak dibandingkan dengan pasukan yang dia miliki. Ditambah, mereka juga tidak kompeten.
Ariel hanya menghela napas dengan lelah,setelah mengetahui hal ini.
Setelah jeda untuk beberapa saat. Felix menjawab pertanyaan Ariel dengan senyum bermasalah, “Saat ini, mereka sedang berpesta dan minum minuman keras dengan riangnya .... ”
Ariel yang mendengar hal itu, dia hanya berwajah datar dan terdiam. Meskipun Ariel menyuruhnya untuk tidak melakukan apa-apa. Akan tetapi, hal ini sudah terlalu kelewatan.
Apakah mereka tidak terlalu santai? Ini sedang di tengah-tengah peperangan, Loh!
__ADS_1
Teriak Ariel dalam hati. Tidak mengakui bahwa dirinya juga beberapa hari ini selalu bersantai dengan malas.
Bersambung ....