
Pada usianya yang baru menginjak empat belas tahun, Evan berhasil membuktikan dirinya sebagai salah satu bagian dari keluarga Delyth yang tidak dapat diremehkan.
Bahkan kini banyak para bangsawan yang memihak nya sebagai calon perebutan dalam suksesi takhta kerajaan Delyth karena kedua saudara tirinya yang tidak kompeten.
Pada usianya yang masih muda seperti itu, dia berhasil meyakinkan Ayah-nya untuk saling berkomunikasi dengan Raja Anastasius untuk menjalin pertunangan.
Dan hal itu mendapat respon yang positif. Mereka berencana untuk saling mempertemukan Louise Albion dan juga Evan Delyth untuk membahas lebih lanjut.
Evan selalu merasa tidak sabar dan juga gelisah menunggu pertemuan tersebut, sampai akhirnya dia mendengar berita yang di tunggu-tunggu dari Albion.
Yang mencengangkan, itu bukanlah berita baik yang dia harapkan. Justru sebaliknya, dia merasa terguncang setelah mendengar rencana pertunangan mereka dibatalkan.
Semua usaha yang dia bangun sementara itu menjadi kacau dengan ke tidak stabilan Evan. Bahkan para saudara tirinya yang ingin merundung dan mengejek Evan, dia membalasnya kembali dan kedua Pangeran tersebut dikabarkan mengalami cedera parah.
Baru pertama kali ini Evan merasa emosional seperti itu. Hingga tak lama setelah dia menerima informasi pembatalan rencana pertunangan tersebut, dia kembali menerima informasi bahwa terjadi perang skala kecil antara wilayah manusia dan juga Albion.
Yang mengejutkan, pasukan Albion dipimipin oleh seorang Putri yang bernama Louise Albion.
Dalam beberapa waktu itu, Evan selalu dikejutkan dengan informasi yang datang.
Dalam hati Evan. Dia berpikir, 'Jadi begitu ... jadi itu alasan mereka membatalkan rencana pertunangan kita ....'.
Berkat hal itu, Evan merasa tenang kembali. Jika seperti itu, dia hanya perlu menunggu kembali.
Evan yakin bahwa pihak Albion akan memenangkan peperangan itu.
Dan tebakannya benar, Albion menang. Tetapi dia merasa terguncang setelah menerima laporan bahwa Louise Albion terluka parah diakibatkan oleh bencana yang tak terduga yaitu terjatuh nya Meteor di lokasi peperangan yang membuat situasi perang menjadi kacau balau.
Tetapi Evan tak mempedulikan hal itu. Yang dia pedulikan hanyalah keadaan calon tunangannya itu.
Dia mendengar bahwa Louise Albion sedang dalam masa kritis dan dijaga oleh salah satu dari Tujuh Kekuatan Wilayah Iblis yaitu Ratu Roh, Talitha.
Evan merasa ingin pergi. Tetapi dia dilarang oleh Rakira Lilim dan bahkan sangat Raja. Entah mengapa dia merasa kesal. Dari yang dia dengar, bahwa siapapun dilarang masuk ke tempat Louise Albion dirawat bahkan keluarganya sendiri oleh Talitha.
Dengan perasaan kesal dan gelisah seperti itu, dia hanya bisa menunggu dan menjalankan aktivitasnya sendiri untuk menggapai tujuannya yaitu Louise Albion.
Evan yakin bahwa Louise Albion akan baik-baik saja selama dia menunggu dengan sabar.
Tak terasa bahwa waktu sudah tiga tahun telah berlalu, selama ini dia terus menunggu dan akhirnya hari ini. Dia mendapat laporan bahwa ada seseorang yang mengaku sebagai Louise Albion yang mendaftar untuk masuk Akademi.
__ADS_1
Tentu saja dia tak melewatkan hal itu, dia tak bisa memaafkan jika ada orang yang mengaku-ngaku sebagai calon tunangannya itu. Fianakan mengeksekusi di tempat.
Tetapi, hati kecil Evan berharap bahwa orang tersebut memang benar adalah orang yang dia idamkan.
Itu adalah musim dingin yang akan memasuki musim semi untuk penerimaan murid baru di Akademi.
Dari yang Evan tahu bahwa Louise Albion kini menginjak umur ke lima belas yang wajib mengikuti Akademi sebagai bangsawan.
Tetapi yang membuatnya aneh adalah orang yang mengaku sebagai Louise Albion itu mendaftarkan diri melalui pendaftaran yang biasa dilalui oleh para rakyat jelata.
Evan pergi untuk melihat orang tersebut dan tibalah dia di keramaian tengah jalan Ibu Kota.
Yang Evan lihat, seorang gadis cantik sedang ditodong menggunakan senjata di tengah keramaian tersebut.
Orang bodoh macam apa yang membuat keributan seperti itu di tengah Ibu Kota.
Ahh ... sebentar lagi mungkin dia akan mati .... Pikir Evan dalam hati.
Tetapi bukan itu yang Evan pedulikan. Gadis yang tengah dijadikan sebagai sandra itu, meskipun telah terlewat beberapa tahun telah berlalu, Evan langsung mengenali gadis itu.
Dia sama cantiknya dengan dulu. Tidak, bahkan kini menjadi semakin cantik. Jika dulu Evan melihatnya sebagai gadis yang imut, sekarang gadis itu terlihat sebagai kecantikan itu sendiri dan sangat mempesona.
Mungkin agak aneh jika seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tetapi itulah yang Evan rasakan ketika melihatnya pertama kali beberapa tahun yang lalu.
Dia seolah merasakan benang merah terhubung antara wanita itu dengan dirinya. Dari sekian banyaknya gadis yang pernah Evan jumpai selama hidupnya, hanya Louise Albion lah yang paling bersinar di antara mereka.
Gadis-gadis lain yang selalu mengerumuni dirinya selama ini hanya dia anggap sebagai jahe yang berjalan.
Evan hanya melihat Louise Albion itu menangani kejadian itu dengan tenang dan juga elegan. Jika dia tak menanganinya terlebih dahulu, Evan berencana untuk maju dan menebas leher lelaki itu.
Dia merasa tidak senang melihat ada laki-laki lain yang terlalu dekat dengannya.
Saat orang yang menyekap wanita itu di eksekusi masa, wanita itu hanya menonton dan melihat sampai selesai dan berjalan pergi.
Ingin sekali Evan mendatanginya dan memeluknya. Tetapi ini belum saatnya.
Dia harus mewujudkan pertunangan itu dan mengikatnya di pelukannya.
Evan masih sedikit mengetahui watak Louise Albion itu dan masih belum saling mengenal dan bertatap muka secara langsung.
__ADS_1
“Benar ... tak perlu terburu-buru ....” gumam Evan.
Selama dia mengetahui bahwa Louise Albion kini baik-baik saja. Itu sudah membuat hatinya menjadi lebih lega.
Dia menatap dari kejauhan sampai wanita itu menghilang dari pandangannya.
Evan menoleh ke arah pelayanan yang mengikuti dirinya dan memberi perintah, “Cari tahu dimana wanita itu sekarang tinggal dan bayar semua biaya kehidupan selama dia tinggal di Delyth tanpa sepengetahuan dirinya!”
“Baik, Tuan!” Pelayanan itu membungkuk dengan rasa hormat.
Sambil berbalik dan pergi, Evan tersenyum dengan suasana hati yang baik sambil bergumam, “Sampai bertemu lagi .... ”
.
.
.
Sementara Ariel yang berjalan sendirian, dia merasa merinding di sekujur tubuhnya dan merasakan perasaan yang aneh.
Brrr~
“Aneh ... padahal tubuhku dari tadi baik-baik saja ....” gumam Ariel, “Ya sudahlah~”
Ariel berjalan beberapa waktu dan akhirnya sampai di penginapan dia menginap.
Ariel berjanji untuk makan siang bersama Daisy, dia melihat Daisy menunggu di sebuah meja sendirian.
Ketika Ariel mulai merasa bersalah telah mengingkari janjinya, dia melihat Daisy sedang mengunyah dan memasukkan sesuatu makanan ke dalam mulutnya.
Ariel yang iseng, dia keluar secara tiba-tiba untuk mengejutkan Daisy.
Duaaarrrr!
“Uwaaaaa!! ... aaakkk!! ... Ohok ... ohok .... ”
Daisy terkejut dan bahkan tersedak dengan melihat kedatangan Ariel secara tiba-tiba.
“N-nonaaaa!” Daisy marah dan berteriak sambil air matanya yang sedikit keluar.
__ADS_1
Bersambung ....