
Sementara itu di tempat lain.
Terdapat dua orang sedang berdiskusi di suatu tempat yang tertutup dengan suasana yang serius.
“Apa kau bilang? mereka ingin mengkhianati kita?” Seseorang berteriak dengan nada terkejut.
“Shuuuuut! Pelankan suaramu!” Yang lainnya berbicara dengan suara pelan, “Saat ini mereka sudah mulai melakukan pergerakkan untuk menusuk kita dari belakang. Sebaiknya kita juga bersiap untuk melakukan perlawanan terhadap mereka.”
“Sial! Padahal kita sudah sepakat untuk saling bekerja sama untuk mengalahkan kedua kelompok lainnya.”
“Yah ... mau bagaimana lagi. penyerangan kita yang pertama juga berjalan dengan kegagalan ....” balas pria itu sambil menghela napas dengan ekspresi yang suram.
Mereka tidak menyangka. Sekian banyak orang yang dikirim untuk penyergapan, tidak ada satu orangpun yang telah kembali.
Tetapi setelah mengirim orang untuk melakukan pengintaian, dikabarkan bahwa lokasi untuk melakukan penyergapan sebelumnya telah sepenuhnya membeku.
Dan sulit untuk melakukan pengintaian dikarenakan tempat itu masih terlalu sangat dingin untuk dijelajahi.
Jadi sampai sekarang masih belum ada informasi lebih lanjut.
Tetapi setelah melihat wilayah yang di tutupi oleh Es seperti itu, mereka tidak yakin akan ada orang yang bisa kembali.
Dan tidak ada yang tahu apa yang menyebabkan wilayah hutan yang begitu luas menjadi membeku dan tertutupi oleh Es seperti itu.
Tetapi yang menjadi masalahnya adalah orang-orang yang telah dikirim untuk melakukan penyergapan kebanyakan berasal dari kelompok mereka sendiri.
Dan tentu saja hal itu merugikan mereka.
Merasakan udara suram di sekitar ruangan, pria yang lainnya bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
“Tapi apakah kau yakin mereka akan menusuk kita dari belakang?(Pengkhianatan)”
“Iya. Awalnya aku mendengar hal itu dari rumor kecil di antara para anggota kelompok kita yang lainnya, tetapi setelah aku men konfirmasinya sendiri, aku bisa berkata yakin bahwa itu adalah kebenarannya.” Pria itu berkata sambil mengangguk dengan percaya diri.
Setelah mendengar hal itu, dia menggosok dagunya sambil berpikir.
“... Jika kamu sendiri sampai berkata seperti itu ... haruskah kita mengkhianati mereka terlebih dahulu?”
Pria itu mengangguk, sebagai tanda setuju, “Iya. Aku juga berpikir seperti itu. Lebih baik segera bertindak sebelum semuanya terlambat.”
“Baiklah. Haruskah kita bagikan informasi ini kepada anggota kelompok lainnya?”
“Tentu saja. Tapi aku sarankan kau membagikannya secara diam-diam!”
“Aku tahu hal itu.”
Dan begitulah.
Mereka sepakat untuk mengkhianati terlebih dahulu kelompok yang telah bekerja sama dengan kelompok mereka sebelum kelompok mereka sendiri dikhianati.
Tetapi ada yang tidak mereka ketahui.
__ADS_1
Kelompok sekutu yang telah bekerja sama dengan mereka pun mendapatkan informasi yang sama dengan mereka.
Hanya saja informasi itu digambarkan secara terbalik.
Dan mereka merasa akan di khianati oleh sekutu mereka sendiri dan merencanakan hal yang sama dengan yang direncanakan kedua pria itu.
Dan itulah awal mula pertempuran mereka.
Mereka tidak menyadari bahwa semua itu direncanakan hanya oleh satu orang.
Tentu saja. Dia adalah Ariel. Seorang wanita yang berada di balik semua ini.
Meskipun itu tidak dilakukannya sendiri.
Pada saat yang sama ketika Ariel menemani Judith dan Dino secara diam-diam ke tempat kelompoknya Callister.
Ariel menyuruh beberapa orang yang pandai menyusup untuk menyebarkan informasi palsu dan mengadu-domba kedua kelompok itu,.
Sementara sebagian besar anggota kelompok yang lainnya bersiap-siap untuk membangun sesuatu untuk melanjutkan rencana selanjutnya.
Untung saja semenjak anggota kelompok Ariel mengetahui bahwa dirinya yang membuat lapisan Es itu, mereka menjadi lebih menurut dan lebih mudah untuk dikendalikan.
Tentu saja. Karena kekuatan, status, koneksi ataupun kekayaan adalah hal yang paling penting di dunia ini untuk seseorang agar bisa berdiri di atas.
◆◇◆◇◆◇◆◇
Sementara itu.
Sudah cukup lama waktu telah berlalu semenjak kedua kelompok itu merencanakan pengkhianatan.
Setelah beristirahat untuk beberapa waktu, Ariel kembali ke tempat yang telah ditentukan untuk kelompoknya berkumpul bersama Judith dan juga Dino.
Mereka semua yang kini telah berkumpul tengah menyaksikan pertempuran antara kedua kelompok itu dari daerah perbukitan yang tidak terlalu jauh dari lokasi sambil menyembunyikan kehadiran mereka.
Duuaarrr!!
Boooommm!!!
Trink!! Trink!!! Trink !!!
Duuaaaarrr!!
“Urrraaaaa!!!!”
Suara ledakan terus menggema dengan dibareng dengan suara kebisingan dan asap tebal yang meluap dari tempat pertempuran itu berasal.
Sementara itu, Ariel dan anggota kelompok yang lainnya hanya menonton dari kejauhan.
“Whooaa! Whooaa!!” Ariel menaruh sebelah tangannya di atas mata sambil menyaksikan pertempuran, “Mereka melakukannya cukup meriah juga rupanya.”
“Saya terkejut anda bisa santai seperti itu ....” Judith membalas perkataan Ariel mewakili anggota kelompok lainnya yang tegang.
__ADS_1
“Hm? ada apa denganmu berbicara formal seperti itu? Aku yakin kau sebelumya ...”
Sebelum Ariel menyelesaikan perkataannya, Judith menunjuk ke suatu tempat, “Oh!! Lihat! Seperti yang Anda katakan, orang yang bernama Calliter itu benar-benar datang.”
Mengikuti arah yang di tunjuk Judith, Ariel pun melihat Calliter berdiri seorang diri di medan pertempuran.
“Tunggu! Dia datang sendirian?” Dino terkejut hanya melihat Calliter seorang diri yang berada di tempat itu.
“Tidak. Anggota kelompok lainnya menyusul di belakang.” Jawab Ariel sambil menunjuk ke arah lain.
Dino mencari untuk beberapa saat dan akhirnya dia menemukannya setelah berusaha mencari sambil menyipitkan matanya, “Ohhh ... memang benar ... Tetapi, mengapa mereka terpisah jauh seperti itu?”
“Aku yakin kecepatan Calliter begitu cepat sehingga membuat mereka semua tertinggal.”
“Hahahaha ... aku pikir juga seperti itu.”
“Apa mungkin begitu ... ?”
Anggota kelompok Ariel yang lainnya mengemukakan pendapat mereka masing-masing.
Tetapi Ariel hanya tersenyum kecil setelah mendengar hal itu.
Aku yakin dia hanya tidak sabar dan mengabaikan pendapat anggota kelompok yang lainnya bahwa ini mungkin saja jebakan dan pergi sendirian .... Pikir Ariel dalam hati.
Jika itu memang benar Frank yang diketahui Ariel, dia mungkin akan bertindak seperti itu.
Dan nyatanya itu memang benar. Calliter awalnya berdiskusi dengan anggota kelompok yang lainnya hingga akhirnya kebanyakan dari mereka merasa keberatan dan merasa curiga dengan provokasi yang terang-terangan seperti itu.
Calliter yang kesal akhirnya dia mengumumkan bahwa mengunakan pergi sendiri.
Dan tentu saja anggota kelompoknya tidak membiarkan hal itu dan berusaha untuk menghentikan Calliter.
Tetapi siapa yang bisa menghentikannya?
Tidak ada yang berani dan mampu untuk melakukan hal itu.
Hingga akhirnya mereka dengan terpaksa mengikuti Calliter dan setidaknya membantunya sebagai pendukung agar mereka tidak kehilangan pemimpin mereka.
Hingga ketika Ariel dan yang lainnya melihat Calliter terjun dalam pertempuran, dia memukul siapa saja yang dekat dengan dirinya hingga terhempas seperti terbang.
“Me-mengerikan ....” ucap seseorang dengan raut wajahnya pucat.
Tetapi. Di mata mereka, seberapa kuat dan mengerikannya Calliter, ada yang lebih begitu mengerikan dibandingkan dengan dirinya.
Meskipun wajahnya begitu cantik bagaikan seorang Dewi, tetapi dirinyalah yang telah membuat semua situasi ini telah terjadi.
Orang-orang yang saat ini bertempur mungkin tidak akan menyadari bahwa semua ini telah diperhitungkan oleh seorang wanita dengan kepala kecilnya itu.
Mereka semua memandang Ariel secara bersamaan seolah mereka memikirkan hal yang sama.
Merasakan tetapan mereka yang mengarah kepadanya, Ariel kebingungan sambil bertanya.
__ADS_1
“Hm?! Ada apa dengan kalian?”
Bersambung ....