Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 111 _ Yang Ariel Tidak Tahu


__ADS_3

Akademi Benedith.


Sebuah Akademi yang terletak di tengah-tengah wilayah iblis. Lebih tepatnya di ibukota negara Delyth yang pasti tidak ada seseorang pun yang tidak mengetahui hal itu.


Sebuah Akademi yang didirikan oleh beberapa negara besar dan semua bangsawan yang telah melakukan upacara kedewasaan ketika berumur lima belas tahun wajib memasuki Akademi ini.


Tujuannya sudah jelas. Berbagai Ras di wilayah iblis adalah makhluk yang menjunjung tinggi kekuatan, pengetahuan dan juga budaya.


Tidak hanya hal itu. Tujuan dari anak bangsawan yang menghadiri Akademi ini dimaksudkan untuk bisa bersosialisasi dan mengikuti pergaulan para bangsawan.


Dan juga, mungkin hal ini sedikit menyimpang. Tetapi, dengan memasuki Akademi Benedith, para anak bangsawan bisa saling mengenal satu sama lain di tempat itu.


Hal ini bisa menjadi kesempatan untuk mereka yang sedang mencari pasangan, dan tidak sedikit orang-orang yang memasuki Akademi itu setelah menjalani kelulusan, mereka saling bertunangan maupun segera menikah setelah tidak lama mereka lulus.


Dan juga, Bukan hanya para anak bangsawan yang bisa memasuki Akademi ini. Rakyat jelata yang mempunyai potensi pun dapat memasuki Akademi ini setelah mereka mengikuti ujian masuk.


Karena cara memasuki Akademi ini ada dua cara. Yaitu langsung masuk otomatis seperti kebanyakan bangsawan dan juga melalui ujian masuk yang dibuka untuk semua orang. Tidak terkecuali anak rakyat jelata maupun bangsawan yang melewatkan upacara kedewasaan mereka karena alasan tertentu.


Meskipun hal itu agak sedikit sulit. Karena dari biasanya sekitar lebih dari lima ribu orang yang mendaftar ujian masuk, para peserta yang diterima masuk Akademi biasanya tidak lebih dari sekitar lima persen dari semua itu.


Hal itu dapat di maklumi. Karena sebagian besar rakyat jelata yang telah lulus dari Akademi itu kebanyakan akan menjalani hidup sukses maupun diterima untuk bekerja di kediaman para bangsawan.


Dan tidak hanya itu. Selama kehidupan mereka di Akademi. Biaya hidup mereka akan ditanggung oleh pihak Akademi dan hal itu selalu di perebutkan oleh orang-orang yang menginginkan hidup mereka di masa depan setidaknya bisa berubah menjadi lebih baik.


Ariel yang saat ini telah melewatkan upacara kedewasaannya. Dia diharuskan masuk Akademi melalui jalur kedua, yaitu melewati ujian masuk yang dibuka secara umum.


Setelah Anastasius menjelaskan semuanya, Ariel pun mengangguk sambil menghela napas, “Hah ... baiklah. Aku akan mengikuti ujian itu.”


“Bagus.” ucap Anastasius sambil mengangguk, “Ujian masuknya akan dibuka seminggu dari sekarang. Jadi, kau bersiap-siaplah untuk beberapa hari dan tiga hari dari sekarang kau akan berangkat ke ibu kota Delyth.”


“... Baiklah.” Pipi Ariel sedikit berkedut dengan ekspresi jengkel yang terlihat di wajahnya.


Dia memaksakan jadwal yang begitu padat ketika Ariel baru saja terbangun dari tidurnya selama beberapa hari.


Akan tetapi, Ariel menerima itu dengan sabar dan menghela napas untuk menenangkan dirinya.


“Hahhh ....”


Yah, lagipula ini juga untuk kebaikanku ....


Ketika Ariel berpikir seperti itu, Anastasius menambahkan, “Dan juga, untuk sesuatu yang diperlukan mengenai Akademi itu, kau bisa menanyakan sisanya kepada saudaramu yang lain yang telah memasuki Akademi itu. Sekarang kau boleh pergi!”

__ADS_1


Setelah mendengar hal itu. Ariel mengangguk dan segera pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat. Karena dia tak mau berlama-lama bersama para orang tua yang merepotkan dan membuat dirinya kesal.


Setelah Ariel pergi dan pintu tertutup, Ronand mendekati Anastasius dan bertanya, “Hey, Kau bisa saja memasukkannya ke Akademi lewat jalur belakang. Bagaimanapun juga ... keluarga Albion adalah salah satu penyokong Akademi tersebut, dengan sedikit usaha, aku yakin dia bisa masuk dengan mudah.”


Anastasius hanya acuh tak acuh mendengarkan dan kemudian dia menjawab dengan malas, “Ayah pikir aku orang seperti itu? Ras naga adalah ras yang menjunjung tinggi kehormatan. Bagaimana bisa kau memikirkan hal seperti itu.”


“Hmph! Kehormatan kah ... aku yakin kau sering menggunakan cara licik dan sebagainya di masa lalu.” Ronand mendengus sambil mengungkit masa lalu Anastasius.


“Itu hanya untuk kepentingan Albion dan cara itu dibutuhkan di sana. Sementara urusan ini kurasa tidak ada kebutuhan untuk melakukan cara seperti itu.”


“Hmm ....”


“... Dan juga, aku ingin sedikit membalas perlakuan ibunya kepadaku selama tiga tahun ini.” Anastasius menambahkan. Dan membuat Ronand seketika itu juga langsung menyeringai.


“Hee ... kurasa itu adalah alasan utamanya,” ucap Ronand, “Tapi aku sedikit setuju dengan caramu.”


Dan begitulah. Anastasius membalasnya sambil tersenyum. Mereka sependapat untuk sedikit mengerjai Ariel karena perbuatan ibunya kepada mereka.


Mau bagaimanapun juga, mereka adalah ayah dan anak. Sangat jarang, mereka memiliki kesamaan satu sama lain.


***


Ketika Ariel berjalan menyusuri lorong, ketika di pertigaan, Ariel berpapasan dengan seseorang yang tak terduga.


“Oya! Apakah kamu adik Louise?” Itu seorang wanita muda dan beberapa pelayanan mengikutinya di belakang.


“Oh! Kak Titania?!”


“Panggil saja Kak Tania ...” ucap Titania sambil tersenyum ramah, “Daripada itu apakah benar kamu adik Louise?”


“... Iya, ini saya.”


Dia berjalan dan mendekat kepada Ariel, “Saya mendengar bahwa adik kecilku ini telah bangun beberapa hari yang lalu.Ternyata memang benar ... dan juga, anda telah tumbuh menjadi lebih besar dan juga terlihat cantik. Saya sedikit tidak mengenalinya pada awalnya.”


Titania menepuk-nepuk ujung kepala Ariel dengan lembut, “Hehe, Terima kasih ... oh! iya, apakah Kakak punya waktu untuk pesta teh di kediaman saya? Ada beberapa yang harus saya ketahui mengenai Akademi ....”


“Oh ... iya, kamu akan masuk ke Akademi tahun ini yah ... ” Titania memegangi dagunya sambil berpikir, “... Baiklah, saya akan datang untuk membantu adikku tersayang.”


Dia tersenyum kepada Ariel sambil mengangguk. Dengan warna matanya yang berwarna biru dan juga bersinar dengan indah. Dan juga, warna rambut yang sesuai dengan namanya membuat dia begitu cantik saat tersenyum.


__ADS_1


A-apakah dia malaikat ...?


Ariel sedikit terpana untuk beberapa saat. Hingga akhirnya dia tersadar kembali dan tersenyum, “Te-terima kasih banyak ... kalau begitu, saya akan memberikan undangan resminya kepada anda nanti.”


Kemudian Ariel menunduk dan tersenyum, “Kalau begitu, saya mohon diri untuk undur diri. Ada sesuatu yang perlu saya lakukan saat ini. Jadi mohon pengertiannya jika ini terkesan kurang sopan.”


“Tidak, tidak apa-apa~” ucap Titania, “Kamu bisa pergi, justru saya yang mengganggu perjalanan Adik Louise.”


“Tidak mengganggu sama sekali,” Ariel menggelengkan kepalanya, “Kalau begitu,saya permisi.”


Ariel menunduk dan segera berjalan dan perlahan pergi menjauh.


Saat memandang Ariel yang telah tak terlihat,Titania segera menoleh ke arah para pelayannya, “Kalau begitu ... Ayo kita kembali!”


.


.


.


Beberapa waktu telah berlalu.Titania memasuki kamarnya dan segera menyuruh pelayannya untuk menutup pintu.


Hanya ada Titania dan seorang pelayan kepercayaannya saja yang boleh masuk ke dalam kamar.


Di tempat itu. Ada begitu banyak gambar lukisan yang bahkan memenuhi semua tempat di setiap sudut ruangan.


Bukan hanya sekedar lukisan. Tetapi lukisan itu semuanya adalah gambar lukisan Louise, Yukina dan juga Ruby. Lebih tepatnya itu adalah gambar semua adik perempuannya yang beraneka ragam.


Titania memperhatikan lengan kanannya sambil memikirkan tentang dirinya yang beberapa saat yang lalu telah menyentuh rambut Ariel.


“Ehehehe ... ehe ... ehehehe ....”


Dia tertawa dengan aneh dan raut wajahnya yang sebelumnya anggun kini hancur seketika oleh perilakunya itu.


Seorang pelayan yang memperhatikan hal itu, dia sudah menebak hal ini akan terjadi dan hanya menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah.


“Aaahhhh~ Adikku yang maniiiissss!!!”


Pelayan itu tiba-tiba dikagetkan dengan Titania yang berteriak secara tiba-tiba dan membuat seisi ruangan itu menjadi gaduh dalam sekejap karena melihat Titania yang meronta-ronta dan berguling-guling kegirangan di atas kasur sambil membuat napas berat.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2