Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 58 _ Percakapan Anak, Ayah, Kakek


__ADS_3

Di sebuah ruangan.


Ariel yang saat ini duduk dengan berekspresi keheranan.


Menatap orang-orang yang berada di hadapannya dengan tidak percaya.


" .... "


Hingga beberapa saat kemudian, dia mulai kembali berbicara dan bertanya untuk memastikan. "Apakah tadi saya salah dengar? Kalian ingin saya untuk mengikuti sebuah perang?"


Karena begitu terkejutnya Ariel. Dia bahkan, sampai berkata seperti itu dengan nada feminim layaknya seorang putri.


Dua orang yang saat ini berada di hadapannya, yaitu Anastasius dan juga Ronand. Segera mengangguk dengan serempak.


"Benar! Dan mengapa kau berbicara seperti itu? Itu membuatku geli. Dimana dirimu yang selalu tomboi itu? " Ronand berkata, sambil menjawab pertanyaan Ariel.


"Hmm ... jadi kalian serius? "


Mereka berdua mengangguk untuk pertanyaan Ariel yang kedua kalinya.


Hingga ruangan itu hening untuk beberapa saat, sebelum Ariel segera mengangkat meja yang berada di hadapannya dan melemparkannya kepada mereka berdua sambil berteriak.


"Yang benar saja .... ! "


Sebuah meja, dengan cepat melayang kepada mereka berdua. Akan tetapi, mereka menghindarinya dengan santai. Seolah mengharapkan hal itu akan terjadi. Karena beberapa tahun belakangan ini, mereka menjadi lebih dekat, semenjak Ariel menjadi muridnya Ronand.


Brak .... !


Meja terbentur dengan keras menabrak dinding.


Anastasius menyeruput secangkir teh yang telah dia ambil sebelum meja itu di terbangkan oleh Ariel.


Srupuuuuutt ... ahhhhh ....


"Apakah sudah selesai? " tanya Anastasius sambil memegang cangkir tehnya dengan santai.


"... ,Sudah." jawab Ariel, sambil kembali duduk dengan tenang.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka yang saat ini terdiam, Ariel memulai berbicara kembali.


"Tapi ... mengapa harus aku? Lagipula aku tidak punya kewajiban untuk mengikuti perintah kalian. " Ariel mengemukakan pendapatnya.


"Hey! Kau adalah anakku. Tentu saja kau harus menuruti apa yang orang tuamu katakan! "


Setelah mendengar hal itu, Ronand yang disebelah nya, menatap Anastasius sambil bergumam dengan takjub, "Aku tidak percaya, Kata-kata itu keluar dari dalam mulutmu .... "


"Apakah ada masalah? " Anastasius berbicara, menatap Ronand.


Setelah merasakan tatapan Anastasius, Ronand segera menjawab dengan memalingkan wajahnya. "Tidak! "

__ADS_1


Ariel yang saat ini menatap mereka, segera menghela napas lelah.


"Haaaahhh ... apapun itu, aku menolak untuk mengikuti perang itu! " ucap Ariel, sambil menggelengkan kepalanya.


"Hou~ kau berniat menolaknya? " tanya Anastasius dengan tatapan dingin.


Akan tetapi, Ariel tidak terpengaruh akan hal itu, dan menyuarakan pendapatnya. "Tentu saja. Lagipula ... apa keuntunganku, jika aku menerima tawaran itu? "


Anastasius mengedipkan matanya beberapa kali dengan terkejut, setelah mendengar hal itu dari Ariel.


"Hou~ jadi kau ingin hadiah? Apakah itu maksudmu? " tanya Anastasius.


Ariel mengangguk dengan acuh tak acuh, "Hmm ... bisa di bilang begitu .... "


"Baiklah jika begitu. Apa yang kau inginkan? Selama itu adalah permintaan yang masuk akal, aku akan mengabulkannya untukmu. Sebagai gantinya, kau akan mengikuti peperangan itu, sebagai pemimpin dan bertanggung jawab atas semua pasukan! " ujar Anastasius.


"Hah? "


Ariel yang mendengar hal itu, hanya bisa berteriak dengan kaget.


"Sebagai pemimpin? Apakah itu candaan untukku? Jika itu benar, itu sangat tidak lucu sama sekali. " ujar Ariel dengan berekspresi masam.


"Aku tidak suka bercanda. Jadi, apa permintaanmu? " Anastasius berkata, dengan tidak sabar.


"Aku belum menyetujui tentang hal itu. Lagipula aku adalah seorang putri yang masih berumur belasan tahun. Apakah kau akan menyuruhku untuk datang ke tempat yang berbahaya seperti itu? ... Ayah? "


Ronand yang berada di samping Anastasius pun menyerukan suaranya. "Benar, benar! Orang tua macam apa kau ini? Apakah hatimu terbuat dari batu? "


Anastasius yang menjadi pusat perhatian saat ini, membuat dirinya kesal dan berteriak. "Hentikan, kalian berdua! " Anastasius memerintahkan, dan segera, ruangan itu menjadi sepi dalam seketika.


"Kau! Itu keputusan ku, aku tidak menerima izin penolakan. Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan ... Ayah. Panggil saya aku, Yang Mulia, seperti anakku yang lainnya. " ucap Anastasius kepada Ariel.


Meskipun entah mengapa, ada sedikit keragu-raguan dalam ekspresinya, seolah dia menyesal telah mengatakan hal itu.


Ronand yang memperhatikan hal itu, dia bergumam dengan pelan, "Hmph! Dasar Tsundere! "


(Tsundere : Yah ... singkatnya. Malu tapi mau ... gitu lah ¯(ツ)/¯ )


"Hm? Apa yang kau katakan? " tanya Anastasius dengan penasaran. Dan segera Ronand menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Anastasius yang melihat hal itu, segera menghela napas dengan lelah. "Dan kau sendiri, Kan? Yang telah merekomendasikan anak ini untuk mengikuti perang sebelumnya? "


Ariel yang mendengar akan hal itu. Segera menoleh ke arah Ronand.


Ternyata kau biang keladinya! ( Penyebab masalah )


Teriak Ariel dalam hati. Sambil menatap Ronand dengan tatapan dingin.


Ronand yang menyadari tatapan Ariel kepadanya. Dia segera memalingkan muka dengan gugup.

__ADS_1


"Yah ... apapun itu, kau tidak ada hak untuk menolak! " ucap Anastasius, sambil menghela napas, " Jadi, apa yang kau inginkan? " Anastasius bertanya kepada Ariel yang saat ini sedang kesal.


Ariel hanya bisa membuang napas dengan lelah. "Jika memang tak ada pilihan lain ... yang kuinginkan adalah ... ke depannya, aku tidak ingin terlibat dalam politik apapun. Termasuk pertunangan politik. Apalagi pernikahan. "


Ariel selama ini menyadari. Bahwa dia tidak akan lepas dalam masalah ini. Karena ini adalah salah satu tujuan Anastasius, alasan mengapa dia mempunyai banyak pewaris.


Untuk menghindari hal itu, mungkin ini adalah suatu kesempatan yang bagus untuk dirinya.


Lagipula dia tidak bisa membayangkan dirinya mempunyai hubungan cinta dengan laki-laki.


Uuhhh~ ...


Hanya memikirkannya saja membuat Ariel merinding.


"Kenapa kau? " tanya Anastasius.


"Ti-tidak! " Ariel mengelengkan kepalanya dengan terbaru-buru. "Jadi, bagaimana? Apakah persyaratan itu bisa di terima? "


"Hmm ... " Anastasius merenung untuk beberapa saat, "Kau tidak ingin pernikahan politik? Apakah kau telah menemukan pria lain untuk dirimu? "


Mendengar hal itu, Ariel segera mengangguk dengan ekspresi masam, "Y-ya, bisa di anggap seperti itu .... " ucap Ariel, sambil memalingkan wajahnya.


Hahhhh ....


Anastasius menghela napas.


"Sayang sekali, padahal aku telah menukan orang yang cocok dan telah menawarkan hal itu kepada mereka. Dan mereka dengan cepat, setuju dengan penawaran itu. " ungkap Anastasius.


"Maksudmu, mereka telah menyetujui akan bertunangan denganku? " tanya Ariel dengan menggunakan ekspresi tegang.


"Iya, bisa dikatakan seperti itu. Akan tetapi, hal itu masih belum diumumkan secara publik. " jawab Anastasius dengan santai.


Ariel segera berdiri dan berteriak kepada Anastasius, "Batalkan hal itu segera! "


Anastasius dapat melihat, wajah Ariel saat ini tidak baik sama sekali.


Dia berteriak seperti itu dengan panik. Seolah pertunangan itu sangat buruk baginya.


"Apakah ... kau sangat tidak menyetujui pertunangan ini? Kau masih belum melihat calon pasanganmu. " Anastasius berkomentar.


"Ya! Pokoknya sangat buruk! Aku tidak peduli dengan calonnya, yang penting, batalkan saja! " Ariel mematap Anastasius dengan tajam dan penuh tekad.


Untuk beberapa saat, Anastasius hanya menatapnya dalam diam. Sebelum dia membuka mulutnya, dan berkata, "Baiklah."


Setelah mendengar akan hal itu, Ariel segera mengambil napas lega.


Hampir saja dia terjebak dalam mimpi buruk di dunia ini.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2