
“Jadi ... maksudmu adalah bahwa anak itu yang telah menjatuhkan Meteor itu?” Anastasius bertanya untuk memastikan.
Raut wajahnya yang serius, membuat suasana di tempat itu menjadi tegang dan membuat Felix menegakkan punggung dengan gugup.
Felix pun segera mengangguk, “Be-benar! Yang Mulia. Awalnya saya tidak mengerti apa yang telah di lakukan oleh tuan putri. Akan tetapi, setelah kejadian terjatuhnya Meteor itu, saya di jelaskan oleh Putri sendiri. Jadi itu memang benar apa adanya.”
“Kau tidak perlu gugup seperti itu, bersikaplah lebih santai!” komentar Ronand, setelah melihat Felix yang sedang gugup.
“Ma-mana mungkin saya bersikap lancang seperti itu di hadapan anda berdua.” Felix menunduk.
“Hmm ... begitu .... ” ucap Ronand. seolah tak tertarik lagi dengannya.
“Daripada itu, dimana anak itu sekarang? ” Anastasius bertanya. Karena selama ini, dia tidak melihat sedikitpun batang hidungnya, semenjak dia datang ke tempat itu.
“Ermm ... tuan putri mungkin kini sedang bersama pelayanannya di tenda paling ujung tempat ini .... ” jawab Felix dengan ragu.
“Mungkin?”
“Iya, semenjak beliau memerintahkan saya untuk memimpin pasukan untuk membuat sihir pelindung, saya kira beliau akan ikut juga dan bergabung persama kami. Tetapi .... ”
Melihat Felix yang ragu untuk melanjutkan perkataannya, Anastasius menebak, “Dia tidak mengikutimu dan saat ini kau tidak yakin anak itu ada di mana. Apakah begitu?”
Setelah mendengar hal itu, Felix segera menunduk dengan wajah yang ketakutan.
“Permintaan maaf saya, Yang Mulia. Saya telah gagal dalam mengikuti perintah anda. Saya akan menerima hukuman apapun.”
Setelah terdiam untuk beberapa saat, Anastasius membuka mulutnya dan berkata, “Tidak perlu! Daripada itu ... apakah ada orang lain yang mengetahui bahwa anak itulah yang mengakibatkan semua ini?”
“Saya kurang tahu pasti. Tetapi, hanya saya dan juga pelayanan pribadinya saja yang mendengar percakapan kami pada waktu itu ... .” jawab Felix.
Hingga segera setelah itu, Anastasius merenung untuk beberapa saat dan segera menoleh ke arah Ronand.
“... ,Bagaimana menurutmu, Ayah?”
Ronand yang saat ini tengah minum dengan santai, di kejutkan oleh Anastasius yang tiba-tiba memanggilnya.
“Hm! Apa maksudmu?” Ronan memiringkan kepalanya dengan bingung.
__ADS_1
“Aku berbicara tentang lalat yang saat ini sedang mengganggu. Apakah harus segera kita tangani?”
Ronand menyeringai setelah Anastasius berkata seperti itu. Seolah menanti-nantikannya sejak awal.
“Jadi kau menyadarinya juga? ” tanya Ronand sembari menyeringai.
Akan tetapi, Anastasius segera menjawab dengan mendengus, “Heh! Kau sengaja tidak mengungkit hal ini. Apakah untuk mengujiku?”
“Yah ... aku hanya ingin tahu apakah kemampuanmu telah berkurang setelah selama ini kau hanya bermalas-malasan.” jawab Ronand dengan jujur.
“Siapa yang kau sebut bermalas-malasan. Aku hanya sangat sibuk untuk mengurus kerajaan. Tidak sepertimu yang pergi entah kemana dan bermain.”
Setelah mendengar hal itu, Ronand menunjukkan ekspresi sedikit jengkel di wajahnya sambil tersenyum.
“Heeehhh! Sepertinya bukan hanya kemampuanmu saja yang telah menurun. Tatakrama mu juga harus di perbaiki rupanya.” ungkap Ronand.
“Yah ... terserah!” Anastasius tak peduli. Dan segera mengubah topik pembicaraan, “Daripada itu, apa yang akan kita lakukan terhadap para lalat itu? Jika ada yang menyadari hal ini. Akan menjadi masalah besar bagi Albion kedepannya.”
“Kalau menurutmu, apa yang akan kau lakukan? ” Ronand balik bertanya. Seolah menyenangkan, selalu menguji Anastasius setiap saat.
“Kalau aku, akan membasmi mereka!” ujar Anastasius tanpa ragu.
Anastasius pun mengangguk dengan tawaran Ronand.
Beberapa saat waktu yang lalu. Setelah beberapa saat, Anastasius bersama Ronand untuk yang pertama kalinya datang ke tempat itu. Dia merasakan banyak mata yang menatap diri nya dan juga Ronand.
Tatapan itu bukan dari para prajurit, yang menatap mereka dengan kekaguman atau apapun. Itu adalah dari tempat lain yang sedang mengamati.
Anastasius menyimpulkan bahwa setiap negara di wilayah iblis sedang mengamati pertempuran ini. Ini tidak dapat dipungkiri, Karena ini adalah pertempuran pertama antara wilayah manusia dan juga wilayah Iblis. Mereka tentu tidak akan melewatkan informasi apapun.
Dan kini. Pertempuran ini menjadi kacau hanya diakibatkan oleh seorang anak perempuan remaja saja? Jika informasi ini bocor, entah apa yang akan di lakukan oleh negara lain.
Mungkin mereka menjalin hubungan persahabatan dengan Albion dan bahkan Ariel pasti akan banyak menerima surat undangan pertunangan yang tidak ada habisnya untuk pernikahan politik.
Atau justru sebaliknya, Ariel ... Tidak! Justru Albion mungkin menjadi target penghancuran. Karena keberadaan orang seperti itu akan menjadi ancaman untuk negara lain.
Anastasius terus memikirkan jalan keluarnya. Dan memutuskan untuk membasmi semua mata-mata yang menyaksikan pertempuran ini. Karena dia tidak mau mengambil resiko.
__ADS_1
“Baiklah! Ayah dan aku akan berpencar untuk mencari lalat-lalat itu. Sementara kau Felix! Aturlah para pasukan untuk lebih teratur!” Anastasius mengumumkan.
Pada saat itu juga, Ronand menyela, “ Tunggu, tunggu, tunggu! Mengapa hanya harus aku dan kau? Itu terlalu menyebalkan untuk mengatasi semua ini hanya kita berdua saja. ”
Ronand membuat ekspresi seolah dia enggan untuk melakukannya. Dan hal itu membuat Anastasius sedikit mengerutkan alisnya dengan tidak senang.
“Kita harus meminimalkan kebocoran informasi apapun. Terlebih lagi, di antara semua orang yang ada di tempat ini, Hanya aku dan ayah yang mempunyai persepsi sihir yang jangkauannya cukup luas. Kau dapat mengerti,Kan? Bahkan Felix tak menyadari semua mata-mata yang mengawasinya selama ini.”
Mendengar hal itu, Felix segera menundukkan kepalanya, dengan ekspresi murung. “Maaf atas ketidak berdayaan saya ... ”
“Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Keahlianmu di bidang pertarungan, bukan? Kemampuan di bidang intelejen seperti ini bukan keahlian mu. Lagipula mata-mata itu sepertinya cukup lumayan untuk menyembunyikan aura kehadiran mereka.” ucap Anastasius, seolah menghibur Felix yang sedang murung.
“Hmm ... masuk akal. Baiklah! Aku setuju dengan usulanmu. ” Ronand mengangguk.
Setiap orang di dunia ini mempunyai energi sihir mereka masing-masing, terlepas dari besar atau kecilnya jumlah energi sihir mereka.
Dengan persepsi sihir Ronand dan Anastasius yang cukup terlatih, mereka mampu merasakan seseorang melalui energi sihir mereka. Meskipun hal itu tergantung dari persepsi sihir mereka yang terlatih, atau mereka yang dengan cukup terampil untuk menyembunyikan aura energi sihir mereka agar tidak terlacak.
“Baiklah! Kita harus buru-buru untuk mencari mereka. Jika tidak, mereka akan segera melarikan diri.”
Segera setelah Anastasius mengatakan hal itu mereka mengangguk dan setuju apa yang telah di katakan nya.
.
.
.
Hingga beberapa saat kemudian, Mereka kini berada di luar dan mempersiapkan urusan mereka masing-masing.
“Baiklah! Aku akan pergi!” ungkap Ronand.
“Aku juga!”
“Baik! Serahkan tempat ini kepada saya! Saya akan melakukan yang terbaik!” Felix menunduk. Dan mengantarkan kepergian mereka.
Hingga setelah itu, Ronand dan juga Anastasius segera berpencar ke dua arah yang berbeda untuk penyapuan para mata-mata yang melihat kejadian ini.
__ADS_1
Bersambung ....