
“Hey!!! Apakah ada seseorang di dalaaammm?”
Saat ini.
Ariel berteriak-teriak di luar pintu gerbang luar Akademi sendirian dengan ekspresi kesal yang tertulis di wajahnya.
“Tsk! Menagapa tidak ada orang di sini?”
Meskipun mang benar bahwa Ariel datang terlambat, setidaknya ada orang yang menjaga pintu gerbang ketika hari penting seperti ini.
Tetapi meskipun sepuluh menit waktu telah berlalu semenjak Ariel tiba di tempat itu, tidak ada seorangpun yang kunjungan terlihat di tempat itu.
Hmmm ... apakah aku salah menentukan jadwal ....
Ariel merenung. Hingga akhirnya dia kehabisan kesabaran dan mengangkat kedua tangannya ke atas sambil berteriak.
“Hyyaaaa! Open Sesame!”
“Apa yang Anda lakukan, Nona?”
Ketika Ariel berteriak seperti itu, seorang wanita datang dari belakang dan bertanya kepada dirinya dengan penasaran.
“Hya!” Ariel terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya dengan malu, “T-tidak! Tidak ada apa-apa ....”
“Haa ...” Wanita itu tak tahu apa yang membuat wajah Ariel berubah merah seperti itu, tetapi dia tahu tidak baik untuk melanjutkan. Jadi dia langsung mengubah topik pembicaraan, “Apakah Nona juga akan mengikuti seleksi masuk Akademi ini?”
“Ah, em. Ya. Apakah kamu juga sama?” Melihat wanita itu, dia terlihat seumuran dengan dirinya dan menebak bahwa wanita itu juga sepertinya akan mengikuti seleksi yang sama dengan dirinya.
“Iya ... ah! Perkenalkan. Namaku Judith. Senang bertemu denganmu.”
“Iya, Senang juga bertemu denganmu. Namaku Louise.” ucap Ariel dengan tersenyum ramah.
Dari caranya Judith memperkenalkan dirinya dan juga penampilannya yang biasa, Ariel menebak bahwa dia adalah seorang rakyat jelata.
Jadi Ariel memutuskan untuk menyebutkan namanya saja tanpa menyebutkan nama Albion.
Karena jika dia menyebutkan nama keluarganya. Mungkin Judith akan berlutut sambil berbicara sesopan mungkin dengan kaku.
Dan Ariel tidak terlalu suka diperlakukan seperti itu. Membuat lawan bicaranya nyaman itu jauh lebih baik.
“Louise?” Judith memiringkan kepalanya dengan ekspresi aneh.
“Hm?!” Ariel juga memiringkan kepalanya. Hingga kemudian, seseorang datang sambil merengek.
“Hey! Judith! Tega sekali kau meninggalkan aku sendirian di tempat seperti itu!”
“Ah!” Ariel membuka mulutnya. Dia adalah lelaki yang sebelumnya Ariel pukul tepat di wajahnya.
Dapat di lihat bahwa hidungnya masih terlihat bengkak.
Kurasa aku tidak memukulnya sekeras itu .... Pikir Ariel.
“Diam! Itu juga salahmu mengapa kita terlambat!” Bentak Judith dengan kesal dan langsung berbalik kepada Ariel, “Tetapi apakah memang tidak ada orang yang menjaga gerbang ini? Dan gerbangnya sudah tertutup ....”
__ADS_1
“Ya ... seperti yang kau lihat ....” Ariel menghela napas.
Hingga ketika pria itu berjalan menuju arah gerbang dengan ekspresi percaya diri seolah ingin terlihat baik di depan mereka berdua, “Oh. Jika itu memang tertutup, kita hanya perlu membukanya sendiri ....”
“Hey! Tidak! Jangan!” Ariel berteriak untuk memperingatkan.
Tetapi sudah terlambat.
Beberapa buah formula sihir muncul di pintu gerbang dan sedetik kemudian, petir menyambar pada pria itu dan langsung membuatnya terkapar di tanah.
Melihat pria itu kejang-kejang di tanah, Ariel hanya mengerang sambil menepuk dahinya dengan lelah, “Ah ... sudah terlambat ....”
“Dino! Apakah kau tak apa-apa!” Judith berlari mendekatinya.
Pertama kali Ariel tiba di tempat itu. Ariel sudah merasakan ada begitu banyak formula sihir yang terpasang di sekeliling Akademi.
Siapapun yang berniat masuk tanpa izin, dan itulah yang terjadi kepada Dino saat ini.
“Pria yang malang ....” Kata Ariel dengan datar.
Tetapi menurut Ariel, pria yang bernama Dino itu masihlah beruntung. Ariel yakin, ada banyak formula sihir yang terpasang di sekeliling Akademi yang jauh lebih berbahaya.
Dan dia rasa sambaran petir kecil itu hanyalah sebagian kecil dari pertahanan pelindung Akademi.
Tetapi ada sisi baiknya. berkat Dino yang berniat membuka gerbang itu dan mengaktifkan formula sihir pertahanan, Ariel yakin akan ada seseorang yang merasakannya dan datang ke tempat mereka berada.
Dan benar saja, seseorang datang sambil membawa botol minuman di sebelah tangannya.
Dapat di lihat dari wajahnya, orang itu sedang mabuk.
Ariel datang ke arahnya sambil tersenyum, “Tuan. Kami adalah peserta ujian seleksi untuk memasuki Akademi ini. Bisakah anda membiarkan kami semua masuk?”
“Louise ....” Judith merasa terharu. Dan pada saat itu juga, Judith menilai Ariel sebagai orang yang baik hati dan penolong.
“Ah ... semua orang sudah berkumpul di lapangan utama satu jam yang lalu. Kalian terlambat dan otomatis kalian gagal. Sekarang pergilah! Hush! Hush!” Pria itu meladeni dengan malas.
“Hehem~” Ariel tersenyum.
.
.
.
Beberapa saat kemudian.
“Segeralah berkumpul dengan orang-orang setelah kalian tiba di sana~” Pria itu melambai-lambaikan tangannya dengan ekspresi senang terlukis di wajahnya.
Dan mereka bertiga telah masuk ke dalam gerbang sambil Judith memapah Dino yang berjalan dengan lemas.
“Iya~mempunyai uang lebih, memang sangat berguna, yah?”
“Emm... bukankah itu namanya menyuap?” Kata Judith dengan ragu.
__ADS_1
“Apa yang kamu bicarakan~ Kita mendapatkan apa yang diinginkan dan dia mendapat uang. Itu sama saja seperti jual-beli.”
“Itu curang, jika kamu mengatakannya seperti itu ....” Gumam Judith, dan berhenti untuk berkomentar. Lagipula berkat hal itu juga dia berhasil masuk.
Tak lama mereka berjalan, mereka tiba di lapangan utama.
Begitu banyak orang-orang di tempat itu, hingga bahkan mereka bertiga masuk ke dalam barisan secara alami dan tanpa ada yang memperhatikan mereka.
Meskipun sudah satu jam lebih mereka melewati jadwal, tetapi orang-orang terlihat begitu lesu dan bosan.
Ketika dia bertanya kepada seseorang apa yang sebenarnya terjadi, mereka hanya menjawab, “Anda juga merasakannya, bukan? sudah satu jam lebih telah berlalu, tetapi kita semua hanya terus mendengarkan pidato kepala sekolah dari awal kita berkumpul sampai sekarang ini.”
“Jadi begitu ....”
Ariel juga merasakan. Jika melihat orang-orang, mereka terlihat seperti mengantuk.
Bahkan Ariel yang baru saja datang, ketika mendengarkan pidato itu, itu terdengar seperti lagu pengantar tidur.
Tetapi Ariel terus memandang sekitar seolah sedang mencari seseorang.
Melihat hal itu, Judit bertanya, “Apa yang kamu cari?”
“Ah ... tidak ada.”
Tetapi memang benar Ariel mencari seseorang. Menurut Lin Xue, Frank yang ikut ke dunia ini bersama Ariel, berada di tempat ini untuk memasuki seleksi yang sama dengan Ariel.
Dan ketika Ariel memandang sekeliling, dia menatap seorang pria yang bertubuh besar dan berotot.
Tetapi dari penampilannya, dia sepertinya mempunyai umur yang sama dengan Ariel.
Dan Ariel mempunyai intuisi bahwa pria itu adalah Frank yang Ariel cari. Tetapi terlalu cepat untuk memastikan.
“...!”
“...!”
Tanpa sadar mereka saling bertatap muka. Ariel hanya mengangkat tangan sambil tersenyum dari kejauhan.
Dan ketika pria itu melihatnya, dia langsung mengalihkan pandangannya seolah tak tertarik.
“Hoho~apakah seleramu pria seperti itu? Baru saja kamu melihatnya, kamu langsung menggodanya seperti itu~kamu cukup berani~” ucap Judith.
“Hah?! Menggoda?”
“Pria manapun yang melihat apa yang kamu lakukan seperti tadi, aku yakin kebanyakan dari mereka pasti langsung jatuh hati kepadamu pada pandangannya pertama. Apalagi kamu begitu sangat cantik. Baru pertama kali aku melihat kecantikan seperti dirimu dalam hidupku.”
“...”
Dan begitulah. Sejak pertama kali Ariel datang ke tempat itu, dia disangka langsung menggoda seorang pria.
Dan berkat hal itu, Ariel meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak menebar pesona secara sembarangan kepada orang lain.
Dia tak mau terlalu mencolok dan membuat masalah yang merepotkan.
__ADS_1
Dan tentu saja. Harapannya itu tak akan terkabul.
Bersambung ....