Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 139 _ Memastikan


__ADS_3

Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, semua orang kecuali Callister memasang raut wajah yang tidak senang.


Jelas sekali bahwa terasa sangat pekat rasa permusuhan di antara mereka. Jadi tidak aneh jika mereka berdua dapat diserang kapan saja jika ada kesempatan.


Callister yang sedang cengengesan membuka mulutnya dan berbicara, “Kehehe ... setelah kau mengatakan hal itu, apakah kalian pikir bisa pergi begitu saja dari tempat ini?”


“Entahlah ... siapa yang tahu ....” jawab gadis itu seolah telah menyiapkan kata-kata itu. Tetapi entah mengapa ada sedikit rasa cemas yang terlukis diwajahnya.


Meskipun dia sebaik mungkin untuk menutupi nya, tetapi orang yang berada di sampingnya tidak demikian.


Dia berkeringat dengan kedua kaki dan tangannya yang sedikit gemetar.


“Baiklah. Hanya itu yang ingin kami sampaikan.” ucap wanita itu ingin menutup pembicaraan, “Sebagai tambahan, kami akan memulai penyerangan tepat pada tengah hari. Jika kalian semua ingin melawan sebelum itupun, kami tidak masalah~”


“Jangan angkuh!” Seseorang berteriak dengan kesal.


Tetapi wanita itu tidak mempedulikan nya dan mengucapkan salam perpisahan.


“Baiklah. Sampai jumpa ....” ucap wanita itu sambil mengangkat tangan kanannya ke atas bahunya dan melambaikan nya berkali-kali.


Adegan itu memakan waktu untuk beberapa saat hingga membuat wajah wanita itu mulai berwarna pucat dan terlihat panik.


“Hey! Mengapa belum juga?” teriak pria disampingnya dengan suara histeris.


“Ma-mana aku tahu!” balas wanita itu dengan bingung, “Padahal aku telah memberikan isyarat ....”


Sementara melihat mereka berdua yang bertingkah seperti itu, Callister menatap mereka dengan aneh.


“Apa yang kalian lakukan?”gumamnya, dan langsung berbicara kepada mereka berdua dengannya santai, “... Yah, jika kalian tidak ingin pergi, maka aku akan menangkap kalian disini.”


Dan setelah berkata seperti itu, Callister langsung menerjang ke arah mereka berdua dengan senyum yang menakutkan.


“Kyyaaakkkkk!!”


“Mommy! Tolong akuu!!”


Melihat Callister mendekat dengan wajah yang begitu menakutkan, mereka berteriak dan berpelukan sambil menangis.


Jika tahu akan menjadi seperti ini. Dari awal mereka tidak akan pernah mencoba untuk memprovokasi kelompok itu.


Hingga ketika jarak antara Callister dengan mereka berdua semakin mendekat, Callister berusaha untuk meraih mereka berdua sekaligus, “Huahahaha. Kena kalian ...”


Swooooooossshh!!


“Huh?!” Sebelum tangan Callister menangkap mereka, dia berhenti saat itu juga ketika dia melihat sebuah serangan yang datang jauh dari dalam hutan tepat di belakang mereka berdua.


Untung saja dia melihat serangan itu tepat pada waktunya. Jika tidak, semuanya akan terlambat bahkan untuk seseorang yang selevel Callister.

__ADS_1


Callister tidak begitu yakin. Tetapi dia sekilas melihat bilah runcing yang berwarna perak melesat begitu cepat ke arahnya dan kemudian kembali ke dalam hutan dengan kecepatan yang sama mengerikannya.


Melihat Callister yang berhenti secara tiba-tiba, semua anggota kelompoknya bertanya-tanya dengan bingung.


Mereka tidak menyadari apa yang terjadi dalam waktu singkat itu.


Hanya Callister dan dua orang di hadapannya yang mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi.


Mereka berdua sama sekali tidak melihat serangan itu seperti Callister. Tetapi mereka tahu bahwa sesuatu telah terjadi ketika mereka berdua melihat pipi kiri wajah Callister terdapat goresan kecil dan berdarah.


Dan saat mereka berdua memikirkan apa yang telah terjadi, saat itu juga mereka melayang ke arah belakang seolah mereka terbang atau ditarik oleh sesuatu yang tidak kasat mata.


“Whooaa?!”


“Ap-apa lagi kali ini?”


Mereka berdua meronta-ronta di udara seperti cacing yang ditempatkan di tempat yang panas.


Tetapi tarikan itu semakin cepat dan cepat seolah tidak mempedulikan kepanikan mereka.


Tentu saja Callister tidak tinggal diam. Dia berusaha untuk menangkap mereka berdua.


Tetapi sayangnya, mereka begitu cepat melayang di udara sehingga membuat Callister secara bertahap menurunkan kecepatannya dan berhenti untuk mengejar setelah dia merasa tidak mungkin untuk mengejar mereka berdua dengan dirinya yang berlari.


Callister menatap mereka yang terus menjauh sambil mendengarkan suara jeritan rasa ketakutan mereka yang semakin perlahan mulai menghilang.


Saat Callister memandangi ke kejauhan itu, dia bergumam, “Yah ... lagipula aku yakin akan bertemu mereka kembali ....”


Tetapi ... siapa yang telah melakukan hal itu? Callister bertanya-tanya di dalam hatinya sambil mengusap darah yang keluar dari luka di pipinya itu.


Hingga beberapa saat dia berdiri dalam diam, akhirnya dia berbalik sambil menyeringai dan kembali ke tempat kelompoknya berasal.


“Sepertinya akan terjadi sesuatu yang menarik.” gumam Callister sambil berjalan dengan suasana hati yang baik dan bersemangat.


◆◇◆◇◆◇◆◇


Sementara itu di tempat lain.


Suara yang perlahan terdengar semakin kencang mulai mendatangi seorang wanita yang sedang menyembunyikan dirinya di dalam hutan.


Wanita itu mengangkat tangannya ke arah depan sambil memegangi sebuah Rapier yang dia genggam di tangannya yang lain.


Dengan wajahnya yang cantik. Menjadi keindahan itu tersendiri ketika dia memegangi sebuah senjata.


Siapa lagi kalau bukan Ariel.


Dia saat ini sedang mengendalikan gravitasi sambil menunggu dua orang yang telah 'membuat janji' untuk bertemu dengan dirinya.

__ADS_1


Hingga tidak lama setelah itu, suara jeritan mulai terdengar.


Dua orang melesat menuju ke tempat dia berdiri saat ini dengan suara jeritan yang histeris.


“ ... aaaaaaaAAAAAAAA!!”


Tetapi. Ketika jarak mereka mulai mendekat, Ariel berhenti untuk mengendalikan gravitasi dan bergeser ke samping.


“Huh?! AAAAAAAAAA!!!!”


Hingga ketika mereka berdua melihat Ariel menyingkir, suara jeritan mereka semakin bertambah keras dan tidak lama setelah itu, mereka jatuh ke dalam semak-semak dan menimbulkan suara gemerisik.


Seresaakkkkkkkk!!!


Setelah yakin bahwa mereka telah berhenti, Ariel mendatangi mereka berdua dan menyapanya dengan senyuman.


“Halo~ Kalian datang dengan cara yang mencolok yah.”


“.... ”


“....”


Tidak ada jawaban dari mereka berdua. Tetapi, Ariel membiarkan mereka dan memindahkan mereka untuk berbaring dan beristirahat.


“Yah ... lagipula Judith dan Dino telah berusaha keras. Aku yakin mereka membutuhkan untuk beristirahat untuk beberapa saat setelah melakukan 'Perjalanan yang menyenangkan' dengan skill Pride ku. ” ucap Ariel.


Setelah Ariel menyuruh Neva untuk mengurus para penyerang, dia tersungkur dan beristirahat untuk beberapa saat sambil memulihkan energi sihir nya yang telah terkuras.


Dan selama hal itu terjadi, kelompoknya telah mengkonfirmasi bahwa para penyerang adalah dua kelompok lainnya yang telah bekerja sama untuk menghilangkan dua kelompok pesaing lainnya.


Untung saja Neva tidak membekukan para penyerang sepenuhnya. Setelah Es yang menyelimuti mereka disingkirkan, mereka hanya mengalami pingsan dan yang paling parah mengalami koma. Tetapi itu tidak sampai membahayakan nyawa mereka.


Dan yang paling menguntungkan adalah kartu yang mereka miliki.


Selain sebagai syarat untuk lulus seleksi, Ariel juga sedikit mempunyai rencana yang sedikit kekanak-kanakan.


Dan rencananya adalah apa yang telah dilakukan oleh Judith dan Dino sebelumnya.


Selain untuk melakukan rencananya, itu juga untuk mengkonfirmasi apakah orang yang bernama Calliter itu memang benar Frank ataukah bukan.


Jika memang itu memang Frank teman Ariel di dunia sebelumnya, dia akan mudah untuk terpancing dengan tipuan yang sudah jelas mencurigakan seperti itu.


Karena Frank yang Ariel kenal di kehidupan sebelumnya adalah otak otot yang gila pertarungan.


Dengan kata lain, dia ....


“Bodoh ....”

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2