
Beberapa waktu telah berlalu, semenjak Ariel menyetujui permintaan dari orang-orang yang memohon kepadanya untuk membuat dirinya menjadi sebagai pemimpin dari kelompok itu.
Karena situasinya telah berubah sedemikian rupa, akhirnya mereka berkumpul terlebih dahulu dan bertukar pikiran untuk memutuskan rencana apa yang akan mereka lakukan untuk kedepannya.
Sementara Ariel. Dari awal dia hanya terdiam sambil mendengarkan diskusi mereka dari suatu sisi dengan tenang.
Meskipun dia tahu. Terkadang dia merasakan tatapan menusuk dari orang-orang terhadapnya dengan ekspresi penasaran yang terlihat dari wajah mereka.
Ariel tahu mengapa mereka menatapnya dengan seperti itu. Meskipun ada sebagian alasan dikarenakan wajahnya yang cantik, tetapi alasan utamanya adalah mereka menginginkan beberapa saran dan rencana kedepannya dari Ariel sebagai pemimpin dari kelompok itu.
Dikarenakan Ariel adalah seorang bangsawan tingkat tinggi, tidak ada seorangpun yang berani untuk menanyakannya karena mereka masih belum terlalu mengenal Ariel sebagai seorang bangsawan seperti apa dirinya.
Salah-salah, mereka bisa saja terkena amukan, karena seorang rakyat jelata biasa berbicara terlebih dahulu kepada seorang bangsawan tingkat tinggi tanpa seizin mereka terlebih dahulu dianggap tindakan yang tidak sopan dan kurang ajar jika hal yang akan mereka katakan itu adalah bukan hal yang penting ataupun mendesak.
Mengingat, mereka semua pernah melihat bangsawan yang bertindak dengan emosi sebelumnya. Dia adalah Eric. Dia tergeletak di pinggiran dengan bekas darah yang terlihat di sekitar telinganya.
Meskipun dia tidaklah mati. Tetapi dia akan dikenakan sebagai 'Eric si tuli' oleh semua orang di Negara Delyth. Tetapi itu akan terjadi tidak lama di masa depan.
Sementara situasi tidak berubah untuk beberapa saat.
Hingga akhirnya. Seseorang memberanikan diri untuk berbicara kepada Ariel.
“A-anu ....”
Tetapi. Tepat ketika orang itu akan berbicara, Ariel meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya yang tersenyum.
“?!”
“?!”
Orang-orang yang melihatnya pun bertanya-tanya dengan kebingungan. Tetapi tak ada yang berani bertanya tentang hal itu.
Termasuk Judith dan juga Dino yang dianggap cukup akrab dengan Ariel semenjak mereka mengikuti ujian seleksi ini.
Dino dengan gugup melamunkan sesuatu di suatu tempat, sementara Judith hanya memperhatikan Ariel dengan ekspresi tertarik yang terlukis di wajahnya.
Sudah Ariel tebak bahwa Judith sudah mengetahui identitasnya dari awal.
Sementara Dino ... Dari wajahnya saja Ariel dapat menebak bahwa dia baru mengetahui kebenaran itu beberapa saat yang lalu dan merasa bersalah dengan godaan-godaan dan gombalan manis yang telah dia lakukan kepada Ariel sebelumnya.
Dan semenjak Dino mengetahui kebenaran itu, dia berusaha untuk tidak bertatapan mata dengan Ariel dan menjaga jarak dengannya sambil menempatkan diri diantara kerumunan dengan raut wajahnya yang terlihat seperti sedang menahan buang air besar selama tiga bulan.
“....”
__ADS_1
Sementara tempat itu diselimuti oleh keheningan, sebuah belati melesat tepat ke arah Ariel dari suatu tempat dengan kecepatan yang cukup bisa dibilang cepat untuk orang biasa dan langsung membunuhnya di tempat.
Tetapi berbeda dengan Ariel. Dia sudah mengantisipasi akan serangan itu.
Dia hanya seolah akan menahan belati yang melesat itu dengan telapak tangannya sendiri.
Tetapi, ketika ujung belati itu akan mencapai telapak tangan Ariel yang terlihat lembut itu. Belati itu berhenti di udara tepat di depan telapak tangannya dan terjatuh ke tanah seolah belati itu kehilangan kekuatan untuk terus melesat dan melukai telapak tangan Ariel.
“Hah?!”
Sebagian besar dari orang-orang yang berada di tempat itu terkejut dengan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.
Tetapi tidak cukup sampai disitu. Setelah serangan yang menargetkan Ariel gagal, beberapa orang muncul secara tiba-tiba dari tempat persembunyian mereka dan berusaha untuk menyerang dan mengepung semua orang yang berada dalam kelompok itu.
Kebingungan dan kepanikan dapat dilihat dari sebagian besar orang yang berada dalam kelompok itu.
Sementara Ariel hanya menghela napas dan tetap berdiam diri di tempat sambil duduk dengan nyaman seolah tidak ada yang terjadi sesuatu yang salah.
“Akhirnya mereka memutuskan untuk keluar juga ....” gumam Ariel sambil menghela napas.
Tetapi ... jadi pemimpin itu agak berat yah. Tidak sampai satu jam aku mengumumkan diri sebagai pemimpin kelompok ini. Aku sudah menjadi target pertama yang mereka serang .... Pikir Ariel dalam hati.
Yah ... apapun itu ... Neva. Aku mengandalkan mu!
<< Baik, Master. >> jawab Neva, melalui telepati.
Meskipun penyerang dapat nyembunyikan dirinya dengan cukup baik, tetapi hal itu tidak berguna dimata Ariel yang telah melatih persepsi sihir dirinya secara mati-matian bersama Ronand.
Dan berkat hal itu, Ariel dapat merasakan keberadaan orang-orang yang mendekat, meskipun mereka menghilangkan hawa keberadaan mereka sekalipun, tetapi dengan level seperti itu, Ariel dapat dengan mudah merasakan hawa kehadiran mereka.
Ariel bisa saja memberi tahukan hal ini kepada kelompoknya untuk bertahan melawan serangan dadakan ataupun mengurusnya sendiri.
Tetapi, dia berpikir bahwa hal ini adalah kesempatan untuk menguji kemampuan Neva sebagai Roh tingkat tinggi yang jarang ditemui di dunia ini.
Oleh karena itu, Ariel mengirim Neva dan melihat apa yang akan dia lakukan untuk mengurus para penyerang itu.
“SERAAAAANGGG!!”
“URRAAAA!!!”
Dan ketika para penyerang dan kelompok Ariel akan saling berhadapan, sebuah hawa dingin menyelimuti tempat itu dan membuat semua orang kecuali Ariel merasa kebingungan.
Dan beberapa detik setelah hal itu terjadi, Ariel pun merasa terkejut.
__ADS_1
CRING!
Ariel membuka matanya lebar-lebar. Sebuah hamparan es menyelimuti tempat mereka berada dibarengi dengan keheningan yang sunyi.
Segala sesuatu yang berada di tempat itu hampir semuanya membeku. Pohon yang tertutupi oleh es dan juga sekian banyak patung yang berjejeran dengan ekspresi dan pose yang beraneka ragam.
Tidak.
Lebih tepatnya itu bukanlah patung. Melainkan para penyerang yang telah melakukan serangan dadakan sebelumnya yang telah berubah menjadi sesuatu yang keras dan dingin.
Hanya orang-orang yang berasal dari kelompok yang sama dengan Ariel yang tidak ikut membeku.
Tetapi itupun tidak menimbulkan efek yang cukup baik.
Setelah beberapa saat semua orang mencerna situasi, rasa takut mulai menjalar ke dalam pikiran mereka dengan keputusasaan yang mengikutinya.
“Hiiikkk!!”
“... Apa-apaan ini.”
Trank!
Rasa takut, putus asa dan bahkan mereka hanya terkulai lemas dan menjatuhkan senjata mereka dengan tak berdaya sambil memikirkan sesuatu di dalam kepala mereka. 'Bagaimana jika aku yang berubah menjadi seperti itu?'
Tetapi di dalam keputusasaan itu. Seorang peri kecil muncul di hadapan Ariel dengan ekspresi puas yang terlukis di wajahnya.
“Master! Saya telah melakukannya.” ucap Neva dengan percaya diri. Dapat dilihat bahwa dia sangat ingin dipuji oleh Ariel.
“Ouuff! Ouuufff ....”
“Hm?” Neva memiringkan kepalanya, “Saya tidak bisa mengerti jika Master berbicara sambil menempatkan wajah anda di atas permukaan es seperti itu.”
'Memangnya ini salah siapa bod*h! '
Ingin sekali Ariel berteriak seperti itu. Tetapi saat ini energi sihirnya sudah terkuras habis berkat Neva yang telah menggunakan energi sihir Ariel untuk melakukan fenomena ini.
Dan berkat hal itu, Ariel menjadi tak berdaya dan terkulai lemas dan jatuh.
Meskipun Ariel dapat keuntungan dapat melakukan sihir tipe yang sama dengan Roh tanpa melakukan rapalan sihir.
Tetapi juga untuk melakukan hal itu membutuhkan energi sihir miliknya sendiri untuk membuat Neva mempunyai wujud di dunia fana dan melakukan sihir Roh.
Dan tentu saja. Alasan mengapa Ariel saat ini tersungkur di atas es adalah karena Neva yang telah berlebihan menggunakan energi sihir milik Ariel berkat terjalinnya kontrak mereka.
__ADS_1
Bersambung ....
Hehe😅