
Beberapa saat sebelum itu.
Leon yang saat ini sedang waspada dengan serangan yang tiba-tiba, dia segera berkata kepada Ifrit tanpa berbalik.
“Ifrit. Aku ingin kau mencari orang yang melakukan serangan barusan!” pinta Leon, sambil memandang sekitar dengan waspada, “Sepertinya orang ini sangat pandai untuk menyembunyikan kehadirannya. Kau carilah dia dalam bentuk Roh mu itu!”
“Tetapi ... bagaimana dengan Tuan?” tanya Ifrit, merasa cemas.
Mendengar hal itu, Leon hanya mendengus dengan senyum penuh percaya diri.
“Huh! Kau pikir aku siapa? Aku akan baik-baik saja di tempat ini sendirian. Kau pergilah! Sebelum orang itu melarilan diri.” ucap Leon.
Dan segera setelah itu, Ifrit mengangguk, “Kalau begitu ... harap tuan untuk menjaga diri.”
“Ya .... ” jawab Leon, dengan berwajah datar.
Segera setelah itu, Ifrit pun menghilang dari tempat itu dengan dibarengi oleh kilatan api kecil dan pada detik itu juga kemudian menghilang.
Itulah yang Ariel lihat. Akan tetapi, Ifrit adalah Roh, dia dapat mengubah bentuk diri nya menjadi bentuk Roh yang semula dan tidak dapat terlihat oleh orang biasa.
Yang orang biasa rasakan saat bertemu Roh dalam bentuk aslinya hanyalah seperti terdapat gumpalan energi Sihir di udara yang sulit di bedakan dengan energi Sihir yang tersebar di alam.
Oleh karena itu, bentuk ini sangat cocok dalam situasi seperti ini.
.
.
.
Hingga beberapa waktu telah berlalu.
Leon yang menerima serangan ke dua. Akan tetapi, kini pedangnya pecah, hanya dalam satu kali serangan itu.
Apa-apaan serangan itu? Jika aku menerimanya secara langsung lagi, maka ....
Leon melihat tangan kanannya yang sedang memegang gagang pedang miliknya dengan gemetar. Dengan bilah pedangnya yang telah hancur dan juga tangannya kini seolah mati rasa.
Akan tetapi, Leon tak memperdulikan hal itu dan segera menerjang ke arah tembakan itu sambil membuang pedangnya yang telah hancur.
“Disana rupanya!” Leon berteriak.
Akan tetapi, saat Leon kini berada di udara, dia mendapatkan telepati dari Ifrit.
[ Tuan! Saya telah menemukan orangnya! ]
“Hm?” Leon terkejut.
Kemudian Leon merenung.
Kalau di pikir-pikir ... aku tidak menemukan hawa keberadaan seseorang di dekat sini.
__ADS_1
Leon memandang ke arah langit. Dan tidak ada apapun disana, selain awan debu bekas meteorit yang terbakar.
Leon pun menyeringai dengan kemenangan.
“Bagus, Ifrit! Jangan biarkan dia kabur!” ujar Leon.
[ Baik. Tuan! ]
Hingga segera setelah itu, Leon pergi berlari dengan cepat menuju tempat Ifrit berada.
Dia dapat merasakan kehadiran Ifrit berada. Karena berkat dirinya telah melakukan Ritual Kontrak dengan Ifrit sebelumnya.
Dan berkat hal itu juga, Leon dapat melakukan telepati dengan Ifrit sebagai Roh Kontraknya dan juga keuntungan lainnya misalnya bisa melakukan Sihir tanpa rapalan.
Juga, mereka saling menguntungkan satu sama lain. Dengan Ifrit yang membantu Leon, diapun bisa dengan bebas berkeliaran dengan bentuk humanoid, berkat meminjam energi Sihir milik Leon.
Akan tetapi, kali ini Ifrit mencari Ariel dengan menggunakan bentuk Rohnya agar tidak mudah terdeteksi. Dan benar saja, kini dia berhasil menemukan Ariel.
.
.
.
“Flame Burst!” Semburan api, menuju tepat ke arah Ariel.
Akan tetapi, Ariel dengan cepat menghindari nya dengan terampil.
“Ck! Merepotkan saja.” gumam Ariel, sambil menyimpan senjata jarak jauhnya kembali kedalam tas penyimpanan dimensional miliknya.
Karena saat ini dia tidak membutuhkannya. Dia mengganti hal itu dengan Handgun. Dan memegang nya di sebelah tangan kirinya.
Sementara tangan kanannya masih memegang pedang penyayat dimensi yang dia pakai sebelumnya.
Tanpa banyak basa-basi, Ariel segera menembak ke arah Ifrit yang sekarang telah menjadi bentuk humanoid nya kembali.
Karena atas perintah Leon untuk mencegah Ariel untuk kabur, dia berubah ke bentuk humanoid nya untuk dapat menahan Ariel agar tidak bisa meloloskan diri.
Karena sama dengan orang lain yang sulit untuk menemukan dirinya dalam bentuk Roh, dia pun juga tidak bisa melakukan apapun terhadap benda atau makhluk fisik, saat dalam bentuk Rohnya.
Dor!
Dor!
Dor!
Tiga tembakan peluru melesat dengan cepat menuju arah Ifrit.
Melihat akan hal itu, Ifrit segera terburu-buru menghindar dengan cepat. Dua tembakan melesat ke arah belakang dirinya, dia berhasil menghindar. Akan tetapi, peluru ketiga kini menembus tepat ke arah pundaknya.
“Ini belum selesai!” Pada saat yang sama, Ariel menebas udara menggunakan pedang yang berada di tangan kanannya tepat lurus menghadap Ifrit.
__ADS_1
Hingga saat itu juga, dua portal terbentuk. Satu, yang berada di depan Ariel saat ini, dan satu lagi di belakang Ifrit dengan menerima dua peluru yang telah di hindari sebelumnya, peluru itu masuk ke dalam portal dan kembali ke luar dari portal yang berada di depan Ariel.
Peluru itu melesat kembali kearah Ifrit yang sedang terluka akibat serangan pertama.
Piuw!
Piuw!
“Kuh! ”
Kini, semua tembakan yang dilakukan Ariel sebelumnya, Berhasil mengenai dan tidak ada peluru yang terbuang satupun.
Akan tetapi, raut wajah Ariel menunjukkan tidak senang. Dan pada saat itu juga, dia bergumam, “Sangat sayang sekali aku melukai wanita cantik seperti itu .... ”
Ariel mungkin bisa di bilang tidak berperasaan terhadap para lelaki. Akan tetapi, ketika dirinya berurusan dengan wanita. Hal itu adalah lain cerita.
“Akan tetapi ... jangan salahkan aku .... ” Ariel yang kini tengah berdiri di atas Ifrit dan besiap akan memenggal kepalanya.
Akan tetapi, sebelum dia mengayunkan pedangnya, terdengar suara seseorang dari belakang dirinya.
“Aku tidak akan melakukannya jika aku menjadi kau. ”
Disinilah, Leon sedang menonton dengan tatapan tajam ke arah Ariel berada.
“Tu-tuan .... ” rintih Ifrit dengan lemas.
Meskipun kepala Ifrit akan dipenggal. Akan tetapi, Leon tahu, Ifrit akan kembali dalam bentuk Rohnya dan masuk ke dalam dirinya untuk penyembuhan dalam waktu yang cukup lama.
Dan juga, membutuhkan energi Sihir yang cukup besar, untuk membuat Ifrit dapat mendapatkan tubuh humanoid nya kembali.
Dan hal itu sangat di hindari Leon, karena saat regenerasi tangan Ifrit yang terputus beberapa waktu yang lalu, energi Sihir milik Leon cukup teerkuras dengan banyak.
Dan dia, dengan cepat menghentikan mereka. Karena dia tak ingin kehilangan energi Sihir begitu banyak , dalam situasi yang seperti ini.
Ariel dengan cepat melompat dan menjauh dari mereka berdua. Dia menyiapkan posisi bertarung dengan menatap tajam ke arah Leon.
Tekanan ini .... hampir sama dengan tekanan yang dikeluarkan Oleh orang itu ....
Pikir Ariel, terbayang dengan wajah Ronand yang sedang berseri-seri di atas langit sambil mengangkat jempol. dengan gigi putihnya yang berkilau.
Ting ... !
“Sepertinya pertempuran tidak bisa dihindari ....” gumam Ariel. Dia tahu, tatapan yang dikeluarkan oleh Leon, seperti binatang buas yang menargetkan mangsanya.
Ariel pikir tidak akan mudah untuk bisa melepaskan diri darinya.
“Mau bagaimana lagi .... ” gumam Ariel.
Dari awal memang pilihan Ariel hanyalah satu. Yaitu bertarung.
Bersambung ....
__ADS_1