Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 112 _ Sister Komplex


__ADS_3

Titania Albion.


Dia masih berumur sembilan belas tahun. Meskipun begitu, dia adalah anak dari Anastasius yang mempunyai umur paling tua di antara saudara dan juga saudarinya.


Meskipun seorang wanita. Dia selalu mendapatkan pengakuan dari ayahnya karena kejeniusannya dan juga reputasinya yang baik di antara kaum bangsawan.


Bukan hanya itu, dia juga selalu mendapatkan posisi pertama di Akademi sebagai siswi unggul, dan juga menjadi ketua Dewan yang bahkan para Profesor di Akademi tidak berani mengusiknya.


Ditambah, dengan latar belakang keluarganya yang ternama dan juga parasnya yang cantik. Dia menjadi idola sekaligus teladan yang patut di contoh bagi para murid.


Baik itu laki-laki maupun perempuan, dia menjadi primadona di antara para siswa dan juga selalu dihormati dan juga dikagumi kemanapun dia pergi.


Tapi saat ini, dia sedang berguling-guling di atas kasur sambil tertawa aneh dan memasang wajah bodoh.


“Huuupp ... haaaahh~... Hey, Ana ... aku tak ingin mencuci tangan ini selama seminggu, ... haaahhh~.” ucap Titania sambil mengendus-endus tangannya yang menempel di wajahnya.


Seorang pelayan wanita yang bernama Ana menjawab dengan wajah dingin, “Anda harus mencucinya, Nona!”


“Tapi~ ini adalah tangan yang telah menyentuh adikku yang imut setelah sekian lama~ mana bisa saya mencucinya dengan semudah itu~” ucap Titania, tetapi itu hanya mendapatkan jawaban yang sama dari pelayannya.


“Anda harus mencucinya! ”


“Che~ kamu ini sangat memaksa. Aku tahu ini demi kebaikanku, tapi bisakah kau lebih santai sedikit? Tak perlu bersikap kaku seperti itu~” Titania mencoba untuk menggurui pelayannya. Tetapi itu semua juga dibantah oleh Ana.


“Ini juga demi kebaikan anda, Nona. Bagaimana jika saudari-saudari anda mengetahui bahwa sikap anda yang biasanya elegan dan juga berwibawa ternyata seperti ini? Pasti mereka akan sangat kecewa ....”


“Mana mungkin! Mereka semua adalah adik-adikku yang baik.” Titania membantahnya, “Lagipula, tak ada yang salah dengan sikapku yang seperti ini. Pasti mereka akan tambah menyukaiku~”


“Dalam mimpi Nona.” jawab Ana dengan singkat. Dan hal itu membuat Titania menggembungkan pipinya dengan marah.


“Muuu!”


Melihat hal itu, Ana menghela napas dalam-dalam lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lelah, “... Jika Nona memperlihatkan sisi Nona yang seperti ini, saya yakin mereka akan menjauhi Nona seketika itu juga.”


“Memang separah itu?” tanya Titania, “Lalu, apa pendapatmu tentang diriku yang seperti ini?”

__ADS_1


Ana tak menjawabnya, dia justru menatap Titania yang seorang tuannya seperti seekor serangga yang mengganggu.



“Ah! Em ... aku tahu maksudmu. Tapi bisakah kau berhenti menatapku seperti itu? Aku juga bisa sakit hati.”


Hingga setelah itu, Ana meminta maaf dan kembali menggunakan ekspresi wajah yang seperti biasanya, “Permintaan maaf saya.”


Meskipun Ana terlihat seperti bersikap kurang ajar, tetapi mereka berdua telah hidup bersama dari semenjak Titania masih kecil.


Dan hal itu sudah menjadi kebiasaan dan juga mereka akan bersikap santai seperti sekarang ini ketika tidak ada orang lain yang melihat.


Tentu saja. Ana akan bersikap seperti pelayan kompeten pada umumnya ketika melakukan tugas saat menemani Titania ke berbagai tempat.


Maka dari itulah. Meskipun mereka saling bersikap kasar sekalipun. Mereka akan marah, namun tak akan saling bermusuhan satu sama lain. Itu menandakan betapa saling percayanya di antara mereka berdua. Terlepas dari seorang pelayan maupun majikan.


“Ahh ... aku jadi tidak sabar untuk bertemu adikku. Apakah undangan pesta teh nya telah sampai?” ucap Titania sambil menoleh ke arah Ana.


“Anda dan Nona Louise baru saja bertemu beberapa menit yang lalu.” Ana menjawab, “Meskipun Nona tidak sabar. Anda harus menjaga agar otak anda tetap berada pada tempatnya.”


“Jika Nona menganggapnya seperti itu, maka memang itu.” jawab Ana.


“Sungguh kasar!” ucap Titania, sambil bersandar di atas kasur, “Tetapi ... tak sia-sia aku menunggu selama beberapa jam di lorong. Adik kecilku yang manis sebelumnya dengan cepat berubah menjadi wanita cantik seperti itu. Aku sungguh bangga sebagai kakaknya.”


Pertemuan dengan Ariel sebelumnya bukanlah sebuah kebetulan semata.


Saat Titania berjalan di lorong. Dia mendengar percakapan para pelayan yang menggosipkan tentang kecantikan Louise Albion yang begitu mempesona.


Titania yang penasaran, dia segera bergabung dengan para pelayan dan mendapatkan informasi bahwa Louise Albion kini sedang mengadakan pertemuan dengan Anastasius.


Tentu saja dia tak bisa mengganggu pertemuan mereka. Jadi dia sengaja menunggu di lorong tempat kemungkinan adiknya itu akan lewat selama beberapa jam dengan tidak sabar.


Dan akhirnya, penantiannya itu tidak sia-sia. Saat ketika Ariel akan lewat, dia segera keluar dan berjalan dengan tenang sambil berpura-pura dia dan juga Ariel secara kebetulan berpapasan satu sama lain ketika mereka berjalan.


“Tapi sayang ... pertemuanku dengan adik Louise sebelumnya begitu cepat ... arrrggghhh! Ana, mana surat undangan pesta teh dengan adikku?”

__ADS_1


“Anda baru menanyakan hal itu beberapa saat yang lalu.” jawab Ana dengan wajah datar, “Kalau begitu, saya akan membuatkan teh terlebih dahulu untuk menenangkan tubuh dan juga otak anda yang sedang kritis.”


Hingga setelah mengatakan hal itu, Ana membungkuk dan segera pergi dari ruangan itu untuk membuatkan teh untuk Titania.


Berharap hal itu bisa sedikit meredakan kegilaan yang di derita tuannya. Sayangnya dia tidak mengetahui ada obat untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Lagipula, apakah itu memang bisa disebut penyakit?


Setelah Ana kembali dan membawa teh serta berbagai manisan, dia disambut dengan pemikiran tuannya untuk membawakan seniman kepadanya untuk melukis adiknya yaitu Louise yang telah bertumbuh dewasa saat ini.


Karena yang ada di ruangan itu kebanyakan lukisan Louise hanyalah dari bayi sampai berumur dua belas tahun.


Tentu saja setiap tahunnya memiliki pose dan juga sudut pandang dari berbagai tempat.


Tidak terkecuali dengan lukisan kedua adik lainnya yaitu Yukina dan juga Ruby. Jumlah lukisannya bahkan mungkin lebih banyak daripada lukisan Ariel.


Saat ini Titania memiliki lebih dari lima ratus lukisan semua adik perempuannya yang terpasang di seluruh tempat di dalam kamarnya.


Seolah kamarnya itu sengaja di siapkan untuk menaruh berbagai lukisan dan hanya menyisakan ruang untuk tidur dan juga belajar.


Tidak hanya lukisan. Bahkan Titania menekankan diri untuk belajar membuat boneka yang sama persis dengan para adik-adiknya. Dan sampai saat ini banyak berbagai boneka yang dijadikan sebagai pajangan, bantal, guling dan sebagainya yang memenuhi ruangan kamarnya.


Tentu itu tidak semuanya. Terkadang hadiah yang diberikan oleh adik-adiknya disimpan dengan rapi dan dijadikan sebagai harta berharganya meskipun itu sebuah makanan seperti kue dan membuat itu basi ataupun berjamur sehingga dia dimarahi oleh Ana dan hadiah itu di buang dan membuat Titania menangis dan terpuruk selama beberapa hari.


“Aaahhh! Aku ingin segera bertemu adikku dan memeluknya~”


***


Sementara itu di tempat lain.


Ariel yang saat ini sedang berbaring dan beristirahat di atas kasur, tubuhnya secara tiba-tiba merasakan kedinginan dan membuat dirinya merinding.


Brrrr~


“Hm. Ternyata musim dingin tahun ini lumayan ekstrim juga, yah ....”


Setelah mengumumkan hal itu, dia segera membungkus dirinya ke dalam selimut dan langsung tertidur.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2