Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 138 _ Dua Utusan


__ADS_3

Di suatu tempat yang cukup jauh dari tempat Ariel saat ini berada.


Banyak orang yang tengah berkumpul sambil berbincang satu sama lain sambil berdiskusi.


Dan di antara kerumunan orang-orang itu, terdapat seseorang yang begitu mencolok di tengah-tengah orang-orang itu dengan hanya kehadirannya saja.


Bukan hanya penampilannya saja yang berotot dan terlihat kuat. Tetapi, dengan hanya aura kehadirannya saja begitu mencolok hingga membuat orang-orang yang jaraknya cukup dekat dengan dirinya saja membuat bulu kuduk mereka saat itu juga langsung berdiri dengan merinding dan mereka tidak pernah berpikir untuk membuat masalah dengan dirinya.


Tetapi, diantara rasa takut itu. Terdapat juga rasa kagum dan juga rasa hormat terhadap dirinya dari orang-orang di sekelilingnya.


Bahkan saat ketika semua peserta seleksi dibagi menjadi empat kelompok.


Hanya kelompok itu saja yang sepakat untuk membuat dirinya sebagai pemimpin kelompok itu pada saat itu juga dengan kesepakatan semua orang tanpa ada yang menyatakan keberatan.


Dia adalah Callister.


Pria berotot yang dicurigai oleh Ariel sebelumnya sebagai reinkarnasi dari Frank, sahabat Ariel yang mengikuti dirinya ke dunia ini.


Saat Callister sedang menunggu sambil duduk di antara kerumunan orang-orang itu, sesorang yang memakai tudung berjalan dan mendekati Callister seolah mereka telah mengenali satu sama lain.


Orang-orang pun tidak ada yang menghentikannya karena mereka juga mengenali orang itu.


“Jadi. Apakah kau telah mengetahui siapa yang telah melakukan hal itu?” Callister bertanya kepada pria itu terlebih dahulu dengan penasaran.


Bukan hanya Callister yang penasaran. Tetapi semua orang juga menanti-nantikan jawaban yang akan diberikan oleh pria itu dengan napas tertahan.


Keheningan menyelimuti kelompok itu.


Bagaimana bisa mereka tidak tertarik dengan jawabannya?


Karena beberapa saat yang lalu, semua orang yang berada dalam kelompok itu menyaksikan fenomena yang begitu mencengangkan.


Pada saat mereka berkumpul untuk berdiskusi apa yang akan mereka lakukan kedepannya, secara tiba-tiba udara dingin datang kepada mereka semua dan berhembus melewati mereka hingga membuat sebagian dari mereka merasa kedinginan dan tidak sanggup untuk melakukan aktivitas untuk sementara waktu.


Tetapi bukan itu yang membuat mereka semua terkejut. Melainkan sebuah pemandangan putih yang membentang luas di sebagian besar area hutan yang tidak jauh dari area perbukitan tempat mereka berada saat ini.


Dan setelah melihat hal itu. Semua orang langsung sadar bahwa wilayah hamparan putih itu adalah sebuah hutan yang telah membeku sepenuhnya yang tertutupi oleh es.


Dapat ditebak bahwa hembusan udara dingin yang datang ke arah mereka sebelumnya berasal darimana.


Melihat hal itu. Callister hanya membuka mulutnya dengan takjub. Makhluk seperti apa yang dapat membuat fenomena alam hingga skala yang sangat besar seperti itu?


Callister yakin bahwa itu bukanlah fenomena alam biasa.

__ADS_1


Oleh karena itu. Mereka semua langsung berdiskusi dan mengirim seseorang yang dapat bergerak cukup cepat untuk mengumpulkan informasi.


Awalnya Callister menawarkan dirinya sendiri untuk menyelidiki hal itu secara langsung. Tetapi hal itu segera ditolak oleh kebanyakan orang.


Bagaimana bisa pemimpin kelompok pergi meninggalkan kelompoknya seperti itu?


Dan dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Callister memutuskan untuk menahan diri sambil menunggu dengan tidak sabar.


.


.


.


“Jadi maksudmu hamparan es itu adalah hasil dari bekas pertempuran kelompok lain?” ucap Callister sambil menyimpulkan laporan yang telah dia dengar selama ini.


“Iya, saya cukup yakin dengan hal itu.” jawabnya.


“Hmmm ... apakah kau tahu siapa yang telah membuat hamparan es itu?”


“Untuk itu .... ” Pria itu mencari kata-kata dengan ekspresi ragu.


“Hm? Apakah kau tahu sesuatu?”


Mendengar hal itu membuat Callister sedikit kecewa dan menghela napas kemudian bergumam, “Jadi begitu .... ”


Hingga tidak lama setelah mereka berdiskusi seperti itu, datang seseorang berteriak dengan suara keras.


“Penyerang! Penyerang!”


Mendengar hal itu, Callister melirik arah suara yang dimaksud.


Tetapi rasa kecewa kembali dia rasakan ketika melihat hanya dua orang yang datang ke arah kelompok mereka sambil berjalan seolah memberitahukan bahwa mereka berdua tidak ada niat untuk bertarung sama sekali.


“Berhenti disana!” Seseorang meneriakkan kata-kata itu dan mereka berdua pun ikut menghentikan langkah kaki mereka secara perlahan.


Di antara orang-orang yang bersikap waspada, Callister berjalan mendekati mereka berdua tanpa rasa waspada sama sekali.


“Apa yang kalian inginkan?” Callister bertanya dengan suara dingin sambil menatap tajam ke arah mereka berdua sehingga membuat mereka terlihat tersentak untuk beberapa saat.


Sulit untuk melihat wajah mereka berdua karena tertutup tudung. Tetapi Callister yakin bahwa salah satu di antara mereka adalah seorang wanita.


Dan tebakan Callister memang benar. Salah satu di antara mereka mulai berbicara dan itu adalah seorang wanita.

__ADS_1


“Kedatangan kami berdua ke sini hanya untuk membawakan pesan.”


“Pesan?”


“Iya. Tetapi sebelum itu ....” Wanita itu mengangguk dan langsung melihat rekan di sampingnya.


Melihat isyarat yang wanita itu berikan. orang itu merogoh kantong saku di dalam pakaiannya dan wanita itupun melakukan hal yang sama.


Beberapa orang mulai bersikap waspada, tetapi segera dihentikan oleh Callister yang ingin melihat apa yang akan mereka tunjukkan padanya.


Tidak lama setelah itu, mereka berdua menunjukkan sebuah kartu tipis yang berbeda warna di antara mereka berdua.


Wanita itu memegang kartu berwarna kuning sementara yang satunya memegangi kartu yang berwarna hijau.


“I-itu ....” Seseorang di samping Callister terlihat familiar dengan kartu itu.


Tidak hanya dirinya. Callister pun tahu tentang kartu itu.


Berbeda dengan yang mereka berdua perlihatkan. Callister pun memilikinya, tetapi dengan warna yang berbeda dengan keduanya.


Dia ingat bahwa kartu yang dia miliki saat ini adalah berwarna merah.


Itu adalah kartu yang dibagikan kepada semua orang di setiap kelompok.


Tentu saja. Dari total empat kelompok itu dibagikan masing-masing kartu yang berwarna berbeda diantara kelompok itu. Yaitu merah, kuning, hijau dan juga biru.


Tentu ada alsana mengapa setiap orang dibagikan kartu sesuai kelompoknya masing-masing.


Kerena selain kelompok pertama yang memenangkan seleksi ini yang dapat lulus, beberapa orang dari kelompok yang kalah yang telah memiliki masing-masing satu kartu dari setiap kelompokpun dapat memenuhi kualifikasi untuk bisa lulus.


Dan tentu saja itu tidak akan mudah karena setidaknya seseorang harus melawan satu orang dari setiap kelompok dan merebut kartunya.


Melihat dua orang yang berada di hadapan Callister memegang kartu yang berbeda, Callister mempunyai firasat bahwa situasi akan menjadi semakin menarik dan tanpa dia sadari bibirnya mulai membentuk senyuman kecil.


“Jadi. Pesan apa yang ingin kalian sampaikan?” Callister bertanya sambil mengharapkan jawaban yang dia inginkan di dalam kepalanya.


“ Kami telah menyapu rata satu kelompok menggunakan 'sihir es' dalam sekali serangan menggunakan para ahli sihir yang telah bekerja sama di antara dua kelompok kami. Menyerahlah dengan baik-baik atau kami bekukan kalian seperti kelompok sebelumnya.”


Wanita itu mengumumkan dengan nada arogan dan memandang rendah mereka.


Menyerah dengan baik-baik? Dari pesan yang mereka dengar saja sudah jelas bahwa itu adalah provokasi dan tantangan kepada mereka secara langsung.


Mereka mendengar perkataan yang disampaikan oleh wanita itu dan langsung mengerutkan kening dengan kesal. Berbeda sekali dengan Callister yang tersenyum puas.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2