
Di tempat yang cukup jauh dari kejadian.
Beberapa saat sebelum meteor itu menyentuh tanah, kini Lydia bersama Sharon tengah beristirahat, setelah mereka terus-menerus terbang seharian penuh.
“Apakah kau ingin menambahkan sup nya? Sharon.” Lydia memanggil Sharon yang kini sedang memakan sup panas yang mereka buat, dari bahan-bahan yang mereka ambil dari perjalanan.
“Tidak! Terima kasih. Punyaku juga ini masih banyak yang tersisa.” Sharon tersenyum masam, menolak tawaran Lydia.
“Apakah tidak enak?”
Mendengar Lydia berkata seperti itu, Sharon tersenyum masam sambil mengangguk, “Iya ... rasanya terlalu hambar .... ”
“Yah ... mau bagaimana lagi. Kita tidak terlalu pandai memasak. Lagipula, salahmu sendiri karena terlalu terburu-buru hingga kita lupa bawa cadangan makanan.” ucap Lydia.
Setelah mendengar hal itu, Sharon segera cemberut dan memalingkan mukanya dengan marah, “Hmph! Kamu mengatakannya seolah aku yang paling bersalah di sini.”
“Memang.” jawab Lydia dengan jujur. Dan hal itu membuat Sharon menggembungkan pipinya dengan bertambah marah.
Melihat hal itu, Lydia segera menusuk pipinya yang menggembung itu, sambil berbicara, “Kau sekarang sudah menjadi ibu. Berhentilah bersikap ke kanak-kanakan seperti itu!”
“Aduh! Aduh! Aduh! Sakit~! ” Sharon segera menjauh dari Lydia sambil mengusap-usap pipinya yang memerah.
“Uuuh~ kamu jahat banget! Ternyata memang benar apa yang telah di katakan oleh Rosalie. Setelah kau terbangun dari tidur panjangmu itu, Sikapmu menjadi lebih berubah.” ungkap Sharon.
“Apakah begitu? Menurutku. Aku tidak terlalu berubah. Aku selalu bersikap seperti biasanya.” ujar Lydia dengan santai.
Setelah mendengar hal itu, Sharon segera membantahnya, “Mana mungkin! Kau yang dulunya anggun dan berwibawa, sekarang kau menjadi orang yang banyak bicara dan juga usil. Dan lagi tentang penemuan-penemuan anehmu itu. Seolah kau mendapatkan penemuan itu begitu saja dari langit.”
Lydia yang mendengarkan dengan seksama, dia hanya terdiam mendengarkan Sharon terus mengoceh sambil bersantai.
“Hey! Apakah kau mendengarkanku?” tanya Sharon dengan kesal, melihat Lydia yang melamun.
“Aku mendengarkan, aku mendengarkan~” Lydia melambai-lambai kan tangannya tak peduli, “Mungkin kau benar, bahwa aku telah berubah sedikit.”
“Sedikit? Kau seolah menjadi orang yang berbeda.” Setelah Sharon mengatakan hal itu, dia tersentak, “Hah! Jangan-jangan, kau adalah Lydia palsu yang menyamar sebagai dirinya! Dimana Lydia yang asli! ” Sharon mengarahkan tangannya ke depan seperti seorang petinju dan mundur beberapa langkah dengan waspada.
Lydia yang melihat tingkah-laku Sharon yang seperti itu, dia hanya menatap dirinya dengan aneh, “Apa yang kau bicarakan ...? Apakah kepalamu kemasukan angin terlalu banyak saat kita terbang? Bagaimana kau mencapai kepada kesimpulan seperti it- .... ”
__ADS_1
Lydia berhenti berkata-kata dan menatap kepada kejauhan dalam diam.
“Haha ... kenapa kau diam. Apakah kau kehilangan kata-kata untuk menyangkalnya?” ucap Sharon.
“Bukan! Tapi kau lihat itu!” Lydia menunjuk ke arah langit yang jauh. Tepat di belakang Sharon berada.
“Kau pikir aku akan tertipu dengan trik kotormu it- .... ” Meskipun berkata seperti itu, dia tetap menurutinya dan berbalik.
Dia kehilangan kata-kata, setelah dirinya melihat sebuah batu yang cukup besar yang terbakar api di atmosfer sedang terjatuh, dari kejauhan.
“Apa itu? ” tanya Sharon dengan terkejut.
“Sebuah meteor ... ” Lydia menjawab, “Tetapi tempat itu .... ”
Hingga beberapa saat kemudian, butung-burung di sekitar mereka beterbangan dengan membuat kebisingan.
Dan di susul dengan mereka yang merasakan gempa bumi yang cukup kuat, untuk mengguncang permukaan tanah, tempat mereka berpijak.
“Aduh!” Karena tidak bisa menjaga keseimbangan, Sharon pun terjatuh dan tubuh bagian belakangnya terbentur dan membuat dia duduk dengan mengusap bokongnya yang kesakitan.
“Yaampun ... apa yang kau lakukan.” Lydia menghela napas dengan lelah dan menjulurkan tangannya untuk membantu Sharon berdiri.
“Sungguh gempa yang luar biasa. Pasti itu disebabkan dari tempat meteor itu mendarat. ” Sharon menyimpulkan. Dia berlagak seperti orang pintar yang telah memecahkan kasus yang sangat sulit.
“Setiap orang yang melihat hal itu juga akan berpikiran yang sama. Mengapa kau berekspresi bangga seperti itu? Hentikan itu! Itu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri.”
“Bleeee ...!” Sharon menarik kantung mata bagian bawahnya dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Lydia.
“Hentikan kebiasakan mu itu. Aku serius.” Lydia menatap datar kepada Sharon yang bersikap ke kanak-kanakan nya itu.
“Daripada itu ... bukankah tempat terjatuh nya meteor itu sepertinya berasal dari Wilayah Weather Deep. Bukankah itu tempat lokasi perang saat ini? ”
“Eh!”
Setelah mendengarnya, Sharon baru tersadar akan hal itu. Dan segera setelah itu, raut wajah Sharon kini menjadi pucat. Terpikirkan tentang keadaan anak yang paling di cintainya.
“Lydia, aku mohon. Bisakah kita mengganti tujuan kita ke tempat itu? ” Sharon mencengkram pakaian Lydia dengan tangannya yang gemetar.
__ADS_1
Lydia yang merasakan hal itu, segera menepuk bagian atas kepala Sharon dengan lembut dan berusaha untuk menenangkannya.
“Baiklah kita akan langsung menuju tempat itu, jadi berhentilah menangis!” ucap Lydia.
“Aku tidak menangis!” Sharon membantah dan memandang wajah Lydia dengan tajam. Meskipun matanya yang sedikit berlinang dengan air mata.
“Baiklah! Apakah kita akan berangkat sekarang?” Lydia bertanya, memastikan bahwa Sharon baik-baik saja.
Sharon pun mengangguk dan mengusap matanya dengan sapu tangan yang selalau dia bawa.
Hingga setelah itu, Lydia pun segera mengangkat Sharon kembali ke pelukannya dan bersiap untuk terbang.
Kini tujuan aslinya berganti, asalnya mereka akan menuju Kerajaan Albion, berganti dengan menuju Wilayah Weather deep.
“Aku ingatkan kau satu hal! Karena tujuan kita berganti menuju wilayah Weather Deep, kita sampai ke tempat itu akan sedikit memakan waktu. Apakah tidak apa-apa?” ungkap Lydia.
“Iya, tidak apa-apa. Memangnya berapa lama untuk kita mencapai tempat itu?” Sharon bertanya.
Lydia pun merenung untuk beberapa saat, “Hmmm ... Mungkin sekitar seharian penuh. Dalam kecepatan yang stabil.”
“Kau bisa terbang secepat yang kau bisa!” ungkap Sharon. Sambil menatap Lurus ke arah mata Lydia. Menunjukkan tekadnya untuk menahan rasa takutnya demi keselamatan anaknya.
“Apakah kau yakin? ” tanya Lydia untuk memastikan.
Sharon pun ngangguk, dengan mengepalkan tangannya. “Tentu saja! ”
“Jika memang begitu, aku akan menambah kecepatan. Mungkin kita akan sampai sekitar setengah hari kalau begitu.” Lydia merenung sambil menerka. Berapa lama mereka akan mencapai tempat itu.
“Eh! ”
Segera setelah Lydia mengatakan hal itu, Kini tubuh Sharon menjadi tegang seketika
“Eh! Tunggu! Setengah hari!? Bukankah itu dua kali lipat dengan daripada Sebelumnya.”
“Anu .... Lyd- Wahhhhh ....!” Sebelum Sharon menyelesaikan kata-kata nya. Mereka terbang melesat dengan cepat, ke arah meteor itu jatuh beberapa waktu yang lalu.
Suara Sharon terus terngiang di atas langit sepanjang perjalanan. Dan membuat Lydia terus mengaktifkan sihir anginnya untuk memblokir suara.
__ADS_1
Bersambung ....