Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 134 _ Rapier


__ADS_3

Sementara itu.


Saat ini Ariel dan juga Eric saling berhadapan satu sama lain dengan posisi siap bertarung. Tidak, mungkin hanya Eric yang sudah siap. Ariel hanya berdiri diam sambil membuat wajah bosan yang terlukis dengan jelas di wajahnya.


Eric yang melihat Ariel seperti itu, dia menatap Ariel dengan kesal, “... Apakah kau main-main denganku? bersikap kurang ajar juga ada batasnya.”


“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.” Karena tidak tertarik, Ariel menutup obrolan mereka saat itu juga. Yang membuat Eric semakin marah besar dan menatap Ariel dengan tajam.


“Sudah cukup!” Tegur Judith dari pinggiran lapangan, Dia memegang sebuah sebuah batu di telapak tangannya dan berbicara sambil memperlihatkan batu itu, “Kita akan memulai. Aku akan melempar batu ini ke udara. Dan jika batu ini sudah mencapai tanah, itu adalah tanda bahwa duel ini sudah dimulai. Apakah sudah siap?”


“Hmph!”


“Iya ....”


Judith mengerti mengapa Eric menjawab dengan kasar karena dia adalam suasana hati yang tidak terlalu baik. Tetapi Judith hanya menghela napas lelah, setelah mendengar jawaban Ariel yang kurang antusias itu.


“Sebelumnya aku sudah menjelaskan peraturannya terlebih dahulu. Tetapi biar ku perjelas satu hal. Pertandingan akan dihentikan ketika salah satunya menyerah atau tidak bisa melanjutkan. Jadi, tidak ada pembunuhan pada duel ini. Apakah kalian mengerti?”


“.... ”


“Iya ....”


“... Yah, aku anggap kalian mengerti.” Judith menghela napas dan mengalihkan diri dari kenyataan, “Kalau begitu. Bersiaplah!”


Segera setelah itu. Judith melemparkan batu itu ke udara dan beberapa detik kemudian, batu itu jatuh ke tanah dan pada saat itu juga, Eric menerjang dengan kecepatan yang luaar biasa.


Mungkin luar biasa bagi orang-orang yang melihat dari sisi penonton. Tetapi tidak bagi Ariel. Itu memang lebih cepat dari kebanyakan orang. Tetapi Ariel telah berhadapan dengan orang-orang kuat sebelumnya. Jika dibandingkan, itu hanya sebuah permainan anak-anak baginya.


Setelah Eric menutup jarak di antara mereka berdua. Dia menghunuskan sebuah pedang panjang dan segera menebas dengan diagonal tepat ke arah leher Ariel. Tetapi Ariel dengan bersih mengelak dan melompat ke arah belakang dengan beberapa langkah.


“Tsk!” Melihat serangan pertamanya gagal. Eric mendencakkkan lidahnya dengan tidak senang.


“Oh?! Bukankah peraturannya tidak boleh saling membunuh?” tanya Ariel. Membuka pembicaraan. Dan pada saat yang sama, dari sudut matanya, dia melihat Judith akan maju ke tempat mereka berada. Tetapi Ariel segera memberikan isyarat agar tidak mengganggu pertandingan mereka.


Melihat hal itu, Judith hanya mengangguk pasrah dan kembali ke tempat sambil menyaksikan.

__ADS_1


“Hmph! Siapa peduli dengan aturan.” sembur Eric dengan acuh tak acuh. Dari awal juga Eric sepertinya tidak berniat mengikuti aturan.


Ariel sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Jadi akhirnya dia memperingatkan Eric, “Aku yakin pihak Akademi juga melarangnya. Jadi maksudmu kau akan melanggar peraturan itu dan membunuhku disini?”


“Huh! Aku hanya perlu membersihkan semua bukti. Dengan memberi orang-orang itu cukup uang dan menyuruh mereka untuk mengungkapkan kesaksian palsu tentang dirimu.” ucap Eric sambil melirik orang-orang yang menonton tidak jauh dari tempat Mereka berada, “Mereka hanya perlu bilang bahwa kau bernasib buruk dan terbunuh oleh binatang buas dan monster di hutan ini. Aku yakin itu akan cukup menyenangkan.”


“Hoho~ Jadi begitu ...masuk akal. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu ....” gumam Ariel. Dan mengeluarkan sebuah Rapier yang tersimpan di samping pinggangnya selama ini.



“Oohhhh!!”


Orang-orang yang melihat Rapier itu, mereka terpana dengan keindahannya.


Dengan bilah bermata dua yang ramping dan juga runcing. Itu berwarna keperakan dan bersinar dengan indah.


Tetapi. Dalam keindahan itu, kebanyakan dari mereka hampir lupa bahwa benda itu adalah senjata yang dapat membunuh seseorang.


Sepanjang perjalanan Ariel dari Negara Albion ke Negara Delyth, terkadang dia meluangkan waktu untuk membuat sebuah senjata menggunakan skill Diligence miliknya.


Sempat terpikir untuk membuat senjata api. Tetapi hal itu memerlukan sedikit lebih banyak waktu untuk membuatnya. Ditambah, Menggunakan senjata api di Akademi terlalu menarik banyak perhatian.


Hmm ... sepertinya ini terlalu berlebihan untuk menggunakan ini hanya untuk melawannya ....


Ariel berniat mencoba kemampuan senjata barunya itu. Tetapi setelah melihat pergerakan Eric sebelumnya, sepertinya Ariel merasa itu tidak terlalu cocok dan berlebihan hanya untuk menguji kemampuan Rapier miliknya pada orang seperti itu.


Yah ... aku hanya perlu mencobanya sedikit dan menyelesaikan hal ini dengan cepat.


Mengingat kondisi tubuhnya yang masih belum pada kondisi yang cukup stabil setelah tertidur selama tiga tahun ini.


Akhirnya Ariel memutuskan untuk segera menyelesaikan pertarungan mereka tanpa membuang waktu.


Ariel mengarahkan ujung bilah Rapier itu tepat ke arah Eric yang berdiri dalam diam tidak jauh dari tempat dia berada.


Melihat hal itu. Eric menyipitkan matanya, “... Apa yang ingin kau lakukan?”

__ADS_1


“Kau akan segera tahu ....” jawab Ariel.


Dan segera setelah Ariel mengatakan hal itu. Secara tiba-tiba. Tanpa disadari Eric, sebuah bilah menusuk tepat di arah bahu bagian kanan tubuhnya.


“Eh?!” Jelas Eric terkejut. Dan setelah dia menyadari hal itu, Tepat pada luka dimana bilah itu menusuk tubuhnya, dia mulai merasakan rasa sakit yang luar biasa, “Eeekk!!!”


“B-bilahnya memanjang?”


“Tetapi sejak kapan?”


“Aku tidak tahu itu. Tetapi itu pasti sangat cepat bahkan aku sama sekali tidak melihatnya sampai bilah itu menusuk tubuhnya ....”


Semua orang yang melihat itu dari sisi lapangan terkejut. Sambil mengungkapkan pemikiran mereka masing-masing.


Sementara Ariel. Dia menarik Rapier itu dan pada detik itu juga, bilah yang menusuk Eric sebelumnya menghilang dan memendek kembali ke Ariel dengan ukuran normal.


“Hmm ... sepertinya ada beberapa yang perlu di sesuaikan ....” gamam Ariel sambil menatap senjatanya itu.


Senjata pertama yang dia buat setelah tiga tahun tertidur adalah sebuah Rapier. Senjata itu mempunyai kemampuan untuk memanjangkan atau memendekkan bilahnya dengan waktu instan.


Berbeda dengan senjata yang Ariel buat sebelumnya. Kemampuan senjata itu bukanlah kemampuan dari sihir atau skill lain yang ditanamkan pada Rapier itu. Melainkan murni dari skill Diligence untuk membuat kemampuan tersendiri pada bilah senjata yang Ariel buat.


Alasan Ariel membuat Rapier yang dapat memanjangkan bilahnya tentu saja untuk meminimalkan Ariel dari aktivitas tubuh fisik yang terlalu berlebihan jika terjadi suatu pertarungan.


Dengan hal itu. Dia dapat melakukan pertarungan dari jarak dekat, menengah, maupun jauh tanpa harus mengonsumsi stamina secara berlebihan.


“Baiklah. Sudah cukup percobaannya ....” ucap Ariel sambil menatap Eric yang mengerang kesakitan, “Kalau begitu, waktunya untuk menyelesaikan semua ini.”


Segera setelah itu. Ariel memegang Rapier di sampingnya sambil bejalan mendekati Eric dengan seringai jahat yang terlukis di wajahnya.


“Eekk!!”


Melihat hal itu, Eric berteriak dengan histeris sambil memegangi luka yang Ariel sebabkan sebelumnya.


Ekspresi sombong yang dia gunakan sebelumnya kini sudah hancur. Digantikan dengan matanya yang mengeluarkan air mata dan ingus yang keluar dari hidungnya membuat dia begitu menyedihkan dan tidak enak di pandang.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2