Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 85 _ Dua Lawan Satu


__ADS_3

“Yaampun. Berisik sekali!” ucap Aria dengan kesal.


Sepanjang perjalanan, dia Terus menerus mendengarkan rengekan Arsya yang membuat keributan. Meskipun hal itu memang salahnya sendiri yang membuat Arsya bisa seperti itu.


Setelah berjalan cukup jauh dari tempat Arial dan yang lainnya berada, Aria segera melempar Arsya layaknya seperti barang.


“Whooaaa!”


Brak!


“Argh! Apakah kau bisa lebih lembut? ... Aria ” Arsya mengusap-usap kepalanya yang selama ini terus terbentur dengan ekspresi kesakitan terlihat di wajahnya.


“Diam kau Asep!” teriak Aria. “Seharusnya kau berterima kasih padaku karena telah membawamu dari tempat itu. ”


Mendengar hal itu, Asep menggerutu, “Apanya yang berterima kasih, kau hanya menyeret ku dengan paksa ... Dan bisakah kau panggil aku Arsya? Dan berhentilah memanggilku Asep! ”


Baiklah! Setelah mendengar Arsya berkata seperti itu, Aria yang awalnya sedang melihat ke arah tempat Ariel dan yang lainnya berada, dia menoleh dengan raut wajah yang mengerikan.


“Hah? Apakah kau mengatakan sesuatu?”


Arsya yang melihat hal itu, segera menggeleng-gelengkan kepalanya dalam diam. Naluri dia mengatakan untuk tidak lebih jauh mencari masalah dengannya.


“Daripada itu ... mengapa kau tak membantu Akihiro dan yang lainnya? Kita hanya perlu mengurus seorang kesatria dan juga seorang gadis. Kurasa itu tak akan sulit, jika kita melakukannya bersama.”


Arsya mengemukakan pendapatnya sambil menatap lurus, ke tempat Ariel dan yang lainnya saat ini berada.


“Aku sejak awal tak ada niatan untuk berpartisipasi dalam perang ini. Aku hanya mengumpulkan informasi dan melihat situasi atas perintah seseorang.” jawab Aria dengan malas.


“Mengumpulkan informasi? Kau tak pernah mengatakannya.... ”


“Karena tak ada yang bertanya!” jawab Aria dengan singkat tanpa menoleh.


“....”


Arsya terdiam. Taktahu harus berkata apa dengan situasi ini. Dia segera mencari topik pembicaraan, karena jika terus terdiam seperti ini, Arsya merasa canggung, karena hanya ada mereka berdua di tempat itu.


Dan Arsya pun teringat kembali akan sesuatu, “Oh! Lalu siapa yang telah menugaskanmu untuk semua ini? Apakah Kaisar?”


Arsya bertanya-tanya dan sambil memikirkan siapa orang yang berhasil memerintah Aria dengan sebegitu mudahnya.


Sosok Aria yang dia kenal adalah seorang perempuan yang galak dan juga hanya mementingkan dirinya sendiri.


Bahkan sang Kaisar pun, yang Arsya tahu, Aria takkan mungkin mendengarkan perkataan nya tanpa alasan yang jelas.


'“Argh... !” Aria mengerang dengan kesal. “Bisakah kau menutup mulutmu itu? Sekali lagi kau bertanya, akan ku sumpal mulut mu itu dengan batu. ”


Segera setelah mendengar hal itu, Arsaya memcicit ketakutan, sambil menjauh dari Aria dengan waspada.

__ADS_1


“..., Baik! ”


Hingga beberapa saat kemudian. Ketika Aria mengawasi dari kejauhan, dia bertanya-tanya tentang Chizuru dari tempat itu yang tiba-tiba menghilang dan pada detik itu juga, Arsya berteriak dengan terkejut.


“Waaa! Chi-Chizuru?”


“... ,Apakah kau juga tidak akan membantu Akihiro dan yang lainnya?, Chizuru.” Setelah kedatangan Chizuru di belakangnya. Dia berbalik dan bertanya.


Berbeda dengan Arsya, dia sama sekali tidak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


“Aku juga sebenarnya ingin menanyakan pertanyaan yang sama kepadamu.” jawab Chizuru sambil tersenyum.


“... ,Kalau begitu, lupakan saja pertanyaanku barusan.” ucap Aria, sambil menoleh ke tempat pertarungan yang akan terjadi.


“Anu ... apakah tidak ada yang mau bertanya padak-”


“Diam kau, Asep! ”


Mereka berteriak dengan kompak. Mendengar hal itu, Arsya langsung menunduk dengan muram.


“Lagipula, apakah kau yakin? Ingin membantu Akihiro dan lainnya untuk melawan gadis itu?” ucap Aria sambil melihat ke arah bagian di antara dua kakinya Arsya sambil tersenyum mengejek.


Arsya menyadari tatapan Aria dan melihat ke arah yang sama. Hingga segera setelah itu, raut wajah Arsya berubah menjadi pucat.


Dia teringat kembali tentang bagian yang paling berharga miliknya telah ditendang dengan keras oleh gadis itu.


“Le-lebih baik aku tinggal di tempat ini bersama kalian .... ” Lirih Arsya sambil mengalihkan pandangannya karena malu.


***


Sementata itu di tempat lain.


Setelah mendengar Chizuru juga berkata hal yang sama seperti Aria, dia segera ber teleportasi entah kemana.


“Ehhhh~ ....”


Akihiro Yuu menatap tempat dimana Chizuru berdiri sebelumnya dengan aneh.


Bukankah kini hanya tinggal diriku seorang? Tidak! Masih ada Tuan Leon di sini. Seharusnya tidak apa-apa ....


Justru bukan itu yang Akihiro cemaskan. Dia mencemaskan tentang bagaiama cara dirinya kembali setelah menyelesaikan pertarungan ini?


Hmm ... semoga kau tidak lupa untuk menjemput kami kembali, Chizuru ....


“Apakah kita perlu melanjutkan nya? Sudah tiga orang dari kalian yang telah pergi.” Ucap Ariel dengan menyeringai, dengan mengejek.


“Hmph! Tanpa merekapun kami masih bisa untuk menangkapmu! Benarkan?, Tuan Leon?”

__ADS_1


Mendengar hal itu, Leon mengangguk sambil tersenyum, “Tentu saja! Dengan adanya tuan pahlawan, kemenangan kami tak perlu dipertanyakan.”


Ariel yang melihat hal itu, hanya menatap aneh kepada Leon.


Apakah dirinya menikmati sandiwara ini? Untuk apa dia sampai menjilat dengan kata-kata manis seperti itu? Yah, meskipun itu tak ada urusan nya denganku ....


Pikir Ariel dalam hati.


“Felix! Bisakah kau menahan wanita itu sendirian? ” ucap Ariel, sambil menunjuk ke arah Ifrit.


“Tentu saja, Putri.” Felix mengangguk, “Lalu, bagaimana adengan dua yang lainnya?”


“Akan ku urus sendirian. ” jawab Ariel tanpa ragu.


“Bukankah itu terlalu beresiko? .... ” Felix menatap cemas pada Ariel.


“Hm? Apakah kau meragukan kemampuanku?” Ariel bertanya, “Sudahlah! Kau turuti saja perintah ku!”


Kini Felix pun menyerah dan segera mengangguk dengan rasa khawatir nya yang masih terlihat jelas di wajahnya.


“... , Baiklah, Putri. Tetapi jangan terlalu memaksakan diri. Panggil saya jika anda butuh bantuan!” ucap Felix.


“Iya ....” jawab Ariel dengan malas.


Hingga setelah itu, Felixpun menatap Ifrit untuk mengajaknya bertarung.


Mereka semua telah mendengarkan percakapan Ariel dan juga Felix sebelumnya. Jadi, setelah Ifrit melirik Leon untuk meminta jawaban, Leon segera mengangguk dan membiarkannya pergi untuk mengurus Felix yang bukan targetnya kali ini. Dia lebih tertarik pada orang yang di hadapannya saat ini, yaitu Ariel.


Dia tak terlalu tertarik kepada seorang kesatria biasa.


beberapa saat kemudian, setelah Felix dan juga Ifrit pergi meninggalkan mereka semua. Kini hanya tinggal mereka bertiga


“Baiklah! Mari kita bertarung dengan jujur dan adil! ” Ariel mengumumkan.


Dan hingga beberapa saat setelah itu, Akihiro memegang pedangnya dan bersiap untuk memulai pertempuran.


“Persiapkan dirim-”


Dor!


Akan tetapi, sebelum Akihiro menyelesaikan perkataannya, Suara tembakan terdengar dengan keras.


Pedang yang sebelumnya dipegang Oleh Akihiro, terpental terbang dan jatuh di suatu tempat.


Sementara Ariel yang kini memegang Pistol kesayangannya dan Akihiro yang terjatuh dan terkapar dengan menyedihkan.


Melihat hal itu, Leon tak tahu harus berkata apa. Yang pasti, dia kini mengetahui sifat Ariel yang sesungguhnya.

__ADS_1


Sungguh pertarungan yang jujur dan adil ....


Bersambung ....


__ADS_2