Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 77 _ Leopold Graham


__ADS_3

Duuaaarr ... !


Gubrak!


Gruduk ... gruduk ....


Di suatu tempat yang begitu panas, bongkahan batu yang cukup besar, tiba-tiba meledak dan hingga beberapa saat kemudian, beberapa sosok seseorang keluar dari dalam bongkahan batu itu.


“Sial! Apa-apaan itu tadi! ” Teriak seseorang dengan kesal, yang kini sedang membawa dua orang yang sedang tidak sadarkan diri di kedua belah tangannya.


“Ifrit! Kau dengar aku?” panggil orang itu, menatap ke arah depan yang kosong. Tidak ada orang maupun sesuatu untuk menjawab dirinya.


Akan tetapi, hingga beberapa saat kemudian. Sebuah gumpalan api tiba-tiba muncul dari udara yang kosong. Hingga pada saat itu juga, seorang wanita berparaskan cantik dan juga menggoda tiba-tiba muncul di hadapan pria itu.


“Apakah anda membutuhkan saya, Tuan Leopold?” Wanita itu menjawab.


“Sudah ku bilang. Panggil aku Leon untuk sementara waktu ini!” ujar Leon, “Daripada itu, aku membutuhkanmu untuk melakukan sesuatu.”


“Apa itu?” Ifrit memiringkan kepalanya, ingin tahu.


“Bisakah kau menangani Leonardo, agar dia tahan dengan api sepertiku? Jika ini terus berlanjut, dia akan mati untuk sebentar lagi.” Leon menatap seseorang yang kini sedang tidak sadarkan diri di tangan kanan dirinya.


“Itu hal yang mudah! Lalu, apa yang akan anda lakukan dengan orang yang satunya lagi?” tanya Ifrit, sambil memandang pria yang saat ini Leon bawa di tangan kanannya.


Dapat di lihat dari cara membawanya, orang yang berada di tangan kanannya, yaitu Leonardo. Di bawa dengan hati-hati, agar tidak mengenai kuka yang di deritanya.


Sementara orang yang di sebelah kirinya, dia hanya mencengkram bajunya dan menggusur tubuhnya dengan kasar.


Mendengar pertanyaan seperti itu dari Ifrit, Leon hanya mendengus, “Hmph! Biarkan saja orang ini. Lagipula aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri setelah ini.”


“... ,Baik! ”Ifrit tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangguk dan segera mengambil Leonardo dari tangan Leon.


Setelah mengkonfirmasi, bahwa semuanya baik-baik saja, Leon pun mengangguk dan segera meraih leher pria itu dan mengangkatnya dengan satu tangan.

__ADS_1


“Sepertinya kau adalah komandan dari pasukan musuh. Sepertinya ... siapa tadi namamu yah ... aku lupa ... yah, terserah lah! Lagipula kau akan segera mati. Kau memang tidak terlalu kuat. Tetapi lumayan untuk menambah pengalamanku.” ujar Leon.


Dan hingga setelah itu, Leon segera menusuk tepat di tengah tubuh pria itu. Darah menciprat ke segala arah. Tidak ada teriakan maupun jeritan kesakitan. Karena dari awal, pria itu sudah tidak sadarkan diri dan sekarat. Meski di biarkan pun, dia akan mati dengan sendirinya.


Leon segera membuang tubuh pria itu ke samping, seperti dirinya membuang sebuah sampah yang tidak berguna lagi baginya. dan tidak mempedulikan nya lagi.


Setelah beberapa saat waktu telah berlalu, Luka di sekujur tubuh Leon pun perlahan menghilang. Luka yang Leon derita sebelumnya, kini telah menghilang dalam beberapa saat.


Leon mengangguk puas dengan hal ini. Dengan dirinya yang mempunyai salah satu dari Skill Tujuh Dosa Besar, yaitu Greed (Ketamakan), dia mampu mengambil pengalaman, ingatan, skill, kualitas energi sihir, bahkan penampilannya sekalipun, dapat dia ambil dan menirunya sepenuhnya.


Syaratnya adalah dia harus membunuh target yang akan dia ambil seluruhnya, dengan kedua tangannya sendiri. Itulah mengapa, Leon menyelamatkan pria itu terlebih dahulu dan membunuhnya kemudian. Karena, jika pria mati oleh meteor itu, dia tidak akan mendapatkan apapun.


Mungkin. Itulah juga, cara dia bersembunyi dari kejaran Lydia. Dia kabur dari wilayah Iblis, menuju ke wilayah Manusia dan membunuh Leon yang asli di sana.


Meskipun ada batasan, dengan penggunaan skill itu. Karena itu juga dapat mengambil ingatan serta pengalaman orang lain, dan membuat si pemakai skill itu menjadi tidak stabil, diakibatkan oleh sesuatu yang dia rebut dari orang lain menjadi menumpuk menjadi satu dan karena itulah, dia hanya merebut sesuatu dari orang-orang yang mempunyai kekuatan dan informasi yang dia perlukan.


Kini Leon, atau lebih tepatnya Leopold Graham, masih menjadi dirinya sendiri dan mempertahankan egonya. Meskipun telah banyak mengambil sesuatu dari orang lain. Itulah mengapa, alasan dia menjadi salah satu dari Tujuh Kekuatan Wilayah Iblis.


Kekuatan dari berbagai orang kuat menjadi satu, dan menjadikan sesuatu entitas yang baru.


“Semuanya sudah beres, Tuanku. Beliau kini dapat bertahan dari panasnya lingkungan sekitar, tetapi ... saya rasa beliau harus segera diobati secepatnya. Jika tidak, mungkin ini akan menjadi lebih serius.” komentar Ifrit, sambil menatap tubuh Leonardo yang dipenuhi luka.


“Aku tahu hal itu! Oleh karena itu, ayo kita keluar dari tempat ini terlebih dahulu!” Leon pun berbalik dan akan memulai berjalan.


Akan tetapi, Ifrit berteriak dengan keras dan memanggil Leon.


“Tuan Leopold!”


Srraakk ... !


Ifrit mendorong Leon dan pada saat itu juga, bahu lengan Ifrit seolah meledak dan terlempar ke udara.


“Kuh! ” Ifrit mengerang kesakitan.

__ADS_1


“Ifrit?”Leon memanggil Ifrit dan segera memandang sekitar dengan waspada. Akan tetapi, tidak ada seorangpun yang terlihat.


“Kau tidak apa-apa? Ifrit.” Leon bertanya, sambil tetap waspada dengan sekitarnya.


“Anda tidak perlu khawatir,Tuanku.” ujar Ifrit, “Saya adalah Roh api tingkat atas. Mungkin akan memerlukan beberapa waktu, tetapi tangan saya pasti akan ber regenerasi kembali seperti semula.”


Mendengar hal itu, Leon tersenyum. Akan tetapi, dia tidak mengendurkan kewaspadaan nya. Dia terus mencari, darimana serangan itu berasal.


Serangan itu, bukan serangan biasa. Bahkan tangan Ifrit, yang seorang Roh tingkat tinggi pun bisa dengan mudahnya terlempar begitu saja ....


Renung Leon. Dia tidak bisa membayangkan, bahwa jika dirinya tidak dibantu oleh Ifrit beberapa saat yang lalu, dirinya mungkin terkena serangan itu tepat di kepala dan membuatnya mati seketika.


Bagaimana aku tidak menyadari hal itu? ... sepertinya ketajaman ku mulai berkurang, belakangan ini ....


Pikir Leon. Sering di rasakan oleh beberapa orang kuat, jika dirinya sudah lama tidak merasa terancam oleh lawan yang kuat, secara tidak sadar, dirinya akan lengah dengan situasi yang tidak dia duga, seperti sekarang ini yang dia rasakan.


***


Di tempat yang cukup jauh, dari tempat Leon dan lainnya berada.


Kini seseorang sedang mengawasi mereka menggunakan teropong bidikan dari senjatanya.


“Cih! Gagal .... ” Seseorang mendecakkan ludahnya dengan kesal.


Dialah Ariel. Hingga beberapa saat kemudian, dia perlahan bangkit dan berdiri.


“Baiklah! Sekarang, apa yang harus ku lakukan .... ” Ariel menghela napas.


Dia tidak mengira bahwa tembakannya kini gagal.


“Sepertinya tembakan kedua akan sangat sulit .... ” gumam Ariel. Yang melihat target dirinya kini sudah waspada dan menatap sekitar.


Kini Ariel memikirkan. Apakah harus pergi dan membiarkan nya ataukah menghampiri nya untuk memastikan mereka terbunuh?

__ADS_1


Dia berdiri di tempat itu sendirian dengan melankolis, memutuskan pilihannya.


Bersambung ....


__ADS_2