Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 60 _ Memulai Pergerakan


__ADS_3

Ariel yang saat ini menahan tawa, sambil menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.


Akan tetapi, dapat terlihat dengan jelas oleh Ronand beserta Anastasius. Dan hal itu membuat mereka sedikit kesal.


Anastasius yang tidak sabar. Segera menatap Ariel dengan dingin. "Apakah sudah selesai? "


"Te-tentu saja .... " ucap Ariel. Meskipun dia masih menahan tawanya saat ini.


Hingga beberapa saat kemudian. Akhirnya Ariel menghirup napasnya dalam-dalam dan mengeluarkan nya dengan perlahan.


"Fyuuuhh~ Jadi! Dimana ibu saat ini. Jika dia mendengar hal ini. Pasti dia akan menolak hal ini, apapun yang terjadi. " komentar Ariel.


Anastasius pun mengangguk tentang hal itu. "Benar! Itu pasti terjadi. " ujar Anastasius, "Oleh karena itu. Aku telah mengirimnya ke Transylvania dengan alasan sebagai liburan, atau pulang kampung halaman. "


Mendengar hal itu, Ariel hanya bisa kaget, "Hah? "


Bagaimana dia bisa pergi sendiri tanpa membawaku?


Gerutu Ariel di dalam hatinya dengan kesal.


Anastasius yang menyadari hal itu, dia segera menceritakan nya kepada Ariel. "Saat itu, dia sangat ribut, ingin sekali membawa dirimu pergi ke kampung halamannya, untung saja saat itu ada Ayah untuk membujuknya. Dan hasilnya ini! Dia pergi ke sana, tanpa membawamu. "


Ariel tergoda untuk bertanya, mengapa Ayah Anastasius, yaitu Ronand harus membujuknya. Akan tetapi, dia baru teringat sesuatu. Anastasius telah di beri Darah oleh ibunya sendiri dengan sengaja. Hal itu bertujuan untuk melindungi dirinya sendiri dan membuat Anastasius tak bisa menentangnya.


Jika Anastasius yang membujuk Sharon. Mungkin hasilnya akan sangat berbeda sama sekali.


"Lalu, bagaimana ibu bisa pergi tanpa membawaku? Bukankah itu kejam! Meninggal kan anaknya sendirian di tempat yang seperti ini. " gerutu Ariel, dengan mngeluh.


Anastasius yang mendengarkan hal itu, alisnya berkedut, "Apa yang kau maksud dengan ' Tempat seperti ini? ' Kurang ajar sekali. "


Dapat dilihat, bahwa Anastasius saat ini dalam suasana hati yang buruk.


"Ma-maksudku ... " Ariel tergagap, "Tidak bisakah setidaknya ibu untuk berpamitan sebelum pergi? Bahkan aku sama sekali tidak tahu tentang keberangkatannya. "


"Saat itu, kau sedang berlatih dengan Ayah. " Anastasius menjelaskan, "Lagipula aku ingin cepat dia pergi, dan menjauhkanmu darinya. Dengan begitu aku bisa menyur-, maksudku meminta bantuan kepadamu sesuka hatiku. "


Oy, oy, oy! Apa yang akan kau katakan barusan? Niat aslimu hampir bocor, Loh!


Komentar Ariel dalam hati.

__ADS_1


"Lagipula tertulis dalam Perjanjian. Dia diperbolehkan untuk pulang, asalkan ada jaminan bahwa dia akan kembali. " tambah Anastasius.


"Dan akulah jaminan itu? " tanya Ariel.


Anastasius mengangguk sebagai jawaban, "Aku suka orang yang pintar. "


Perjanjian kah ... jika Transylvania tidak di serang dan Ibu tidak akan menikahi Anastasius. Apakah aku saat itu akan memasuki tubuh orang yang berbeda?


Pikir Ariel.


Akan tetapi, Ariel menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berhenti untuk memikirkan hal itu.


"Apa yang kau pikirkan? " tanya Anastasius, yang melihat Ariel asik sendiri.


"Bukan urusanmu. " jawab Ariel dengan acuh.


Anastasius yang kesal, hanya bisa membuang napas untuk menenangkan dirii.


"Hahh ... terserah lah. Kau besiaplah untuk mengikuti perang itu! Dari informasi yang ku dapat, mereka akan segera tiba di medan perang yang terletak di perbukitan Wilayah Weather Deep yang tidak jauh dari Kerajaan Albion. Bersiap lah selama sebulan ini! "


Setelah mengatakan hal itu, Anastasius segera berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa.


Ariel yang menatap hal itu dari kejauhan, dia bergumam, "Bukankah dia terlalu terburu-buru? Aku bahkan masih banyak yang ingin aku tanyakan. "


Ariel menatap Ronand dengan kosong. "Aku sama sekali tidak melihat ada kelucuan sama sekali dalam perkataanmu itu .... " komentar Ariel.


"Akan tetapi ... bukankah itu agak keterlaluan! Seribu lima ratus akan melawan pasukan yang berjumlah lebih dari dua puluh ribu. Bagaimana cara aku harus mengatasinya ... ? ''


Hmph!


Ronand hanya mendengus, setelah mendengar Ariel berkata seperti itu.


" Kalau aku jadi kau, aku hanya akan terjun ke tengah barisan musuh dan memukuli mereka hingga babak belur. " ungkap Ronand.


Ariel yang mendengar akan hal itu, hanya membuat ekspresi berwajah datar.


"Aku bukan otak otot seperti dirimu. Aku tak akan melakukan hal yang merepotkan seperti itu. Lagipula jumlah musuh terlalu banyak. Mungkin tidak apa-apa bagimu. Akan tetapi, bagiku itu sama saja dengan bunuh diri. " ungkap Ariel. dan mengemukakan pendapatnya.


"Menurutku kau terlalu memandang rendah dirimu sendiri ... tapi terserah apa maumu. Aku akan menantikan pertunjukan darimu. " ucap Ronand dengan menyeringai. Dan pergi dengan santai, hingga membuat Ariel kini seorang diri di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Hmm ... apakah aku juga harus pergi? " gumam Ariel sambil melihat sekeliling yang kini berantakan, "Baiklah! Aku pergi! "


Ariel pun pergi dengan cepat, sambil memikirkan strategi apa yang akan di lakukannya .


***


Di suatu tempat.


Di suatu jalan yang kini para pasukan sedang melakukan perjalanan menuju ke arah wilayah Iblis.


Rombongan yang panjang, sedang berjejer dengan rapi, dari bagian depan hingga bagian belakang.


Banyak terlihat gerbong kereta kuda yang membawa persediaan dan juga hal penting lainnya.


Termasuk kini di sebuah gerbong, di tengah-tengah barisan. Terdapat empat orang yang saat ini menunggu dengan bosan.


"Hey ... mau berapa lama lagi, kita akan melakukan perjalanan seperti ini? Ini hampir seminggu, Loh~" ungkap seseorang, memecah keheningan.


"Ck! Kau dari tadi berisik sekali, Asep! Berhentilah mengoceh dan duduk dengan tenang! " ujar gadis itu dengan kesal.


"Panggil aku Arsya! Berapa kali aku harus memberi tahumu, Aria. " Lalu Asep, atau bisa di sebut Arsya, menoleh kepada wanita yang berada di samping Aria. " Hey! Chizuru ... mengapa kau tidak memindahkan semua pasukan langsung ke Wilayah Iblis saja? "


Setelah mendengar hal itu, Chizuru menghela napas dengan lelah, "Sepertinya aku pernah mengatakannya sebelumnya. Energi sihir ku tidak cukup untuk membawa 20.000 lebih pasukan langsung ke wilayah iblis. Seharusnya kau bersyukur. Berkat bantuan ku, kita bisa sampai hingga tempat ini hanya memerlukan waktu satu minggu, yang seharusnya membutuhkan setahun lebih. "


Meskipun itu bohong. Saat itu Chizuru membuat Gate (Gerbang) yang cukup besar dan membuat para pasukan dapat melewatinya.


Meskipun tujuannya adalah menuju Wilayah Weather Deep yang cukup aman untuk dilewati.


Meskipun Chizuru dapat memindahkan semua pasukan ke Wilayah Iblis. Akan tetapi, Atas perintah Kaisar, dia dikirim untuk mengamati, dan tak ada niat untuk ikut berperang.


Sebagai seorang pahlawan. Dia dapat melakukan apapun tanpa larangan dari para Negara yang memberontak kepada Kekaisaran.


Alasan Chizuru untuk ikut adalah untuk mengawasi. Hanya itu saja.


Berbeda dengan dua orang yang saat ini duduk di hadapannya. Yaitu Arsya dan juga Akihiro Yuu yang sukarela mengikuti perang atas tujuannya masing-masing.


Meskipun Chizuru merasa aneh. Aria juga tidak berniat mengikuti peperangan.


Pada saat mereka akan pergi, dia hanya berkata, "Aku juga akan ikut untuk melihat-lihat saja~ "

__ADS_1


Meskipun itu adalah hal aneh, Chizuru berdo'a, agar tidak ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi.


Bersambung ....


__ADS_2