Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 64 _ Keberangkatan Ibu


__ADS_3

Setalah Sharon setuju untuk di antar oleh Lydia menggunakan cara terbang, saat ini mereka sedang berkumpul di depan halaman istana sambil saling berpamitan.


“Baiklah, kembalilah kapanpun kau mau, Sharon! ” ucap Rosalie, sambil memeluk Sharon.


Hingga kemudian dia berbalik dan berbicara kepada Lydia, “Dan juga, antar lah Sharon dengan selamat dan lindungilah dia!”


“Aku tahu,aku tahu~” ucap Lydia, sambil melambai-lambai kan tangannya dengan bosan.


“Baiklah!” Lydia mengumumkan, “Apakah kau siap, Sharon?”


Mendengar Lydia yang bertanya, Sharon menjawab dengan gugup, “T-tentu.”


Lydia pun mengangguk, dan segera mengangkat Sharon ke pelukannya,dengan gaya putri.


“Kya!” teriak Sharon, yang dirinya di angkat secara tiba-tiba. “Yaampun ... bisakah kamu memberi peringatan terlebih dahulu, sebelum kamu mengangkatku?”


Sharon menggembungkan pipinya dengan marah.


“Hahaha ... maaf, maaf. Aku akan berhati-hati lain kali. ” ucap Lydia sambil menusuk pipi Sharon yang menggembung.


Hingga beberapa saat kemudian, putaran angin yang berkumpul di sekitar tubuh Lydia mulai mengangkat mereka dan mulai melayang.


“Wawawawa~ .... ”


“Hm? Apakah kau takut? ” tanya Lydia dengan wajah mengejek.


Yang membuat Sharon mendengus dan memalingkan wajahnya, “Huh! T-tentu saja aku tidak takut! B-bagaimana bisa aku takut dengan hal yang seperti ini. ” jawab Sharon, dengan terbata-bata.


Dapat di lihat, bahwa dirinya takut ketinggian. Lydia yang melihat itu, hanya menghela napas dengan tersenyum .


“Baiklah! Jika kau takut, tutup saja matamu dan rapatkan gigimu agar tidak menggigit lidahmu sendiri secara tidak sengaja.” ucap Lydia.


“Sudah ku bilang aku tidak tak- Waaaaaaaaaa~ .... ” Sharon akan membalas perkataan Lydia.


Akan tetapi, mereka segera melesat dengan cepat, menuju Cakrawala. Dengan di temani dengan suara Sharon yang secara perlahan-lahan menghilang.


Rosalie yang melihat akan hal itu, hanya menghela napas dengan lelah.


“Aish~ dasar Lydia ... aku merasa, setelah dia terbangun dari tidurnya itu, sifat jahilnya itu semakin menjadi-jadi. Apa sebenarnya yang membuat dirinya hingga seperti itu ... ”


Rosalie menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pusing.“Ah! Sudahlah! Tidak da gunanya juga aku memikirkan hal itu .... ”


Rosalie pun berbalik dan segera memasuki istana dengan kelelahan mental yang dia rasakan.


***


Sementara itu.


Di tempat lain.


Ariel yang kini membuka matanya secara perlahan. Dan hal yang pertama kali dia lihat adalah buah dadanya seorang wanita yang sedang mengelus-elus rambutnya sambil bersenandung.

__ADS_1


Dan hal pertama yang Ariel lakukan setelah bangun dari tidur nya adalah segera memegang dua gundukan itu dengan reflek, seolah hal itu adalah hal yang alami di dunia ini.


Wanita itu segera berteriak, setelah merasakan ada yang meraba-raba bagian tubuhnya itu.


“Kya~! ... N-n,n,nona?” tanya wanita itu dengan wajah yang memerah.


“Ohhh~ Daisy. Selamat pagi! ” sapa Ariel, sambil menatap sesuatu yang Ariel pegang.


"Nona? Wajahku ada di sebelah sini! Lagipula,ini sore hari ....” Daisy menunduk, untuk memperlihatkan wajahnya,


“Dan ... bisakah Nona segera berhenti untuk memainkan itu .... ” lirih Daisy.


Ariel pun mendongak dan melihat wajah Daisy yang merona merah.


“Tidak bisa! Biarkan aku seperti ini untuk beberapa saat. ” tolak Ariel dengan keras, tak berniat untuk melepaskannya sedikitpun.


“Nona ... !” teriak Daisy dengan sedikit marah. Dan segera, Ariel melepaskannya sambil bangkit dan duduk dengan cepat.


“Baiklah, baiklah. Aku lepaskan. ” ucap Ariel dengan panik.


Hingga beberapa saat kemudian, Ariel melihat ke sekeliling dan bertanya kepada Daisy, “Hmm ... sudah berapa lama aku tertidur?”


“Saya kurang tahu,Nona. Akan tetapi, saat saya tiba di sini, Nona sudah tertidur lelap .... ” ungkap Daisy.


“Begitu ... ” Ariel menatap langit-langit sambil berpikir, dan segera menatap Daisy dengan tersenyum lembut, “Juga.Terima kasih, telah membuatku tidur di pangkuanmu.”


“Ti-tidak perlu berterima kasih, Nona. Itu sudah menjadi sewajarnya saya lakukan.”


“Oh! Iya, sebenarnya ... ada seorang yang ingin bertemu dengan nona .... ” ungkap Daisy dengan ragu-ragu.


“Siapa? ”Ariel memiringkan kepalanya dengan bingung.


Hingga setelah Ariel berkata seperti itu, seseorang berbicara dari belakangnya. “Seperti biasa, sifat kurang-ajarmu itu tidak berubah sama sekali.”


Setelah mendengar suara itu, Ariel segera berbalik dan menemukan seseorang yang dia kenal, “Hm? Ah! Chizuru?”


“Iya, ini aku. ” jawab Chizuru.


“Bagaiamana kau tahu, aku ada di tempat ini? ” tanya Ariel.


“Apakah kau lupa, bahwa aku mempunyai benda ini? ” jawab Chizuru sambil mengeluarkan Senjata Sucinya.


“Ahh ....”


Jadi barusan dia mengintip ku saat bersen- ... maksudku, saat pemeriksaan tubuh Daisy barusan? Hey! Itu kurang ajar!


Teriak Ariel dalam hati.


“Sungguh alat yang mengerikan .... ” gumam Ariel.


“Justru kau yang lebih mengerikan ... ” ujar Chizuru, “Daripada itu, kedatanganku ke tempat ini adalah untuk membicarakan sesuatu hal yang penting denganmu. ”

__ADS_1


“Hal yang penting, Kah .... ” gumam Ariel.


Entah mengapa, Ariel dapat menebak, apa yang akan di katakan oleh Chizuru. Akan tetapi, dia tidak mempertanyakan hal itu dan segera mengajak Chizuru untuk duduk di pinggir tenda yang terdapat beberapa buah kursi.


Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Ariel membuka pembicaraan.


“Jadi, apa yang akan kau katakan padaku?” ucap Ariel.


“Aku ingin kau menghentikan perang ini dan segera mundur untuk melarikan diri! ” ungkap Chizuru dengan nada serius.


Akan tetapi, Ariel tidak bereaksi sama sekali. Seolah mengharapkan hal ini akan terjadi.


Hingga beberapa saat kemudian, Ariel membuka mulutnya dengan malas, “Tidak bisa! ”


“Mengapa? ” teriak Chizuru, “Aku mendengar dari informasi, bahwa dirimulah yang menjadi pemimpin dari pihak ini.”


“Iya, itu memang aku. Akan tetapi, aku juga tidak bisa menghentikan hal ini. Aku di sini juga hanya sebagai pion. Yang sesungguhnya bertanggung jawab akan hal ini ... kau juga tahu siapa orangnya,Kan? ”


Mendengar perkataan Ariel seperti itu, Chizuru langsung teringat seorang pria yang pernah di temuinya beberapa minggu ke belakang bersama August.


Ya. Dia adalah Anastasius. Raja dari Kerajaan Albion.


Chizuru juga kurang suka dengannya, seolah dia hanya memikirkan keuntungan dan kerugian, dalam suatu masalah, menggunakan wajah datar yang dinginnya itu, seolah tidak tertarik sama sekali.


“Jika kamu tidak bisa menolak hal ini.Mengapa kau tidak kabur saja? Dia orang gila, yang mengirim anaknya sendiri ke medan perang. ”ujar Chizuru dengan kesal.


Apa yang dikatakan Chizuru memang benar. Ariel juga sependapat dengannya.


Dia hanya tersenyum dengan geli, setelah mendengar hal itu di katakan langsung oleh Chizuru.


Menurut Ariel, mungkin Anastasius bisa di katakan sebagai Raja yang baik. Akan tetapi, dia buruk sebagai Orang tua.


Di dalam hati Ariel. Dia bertekad untuk membalas perlakuannya dengan memasukan kepalanya ke dalam lumpur sebagai orang ke dua setelah Ronand.


***


Di suatu tempat.


“Hachuuuuhhhh .... !”


Suara bersin terdengar, dari dua orang secara serempak.


“Hm? Kau kenapa Anastasius, kau harus menjaga kesehatanmu, supaya tidak sakit. ”


“Aku tidak mau mendengarnya dari dirimu. ”


“Hmm ... mungkin serbuk bunga, yang menjadi penyebab kita bersin secara bersamaan .... ” ungkap Ronand, sambil merenung.


“Aku tidak peduli dengan hal itu, dan berhentilah berbicara! Aku sedang bekerja. ” ujar Anastasius.


“Humph! Dasar pria yang dingin!”

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2