
Beberapa saat waktu telah berlalu semenjak Ariel menyelamatkan pria itu dari tangan kegelapan yang telah mengejarnya.
Ternyata benar apa yang telah dikatakan oleh Daisy, tangan kegelapan itu tiba-tiba menghilang setelah beberapa saat pria itu keluar dari perbatasan wilayah Delyth berkat bantuan Ariel.
“Mau bagaimanapun juga, terima kasih telah menyelamatkanku dari kejaran monster itu.” ucap pria itu sambil mengobati lukanya yang telah disebabkan oleh Ariel yang menyelamatkan nya dengan cara kasar, “Aku berhutang budi pada kalian, Nona-nona.”
“Yah, sama-sama.” ucap Ariel dengan malas, dan langsung menoleh ke arah Daisy, “Kalau begitu, Ayo kita pergi, Daisy!”
Saat Ariel berbalik, pria itu memanggil Ariel dengan terburu-buru, “Hey, tunggu! Apakah kalian juga akan pergi ke ibukota Delyth? Bisakah aku pergi bersama kalian.”
“Tak perlu. Kau terlalu mencurigakan.” Ariel menolak dengan tegas.
“Mencurigakan?”
“Bagaimana bisa kami pergi bersama seseorang yang telah memasuki wilayah negara lain secara ilegal?” Ariel menyatakan pendapatnya, “ Jika kau memang pemaksa, kau boleh mengikuti kami, tetapi jika kau melakukan sesuatu yang aneh sedikit saja ....”
Ariel mengeluarkan aura pembunuh pada saat itu juga dan membuat Daisy yang berada di dekatnya, menjadi tersentak karena terkejut.
“A-aku berjanji. Aku tak akan melakukan sesuatu yang aneh sedikitpun yang dapat merugikan kalian. Jadi, biarkan aku ikut bersama kalian!”
“... Terserah lah!”
Dan begitu saja. Mereka pergi bersama untuk sementara ini dengan berjalan kaki. Lagipula mereka sudah sampai di perbatasan. Yang perlu Ariel lakukan hanyalah pergi ke tempat pos pemeriksaan yang ada di perbatasan negara.
Dia tak sebodoh itu untuk melakukan hal yang sama dengan pria yang telah memasuki perbatasan secara ilegal. Karena Ariel sebisa mungkin untuk menghindar dari masalah yang tidak perlu.
.
.
.
Saat Ariel dan juga Daisy sedang berjalan, Pria itu mengikuti mereka dengan posisinya yang sedikit menjaga jarak dengan mereka berdua.
Alasannya karena entah mengapa, dia merasa sedang diwaspadai oleh Ariel setiap waktu perjalanan mereka. Meskipun Ariel hanya melirik dirinya untuk beberapa saat, tetapi instingnya dapat merasakan. Jika dia melakukan sesuatu yang mencurigakan sedikit saja, dia merasa hidup dirinya tidak akan bertahan untuk lebih lama.
Hingga akhirnya, pada saat mereka berjalan di tengah kesunyian, Ariel tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan bertanya, “Omong-omong, siapa namamu?”
__ADS_1
“Oh! Aku belum memperkenalkan diri, namaku Darren.” Darren memperkenalkan dirinya, “Hanya seorang rakyat jelata biasa dari Albion. Dan melihat paras cantik dan sifat angkuh Nona ... aku tebak, Nona adalah seorang bangsawan, yah?”
“... Bisa dikatakan seperti itu,” Ada sedikit jeda saat Ariel menjawab. Semenjak kepergiannya dari Albion, Ariel telah memakai pakaian yang sederhana yang biasa dipakai oleh rakyat jelata.
Alasannya karena dia tak bisa terlalu menonjol di antara orang-orang. Meskipun Ariel tak melakukan penyamaran karena tak terlalu mempermasalahkan nya jika ada yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang putri.
Tetapi kecantikannya tetap begitu mempesona sampai-sapai jika Ariel mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang rakyat jelata biasa, sembilan dari sepuluh orang yang mendengarnya mungkin tidak akan mempercayai hal itu. Dan satu orangnya lagi mungkin hanyalah seorang tunanetra.
“Kalau begitu, aku ingin bertanya dua hal padamu.” Ariel menatap Darren dengan tajam, “Sebenarnya apa tujuanmu pergi ke ibukota Delyth? Dan juga, mengapa kau melewati perbatasan secara ilegal?”
“Tentu akan penasaran kah ...” Darren bergumam, “Yah, karena Nona adalah penyelamatku, aku akan memberitahunya, ... Sebenarnya aku datang dari pedesaan di dekat Ibukota kerajaan Albion.”
“Jadi?”
“Disana sangatlah membosankan dan juga damai. Saat aku pergi ke Ibukota, disana juga sama membosankannya. Hanya para penduduk yang terlalu ramah dan juga, jika melakukan kesalahan sedikit saja, para penjaga keamanan akan datang dan menertibkan keamanan.” Darren menjelaskannya.
Ariel yang mendengarnya, dia bingung dan juga tak tahu letak keanehannya dimana, “Lalu, apa masalahnya? Itu tempat yang nyaman untuk ditinggali.”
“Menurut Nona memang seperti itu, tetapi aku berbeda. Aku terlalu jenuh untuk tinggal di tempat seperti itu.” Darren mengemukakan pendapatnya, “Dan begitulah, apakah Nona tahu apa yang orang-orang katakan setelah mereka berkunjung ke Ibukota Delyth?”
Ariel tak menjawabnya dan hanya menggunakan ekspresi datar dan tidak mengemukakan ekspresi apapun. Sementara Darren begitu antusias membicarakan Ibukota Delyth.
“Orang-orang bilang di tempat itu kekerasan diperbolehkan, siapa yang tertipu dialah yang salah. Hanya oraang-orang yang kuat dan juga cerdik yang bisa bertahan di tempat seperti itu dan aku tertarik untuk tinggal di sana. Hanya itu saja.”
Dan kemudian, Darren melihat ke sekitar dan mulai berbicara dengan suaranya yang lebih rendah dari sebelumnya, “Dan kau tahu, Nona. Pembunuhan di tempat itu menjadi kebiasaan sehari-hari di sana. Selama kau mempunyai kekuasaan atau tidak meninggalkan jejak. Para penjaga keamanan di sana tidak terlalu mempedulikan hal itu dan membiarkannya begitu saja.”
“I-itu .... ” Daisy angkat bicara, tetapi segera berhenti dan menutup mulutnya karena ragu untuk melanjutkan perkataannya. Akhirnya dia hanya diam dan melihat di belakang Ariel dengan perasaan yang campur aduk.
Sementara Ariel yang telah mendengar Darren mengatakan hal itu, dia menjadi lebih bersikap waspada dan bertanya dengan suara dingin, “Oh! Kau ingin membunuh seseorang?”
Melihat Ariel menatapnya dengan dingin dan juga Daisy yang berdiri di belakang Ariel dengan waspada, Darren segera membuka mulutnya dengan panik, “Eh! Kalian tak perlu waspada terhadapku. Aku tak akan melakukan sesuatu terhadap kalian. Aku bersumpah! Kalian adalah penyelamatku, Aku takkan melakukan sesuatu yang mencurigakan.”
“Begitu ....”
Darren tak menyangkal pertanyaan Ariel bahwa dirinya akan membunuh seseorang. Dan Ariel membiarkan hal itu sambil berbalik seolah dia tak peduli, dan melanjutkan perjalanannya sambil waspada terhadap Darren.
Hingga akhirnya, untuk beberapa saat mereka telah berjalan. Tibalah mereka ke jalan utama diantara perbatasan.
__ADS_1
Mereka dapat melihat sebuah benteng yang berfungi sebagai pos pemeriksaan di sisi jalan dengan banyak orang-orang yang mengantri di sana.
Tentu saja. Banyak orang yang lalu-lalang di sana. Karena itu adalah tempat yang menghubungkan antara kerajaan Albion dan juga Delyth. Hanya tempat itulah satu-satunya jalan yang dapat dilalui dengan aman jika seseorang diizinkan masuk ke negara Delyth.
Jika seseorang memasuki wilayah Delyth tanpa melalui pos itu, mereka hanya akan berakhir dengan kejadian yang sama yang dialami oleh Darren. Atau mungkin lebih buruk, jika Ariel tak menyelamatkan nya.
“Oh?! Itu pos pemeriksaan!” ucap Darren, dan langsung menoleh ke arah mereka berdua, “Kalau begitu, kita berpisah disini. Semoga kita dapat bertemu lagi, Nona-nona.”
Darren berjalan begitu saja setelah melihat pos pemeriksaan itu.
Aku rasa dia belum menjawab pertanyaan kedua ku ....
Ketika Ariel memikirkan seperti itu, dari sudut matanya, dia melihat Daisy yang sedang murung di sampingnya.
“Kamu kenapa, Daisy?”
“Itu ... hanya saja .... ” Daisy bingung mau berkata apa. Dia mencari kata demi kata di dalam pikirannya, tetapi semua itu sulit keluar dari mulutnya yang gemetar karena frustasi.
Ariel yang merasakannya. Dia mengusap atas kepala Daisy dengan lembut, “Tak perlu dipikirkan. Niat Daisy sudah bagus untuk menyelamatkan seseorang. Tetapi ... setidaknya lihat dulu orang itu seperti apa.”
“... Memangnya, bagaimana cara menilai seseorang?” Daisy bertanya dengan penasaran.
“Yah, setidaknya dia harus cantik.” jawab Ariel tanpa ragu.
Daisy yang mendengar hal itu, dia sedikit tertawa melihat tuannya bercanda seperti itu. Dan anehnya itu membuat Daisy menjadi lebih tenang.
Meskipun Daisy salah mengartikan itu sebagai sebuah candaan. Ariel mengatakannya dengan serius. Tetapi, selama itu membuat perasaan Daisy menjadi lebih baik, dia membiarkan hal itu apa adanya dan mengulurkan tangannya kepada Daisy.
“Baiklah! Mari kita juga pergi.”
“Baik!” Daisy pun meraih tangan Ariel dan berjalan bersama sambil berpegangan tangan.
Raut wajah Daisy yang sebelumnya murung, kini digantikan dengan senyuman cerah dan terkadang mereka mengobrol sambil tertawa di sepanjang perjalanan dengan bahagia.
Tak mempedulikan sekitar dan mereka asik dengan dunia mereka sendiri.
Bersambung ....
__ADS_1