
Semua orang yang berada di tempat itu terdiam, setelah Leon mengungkapkan identitas Ariel yang sebagai pemimpin pasukan musuh berada di hadapan mereka saat ini.
Semua orang memiliki ekspresi yang berbeda-beda.
Chizuru yang mendengar hal itu, dia tak terlalu terkejut dengan informasi ini. Karena dia telah mengetahuinya sejak awal.
Leon yang menyeringai dengan licik, Aria tak menunjukkan keterkejutan nya seolah tak peduli, Hanya Akihiro Yuu yang terkejut dan Arsya yang masih menagis meringkuk di tanah.
Ariel pun tak mempedulikan hal itu. Karena sejak awal, dia tak berniat merahasiakan identitasnya sama sekali.
Akan tetapi, waktu terungkap identitas dirinya sangat tidak tepat. Dan hal itu sedikit membuat Ariel panik.
Kini dia sendirian yang telah di kelilingi oleh para pahlawan dan juga Leon yang kini merubah kembali penampilannya menjadi seorang manusia seperti sebelumnya.
Bahkan dari sudut matanya, dia melihat Ifrit yang telah menyembuhkan diri sepenuhnya dan berdiri di samping Leon.
Tunggu ... bukankah ini akan sedikit lebih sulit ....
Ariel tersenyum kering. Mengetahui dirinya dalam situasi yang kurang menguntungkan.
Sempat terpikir untuk memberitahukan identitas Leon yang sebenarnya, sebagai seorang Beastman. Akan tetapi, siapa yang mau percaya dengan ucapan musuh mereka?
“Benarkah itu? Komandan Leon!” Akihiro Yuu bertanya kepada Leon dengan ekspresi terkejut.
“Saya mengatakan yang sebenarnya,Tuan Pahlawan Yang terhormat. Dia adalah pemimpin musuh. Jika tidak percaya, anda bisa lihat sendiri!” Leon menunjuk ke suatu tempat dengan suasana hati yang sangat baik, saat ini.
Ahh~ Begitu waktu yang tepat. Sepertinya keberuntungan selalu memihak kepadaku ....
“Hm?”
Akihiro Yuu mengikuti arah yang di tunjuk Leon. Awalnya dia tak melihat apa untuk yang aneh, hingga beberapa saat kemudian, ada seseorang yang berlari dengan kecepatan yang luar biasa menuju ke arah tempat mereka berada.
Segera setelah orang itu berlari dan berhenti menuju tepat di anatara Ariel dan yang lainnya berada sambil memegangi pedang.
“Putri! Maaf, saya terlambat! ”
Orang itu adalah Felix, sambil melindungi Ariel yang kini tengah terluka.
“Yah ... aku tak apa .... ” ucap Ariel dengan tersenyum kering.
Bahkan kini Ariel tidak bisa berdalih lagi. Sudah jelas, dari armor yang di pakai oleh Felix. Itu adalah milik dari para prajirit dari Albion.
Meskipun itu terlihat sedikit berbeda, dikarenakan armor yang dipakai oleh Felix sedikit lebih mewah, dibandingkan dengan kebanyakan para prajurit.
__ADS_1
Dari awal Ariel sengaja tidak menggunakan sesuatu seperti armor atau hal lainnya, dikarenakan tubuhnya yang bisa dikatakan masih remaja.
Dan juga, itu akan menghambat pergerakan Ariel, yang berspesialisasi dalam hal kecepatan, saat dia menghadapi pertempuran.
Saat ini, Ariel dilindungi oleh Felix yang menjadi pemisah di antara Ariel dan juga yang lainnya.
“Anda lihat sendiri, bukan? Saya tidak berbohong sama sekali tentang hal itu.” ucap Leon dengan gembira.
“... , Sepertinya memang benar,” gumam Akihiro, dan segera mencabut sebuah pedang yang tersimpan di sisis bagian kiri pinggangnya, dan segera menghunuskan nya sambil menatap Ariel. “ Maaf! Sepertinya saya harus menangkap anda!”
“Yuu-kun? ”
Segera setelah mendengar hal itu, Chizuru menoleh kepada Akihiro dengan terkejut.
Sementara Ariel, senyum di wajahnya menghilang, digantikan dengan wajahnya yang kini mulai serius dan menatap Akihiro dengan dingin.
“Hooh~” Ariel mengangkat kepalanya. Mengarahkan pandangannya kepada Akihiro Yuu.
Tanpa sadar, Akihiro Yuu menggenggam gagang pedangnya lebih erat, dan bahkan bulu kuduk nya kini berdiri dengan sendirinya.
Baru pertama kalinya dia merasakan tatapan seperti itu, setelah dirinya tiba di dunia ini sebagai pahlawan.
Meskipun hal itu adalah yang pertama kalinya dia rasakan, tetapi dia tahu. Dia dapat merasakan bahaya dari tatapannya itu.
***
Sementara itu, di tempat lain.
Anastasius yang saat ini mengejar seseorang dengan ekspresi tidak senang terukir di wajahnya.
“Cih! Mengapa ini semua bisa terjadi... ” gumam Anastasius dengan kesal.
Sudah entah berapa lama waktu telah berlalu.
Setelah membunuh begitu banyak para pengintai yang menyaksikan perang ini, dia secara tak terduga bertemu orang yang sangat dirinya kenal.
Saat pertema kali dia melihatnya, dia langsung tahu siapa orang itu.
Karena Anastasius sering melihatnya ketika dalam pertemuan antar negara di wilayah iblis ini.
Meskipun sebagai asisten dan juga pelayan dari seseorang, kekuatan dirinya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang-orang kuat di wilayah iblis ini.
Bahkan dirinya sangat di waspadai sebagai tangan kanannya orang terkuat kedua di wilayah iblis ini, yaitu tangan kanannya dari Rakira Lilim. Salah satu dari Tujuh Kekuatan Wilayah Iblis yang bernama Sebastian.
__ADS_1
Dia adalah seorang dari ras iblis yang hanya mengikuti perintah dari tuannya seorang,
Jika ada yang bertanya siapa Sebastian di wilayah iblis ini. Kebanyakan dari mereka pasti akan menunjukkan kepada orang yang sama.
.
.
.
Anastasius yang saat ini terus mengejar Sebastian yang tengah berlari dengan kecepatan penuh. Dia berusaha untuk mendekatinya dan kemudian membuka mulutnya.
“Dari tadi aku penasaran dengan satu hal. Mengapa orang sepertimu bisa berada di tempat seperti ini?”
Sebastian yang mendengar hal itu terkekeh dan segera berhenti untuk berlari, “Kehehe ... tentu saja untuk menjalankan tugas dari tuanku.”
Anastasius berhenti dan menjaga jarak dengannya dan merasa waspada, “Tugas? Tugas apa yang kau maksud?”
“Hmm ... tidak jauh berbeda dengan Orang-orang yang telah Yang Mulia bunuh beberapa saat yang lalu.” jawab Sebastian, sambil menunduk hormat, sebagai seorang pelayanan sejati.
“Hmm ... mengumpulkan informasi, kah ....” Anastasius merenung, “Tapi sayang sekali. Aku tak ingin ada informasi yang bocor sedikitpun. Jadi maaf, jika aku terpaksa membunuhmu di tempat ini.”
Mendengar hal itu, Sebastian menyeringai. Tak merasa takut sama sekali. “Mengapa Yang Mulia begitu panik? Apakah karena informasi tentang Louise Albion? ”
Meskipun wajahnya Anastasius tetap datar seperti biasanya. Akan tetapi, sesaat alis dia berkedut. Dan Sebastian tak melewatkan hal itu. Dia tersenyum kemenangan dengan situasi saat ini.
Mengetahui Sebastian sebagai seorang iblis, dia mempunyai beberapa skill dan dengan mudah mengumpulkan informasi tentang situasi Perang ini.
Menurut pertimbangan Anastasius, dirinya yakin, bahwa Sebastian justru adalah orang yang membawa informasi yang sangat mendetail, dibandingkan dengan orang-orang yang telah dirinya bunuh sebelumnya. Dan hal itu akan sangat terlalu berbahaya.
Sebastian yang menyadari apa yang dipikirkan Anastasius, dia memperingatkan nya, “Apakah Yang Mulia yakin? Jika terjadi sesuatu terhadap saya, mungkin Nona Rakira tidak akan tinggal diam akan hal ini.”
“Itulah mengapa aku tak membiarkan informasi bocor sedikitpun. Anggap saja kau telah mati oleh bencana itu.”
Anastasius merujuk pada terjatuh nya meteor beberapa waktu yang lalu.
“Jadi begitu keputusan anda.” Sebastian mengangguk, “Jika memang begitu. Sepertinya tidak ada pilihan lain bagi saya .... ”
Segera setelah mengatakan hal itu, Sebastian segera menyiapkan posisi untuk bertarung. Karena menurutnya, dia takkan bisa kabur tanpa mengalihkan perhatian Anastasius terlebih dahulu.
Terlewat dari pikiran Sebastian untuk membunuh Anastasius jika ada kesempatan. Dan hal itu membuat dirinya tanpa sadar tersenyum dengan antusias.
Bersambung ....
__ADS_1