Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 131 _ Informasi Judith


__ADS_3

Beberapa waktu telah berlalu semenjak Rakira mengemukakan pendapatnya kepada pihak Akademi.


Kini kurang dari lima ratus orang yang mengikuti seleksi, dibagi menjadi empat kelompok yang anggotanya berkisar 120 sampai 125 orang di setiap kelompoknya.


Awalnya mereka bingung dengan penempatan seperti itu.


Tetapi, tak lama setelah mereka berkumpul di dalam kelompoknya masing-masing, mereka menjelaskan bahwa ujian seleksi akan dilakukan dengan cara Simulasi Perang.


Dan di setiap kelompok saling bermusuhan satu sama lain untuk menjatuhkan kelompok lainnya sampai tersisa satu kelompok yang bertahan.


Sementara Ariel saat ini sedang berjalan bersama Judith, Dino dan anggota kelompok lainnya sambil menyusuri hutan untuk menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat dan berdiskusi dengan anggota lainnya untuk menetapkan tujuan kedepannya.


“Oh~ sungguh dilema. Kita terjebak dalam situasi yang seperti ini ....” ucap Dino sambil mendesah dengan nada yang di lebih-lebihkan seperti biasanya.


Orang-orang yang berada didekatnya mendengar hal itu dan mereka mengeluh dengan perasaan tidak senang.


“Benar. Mereka seenaknya memutuskan begitu saja.”


“Mentang-mentang mereka Bangsawan .... ”


“Shuuuut! Kau bisa dalam masalah jika seorang bangsawan mendengarnya!”


Aku mendengarnya loh~ Balas Arie dalam hati. Sebagai seorang bangsawan, dia berjalan dengan tenang sambil mengikuti yang lainnya dalam diam.


“Dan juga, mereka memutuskan kelompok kepada kita seperti mereka memotong Kue. Apakah mereka bercanda?” tambah lainnya sambil mengeluh.


Beberapa saat sebelumnya, setelah diumumkan semua peserta akan mengikuti simulasi Perang sebagai ganti seleksi luar ruangan, mereka segera dibagi menjadi empat kelompok hanya dengan memisahkan mereka menjadi empat bagian.


Orang yang paling dekat dengan mereka berdiri langsung menjadi satu kelompok dan berkat hal itu juga kini Ariel satu kelompok bersama Judith dan Dino. Jadi tidak salah jika orang itu menyebutkan bahwa pembagian kelompok mereka diputuskan seperti mereka memotong sebuah Kue menjadi empat bagian.


Itu mungkin saja buruk bagi mereka yang anggota kelompoknya hanya berisikan orang-orang lemah dan tidak dapat diandalkan ketika mereka menghadapi kelompok lainnya yang lebih unggul daripada mereka.


Meskipun tidak sepenuhnya buruk, karena penilaian dari seleksi ini tidak hanya menentukan dari kelompok yang menang saja.


Pihak Akademi mengirim beberapa orang untuk mengamati dan mengevakuasi setiap peserta dari kejauhan dan memilih orang yang cukup memenuhi syarat dan meloloskan mereka meskipun pihak mereka kalah.


Meskipun itu menjadikan pihak yang menang menjadi lebih menguntungkan karena Rakira menjanjikan semua orang dalam kelompok yang menggapai kemenangan akan diloloskan begitu saja terlepas dari orang itu menarik perhatian pihak Akademi maupun tidak.

__ADS_1


“Tetapi ... mengapa harus simulasi Perang? Bukankah ada cara lain untuk menilai kami?” Seseorang mengemukakan pendapatnya.


Itu bisa dimaklumi. Karena menggunakan cara ini kurang cocok untuk menilai individu dengan individu lainnya secara akurat. Karena mungkin saja seseorang akan sangat dirugikan dengan cara seleksi seperti ini.


Mendengar hal itu, Judith yang sebelumnya hanya diam, dia membalas pertanyaan sebelumnya dengan tak terduga, “... Apakah kaian tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Rakira sebelumnya?”


“Memangnya apa yang dikatakannya?” Seseorang membalas.


“Sebelumnya Yang Mulia mengatakan bahwa beliau sangat menikmati ketika dia melihat Perang yang terjadi tiga tahun yang lalu dan ingin melihat lagi jika memungkinkan. Berkat hal itu, dia mengusulkan metode ini.”


“Ah ... ternyata tentang itu ....” Orang itu mengangguk seolah mengingatnya.


Meskipun Perang itu dalam ukuran skala kecil setelah beberapa tahun terakhir, terapi peristiwa itu meninggalkan keributan di belakangnya.


Dikatakan bahwa Perang itu menjadi kacau setelah bencana alam yaitu terjatuhnya meteor yang berukuran sangat besar jatuh tepat di tengah-tengah medan perang.


Tetapi ajaibnya, kebanyakan pasukan dari pihak wilayah Iblis berhasil selamat segera berita itu menyebar dengan cepat ke seluruh wilayah Iblis.


Dan para prajurit yang selamat dari Perang itu mereka kebanyakan berkata bahwa semua itu berkat Putri Pembawa Keberuntungan yaitu Louise Albion.


“Ya ... aku pernah mendengarnya bahwa seluruh pasukan dipimpinnya oleh seorang Putri ke empat dari Kerajaan Albion ... kalau aku tidak salah dengar .... ”


“Kau serius?”


Mereka terus melangkahkan kaki sambil bercakap-cakap dengan omongan-omongan yang tidak perlu di sepanjang perjalanan mereka.


Ariel merasa tidak nyaman ketika dia mendengar gosip-gosip seperti itu tentang dirinya.


Sementara Ariel sedikit berkeringat dingin sambil mendengarkan. Dia membuat wajah sedatar mungkin tanpa menunjukkan emosi yang tidak perlu.


“Jadi alasan kita melakukan semua ini diakibatkan oleh Louise Albion itu?”


Tetapi dia sedikit mengedutkan alisnya ketika dia mendengar perkataan seseorang dari suatu tempat.


Dan tanpa dia sadari, Judith kebetulan melihat reaksi itu dari samping seolah merenungkan sesuatu, “....”


“Itu bahkan tidak adil jika kita menyalahkan orang lain seperti itu.” ucap Dino dengan secara tak terduga.

__ADS_1


“Kau memang benar ....”


Semua orang mengangguk satu sama lain sambil memiliki pemahaman mereka masing-masing.


Hingga ketika Judith sedikit meninggikan suaranya agar didengar oleh orang lain, “Semuanya. Apakah aku bisa meminta waktu sebentar?”


Secara alami mereka berhenti dan menoleh ke arah Judith dengan rasa ingin tahu.


“Kupikir ini tempat yang tepat untuk berbicara ...” Judith melihat sekeliling hutang yang terlihat teduh dan nyaman untuk pemberhentian, “Aku ingin membagikan informasi tentang kelompok lain dan bagaimana cara kita untuk menanganinya. apakah kalian setuju?”


Mereka saling memandang satu sama lain. Ada beberapa variasi dari jawaban mereka. Termasuk itu jawaban positif maupun sebaliknya.


“Un. Aku percaya dengan pengumpulan informasi Judith.”


“Yah. Aku pikir ada baiknya kita berhenti di sini dan mendiskusikan rencana kita.”


“Apakah dia dapat dipercaya ....” Seseorang menatap Judith dengan tidak yakin.


Melihat hal itu, Ariel sedikit terkesan terhadap Judith. Kebanyakan dari mereka memberikan respon yang positif.


Dari yang Ariel lihat, sepertinya Judith ahli dalam mengumpulkan informasi dan dia lumayan dikenali oleh beberapa orang di sana.


Mengumpulkan pendapat mayoritas, akhirnya mereka berhenti untuk beristirahat dan mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan sambil mendengarkan informasi yang ditawarkan oleh Judith.


Poin pertama adalah orang-orang yang berbahaya di pihak musuh.


Judith memberikan informasi secara cuma-cuma kepada para anggota kelompoknya.


Berawal dari menyebutkan orang-orang terkenal dan cukup mengancam yang berpotensi berbahaya untuk kelompok mereka.


Mereka mendengarkan dengan penuh cermat. Judith terus menyebutkan satu persatu orang sambil menyebutkan keahlian mereka dan terkadang menyebutkan kelemahan-kelemahan mereka.


Mereka menelan kembali ludah mereka sambil berpikir betapa beruntungnya mereka bisa satu kelompok bersama Judith yang terlihat seperti mengetahui hampir semua informasi tentang musuh dan sekaligus merasa merinding jika membayangkan Judith menjadi musuhnya.


Mereka terus mendengarkan dan akhirnya berhenti ketika raut wajah Judith menjadi lebih serius, “Dan yang terakhir adalah Callister. Aku menyarankan untuk tidak berselisih dengan kelompok yang ada dia didalamnya. Dia adalah seorang dari Ras Raksasa yang mempunyai kekuatan tempur yang mengerikan. Terlepas dia dari Klan Eldia yang terkenal dengan kekuatannya, dia adalah murid langsung dari salah satu dari Tujuh Kekuatan Wilayah Iblis yaitu Lydia Scarlet.”


“... ?!”

__ADS_1


Setelah mendengar nama Lydia disebutkan, Ariel menoleh dengan tertarik.


Bersambung ....


__ADS_2