Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 29 _ Hari Ulang Tahun Ke 5


__ADS_3

Kita kembali ke waktu sekarang.


Beberapa hari telah berlalu setelah Ariel memberikan darahnya kepada Daisy.


Di pagi hari yang cerah, burung-burung yang berkicau dengan merdu mendamaikan suasana pagi hari yang indah.


Dua orang yang sedang berbaring di kasur yang sama dengan nyamannya saling berpelukan untuk menghangatkan satu sama lain.


Ariel perlahan membuka kedua matanya dengan malas. Dan hal yang pertama kali dia lihat saat terbangun dari tidurnya ialah sepasang Gunung indah yang berhimpitan satu sama lain.


Meskipun yang kita bicarakan di sini bukanlah Gunung yang sebenarnya, melainkan sesuatu yang sering di damba-dambakan oleh para kaum lelaki.


Apa yang aku maksud, kamu bertanya?


Tentu saja Gunung yang di maksud di sini adalah sesuatu yang dimiliki oleh hampir setiap wanita miliki. Dan saat ini, Ariel dengan fokusnya menatap kedua Gunung yang dimiliki Daisy.


Setelah Ariel menatap untuk beberapa saat, dia tergoda untuk menyentuh kedua Gunung itu dengan tangannya sendiri. Kemudian Ariel menggerakan kedua tangan nya dan meraba kedua nya dengan lembut.


Hm... Kelembutan ini... Jika bisa di katakan dengan satu kalimat maka... Luar biasa!.


Ariel meremas nya untuk beberapa saat sebelum terdengar sebuah suara.


"Erm.... "


"A... "


"...Hm? "


Daisy yang baru saja terbangun dari tidur nya, menatap Ariel yang sedang menyentuh dadanya dengan terkejut.


"A-anu... Sepertinya Nona sangat menyukai dada saya... " ucap Daisy dengan senyum canggung.


"Ya.Kita sama-sama wanita kan? Jadi jangan terlalu sungkan seperti itu. " Ariel berbicara, sambil melepaskan kedua tangannya dari dada Daisy dan berusaha untuk bersikap setenang mungkin.


Jangan panik ,diriku!... Sekarang kau adalah seorang Wanita. Bersikaplah seolah-olah itu wajar!.


Pikir Ariel dalam hati. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya tidak salah.


"Bukan itu maksud saya ,tetapi..."ucap Daisy akan menyangkal.Akan tetapi,dia tiba-tiba tersadar,"Eh?...Mohon maaf Nona. Sebagai seorang Pelayan, saya malah bangun kesiangan. "ucap Daisy ,sambil bangkit dari tempat tidur nya dan menunduk meminta maaf.


" Kamu tak perlu bersikap formal seperti itu saat kita berdua... Dan juga, bisakah kamu mengangkat kembali kepalamu? "


Ariel meminta, sambil menghela napas lega bahwa Daisy tidak lagi mempermasalahkan kekejadian beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Kalau itu kemauan anda... Tidak!, Maksudku baiklah. " Daisy setuju, dan berusaha untuk bersikap lebih santai saat mereka berdua.


Sudah lebih dari seminggu setelah mereka tidur bersama. Setiap bangun pagi, Ariel selalu mencari kesempatan seperti yang dia lakukan sebelumnya.


"Jadi? Apakah kamu sudah mulai terbiasa menjalani kehidupan sebagai Vampire? " tanya Ariel.


"Saya sudah membiasakan diri Nona. Tetapi... Saya masih belum bisa mengendalikan naluri saya sebagai seorang Vampire" ucap Daisy dengan murung, "Ada suatu ketika,gigi taring saya tumbuh dengan sendirinya dan mengagetkan para pelayan yang lainnya. Untung saja gigi taring saya dapat kembali seperti semula. "


Ketika mendengar itu, Ariel kembali teringat ketika sehari setelah Ariel memberikan Darahnya, mata Daisy yang semulanya berwarna cokelat, kini berubah menjadi warna merah cerah, dan seperti taring yang dapat tumbuh, kulit lebih pucat, dan lainnya mengalami perubahan seiring bertambahnya waktu berlalu.


Ya ampun... Mengapa tidak sekaligus saja mengalami perubahannya, itu akan jauh terlihat lebih keren.


Ariel bergerutu di dalam hati, berharap agar perubahannya dengan instant seperti yang dia lihat dalam film di kehidupannya sebelumnya.


Melihat Daisy yang berubah secara perlahan membuat Ariel sedikit kecewa, berbeda dengan yang pernah Ariel lihat yang berubah dengan cepat dan mendapatkan kekuatan besar smbil berpose dengan gaya.


Yah... lupakan tentang itu! Mengeluh sekarang juga tidak ada gunanya.


Renung Ariel, membuang pemikiran konyolnya.


"Tenang saja... nanti juga akan terbiasa. " ucap Ariel, berusaha menenangkan Daisy.


"Baiklah, jika Nona berbicara seperti itu. "Daisy berkata, mendapatkan semangatnya kembali.


Setelah beberapa saat mereka mengobrol dengan semangat, terdengar suara pintu terbuka dengan keras.


" Anakku sayang... Selamat Ulang Tahun..." panggil Sharon dengan penuh semangat, "Hey hey... Apa-apaan ini, kalian tidur bersama lagi? Mengapa tidak mengajak ibu!? "seru Sharon dengan marah.


" MA-maaf ibu, Louise lupa... Ehehe..."Jawab Ariel sambil menggaruk kepalanya dengan senyum canggung.


"Aish... Tidak di sangka, kepribadian anak ibu sekarang menjadi lebih buruk... Hiks... Hiks... "


Sharon menangis sambil mengeluarkan air mata buaya.


Hahh... Mulai lagi....


Ariel menghela napas dan berkata, "Sudahlah bu, kita akan tidur bersama lain kali. "


"Benarkah!? " tanya Sharon dengan ceria,solah-olah tangisan nya barusan tidak pernah terjadi sama sekali.


"E-em, yah. Tentu saja! " ucap Ariel,sambil menyesal telah berkata seperti itu.


"Janji loh ya! Ibu tidak akan melupakannya. Oh, iya. Ibu hampir lupa. Selamat ulang tahun anakku sayang! . "ucap Sharon sambil melirik pelayan yang membawa segunung hadiah untuk ulang tahun anaknya.

__ADS_1


Ariel yang melihat itu, hanya bisa tersenyum kering dan menggaruk kepalanya dengan takjub.


" Ibu... kamu terlalu banyak membawa hadiah lagi... Barang yang telah ibu berikan tahun lalu juga masih ada dan tak terpakai. "ucap Ariel tak berdaya.


" Apa yang kamu katakan,anakku? Bahkan hanya segini menurut ibu masih kurang! "bantah Sharon.


" Baiklah-baiklah, ayo kita pergi ke ruang makan! Kue ulang tahun yang besar telah menanti kita~... "ucap Sharon sambil mendorong Ariel keluar dari kamarnya.


" Ibu, ibu. Hentikan!, Louise masih belum berganti pakaian"


"Tidak apa-apa. Apa pun yang Louise kecil ku pakai, akan selalu imut di mata ibu" jawab Sharon, tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti sama sekali.


Daisy yang selama ini di hiraukan, melihat kedua orang itu dengan semangat pergi meninggalkan kamar, seolah badai berlalu dengan cepat.


Em... Haruskah aku pergi?


"Untuk sekarang, pergi ganti baju dulu... "


Daisy pun pergi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian pelayan dan bergegas menuju tempat Ariel berada.


***


Di ruang makan, seorang anak dengan berwajah pucat sedang terduduk dengan tak berdaya.


"Ayo! Sekali suapan lagi... amm.... "ucap Sharon sambil menjulurkan sesendok kue.


"Urgh... sudah tak kuat. " Ariel menutup mulutnya seakan mau muntah.


"Aish... anakku ini, kamu hanya baru makan lima piring..."


Lima piring kau bilang 'hanya'?... Jadi berapa banyak selama ini yang kau makan!


Rengek Ariel di dalam hati.


"Baiklah, jika Louise kecilku sudah kenyang" ucap Sharon sambil menyimpan sendoknya kembali, "Jadi, apakah anakku sudah mempersiapkan diri untuk menghadiri pesta minggu depan? "tanya Sharon.


Kemudian Ariel kembali menegakkan punggung dan menjawab, " Tentu saja bu, Louise telah mempersiapkan diri selama beberapa hari ini. "


"Seperti yang diharapkan dari anakku!" Sharon tersenyum bangga, "Tetapi Louise kecilku tidak boleh lengah, karena ini adalah debut untuk yang pertama kali bagi Louise sebagai seorang bangsawan. " Sharon memperingatkan.


"Baik bu.Louise akan berusaha agar tidak mempermalukan ibu nanti. "ucap Ariel dengan meyakinkan.


" Inilah baru anakku. "ucap Sharon dengan bangga.

__ADS_1


Mereka pun lanjut berbincang-bincang tentang apa saja yang harus di perhatikan saat menghadiri pesta yang akan berlangsung satu minggu lagi.


Bersambung....


__ADS_2