
Di sebuah penginapan.
Ariel yang saat ini sedang membujuk Daisy, dia duduk di sebrang meja dan saling berhadapan.
“Ayolah, Daisy ... mau sampai kapan kamu marah seperti itu?” ucap Ariel.
Ariel telah meminta maaf sebelumnya, tetapi yang Daisy lihat, Ariel sungguh menikmati tontonan dirinya yang sedang tersedak dan sama sekali tak ada penyesalan dalam cara Ariel meminta maaf.
“....”
Daisy tak mempedulikan perkataan Ariel. Dia hanya terdiam dengan wajah kesal.
“Oho~ jadi Daisy menghiraukanku?” ucap Ariel. Dia berhenti untuk sesaat dan menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkannya.
Hmmmmm ... fyuuhhh ~
Hingga setelah itu, Ariel memasang muka memelas dan menatap Daisy dengan air mata yang berlinang.
“Daisy, maafkan aku. Aku merasa juga perbuatanku tadi sudah keterlaluan ... maafkan aku, yah! ... yah! ”
“Saya tidak marah dengan hal itu. Tetapi mengapa Nona kembali begitu terlambat?”
“Oh?! Itu? Ada sesuatu yang mengganggu di jalan. Maaf telah mengingkarinya untuk makan bersama ...” Ariel memasang wajah bersedih dan mengintip tanggapan Daisy terhadapnya.
“Nona ....”
“Lagipula Daisy telah makan terlebih dahulu, kan. Jadi tak perlu dibahas lebih jauh lagi ....”
“Hah? A-apa? S-saya tak makan apapun. Saya menunggu Nona untuk makan bersama.” ucap Daisy dengan gelagapan.
“Oho~” Ariel tak percaya, dia menatap sisa-sisa makanan di sekitar mulutnya, “Daisy bahkan tidak bisa berbohong dengan baik.”
“B-berbohong memang tidak baik, Nona!”
“Lalu ini apa .... ” Ariel mendekati Daisy dan mengambil sisa-sisa makanan yang di dekat mulutnya.
“Hm?!”
“Oh! Sisa remahan roti.” Ariel memperlihatkan remahan roti itu pada Daisy dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya.
Daisy yang melihat itu, wajahnya memerah dan dia langsung menutupi wajahnya dengan malu.
“S-saya akan pergi untuk membereskan kamar anda, Nona!” Daisy berbicara gelagapan dan langsung berlari meninggal kan Ariel sendirian.
Ariel yang melihat kepergiannya itu, dia tersenyum seolah merasa puas menggoda Daisy, “Em. Aku harus lebih sering menggodanya seperti itu lain kali ....”
Saat Ariel duduk sendirian. Dia memesan makanan dan menikmati waktu luang yang dia miliki.
Oh! Iya ....
“Neva, apakah kau mendengarku?”
<>
__ADS_1
“Kau sekarang boleh keluar!”
Lagipula tidak ada orang disini ....
Setelah Ariel mengatakan hal itu, sinar putih muncul di hadapannya dan terlihat sosok peri kecil yang berambut putih.
Meskipun kecil ... tapi dilihat baik-baik ... ternyata imut juga. Pikir Ariel dalam hati.
Saat melakukan kontrak dengannya, Ariel memberikan nama 'Neva' yang berarti 'salju putih'.
Sangat cocok dengan penampilannya yang serba putih. Lagipula dia adalah Roh tingkat tinggi bertipe elemen Es.
Saat Ariel memikirkan hal itu, dia merasakan ada orang yang memasuki kedai. “Oh! Bersembunyi dulu!”
“!!!”
Secara reflek Ariel segera mengambil Neva yang seukuran boneka kecil itu dan menyembunyikan nya di sisi bagian mangkuknya untuk menghindari tatapan pelanggan lain.
“Cih. Mengapa tempat ini menjadi ramai secara tiba-tiba?” gumam Ariel dengan kesal.
“Itu sangat kasar, Master!”
“Oh! Maaf saja, saat ini aku tak ingin mengungkapkan keberadaanmu di tempat ini. Jadi sabarlah!” ucap Ariel.
Jika orang-orang mengetahui bahwa Ariel telah berkontak dengan Roh tingkat tinggi, dia hanya akan dikerumuni orang-orang dan mendapatkan situasi yang menjengkelkan.
Lagipula sangat jarang seseorang melakukan kontrak dengan Roh tingkat tinggi. Saking jarangnya, jika ada rakyat jelata yang melakukan kontrak dengan Roh tingkat menengah saja, dia akan diberi gelar bangsawan. Minimal dia akan diberi gelar Baron atau bisa juga Viscount tergantung dengan kegunaannya seseorang.
“Alasan aku memanggilmu saat ini, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas sebelumnya.” Ariel berbisik dengan suara pelan.
“Saat aku membekukan tangan orang itu sebelumnya. Aku menggunakan sihir Roh berkat bantuanmu, jadi terima kasih.”
“Ah ...” Neva teringat kembali kejadian di jalan utama sebelumnya, “Anda tak perlu merasa berterima kasih, Master. Lagipula tanpa bantuan saya pun, master pasti akan mengatasinya dengan mudah.”
“Memang. Tapi sebagai imbalan, kau boleh memakan makanan ini!” Ariel mendekatkan beberapa piring makanan kepadanya, “Eh! Tunggu, Apakah Roh bisa makan ...?”
Ariel baru teringat akan hal itu. Tetapi itu dijawab oleh Neva dengan datar, “Bisa, selama saya menggunakan tubuh fisik.”
“Ohh ....” Ariel terkesan, “Eh! Lalu kemana hal itu akan dibuang? Kau tahu, menjadi koto-”
Sebelum Ariel menyelesaikan perkataannya, Neva segera memotong nya dan memberikan penjelasan, “Makan yang di cerna saya akan diubah menjadi energi sihir, Jadi master tak perlu khawatir.”
“O-oh ....”
Merekapun makan bersama sambil Ariel menyembunyikan Neva di sisi makanan yang berlawanan arah dengan pengunjung di sisi lain tempat itu.
Ariel takjub dengan tubuhnya yang kecil, tetapi dia telah menghabiskan beberapa piring makanan dengan santainya.
Lu-luar biasa .... Pikir Ariel.
.
.
.
__ADS_1
Beberapa waktu telah berlalu mereka makan seperti itu, akhirnya Ariel memutuskan untuk kembali dan menyudahi makan siang mereka.
Karena jika sampai diteruskan, uangnya akan habis terlebih dahulu sebelum Neva puas.
Ariel memanggil pekerja untuk membayar. Tetapi ketika dia menyebutkannya, dia diberitahu bahwa pesanannya sudah dibayar oleh orang lain.
“Eh?! Siapa yang membayarnya?”
Apakah itu Daisy?
“Yah ... terserlah~” Ariel tersenyum dan berhenti untuk memikirkannya lebih jauh lagi.
Lagipula dia sendiri yang di untungkan.
Ketika Ariel akan beranjak pergi, tiba-tiba sebuah lingkaran sihir yang berukuran cukup besar bersinar terang dan memenuhi semua ruangan itu.
Orang-orang yang di tempat itupun panik dan berteriak sambil berlari. Sementara itu, Ariel mencari pengguna dari lingkaran sihir itu dan melirik orang-orang yang ada di tempat itu, tetapi dia tak menemukan satu orang pun yang mencurigakan.
Merasa tak ada pilihan lain. Dia pun memutuskan untuk segera pergi dari ruangan itu.
“Ayo, Neva. Kita perg-!!!”
Ketika Ariel memanggil Neva, keadaan sudah terlambat. Semua wilayah yang masuk ke dalam lingkaran sihir itu semuanya mulai bersinar dan pada detik itu juga, Ariel merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan hanya merasakan, dia juga melihat orang-orang yang sebelumnya membuat keributan tiba-tiba berhenti bergerak seolah mereka telah menjadi patung.
Apa yang terjadi ....
Ariel merasa bingung.
Mereka membeku ... Jangan-jangan, Neva!
Ariel berpikir Neva telah membekukan mereka, tetapi ketika Ariel menoleh, dia pun melihat Neva tak bergerak sama sekali.
Tak ada hawa dingin yang dia rasakan. Itu berarti mereka semua bukanlah membeku. Hanya satu hal yang dia pikirkan saat ini.
“Waktu berhenti?” tanpa sadar dia bergumam seperti itu.
Dan yang Ariel pikirkan terbukti benar ketika dia melihat barang-barang seperti sendok yang terjatuh dari meja karena orang-orang yang panik, itu berhenti di udara seolah melayang.
Tetapi anehnya, dari semua orang yang berada di tempat itu, hanya dirinyalah yang bisa bergerak.
Ariel tak tahu siapa, tetapi hanya satu orang yang Ariel kenal yang dapat melakukan sesuatu seperti itu.
“V?”
“Bukan!”
Ariel bertanya seperti itu, tetapi jawabannya segera datang ketika sebuah sinar muncul di depan dirinya dan pada detik itu juga sinar itu menghilang dan digantikan dengan seorang gadis kecil melompat ke arah dirinya dan memeluk Ariel dengan antusias.
“Kakak!”
“Hah?!” Dia menyebutnya kakak. Tetapi Ariel tak pernah mengenali gadis kecil ini, “Siapa?”
Bersambung ....
__ADS_1