
"Sebenarnya.... "
Ariel pun berusaha untuk menjelaskan kepada mereka, mengapa Ariel dibawa oleh sang Pahlawan.
"Sebenarnya apa? " tanya Anastasius dengan tak sabar.
"Hey!!Jangan memotong saat anakku berbicara! " teriak Sharon dengan kesal.
"Hmph" dengus Anastasius tak peduli.
"Hentikan kalian berdua! Justru kalian yang membuat ini semakin lama..." ucap Ronand,sambil mengalihkan pandangannya dari mereka berdua.
Ronand pun menatap Ariel dan berkata, "Kau boleh lanjutkan! "
"Sebenarnya... pahlawan itu salah tangkap seseorang..."ucap Ariel dengan datar.Tak berminat mencari alasan yang merepotkan.
".... "
Segera setelah mendengar itu, semua orang yang berada di ruangan itu segera terdiam.
Dan mereka saat ini memikirkan hal yang sama.
"Mana mungkin!! Jelas-jelas dia mengincar dirimu saat itu. "
Pikir semua orang, ingin berteriak keras.
Pada keheningan itu, Anastasius yang pertama kali membuka mulutnya dan memulai untuk berbicara.
"Hey bocah kecil! Berhentilah bercanda dan ka-"
Sebelum Anastasius menyelesaikan kalimatnya, Sharon menepukkan kedua tangannya dengan keras supaya jadi pusat perhatian.
"Jadi begitu. Pahlawan itu salah tangkap orang ya...astaga, pahlawan itu sangat sembrono yah.Fufufu...."ucap Sharon ,mengangguk beberapa kali dengan senyum riang.
" Hey! Jelas-jelas dia berbohong. Kau,Katakan yang sebenarnya! "ucap Anastasius sambil memandang Ariel dengan tajam.
" Hentikan itu! Jika anakku berbicara seperti itu , maka itu benar."tegur Sharon,"Meskipun anakku mengatakan batu itu lembut dan gula itu pahit, maka itulah kebenarannya. "ucap Sharon, sambil melipatakan kedua tangannya dengan bangga.
" Kau... "Anastasius menatap Sharon dengan aneh, " Kau hanya akan menjadi seorang ibu yang bodoh. Kau tahu! "
"Jika itu demi anakku, aku rela dianggap seperti itu oleh orang lain. "ucap Sharon dengan tegas, " Baiklah anakku, mari kita pindah ruangan untuk menceritakan hal lainnya. "
Ariel yang mendengar Sharon berkata seperti itu, dia tersenyum hangat dan mengangguk patuh.
"ya."
Mereka pun pergi saling memegang tangan satu sama lain layaknya ibu dan anak.
"Kalain berdua! Aku belum selesai! Bagaimana anak itu bisa memiliki senjata seperti itu? " tanya Anastasius sambil melihat mereka berdua berjalan menjauh.
Setelah mendengar itu, Sharon berhenti dan bertanya kepada anaknya dengan penasaran, "Itu benar juga, darimana Louise kecil mendapatkan senjata seperti itu? "
"Itu milik para penculik ,saat Louise pertama kali diculik oleh kelompok yang tak dikenal pada saat itu. " jawab Ariel sambil melirik Ronand dengan waspada.
__ADS_1
Takut bahwa Ronand akan menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Sharon.
"Oh... jadi itu milik orang-orang yang menculik anakku pada saat itu! " ucap Sharon sambil kesal karena memikirkan pada saat dia kehilangan anaknya kembali.
Mengapa banyak orang yang mengincar anakku? Apakah tanda pahlawan yang dimiliki oleh anakku telah terbongkar?... apapun itu, aku akan mencari cara agar bisa melindungi anakku. Aku akan tanyakan itu kepada Lydia besok. Kudengr dia akan segera datang untuk menghadiri pesta malam hari terakhir nanti. Mungkin besok siang dia akan tiba di sini... sudah lama tak bertemu, aku sudah lama menantikan saat-saat kita bertemu kembali.
Sharon merenung beberapa saat , sehingga membuat Ariel memanggilnya dengan keras.
"Ibu! "
"Oh!? Ah, ya. Ada apa?" tanya Sharon dengan terkejut, terbangun dari lamunannya.
"Apakah ibu baik-baik saja? "tanya Ariel dengan khawatir.
" Wah!? Apakah anakku ini mengkhawatirkan ibu! ibu sangat senang!.... "ucap Sharon,sambil memeluk Ariel dan mengangkatnya seperti seorang bayi.
" Whoa! "
Ariel terkejut karena dia diangkat secara tiba-tiba oleh Sharon.
"Ib-ibu... turunkan Louise. Ini sangat memalukan.... " ucap Ariel sambil melirik Yukina yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Apanya yang memalukan, sudah lama ibu tak menggendong Louise kecilku seperti ini.... " ucap Sharon sambil menggosok pipinya ke wajah Ariel dengan gemas.
"Argh."
Setelah beberapa saat Sharon memeluk Ariel dengan gemas. segera setelah itu, dia melirik Anastasius sambil merubah ekspresi sangat berbeda dengan ekspresi dia sebelumnya.
"Kau dengar, Kan? Senjata yang anakku pakai adalah milik para pencuri sebelumnya. " ucap Sharon, sambil kembali melirik Ariel dengan senyum ceria kembali.
"Baiklah anakku, ayo kita pergi dari sini. "
Sharon dan Ariel pun pergi dari ruang aula sambil mengobrol satu sama lain dengan damai.
Yukina yang selama ini hanya menyaksikan percakapan antara mereka, dia secara tak sengaja bergumam saat Sharon bersama kakaknya meninggalkan aula.
"Luar biasa.... "
"Fufufu...dari semua Ratu,mungkin hanya Sharon yang berani berperilaku seperti itu terhadap Anastasius. "ucap Yukio yang mendengar anaknya bergumam sambil terkekeh.
"..., Bahkan ibu juga tidak bisa? "
"Iya, meskipun ibu bisa, tetapi Anastasius tidak mungkin membiarkan ada Sharon yang kedua,Kan?"
"Benar juga... fufufu. "Yukina pun ikut terkekeh bersama ibunya, hingga Anastasius melirik mereka berdua dengan tatapan dingin.
" Apa yang kalian tertawakan?"
Mereka berdua terkejut setelah Anastasius berbalik kepada mereka secara tiba-tiba dan mereka segera berusaha mencari alasan.
"Ah!?Anu, emm, itu... "
"Sudahlah... "ucap Anastasius ,menghela nafas lelah, "Kalian,jangan sebarkan kejadian barusan kepada orang lain, akan lebih baik jika kalian melupakan semuanya..."
__ADS_1
"Te-tentu saja! ... kami tidak akan memberi tahukan kejadian yang tadi kepada orang lain. " ucap Yukio dengan gugup.
Untung saja tuan Ronand mengusir semua orang sebelumnya .jika tidak, mereka akan jadi bahan tertawaan oleh bangsawan lain.
Pikir Yukio dengan tersenyum kering.
"Baguslah kalau begitu. "
Setelah berkata seperti itu, Anastasius pun berbalik dan pergi meninggalkan ruangan.
"Yukina baru bertemu dirinya hari ini, tetapi dia sangat menyedihkan yah, Bu!. " komentar Yukina sambil memandang Anastasius yang sedang pergi.
"Huss! Jangan berkata seperti itu! Nanti dia mendengarnya. " ucap Yukio sambil melirik Anastasius dan menghela nafas lega bahwa dia tak mendengarnya,"Ayo kita juga pergi, ibu sudah lelah dan ingin segera tidur.
"Baik, Bu"
Mereka pun pergi meninggalkan Ronand di sana seorang diri.
Aku mendengarnya loh...
Pikir Ronand yang selama ini di anggap tak ada oleh mereka. Dia memandang mereka yang meninggalkan ruangan satu demi satu.
Baiklah...apakah aku juga harus pergi!?
Dan itu saja, pesta hari kedua ini di akhiri dengan keributan.
***
Keesokan paginya.
Di saat sinar matahari menyingsing dengan lembut. Menandakan bahwa hari baru telah di mulai.
Beberapa gerbong kereta kuda yang mewah melaju, sambil di kawal oleh beberapa kesatria yang berpenampilan bermartabat.
Para penjaga gerbang yang melihat lambang rombongan kereta kuda tersebut, segera membuka gerbang dan mengumumkan dengan keras.
"Rombongan dari Kerajaan Transylvania telah tiba! "
Gerbong kereta kuda pun memasuki gerbang dan menuju tempat yang telah di sediakan oleh para pengurus tempat itu.
Setelah kereta kuda berhenti, seorang penjaga segera membukakan pintu gerbong dan diikuti dengan para pelayan yang berbaris dengan rapi di luar gerbong.
Segera setelah pintu gerbong terbuka, seorang wanita dengan anggun melangkah keluar dan segera di sambut oleh para pelayan yang berbaris dengan rapi.
"Selamat datang di Kerajaan Albion, Yang Mulia Lydia Scarlet. "
Para pelayan itu menyambut dengan serempak dan menunduk hormat atas kedatangan tamu yang sangat penting untuk Kerajaan Albion ini.
Lydia Scarlet.
Berdiri dengan anggun dan menatap istana dari tempat dia berdiri dengan senyuman yang manis.
Bersambung....
__ADS_1